Manohara Shinosuke

Bukan, saya bukan orang jepang. Saya ndak tau dapet wangsit darimana dulu sampe orang tua saya ngasih nama yang ndak lazim ini. Gadis di kampung saya paling dikasih nama kayak Sutini, Tumiyem, Sulastri, nama-nama yang sederhana, sesederhana kehidupan kampung saya.

Saya terlahir di sebuah desa pelosok, letaknya agak terpuruk dari hingar bingar kota. Ibu saya lumayan cantik, buktinya bisa kawin sampe beberapa kali, tapi jangan bilang ibu saya haus sex atau kawin dengan motivasi harta, saya gak akan terima, ibu saya apalagi.

Saya harus berterima kasih kepada shincan, karena kemiripan nama saya dengan tokoh kartun itu job saya nyanyi dangdut jadi melonjak. Dari kecil saya memang dibebaskan oleh orang tua saya untuk melakukan apapun yang saya suka, dan karena kebetulan di kampung saya ada orkes melayu maka saya memutuskan untuk ikut bergabung jadi penyanyi. Bukan salah saya kalo saya punya tubuh montok, wajah cantik, dan suara merdu, pada umur belasan saya sudah ngetop nyanyi dari kampung ke kampung.

Pada suatu pertunjukan di kampung sebelah rupanya ada seorang anak juragan sapi yang naksir sama saya, saat turun panggung saya dikenalkan oleh ibu yang setia mendampingi saya manggung kemana-mana. Jangan berpikir bahwa ibu mengenalkan karena pria tersebut adalah anak juragan sapi, tidak ada motivasi apapun dalam acara perkenalan itu. Malahan itu adalah adat yang baik karena pria yang kemudian jadi suami saya tersebut meminta ijin kepada ibu untuk kenalan sama saya.

Walaupun usia saya waktu itu belum 17 tahun tapi karena ibu melihat anak juragan sapi itu adalah sosok yang matang, baik dari segi kedewasaan, lebih-lebih segi harta, maka ibu tidak keberatan waktu Paiman (sebut saja begitu) melamar saya. Pernikahan kami dirayakan tujuh hari tujuh malam dengan nanggap wayang kulit, ketoprak, wayang orang, kasidah, dangdut, sampe layar tancap.

Saya merasa beruntung dapat menikahi Paiman, paling tidak saya dan ibu saya bisa ikut menikmati kejayaan sang juragan sapi. Tapi jangan berpikir saya menikah dengan motivasi harta, bukan itu, menikmati harta hanyalah efek samping dari hasil pernikahan saya dengan Paiman.

Hari berganti hari saya merasa sikap Paiman tidak lagi semesra dulu, bahkan cenderung posesif. Sampeyan berpikir darimana gadis kampung seperti saya tau kata posesif? Ah, semua orang juga tau, itu kan lagunya Naif yang terkenal, dulu mahasiswa yang nginep di rumah saya waktu KKN suka nyetel lagu itu.

Paiman mulai melarang saya ketemu ibu, dengan alasan ibu saya suka minta duit sama dia. Ah suamiku, bukankah wajar orang tua meminta sesuatu pada anaknya, bukankah menantu itu hakikatnya anak juga. Toh permintaan itu juga masih dalam batas wajar, tidak setiap hari ibu saya minta dibelikan televisi, atau radio, atau sapi. Apalagi kalo Cuma sapi, kan tinggal ngambil dari kandang bapakmu.

Saya dengar ibu saya mulai gelisah di kampung sana, pembantu saya yang baru pulang dari pasar selalu membawa gosip-gosip terbaru. Katanya ibu saya sudah menghadap pak RT, pak RW, pak jogoboyo*, menghadap ketua BPD*, bahkan berencana menghadap pak lurah, sayangnya belum ketemu karena pak lurah katanya lagi naik haji. Tapi sepertinya ibu sudah sukses mengeluhkan sulitnya ketemu sama saya pada acara nyari kutu yang memang menjadi ajang gosip tak resmi di kampung saya.

Saya lihat suami saya jadi gelisah menghadapi gosip yang makin santer itu, gosipnya makin sadis katanya saya disekap, dibius, diperkosa, disilet, dan masih banyak jenis kekerasan yang lain. Maklum suami saya harus menjaga nama baik bapaknya yang tahun depan akan mengikuti pilihan lurah di kampungnya.

Apakah saya memang benar-benar disiksa? Mungkin, tergantung dari pengertian sampeyan soal disiksa, yang jelas saya memang tidak merasa diperlakukan selayaknya permaisuri. Tapi yang jelas tidak sesadis gosip yang beredar, Paiman bukan jagal sapi, dia hanya anak juragan sapi.

Suatu saat karena kangen dengan ibu saya kabur dari rumah. Kebetulan waktu itu di kampung saya lagi ada ABRI Masuk Desa, jadi begitu keluar ke jalan suami saya tidak berani ngejar. Mungkin takut kalo saya ngadu yang bukan-bukan sama tentara-tentara itu.

Sekarang saya masih bingung, apakah benar tindakan yang saya lakukan ini. Tiap hari sibuk melayani kunjungan ibu-ibu yang pengen mendengar kepastian gosip yang mereka dengar. Saya lihat orang-orang ada yang mulai bersikap sinis kepada saya, dipikirnya saya yang menyebar gosip supaya kelihatan teraniaya, dipikirnya saya ini Cuma pengen terkenal kayak orang yang di teve.

Penasaran saya yang diomongin orang-orang, terkenal seperti yang di teve? Jangan salahkan ibu saya yang sudah menjual teve pemberian suami saya, semua orang butuh makan. Suatu hari saya numpang nonton teve di rumah tetangga. Oalah, itu tho orangnya, yang kata orang-orang saya niru dia. Pantesan, bahkan namanya pun mirip saya, Manohara Pinot.

Keterangan :
Jogoboyo: kepala keamanan
BPD: Badan Perwakilan Desa

31 comments on “Manohara Shinosuke

  1. wijna mengatakan:

    hooo cerita manohara versi ndeso?

  2. Vicky Laurentina mengatakan:

    Mas, kok tega bener sampeyan sampai nyama-nyamain Sultan Kelantan dengan juragan sapi?!

  3. samsul arifin mengatakan:

    keterlaluan njenengan, mas!! ๐Ÿ˜€
    tulisannya bagus banget.
    kaya cerpen nih, ada rasa penasaran setelah membacanya.
    pasti dulu nilai pelajaran bahasa indonesiamu rata2 8 ya? [loh?]

  4. kucrit mengatakan:

    selalu ada yang anget dari mas stein..
    nyelenget banget mas, awas konangan manohara kota lo…
    Hahahahahaha……. ๐Ÿ˜€

  5. masoglek mengatakan:

    Manohara oh Manohara, saya makin bingung sama kasusnya apalagi setelah baca tulisan ini malah jadi tambah bingung

  6. podelz mengatakan:

    oh ini tho namanya manohara itu?
    maksudnya manohara shinosuke ๐Ÿ˜›

  7. nomercy mengatakan:

    seperti nama pembalap … ๐Ÿ˜€

  8. arman mengatakan:

    Hahahaha… Bagus.. Bagus… ๐Ÿ™‚

  9. Generasi Patah Hati mengatakan:

    Haha, sindiran yang bagus Mas ๐Ÿ˜†

  10. Gandi Wibowo mengatakan:

    Oh… ini toh cerita Manohara yang kena sensor UU ITE
    ROFL

  11. deddypermadi mengatakan:

    wahaha, wuoke ceritanya..! Mas itu ibunya si manohara shinosuke kawin sama orang luar kampungnya juga kah?

    Blogwalk mas, salam knal.
    http://deddypermadi.wordpress.com

  12. zefka mengatakan:

    kreatif, lucu, jahil, iseng… ๐Ÿ™‚

  13. deddypermadi mengatakan:

    meninggalkan jejak lg disini mas. Kalo berkenan bolehkah tukeran link?

    demasker@ http://deddypermadi.wordpress.com

  14. marshmalow mengatakan:

    hahaha… iya nih, kayaknya musti ada yang nulis dari versi juragan dan anak sapinya, eh juragan sapi dan anaknya juga nih biar beritanya berimbang.

    ngemeng-ngemeng, kalau mas stein nama panjangnya siapa? steinles stil, ya? :mrgreen:

    #stein:
    wakaka! :mrgreen:

  15. mercuryfalling mengatakan:

    hwhahahhaaaaa aduh aku ngakak…

    tulisan sendiri nih, mas ? keren..keren..tapi aku masih ngakak neh baca juragan sapi.

    sapi..sapi..

    #stein:
    tulisan sendiri tho mbak, biar asal njeplak yang penting ori ๐Ÿ˜†

  16. hanif mengatakan:

    Katanya ga bisa nyastra…????huuu bohong! Tulisannya bagus gitu kok, aku harus banyak belajar nih dari Mas

  17. Kus Andriadi mengatakan:

    wkakwkkawakawkkaakkaka….Juragan sapi disamain sama kerajaan klentan….wakwakkwakwkakkwakwakwak,,

    itu bener tulisan sendiri mas? mantebh2…

  18. Eka Situmorang-Sir mengatakan:

    Hahahaha ketawa guling2
    Kocak bgt mas ! Huehehehe

    sapa bilang ndak bisa nulis ha?
    Kereeen begini

  19. frozzy mengatakan:

    huahahahaha…..mas…,mas…dirimu bisa aja…..manohara shinosuke…….saya sampe cekikikan mbaca namanya….

  20. imoe mengatakan:

    tengku fahri nya mana ?

  21. Muzda mengatakan:

    Aku sukaaaa banget sama tulisanmu yang ini, Mas.
    Hahhaaa ๐Ÿ˜€

    Gak ada comment tambahan wiz, bosen aku ngomongin Manohara, hahaa

  22. adipati kademangan mengatakan:

    Paiman juragan sapiiiiiii …

  23. hawe69 mengatakan:

    ๐Ÿ˜€
    Bagoes!!!

  24. sugiman mengatakan:

    Heh Paiman iku masku..ngawur ae…

  25. Ade mengatakan:

    Kereen Mas..
    jadi mba manohara tuh nyontek yaa.. :mrgreen:

  26. deeedeee mengatakan:

    Hahahaha…
    gokil bener deh ceritanya ๐Ÿ˜†

    kocak, mas…

  27. dian mengatakan:

    jenenge kapiken mas…
    mungkin temukan nama yang lebih wangun, hehe

  28. shanushy0809 mengatakan:

    seandainya dia lahir dr bapak – ibu jawa tulen
    pasti namanya
    ….
    …… MANOK DARA ….
    ………………. Manuk Doro ….
    he…he..he

  29. asri mengatakan:

    wakakakak, bagus karangan indahnya ๐Ÿ˜›

  30. devina mengatakan:

    ha…ha…ha….

    seru ceritanya,,

  31. […] This post was mentioned on Twitter by Achmad Firdaus, Tobagus Manshor. Tobagus Manshor said: tadi browsing-browsing nemu tulisan sendiri, lucu pada jamannya http://bit.ly/aeSZIf […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s