Mana Rasa Pedulinya?

Rumah yang saya tempati sekarang merupakan perumahan baru, masih ada beberapa rumah yang dalam proses pengerjaan dan rumah yang sudah jadi pun belum semuanya ditempati.

Untuk urusan keamanan mengandalkan seorang satpam yang sejatinya merupakan orang yang bertugas menjaga barang-barang proyek milik pemborong. Jadi kalo siang dia istirahat sedangkan malemnya berjaga di pos satpam. Si bapak ini mantan preman yang lumayan disegani di wilayah itu.

Dari beberapa kali ngobrol sambil ngopi di teras rumah saya tau kalo beliau ini bergaji minim, cuma dapet Rp 350 ribu sebulan, belum lagi kalo malem gak ada yang njatah kopi + makanan seperti satpam di komplek sebelah yang relatif sudah mapan. Kasian tho, sudah gaji minim, malem jaga cuma makan angin, sendiri pula alias gak ada temen buat gantian.

Dari situ saya berinisiatif untuk rembukan sama tetangga, gimana kalo urunan buat nambah gajinya. Paling ndak sampe proyek selesai dan segala urusan diserahkan ke warga penghuni. Saya bilang ini bukan sekedar nilai duitnya tapi lebih untuk menunjukkan bahwa kita peduli, orang yang merasa dipedulikan pasti ada efek positipnya. Waktu itu baru ada tiga rumah yang dihuni, dan kita bertiga sepakat nambahi Rp 150 ribu per bulan, jadi tiap gundul kena Rp 50 ribu.

Waktu akhirnya ada tiga warga baru yang masuk kita ngadain rapat lagi, saya sebenernya berusaha menaikkan jumlah tambahannya tapi hasil rapat memutuskan tetep Rp 150 ribu, jadi tiap gundul sekarang cuma kena Rp 25 ribu. *harap diperhatikan, gundul di sini cuma untuk memudahkan, bukan berarti warga komplek saya gundul semua*

Cuma herannya saya, ngeluarin duit Rp 25 ribu saja kok ya ada yang susah tenan. Oke lah, kalo sebulan ndak bayar mungkin lupa karena saking ndak berartinya duit segitu buat dia, ada satu dua orang yang kayak gini. Tapi ada juga yang kebangetan, misalnya warga yang rumahnya dipake rapat soal tambahan ini, malah ndak pernah mbayar blas. Saya yang kebetulan jadi pengumpul jadinya nalangi terus.

Bukan masalah duitnya, tapi seperti yang sudah saya tulis tadi, di mana rasa pedulinya?

Sekarang warganya sudah nambah lagi, ada 10 rumah yang dihuni. Saya sebagai salah seorang warga yang paling muda ndak enak untuk woro-woro lagi nyuruh rapat soal satpam, saya cuma mendekati salah seorang yang ditokohkan untuk membahas soal itu. Jawaban yang saya peroleh adalah, “sebaiknya untuk mbahas ini nunggu perumahan diserahkan ke warga, mungkin sekitar 2 bulan lagi”.

“Kalo misalnya benar dua bulan, gimana nasibnya yang dua bulan?” tanya saya.

“Ya nanti saya bilangi dia untuk sabar dulu”. *oalah, bilang saja sampeyan juga ndak mau repot!*

Celakanya sejak penghuni baru berdatangan beberapa orang yang dulu sudah sepakat urunan juga jadi ikut-ikutan macet. Mungkin karena iri-irian, kok saya mbayar sedangkan sebelah ndak. Wedhus! Pikir saya, wong cuma 25 ribu!

Sekali lagi bukan masalah duitnya, di mana rasa pedulinya?

17 comments on “Mana Rasa Pedulinya?

  1. suryaden mengatakan:

    mungkin karena sudah tidak ada lagi rasa saling mengasihi sesama anak bangsa jadinya ada imbas pada kepedulian sesama, bahkan orang yang berjasa…

  2. […] Mana Rasa Pedulinya? Rumah yang saya tempati sekarang merupakan perumahan baru, masih ada beberapa rumah yang dalam proses pengerjaan dan rumah yang sudah jadi pun belum semuanya ditempati. Untuk urusan keamanan mengandalkan seorang satpam yang sejatinya merupakan orang yang bertugas menjaga barang-barang proyek milik pemborong. Jadi kalo siang dia istirahat sedangkan malemnya berjaga di pos satpam. Si bapak ini […] […]

  3. Chic mengatakan:

    mungkin harus kena batunya dulu mas baru peduli, misalnya ada yang kehilangan atau kecurian apa gitu. Biasanya kalo udah kayaka gitu baru deh pada peduli kalo si satpam tuh sebenernya penting dan butuh diperhatikan juga 🙂

  4. adipati kademangan mengatakan:

    piye lek pak satpamwan itu dikasih jatah off, minimal pas malem sabtu dan malem minggu. Jadi pak satpamwan itu bisa ngadu ke pak RT kalo jatah gajinya masih segitu ya kurang, harus nyari obyekan yang lain, konsekuwensinya ya harus off menjadi satpam mencari obyekan lain untuk menutupi kebutuhan.

  5. Eka Situmorang - Sir mengatakan:

    Padahal gajinya kecil banget…
    gimana mo ngidupin keluarganya..

    Mas stein… ketua RT nya sapa?
    mungkin diomongin sama mereka gt?

  6. […] Mana Rasa Pedulinya? Rumah yang saya tempati sekarang merupakan perumahan baru, masih ada beberapa rumah yang dalam proses pengerjaan dan rumah yang sudah jadi pun belum semuanya ditempati. Untuk urusan keamanan mengandalkan seorang satpam yang sejatinya merupakan orang yang bertugas menjaga barang-barang proyek milik pemborong. Jadi kalo siang dia istirahat sedangkan malemnya berjaga di pos satpam. Si bapak ini […] […]

  7. samsul arifin mengatakan:

    beberapa tetangga njenengan sudah cukup keterlaluan, harus segera diingatkan itu, ga bisa terus2an seperti ini.
    bilang aja gini, “pak, nek misale sing dadi satpame kae adikmu piye? apa ga kasihan?”

  8. mawi wijna mengatakan:

    Hmmm…saya pikir yang tinggal disana *termasuk mas stein* adalah kaum berada semua, masak ngeluarin Rp 25.000 aja sebulan ndak mau? Apalagi tugasnya Pak Satpam cukup berat, mesti ngawasin kompleks dari kelakuan gundul-gundul penghuninya. Eh….itu bukan kompleks tuyul kan? hehehehe

  9. tiyok mengatakan:

    Ciloko tigabelas!

  10. […] rumah saya ndak terletak di perbatasan wilayah negara yang berisi tentara grudak gruduk saling mengarahkan […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s