Rasa Adalah Pilihan

“Kang, kalo punya istri kayak gini mungkin kita di rumah bakal sarungan terus ya? Ndak sempet pake celana.” Kata kang Noyo sambil mengangsurkan gambar di sebuah majalah dewasa. Perempuan semlohai dengan tonjolan yang mantap di tempat-tempat yang tepat, kalo istilah saya, mengilerkan.

Kata saya, “Mungkin Kang, tapi mungkin juga ndak. Kayaknya sih kalo beneran ini mbak-mbak sekseh kawin sama sampeyan, rasanya ya sama saja. Gambarnya menggoda, karena statusnya bukan milik sampeyan.”

“Mosok sih?”

Saya bilang, “Mungkin.”

Kata simbah saya hidup itu sawang sinawang, masing-masing ngiler dengan yang dimiliki orang lain. Lupa bahwa dengan hukum sawang sinawang itu berarti tiap hal yang dimiliki memiliki potensi untuk membuat orang lain ngiler. Terlalu sibuk menaksir harga yang dipunyai orang lain sampai lupa menghargai yang telah didapat.

Saya bertanya pada seorang kawan saya yang sugih, memiliki beberapa usaha, punya beberapa mobil, “Gimana rasanya hidup sampeyan dengan semua harta yang sampeyan punya? Seneng? Sangat seneng? Atau sangat seneng sekali?”

Tentu dengan menilik kondisi saya yang cuma mengandalkan bayaran dari pabrik, kemana-mana masih nyemplak si kuda hitam, saya mengharap jawaban bahwa dia pasti sangat senang sekali dengan kehidupannya. Tapi ndak begitu jawabannya, kawan saya bilang level kesenangannya biasa saja.

Jawaban sangat senang sekali mungkin baru akan keluar saat saya, yang belum punya beberapa mobil ini ditanya, “Bagaimana seandainya sampeyan memiliki beberapa rumah dan mobil, serta 20 pom bensin?”

Kenapa? Bukan karena rumah, mobil, dan pom bensinnya, tapi karena semua itu masih sebatas saya memandang, belum dalam jangkauan.

Ada kata-kata yang mungkin terdengar klise:

saya tidak selalu mendapatkan apa yang saya sukai, karena itu saya selalu berusaha menyukai apa yang saya dapatkan

Rasa adalah pilihan. Tergantung bagaimana sampeyan mengatur hati dan kepala. Bersyukur adalah urusan sampeyan dengan Pencipta, ndak usah liat kiri kanan, bandingkan diri sampeyan sendiri.

Konon suatu saat ada seorang petani miskin mengeluh kepada Mbah Kyai, “Mbah, saya ini kok sengsara tenan ya? sudah rumah sempit, anak banyak, mertua numpang. Sumpek bener saya di rumah!”

Kata Mbah Kyai, “Besok pergilah ke pasar, belilah ayam 10 ekor, peliharalah.”

Besoknya si petani datang lagi, “Waduh Mbah, makin sumpek saya. Sudah rumah penuh masih ketambahan ayam!”

Kata Mbah Kyai, “Sampeyan besok ke pasar, beli kambing 2 ekor, peliharalah.”

Beberapa hari kemudian si petani datang lagi, dan disuruh membeli serta memelihara seekor sapi. “Bagaimana kondisi sampeyan? Sudah membaik?” Tanya Mbah Kyai beberapa minggu kemudian.

Si petani yang makin kurus karena stress itu menjawab, “Membaik gimana Mbah?? Rumah saya sudah seperti kebun binatang! Belum lagi kepikiran utang buat beli sapi dan kambingnya!”

Mbah Kyai tersenyum, “Besok sampeyan pergilah ke pasar, jual sapi sampeyan.”

Beberapa waktu berlalu, Mbah Kyai ketemu si petani, wajahnya tampak agak lebih berseri, “Sekarang agak lumayan Mbah, rumahnya jadi lebih longgar.”

“Kalau begitu besok sampeyan pergilah ke pasar, jual kambing sampeyan.” Kata Mbah Kyai.

Selang berapa minggu kemudian setelah ayamnya dijual, Mbah Kyai bertemu dengan si petani, wajahnya segar. “Saran sampeyan memang manjur Mbah, rumah saya sekarang jadi nyaman!”

Kadang menerima apa yang ada membuat pilihan rasa menjadi lebih mudah.

Iklan

12 comments on “Rasa Adalah Pilihan

  1. big sugeng berkata:

    Cukup itu adanya di hati, sempit itu adanya di hati, kaya juga adanya di hati

    kalau pingin semuanya yaa perbaiki hati
    makasih boss pencerahanya

  2. Wempi berkata:

    Rasa adalah pilihan. terdengar seperti iklan tembakau saja om… 😆

  3. itikkecil berkata:

    ya ya ya… rasa adalah pilihan… btw, itu pak petani termasuk anak-anaknya dijual juga ya? 😯
    *digaplok mas stein*

  4. -3- berkata:

    ini kali pertama saya mampir ksini,kata bapak saya jg gtu urip iku mung sawang sinawang,padahal kebahagiaan orang lain belum tentu pas buat kita nice post mas.salam kenal.

  5. sagung berkata:

    rasa nggak pernah bohong

  6. arman berkata:

    wah perumpamaan yang bagus banget mas!

  7. adipati kademangan berkata:

    sik sik mas, jadi sampeyan kalau cuman gambar gak deg degan?
    Rasa itu menyangkut keikhlasan dalam menerima. Semakin diberi semakin disyukuri, diberi lagi disyukuri lagi. Jadi kapan beli mobilnya ?

  8. indra1082 berkata:

    Bersyukur adalah tingkatan kekayaan yg paling tinggi, serta menjauhkan kita dari rasa Bangkrut dan Terpuruk.. 🙂

  9. 1nd1r4 berkata:

    Rumput tetangga selalu tampak lebih hijau 🙂 …intinya jangan lupa untuk selalu bersyukur deh

  10. bundarozan berkata:

    stein bisa lurus juga…hihi peace

  11. oglek berkata:

    urip pancen angel, kudune ra usah ngomel

    *gampang dinyanyiin tapi susah dipraktekin*

  12. […] Temen pabrik yang juga tetangga saya di rumah itu cuma menguap, “Mbuh lah, paling ya biasa saja, kamu sendiri tho yang dulu bilang kalo lelaki bisa ngliat perempuan seksi sampe ilernya netes-netes itu cuma karena status perempuan itu bukan milik.” […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s