Bukan Sekedar Pengharaman

Lagi-lagi haram, begitu mungkin yang terlintas di benak banyak orang. Diikuti dengan beberapa pertanyaan yang lain semisal, apa ndak ada hal yang lebih penting buat diurusin? Apa yang bikin fatwa haram sudah melihat berbagai aspek yang mungkin bakal terpengaruh dengan keluarnya fatwa tersebut? Dan mungkin apakah-apakah yang lain, tergantung dari siapa pertanyaan dilontarkan.

Mohon maap, saya ndak pengen nambah-nambahi pertanyaan itu, sudah cukup pertanyaan dan pernyataan yang saya baca di berbagai media. Saya mau mencoba untuk melihat dari sisi yang berbeda.

Saya pernah membaca tips memotret, di situ disebutkan bahwa untuk bisa memperoleh gambar natural dalam kondisi cahaya yang kurang kita harus make kecepatan rendah. Tapi resiko mengambil gambar dengan kecepatan rendah adalah gambarnya cenderung blur alias ndak tajem karena posisi tangan kita ndak stabil, untuk mengatasinya bisa menggunakan tripod.

Saya bilang itu tips yang lumayan membantu, tapi kata Kang Noyo temen saya di pabrik, itu tips yang mengada-ada, wong mau motret saja kok repot. Dengan mode auto kan tinggal nyalain kamera trus jepret, jadi potonya.

Mungkin memang ndak bisa disandingkan apple to apple antara tips memotret dengan keluarnya sebuah fatwa haram, tapi ada satu kesamaan yang bisa diambil, keduanya ditulis berdasarkan ilmu.

Jujur saya menyesalkan komentar-komentar yang mengesankan sebuah fatwa dikeluarkan ndak make dasar ilmu yang kuat, tanpa pertimbangan yang matang. Ukuran yang dipake pun cenderung sepihak dengan pemahaman yang setengah-setengah. Celakanya media pun kadang memperparah dengan pemberitaan yang cuma berorientasi jualan, contohnya bisa sampeyan lihat pada kasus pengharaman facebook dan infotainment.

Saya ndak bilang bahwa fatwa yang dikeluarkan selalu benar, seperti halnya sebuah jurnal ilmiah, fatwa pun bisa saja ndak tepat. Tapi satu hal yang pasti bahwa sebuah fatwa pasti keluar setelah melewati kajian yang mendalam dengan ilmu yang ndak cetek. Dan rasanya patut kalo sebuah hasil kajian ilmiah mendapat tanggapan yang juga didasarkan ilmu, bukan sentimen semata.

Capek rasanya kalo tiap berita pengharaman harus diklarifikasi, seakan-akan para pembuat fatwa memang ndak ada kerjaan selain mbikin susah masyarakat. Mungkin saatnya kita, saya dan sampeyan bersikap lebih dewasa dengan selalu berusaha melihat keseluruhan gambar sebelum mengambil kesimpulan dan mulai berkomentar, tidak mengecilkan ilmu yang digunakan, atau mungkin bila sampeyan sudah yakin dengan ilmu dan pendapat sampeyan sendiri, abaikan saja.

4 comments on “Bukan Sekedar Pengharaman

  1. Mawi Wijna mengatakan:

    fatwa kan bukan ucapan Tuhan :p

  2. Vicky Laurentina mengatakan:

    *nyambung dari Wijna*

    Kalo seneng, turutin. Kalo ndak seneng, ndak usah diturutin. Kita punya kerjaan lain yang lebih mendesak.

  3. yustha tt mengatakan:

    hmm…hmm…hmm…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s