Panjangin dikit Mas, buat…

“…, pada sahihnya kerja kita belumlah tamam.”

Potongan kalimat itu saya cuplik dari majalah internal pabrik tempat saya mburuh. Barangkali terdengar biasa saja bagi sampeyan. Boleh jadi satu-dua orang saja yang menyempatkan diri menengok Kamus Besar Bahasa Indonesia, sebelum bergumam bahwa akan lebih mudah dipahami jika ditulis “sebenarnya kerja kita belum selesai”.

Dalam tulisan, pilihan kata yang tepat dan selaras sangat penting demi mendapat efek tertentu yang diharapkan. Penulis tentu sudah menggambar aura yang ia ingini, yang akan hadir di benak pembacanya. Seperti kenapa memilih “sahih” ketimbang “benar”, atau “tamam” alih-alih “selesai”.

Tak semua tulisan bagus memakai kata-kata tidak jamak – saya pribadi lebih suka menyebutnya eksotis – semacam itu. Sebagaimana tidak semua yang memakai kata-kata ajaib, lantas berujung menjadi tulisan bagus. Pilihan kata saja tentu tak cukup. Selain kata yang cermat, perlu kemampuan tersendiri untuk menyusunnya dalam kalimat yang tertata apik.

Memang, saya tak memungkiri kata-kata eksotis seringkali membawa nuansa magisnya sendiri. Saat membacanya, saya terseret ke dalam hening. Larut untuk mengendap. Layaknya menikmati adegan Dian Sastro membacakan puisi dalam film AADC yang pertama, dengan iringan instrumental gitar klasik lagu “My Heart”-nya Irwansyah dan Acha Septriasa. Tulisan itu seperti aliran sungai yang tenang tetapi diam-diam mengisap seluruh perasaan. Saya tak bisa berhenti membacanya hingga kalimat terakhir.

Kalau sampeyan ingin melihat contoh tulisan semacam itu, cobalah buka blognya Mas Memed CS (bukan Memed dan kawan-kawan, CS adalah singkatan nama belakangnya) di http://cesariansyah.com/. Setelah puas dengan bualan-bualan Memed, lanjutkan dengan tulisan-tulisan Mas Topiq. Yang terakhir disebut adalah seorang editor handal yang mengaku-ngaku magang di birokreasi.com, blog pribadinya ada di https://trendingtopiq.wordpress.com/. Mereka hanya salah dua dari sekian banyak penulis yang saya anggap jempolan. Tak hanya cermat memilih kata, mereka juga merangkainya dalam kalimat-kalimat apik.

Setelah melihat betapa lincah kedua orang ini meliuk-liukkan kata, bayangkan sampeyan diminta menulis oleh mereka. Ibarat belajar gitar, memainkan lagu Base Jam saja, saya masih sering terpeleset nada. Lalu, tiba-tiba, John Petrucci dan Paul Gilbert mengajak saya ngejam bareng. Kelewat jauh jaraknya.

“Panjangin dikit mas, buat …,” kata mereka suatu kali.

Saya pernah mengunggah sebuah tulisan di Facebook, dan komentar mereka yang demikian tentu sempat membuat saya tersanjung. Sampai kemudian saya sadar, memilih kata dengan cermat itu satu hal, dan menyusunnya menjadi kalimat bagus adalah hal berbeda. Itu pun masih ditambah satu kerepotan lagi: bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Bagi saya, menulis masih melulu perkara rasa. Harus ada emosi yang terlibat, yang saya inginkan agar pembaca ikut merasakannya – hal yang sering membuat saya berhenti menulis pada paragraf pertama adalah, saat saya tak bisa mempertahankan rasa di dalamnya. Saya tidak akan meneruskan tulisan itu. Celakanya, sampai sekarang, tataran kemampuan menulis saya masih belum beranjak dari situ. Melulu bergumul dengan rasa.

Saya menyamakan penulis-penulis yang sudah cukup matang (seperti Memed dan Topiq) dengan musisi yang jeli dan rapi dalam menyajikan setiap komposisi. Mereka bisa ribut hanya karena petikan gitar terlewat setengah ketukan. Mereka akan cerewet perkara skala diatonik yang terpeleset setengah nada. Sedangkan saya? Mana peduli, yang penting dapat feel-nya.

Sampeyan percaya, untuk tulisan yang hanya berkisar limaratusan kata ini, saya butuh waktu berjam-jam? Sebagian besar karena saya butuh mengendalikan naluri memakai kata-kata tidak baku seenaknya. Selama ini, saya terbiasa menulis layaknya berbicara. Dan sampeyan pasti percaya, tidak ada bahasa lisan yang baku dengan penuh seluruh. Kecuali dalam film kartun Dora, tentu saja.

Jadi maaf, bukannya tak pernah mau mencoba. Namun, jalan saya untuk “panjangin dikit mas, buat …,” sepertinya masih terlalu jauh.

Tulisan ini sudah diedit oleh Gus Ahmad Taufiq R

Iklan

4 comments on “Panjangin dikit Mas, buat…

  1. moprima berkata:

    Kok saya merasa tulisan-tulisan sampeyan pantas mas masuk birokreasi, hehe..

  2. Deddy Huang berkata:

    long time no see mastein..

    tulisanmu ini membuat orang yang ngeblog udah lama masih pertahani tulisan dengan unsur rasa… i feel you.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s