Kebablasan Mencari Anggaran Sendiri

Konon katanya di jalan raya sudah lazim polisi menerima “amplop” sebagai kompensasi dilepaskannya seseorang yang melanggar ketentuan lalu lintas dari pengenaan surat tilang. Sebagian dari sampeyan kalo mengalami kejadian seperti itu mungkin berlalu sambil misuh-misuh dalam hati sembari mengutuk bahwa polisi di jalan tak ubahnya seperti preman. Tapi ternyata ndak semua orang menganggap itu pemerasan.

Salah seorang kakak kelas saya di SMA yang orang asli Surabaya pernah berucap kepada saya beberapa bulan yang lalu, “Kalo misalnya aku ketangkep lagi melanggar aturan lalulintas, aku milih mbayar langsung ke polisi daripada ditilang.”

“Kenapa Cak? Sampeyan nyuap kalo gitu?” Tanya saya.

“Bukan nyuap, temenku yang jadi polisi cerita kalo jatah bensin untuk mereka patroli itu ndak cukup. Ndak mungkin mereka patroli dengan bensin dari duit pribadi. Lha daripada lingkunganku ndak aman karena mereka ndak patroli mending aku mbayar langsung tho? idep-idep nyumbang.” Ujar senior saya itu.

Saya manggut-manggut, mungkin cerita seperti itu ada benarnya. Sekitar bulan Juli tahun 2005 Jawa Pos pernah menulis serangkaian artikel tentang kepolisian, saya agak-agak lupa detilnya, kalo ndak salah waktu itu dibahas beberapa perwira polisi yang memiliki gaya hidup melebihi gajinya, selain juga beberapa perwira polisi yang hidup pas-pasan. Dalam salah satu artikel disebutkan bahwa pemerintah hanya menyediakan anggaran Rp 120 juta untuk setiap Polsek, sedangkan kebutuhan riil bisa mencapai Rp 2,3 milyar.

Sekarang masalah yang kurang lebih sama diangkat lagi oleh Majalah Tempo, dengan materi lebih dalam tentang rekening mencurigakan milik beberapa jenderal. Sebagian orang berpikiran positif bahwa ini adalah salah satu upaya masyarakat, pers khususnya, untuk membantu membersihkan tubuh kepolisian dari oknum yang terindikasi korup. Sedangkan sebagian yang lain berpikiran bahwa ini sekedar perang bintang menjelang pergantian Kapolri, karena ada nama yang digadang-gadang untuk menjadi Kapolri baru menggantikan Bambang Hendarso Danuri ada dalam daftar pemilik rekening mencurigakan itu.

Beberapa waktu yang lalu kebetulan saya sempet main-main ke salah satu Polsek yang ada di Malang, dalam satu obrolan ada seorang polisi yang sudah agak sepuh berujar seperti ini, “Kepala sekolah di tempatku lho mobilnya CRV, kalo polisi mana ada yang punya CRV??”

Saya ndak berkomentar apa-apa, cuma teringat dalam beberapa tayangan di tipi banyak perwira polisi yang mobilnya lebih mewah dari CRV, hal yang seharusnya nyaris mustahil kalo menyimak yang dikatakan Kabareskrim Komjen Ito Sumardi bahwa gaji seorang jenderal bintang tiga, “Hanya sembilan juta rupiah, sudah termasuk berbagai tunjangan.”

Kabareskrim pengganti Komjen Susno Duadji itu juga mengatakan hal yang kurang lebih sama seperti yang dulu pernah ditulis di Jawa Pos soal terbatasnya anggaran Polri. Tiap Polsek hanya mendapat jatah anggaran dua perkara per tahun alias sekitar Rp 40 juta, lebih kecil dari yang dulu ditulis Jawa Pos sekitar Rp 120 juta per tahun, selebihnya polisi harus mencari anggaran sendiri.

“Mencari anggaran sendiri piye tho Le maksudnya?” Samber Kang Noyo tiba-tiba sambil mengambil sebatang rokok saya, dasar kebiasaan!

Lha ya itu yang saya ndak mudheng, standard prosedurnya seperti apa?

Kalo ndak ada standard bakunya nantinya akan sulit untuk mengukur berapa anggaran yang dicari bener-bener untuk menutupi biaya operasional dan berapa anggaran yang dicari-cari untuk menutupi pengeluaran pribadi tho?

“Halah! Itu kan bisa-bisanya omongan polisi saja Le, itu cuma pembenaran saja untuk nerima sogokan. Cuma ada satu jenis polisi yang ndak doyan suap, polisi tidur!” Ujar Kang Noyo sinis.

Waduh! Saya kok miris kalo melihat orang main hantam kromo alias menyamaratakan semuanya berdasarkan stigma yang kadung melekat pada entitas tertentu. *boso opo iki??*

Saya yakin masih ada polisi jujur di luar sana, dan lebih banyak lagi polisi yang berkeinginan untuk menjadi jujur. Kalo dulu mungkin sampeyan pernah mendengar nama Hoegeng Imam Santoso, mantan Kapolri yang terkenal kejujurannya. Di era sekarang pun saya yakin masih ada polisi-polisi seperti Pak Komari, yang ndak malu mencari tambahan penghasilan dengan menjadi tukang pijat keliling, yang penting halal.

Saya jadi inget cerita mandor saya yang mobilnya sempet ditahan polisi gara-gara dipake sebagai alat bukti kejahatan kemaren. Sebenernya penyidik sampe Kanitreskrim (yang kebetulan masih muda-muda) ndak ada yang berulah macem-macem, sopan dan ndak pernah menekan. Tapi konon karena salah seorang petinggi di situ masih menganggap kasus adalah sumber anggaran maka salah seorang penyidik dengan muka canggung terpaksa meminta sumbangan sukarela ke mandor saya.

“Berarti ini sudah sistemik tho Le, itu masih level Polsek, kalo di Polres mungkin harganya sudah lain lagi, belum kalo ke Polda, Mabes Polri…”

Cukup sudah saya mendengar Kang Noyo meracau, tanpa pamit saya langsung ngambil rokok saya dan berlalu dari situ. Mumet, lha kalo penegak hukum saja terperangkap dalam sistem yang melanggar hukum, trus saya mau berharap hukum ditegakkan sama siapa?

Jiyan!

13 comments on “Kebablasan Mencari Anggaran Sendiri

  1. christin mengatakan:

    Mendadak inget jaman dulu ada yang bilang, cuman ada dua polisi yang jujur : pak hoegeng dan patung polisi 😆

    #stein:
    saking gak percayanya orang sama polisi, mesakke tho mbak

  2. […] This post was mentioned on Twitter by mangkum, mas stein. mas stein said: Kebablasan Mencari Anggaran Sendiri: http://wp.me/ppZ5c-u1 […]

  3. Nurudin mengatakan:

    Ada yang menarik di sini, saya menemukan kata ‘sistemik’ di sini. kata ini pernah begitu populer beberapa bulan lalu, sayangnya kata yang sering diucapkan di sidang yang begitu menyita waktu dan biaya serta perhatian masyarakat ini sampai sejauh ini belum ada hasil, bahkan kata ini tiba-tiba tenggelam oleh isu-isu yang lebih heboh. apakah ini juga sebuah isu ‘sistemik’? entahlah!
    Dan, jujur itu semestinya dimiliki setiap orang, siapapun dan apapun pekerjaannya, hanya sayangnya ada sebagian yang menjadikan ekonomi sebagai alasan pembenaran ketidakjujuran. tidak semua, tapi memang ( masih ) ada.

    #stein:
    semua yang bersifat sistemik memang harus ditangani secara sistem kok pak, ditutup pelan-pelan

  4. nDaru mengatakan:

    saya jugak ndak percaya dari 363.000 anggota polri itu satupun ndak ada yang jujur, pasti ada lah meski cuman dikit

    #stein:
    pengennya kan yang ndak jujur yang dikit

  5. Emanuel Setio Dewo mengatakan:

    Hem… mungkin polsek perlu mencari sumber pendanaan sendiri yg halal. Misalnya juwalan bakmi, bakso, jus, dll. Atau franchise saja, misalnya bikin KFC di polsek.

    *mbingungi dhewe*

    #stein:
    masalahnya bisnis TNI/Polri kan dibubarkan mas, padahal kayaknya pemerintah masih blom mampu ngasih duit

  6. arman mengatakan:

    saya termasuk orang yang entah kenapa lumayan sering ketangkep polisi kalo nyetir. huahaha. ya tentu akan ngasih uang damai dong. dulu sih tentu sambil misuh2.

    tapi sejak pindah kemari, dimana gak bisa ngasih uang damai kalo ama polisi sini, dan dendanya lebih dari $200 (dan udah kena 2 kali pula)… akhirnya pas kemaren ini pulang indo dan kena tangkep polisi lagi (tuh kan liat betapa seringnya saya kena polisi :P), saya langsung ngasih uang damai dan kali ini udah gak misuh2 lagi… tapi dengan hati senang. hahaha. 😛

    pak polisi senang, saya pun senang… win win solution. 😀

    #stein:
    yang rugi negara mas, kan harusnya duit tilang bisa nambahi kas 😆

  7. Vicky Laurentina mengatakan:

    Mas Stein, Kang Noyo itu kok sering bener ngambili rokoke Mas Stein. Mbok kapan-kapan Mas Stein mbawa rokoknya yang ngepas aja tho biar nggak dikompasi Kang Noyo terus..

    #stein:
    lha kalo sudah bawa ngepas trus diambil piye?

  8. dulu temenku ada yg motornya dicuri, akhirnya stlh setahun kemudian motornya dapet. tapi temen saya disuruh bayar 7 juta buat ambil motornya di kantor polisi. akhirnya nggak dia ambil, masa motor sendiri mau ngambil disuruh bayar?

    memang ndak semua polisi korup, tp kalo yg korup yang jabatannya tinggi trus dia juga maksa bawahannya ikutan gaya dia? nah itu susah deh…

    #stein:
    sebenernya kalo kayak gitu bisa lapor propam mbak, atau nulis di surat pembaca. *eh, tapi nanti tambah ruwet ndak ya?*

  9. arieprawira mengatakan:

    Yup cuma dua Polisi yang juju, yang satu sudah Meninggal, yang saru benda mati, eh tambah lagi Polisi tidur benda mati juga lha seng urip yo opo.
    http://klutusan.wordpress.com/

  10. frozzy mengatakan:

    kalau judulnya mencari anggaran sendiri, yang kena apesnya ya orang kecil yang kasusnya nggak bisa dikomersilkan, mas. boro-boro komersil kasusnya, buat mbayari bapak-bapak penyidik aja duitnya nggak ada. *geleng2 putus asa*

    #stein:
    jadi polisi memang ndak gampang, harus punya sense of justice. *opo kuwi?*

  11. Asop mengatakan:

    Saya heran juga Mas, setelah baca Tempo yang dimaksud.
    Dari mana ya mereka dapet uang sebanyak itu? Setahu saya, polisi/TNI dan PNS itu ga boleh punya usaha sampingan yang menyita waktu kerja. Jadi kalo mau wirausaha ya wirausaha aja, keluar dari PNS ato polisi/TNI.
    Nah, apakah mereka2 itu punya usaha sampingan? Kalo udah punya usaha sampingan sampe miliaran, kenapa masih jadi polisi???

    Huh, alasan “saya mau mengabdi pada negara” saya rasa alasan yang basi. 😡

    #stein:
    betul, kalo mau kaya bukan di situ tempatnya

  12. jutaajrullah mengatakan:

    Gak semua Polisi itu Jelek dan Korup. Masih banyak yang Baik, jujur dan tidak Korup. Pengen tau contohnya yang jujur?! Kalau dateng ke kantor polisi mana aja dan ketemu Pak Polisi yang pangkatnya masih rendahan tapi dah Tua. BIsa dipastikan dia polisi yang jujur. Tapi, klo ketemu Pak Polisi yang masih muda tapi dah dapet tiga melati di pundaknya.. Boleh jadi ni polisipernah korup. Atau kalau tidak korup, pasti mobil di rumahnya lebiih dari satu, atau punya Harley Davidson, atau punya rumah di mana-mana.. PErcaya Deh.. Kebetulan ana punya temen polisi dari yang pangkat rendahan, ampe yang hampir jendral..

    #stein:
    saya pernah lapor kehilangan ATM di polsek, yang nerima dua polisi tua, malah mereka yang sambat cerita panjang lebar soal nasib anak-anak mereka 😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s