Monggo Berinvestasi

Bagi buruh pabrik macem saya dan Kang Noyo, pertanyaan standard setelah kawin dan punya anak adalah, “Kapan punya rumah sendiri?”

Pertanyaan yang menyusul kemudian, “Kapan punya kendaraan?”

Idealnya memang sebelum nikah sudah punya modal kuat, punya rumah, punya mobil. Nanti setelah berkeluarga bisa minum teh sama istri di teras rumah yang asri sambil menatap matahari terbenam. Punya mobil sendiri, jadi kalo butuh pulang kampung atau pengen tamasya keluarga ndak perlu dempet-dempetan di bis umum atau kereta ekonomi.

“Tapi kalo nunggu punya rumah, punya kendaraan, punya tabungan, ya ndak kawin-kawin saya Kang.” Ujar saya waktu ngobrol sama Kang Noyo kemaren sore. Sudah lama saya ndak menikmati waktu santai, nyruput kopi, nyumet rokok, sambil nyamil pisang goreng di warung Mbok Darmi.

Dan boleh percaya boleh ndak, dengan menikah rasanya rejeki lebih mudah ngumpul. Dengan rahmat Yang Di Atas, setelah nikah sedikit demi sedikit duit yang biasanya ndak jelas lari kemana akhirnya bisa berwujud sesuatu.

“Kalo itu bukan semata-mata karena nikahnya Le.” Timpal Kang Noyo.

“Iya Kang, saya ngerti. Konsekuensi logis dari pilihan menikah tho? Tanggung jawab terhadap keluarga, jadi mau ndak mau harus mikir masa depan dengan lebih terarah dan terencana.” Potong saya dengan nada sok bijak sambil nyruput kopi.

“Terlalu ruwet pikiranmu Le. Sebenernya sederhana saja, duitmu ngumpul karena ada sosok istri yang bisa ngerem kelakuanmu.” Ujar Kang Noyo.

Saya meringis, bener kata Kang Noyo. Ibaratnya kalo dulu jaman masih bujang saya buka rekening atas nama sendiri, sekarang setelah berumah tangga jadi mbuka rekening bersama. Dan itu bagus, karena minimal butuh persetujuan dua orang sebelum duit dihamburkan.

Kemaren itu saya sama Kang Noyo ndobos soal dua masalah klasik yang hampir selalu jadi beban pikiran buruh kecil macem kami :

  1. Biaya sekolah anak
  2. Kehidupan setelah pensiun alias ndak mburuh lagi

Sampeyan pasti maklum kalo buruh kecil macem saya dan Kang Noyo ndak punya brankas atau lemari besi di rumah, buat nyimpen apa? Wong rekening di bank saja cuma buat mampir gaji thok, di awal bulan masuk, akhir bulan hampir kosong. Siklus yang selalu berulang tiap bulan. Ndak usah muluk-muluk mimpi punya simpenan buanyak kayak boss-boss gede, bisa melewati akhir bulan dengan menyisakan beberapa lembar duit merah gambar gedung MPR saja sudah merupakan keajaiban.

Lha ini tentunya jadi masalah, kalo terus-terusan begitu kapan bisa ngumpulin duit buat persiapan anak sekolah? Belum lagi mikir nanti setelah ndak mburuh mau makan apa. Untuk itu konon tiap orang seharusnya melakukan investasi.

Investasi? Makanan apa itu?

Lha mbuh, saya juga ndak tau, ndak kompeten untuk menjelaskan. Tapi dalam bayangan saya sebagai orang awam, investasi itu bisa diibaratkan sampeyan punya duit 20 ribu dan pengen makan mangga. Kalo sampeyan langsung beli mangga namanya konsumsi, tapi kalo beli bibit mangga namanya investasi.

“Oalah Le Le, wong mau makan mangga saja kok nanem dulu. Lha makannya kapan?” Kang Noyo terkekeh.

Memang itu beratnya investasi, ndak bisa langsung dapet hasilnya, butuh waktu, dan juga beresiko. Misalnya pohon mangga yang sampeyan tanam mati, sampeyan gak jadi makan mangga. Atau bisa juga pohon mangganya hidup tapi buahnya ndak lebat, sudah buahnya kecil-kecil, masam pula. Selalu ada resikonya, tapi kalo sampeyan terus mikir resiko sampe kapanpun ndak bakal nanam mangga. Sama juga seperti investasi, terlalu banyak berpikir akan mbikin sampeyan membatalkan rencana investasi.

“Tapi memang harus dipikirkan tho Le. Lha daripada sudah nunggu bertahun-tahun ternyata hasil mangganya jelek, brarti memang harus dipilah-dipilih dulu bibit mangganya, jangan sampe salah tanam.” Ujar Kang Noyo.

“Betul Kang, jangan sampe salah tanam. Niatnya nanam mangga tapi yang ditanam kelapa.”*halah!*

Untuk yang seperti ini konon tipsnya adalah jangan cuma nanem satu pohon, kalo ada 10 mangga yang ditanam mosok ya sepuluh-sepuluhnya mati, atau sepuluh-sepuluhnya masam? Ada satu atau dua pohon yang mati itu biasa, resiko nanam mangga. Investasi pun konon begitu, kata guru saya dulu jangan menaruh semua telur dalam satu keranjang.

Dan saya juga pernah membaca Aidil Akbar nulis kurang lebih begini, investasi itu seperti nanam pohon, jangan terlalu sering diliatin, nanti terasa lama tumbuhnya.

Untuk sampeyan yang berniat mencuri-curi ilmu soal investasi dan perencanaan keuangan silakan gabung di milisnya Safir Senduk, milis SSR, atau yang berminat dengan investasi dan perencanaan keuangan syariah bisa gabung di Milis SSR-Syariah. Silakan buka juga blognya Aidil Akbar, belajar perencanaan keuangan dengan bahasa yang ringan. Di twitter silakan follow Safir Senduk, Aidil Akbar, Ahmad Ghozali.

“Sik tho Le, kamu ngomong invas-inves dari tadi itu memangnya kamu sudah punya investasi apa?” Sergah Kang Noyo.

“Errrr…. Nganu…” Saya mendadak garuk-garuk kepala.

“Gayamu Le, coba berapa duitmu sekarang? Ini sudah tengah bulan, paling sudah tipis tho? Akhir bulan nanti ndak nyisa, lha trus mau investasi apa??”

Halah! Ndak bisa ngomong lagi saya, mending pulang sajalah.

Jiyan!

11 comments on “Monggo Berinvestasi

  1. kopiholic mengatakan:

    LOL
    yang lagi heboh belajar investasiiiii..

    salut deh!
    ayo segera dimulai….

  2. sempulur mengatakan:

    Semoga sukses ya agar kang Noyo juga bisa ikut investasi.

  3. […] This post was mentioned on Twitter by Tobagus Manshor, Tobagus Manshor. Tobagus Manshor said: Monggo Berinvestasi: http://wp.me/ppZ5c-xu […]

  4. Asop mengatakan:

    Hmmm.. saya juga harus mulai memikirkan investasi jangka panjang untuk hidup saya nanti. 🙂

  5. nDaru mengatakan:

    Apalagi saya paklek, kerja saya sekarang di Tempo..bukan koran ato majalah…tempo-tempo kerja, tempo-tempo endak

    Kalok bapak saya nggambleh dulu, memang ada baeknya selagi kita mburuh, kita bisa “ngobyek” diluar, tujuwannya ya selaen bisa mbantu2 pemasukan, sekaliyan inpestasi..jadi kalok nanti bahu kita udah ndoyong dan endak laku lagi dijuwal, ada sesuatu yang minimal bisa dipakek buat ganti gaji ato nambah2 duwit pensiyun, sukur2 bisa mbantuin tetangga ngasih lowongan kerjaan

  6. Blogseven77 mengatakan:

    aku belum tahu seluk beluk investasi, ajarin donk!!!!

  7. mawi wijna mengatakan:

    tumben Kang Noyo ndak minta rokok 😀

  8. investasi mengatakan:

    semoga membantu

  9. artikel yang menarik, i like it.

    salam kenal dari jepara

  10. outbound malang mengatakan:

    salam kenal..masih banyak belajar ttg dunia investasi..

  11. outbound di malang mengatakan:

    salam kenal…mencoba unt mnjd entrprenuer

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s