Keterbukaan

tunnel-vision

Suatu saat waktu lagi ngobrol santai bapak saya ngomong begini, “le*, jangan sampe anak ndak tau keinginan orang tua, dan juga jangan sampe orang tua ndak tau keinginan anak”. Hohoho, bapak saya mulai menurunkan lagi kata-kata ajaibnya. Memang, walaupun bapak saya itu kelahiran ndeso, besarnya juga di ndeso, bahkan sampe sekarang tetep tinggal di ndeso, tapi pemikirannya sama sekali ndak ndeso.

Ada orang tua yang nyetir anaknya sedemikian rupa tanpa mau tau bahwa si anak sebenernya mau yang laen, ato ada juga anak yang dibebaskan untuk melakukan keinginannya tanpa tau bahwa orang tua sebenernya juga punya rencana sendiri.

Sampeyan mungkin pernah mengalami, susahnya ngomong terbuka sama orang tua, kuatir dibilang naif, ndak keren, ato mungkin takut. Saya juga pernah menjumpai orang tua yang ndak bisa ngomong terbuka ke anaknya, kuatir melukai, ato minimal membuat anaknya merasa malu, ato mungkin malah dikira menghakimi. Yang lebih sering lagi saya liat, orang tua yang ngomong ke anak layaknya sabda pandhito ratu, doktrin yang ndak bisa dibantah.

Diperlukan kebesaran hati untuk bisa melakukan komunikasi yang terbuka. Orang tua harus menyadari bahwa anak punya mata dan pikiran sendiri, yang mungkin bertolak belakang dengan yang dia liat ato dia pikir. Anak juga harus ngerti, orang tua punya pandangan sendiri. Klo dalam bahasa ngawur saya, “orang tua berlakulah seperti orang tua, yang muda berbuatlah seperti orang muda”.

Pernahkah orang tua sampeyan nanya, “ngganja itu rasanya gimana tho?” dengan nada biasa, ndak ada nada menyindir ato memarahi. Bapak saya tau saya pernah nyobain barang-barang haram, tapi beliau ndak pernah memarahi, mengancam pake neraka misalnya, ndak pernah. Paling mentok kita ngobrol saja, sharing lah kalo kata orang sekarang. Bapak ngomong dengan perspektif orang tua dan saya ngomong dengan pandangan anak muda (yang seringkali memang cupet karna kurangnya pengalaman), tapi ndak ada itu bahasa yang men-judge saya, ngobrol biasa aja. Dan jangan kira bapak saya itu orang sekuler yang ndak ngerti agama lho ya, keren bapak saya itu, wong sekarang saja jadi ketua tingkat kecamatan salah satu ormas keagamaan kok.

Dengan sikap yang nyante begitu saya jadi ndak takut sama orang tua, yang ada rasa segan. Saya ndak perlu berbohong karena takut dimarahi, tapi saya jadi belajar untuk mengendalikan perbuatan saya, karena bagaimanapun saya harus menjaga perasaan dan harga diri mereka. Keterbukaan berbuah kesadaran, welhah! Mantab benar kata-kata saya!

Jadi sodara-sodara, memang ndak semua hal bisa diomongkan, ada hal-hal tertentu yang kadang pengen kita simpen sendiri, tapi jangan sampe nanti ada omongan, “ndak ngerti saya, sebenernya dia itu maunya apa sih?!”

*le: berasal dari kata thole, panggilan sayang untuk anak laki-laki

21 comments on “Keterbukaan

  1. Rian Xavier mengatakan:

    pertamax! Ya, memang begitulah kehidupan sekarang. ortu sering kali menyetir anaknya.

    mas stein:
    blog saya sepi kok mas, ndak ada keren-kerennya pertamax di sini 😆

  2. Rivanlee mengatakan:

    salam kenal

    #mas stein:
    url sampeyan mana mas?

  3. Daiichi mengatakan:

    Saya setuju dengan ulasan ini, Bagaimanapun Ayah mempunyai pengalaman yang jauh lebih baik dari anak-anaknya… jadi ga ada salahnya dan memang ga salah untuk berbagi dan bertanya pada orang tua.. 😀
    Salam Kenal

    #mas stein:
    salam kenal juga

  4. suwung mengatakan:

    bapake soewoeng ngak pernah nyupir diriku
    lha beliau meninggal pas diriku masih smp

    #mas stein:
    saya ragu ada makhluk yang mampu nyetir sampeyan om :mrgreen:

  5. Mas Adien mengatakan:

    onok paribasan : kebo nyusu gudel..
    sing maknane : dalam perjalanan mendidik anak, orang tuwa belajar dari anak…pengalaman2 selama mendidik anak menjadi guru bagi orang tua..
    ndak ada mata kuliah tsb di bangku kuliah..ndak ada tuh ndak ada…

    #mas stein:
    woalah, itu tho artinya, saya pikir selama ini artinya orang tua dibiayai anak 😆
    btw kapan sampeyan ngeblog juga om? ayo ndang daftar
    *komporin*

  6. mercuryfalling mengatakan:

    keterbukaan itu memang penting, le…lele dumbo

    kalo aku sih jarang ngobrol ama orang tua. maklum, aku khan pemalu orangnya 😛

    #mas stein:
    jarang ndak papa tho mbak, yang penting kualitas obrolannya 😆

  7. Rivanlee mengatakan:

    ni mas thousandfleur.wordpress.com
    lupa , de aja jgn mas , masih pelajar saya . hhaa

    #mas stein:
    sudah saya betulin tuh alamat nama sampeyan.
    *bingung istilahnya*

  8. Mas Adien mengatakan:

    ajari aku …

  9. egah mengatakan:

    “le*, jangan sampe anak ndak tau keinginan orang tua, dan juga jangan sampe orang tua ndak tau keinginan anak”…..
    bijaksana sekali pernyataan bapak om stein ini…(2 thumbs up)

    #mas stein:
    woi baca dulu tho, itu kata-kata bapak saya…

  10. hawe69 mengatakan:

    Mas Tukang Pajak,
    *berdehem, sedikit gemetar*

    bener sekali ajaran orang tua Mas.
    kalo kata nyokap gw sih :
    ‘jadi orang tua tuh harus funky!’ hihihi
    funky = ngerti-in gejolak anak muda kali yak

    hihihihi

    #mas stein:
    ato bisa jadi funky beneran, kayak ibunya sheila marcia :mrgreen:

  11. annosmile mengatakan:

    wah..
    saya lebih suka yang namanya privacy
    hahaha

    #mas stein:
    privacy satu hal, keterbukaan hal lainnya

  12. oming mengatakan:

    boleh aja buka-bukaan ma ortu.. asal jangan buka-bukaan yang “laen” ya… hehehehe…

    #mas stein:
    kalo sampeyan mau buka-bukaan sama saya monggo lho mbak… :mrgreen:

  13. edy mengatakan:

    jenis komunikasi dng nada santai seperti itu yg bisa bikin lancar hubungan anak-orangtua ya. tanpa ada ketakutan di salah satu pihak.

    pak, minta duit dong 😆

    #mas stein:
    huahaha, itu ndableg namanya om… 😆

  14. andyan mengatakan:

    oh, gtu ya
    salut klo ada ortu yg bisa kayak gtu
    smoga ntar klo saya jadi ortu (amiin) bisa seperti itu ya

    #mas stein:
    amien juga om. yang saya sampe sekarang masih ndak ngerti, apa bapak saya ndak takut saya makin ndableg dengan sikap tolerannya itu.

  15. mbelGedez™ mengatakan:

    .
    Nyimenk yuuuk…??? 😉

    #mas stein:
    walah…! 😆

  16. Fairuz mengatakan:

    err… sepertinya hubungan saya sama bapak saya dingin-dingin aja

    btw, makasih udah berkunjung 😀

    #mas stein:
    mendingan daripada hubungannya panas mbak 😆

  17. NdaruAlqaz mengatakan:

    kalo pandangan hidup, saya ini cenderung diberi kebebasan oleh orang tua, tapi kalo soal pandangan politik, bisa berantem tujuh hari tujuh malam aku……

    #mas stein:
    wakakaka, pemilu makin deket… 😆

  18. muhamaze mengatakan:

    keterbukaan berbuah kesadaran… setujuuuu…

    salam kenal mas..

    #mas stein:
    salam kenal juga, mumpung di ambon sekalian bisnis mutiara mas 😆

  19. Rian Xavier mengatakan:

    Ah ga kok. Ini lumayan yang comment. Di tempat saya yang di wordpress dulu jangankan segini, 1 comment aja untung-untungan. 😦

    #mas stein:
    ini kan pada komen gara-gara saya memohon-mohon sambil bawa golok biar mereka komen disini 😆

  20. […] Poin pertama, kurangnya keterbukaan. […]

  21. […] komunikasi dengan anak, buatlah mereka merasa nyaman dan berani terbuka dengan […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s