Pokoknya Niat

Kemaren sore saya nongkrong di warung Mbok Darmi, bertukar dobosan, berbagi (baca : membagi) rokok sama Kang Noyo, setelah agak lama kegiatan ini saya tinggalkan karena berbagai alasan. Ternyata mencomot sepotong dua potong gorengan disambi menikmati seseruput dua peruput kopi yang pekat dengan aroma jagung ini masih menyenangkan. Ayem kata orang Jawa, melambatkan irama hidup, biar ndak kemrungsung, mengingatkan pada diri sendiri bahwa masih ada waktu yang bisa dinikmati di sela berburu recehan di pabrik.

Sambil menikmati nuansa yang nyaris terlupakan itu saya cerita sama Kang Noyo tentang kejadian yang saya liat di jalan beberapa hari sebelumnya. Waktu itu saya liat ada bapak-bapak tua naik sepeda pancal dengan teko aluminium di boncengannya, mau ngirim kopi buat orang-orang yang kerja bakti di ujung jalan. Sayang kok ndak diiket, alhasil waktu sepedanya lewat jalanan yang berlubang tekonya jatuh, kopinya tumpah ndak bersisa.

“Tapi ndak papa Kang, yang penting niatnya sampe.” Kata saya.

“Niatnya sampe piye?” Tanya Kang Noyo.

“Ya niat baiknya sampai Kang, sudah diitung sebagai amal.”

Innamal a’malu binniyyat, sesungguhnya segala amal itu tergantung niatnya.” Saya mencoba berdalil.

Kang Noyo mesem, sambil menghisap rokoknya pelan-pelan dia ngomong, “Aku bukannya mau mbantah dalil, ilmuku ndak cukup kalo ngomong masalah agama. Tapi kadang aku liat orang-orang terlalu mengentengkan, kalo sudah menyangkut amal yang penting niat, seolah-olah tujuan terhenti di niat.”

Piye tho maksudnya?

“Suatu saat istriku nelpon, katanya indovision di rumah rusak. Gara-garanya waktu itu pernah dilepas, biar anakku ndak terus-terusan nonton kartun. Istriku bilang semua kabel sudah dipasang tapi gambarnya ndak mau keluar. Waktu aku pulang tak liat yang dipasang cuma kabel output dari decoder ke teve, kabel yang dari antena ke decoder ndak dipasang. Ya jelas saja gambarnya ndak mau keluar.” Ujar Kang Noyo.

Trus?

“Piye tho Le? Mbok kepalamu itu dipake mikir sedikit. Mosok yo ndak ngerti maksudnya?”

Asyem!

“Niat istriku sudah bener, mau nonton indovision. Tapi rukunnya ada yang kurang, masang kabelnya ndak bener, akhirnya niat ndak tercapai. Niat saja ndak cukup Le.” Kata Kang Noyo.

“Ya ndak bisa disamakan tho Kang. Yang istri sampeyan lakukan itu niat duniawi, kalo hubungannya sama Gusti Allah ndak bisa diitung semacem itu.” Saya ngeyel.

“Lha trus ngitungnya gimana?” Tanya Kang Noyo.

“Ya dari niat itu tadi, manusia cuma mendapat sebatas yang diniatkan. Jadi misale beramal niatnya karena dapet pujian manusia yang dapetnya cuma pujian manusia, kalo niat karena dapet ridho Gusti Allah ya dapetnya ridho Gusti Allah.” Jawab saya.

“Kok jadi ke situ tho Le, tadi kan kita lagi mbahas bapak-bapak yang lagi nganter kopi.”

“Iya Kang, si bapak itu walau tekonya jatuh tapi kalo niatnya sudah bener ya ndak masalah, niatnya sudah diitung sebagai amal.” Kata saya.

“Mungkin benar begitu, tapi dengan pemikiran seperti itu apa kamu ndak merasa si bapak egois?” Tanya Kang Noyo.

Egois?

“Ya egois, karena yang penting perbuatannya sudah bernilai ibadah, urusan dia sama Tuhannya beres. Ndak masalah kalo bapak-bapak yang lagi kerja bakti ndak jadi minum kopi.” Ujar Kang Noyo.

“Kalo ndak salah ayat pertama yang diturunkan adalah Iqra’, bacalah, yang artinya manusia disuruh belajar.” Kang Noyo meneruskan.

“Kalo untuk hal-hal yang sifatnya duniawi saja kamu serius baca petunjuk manualnya, kenapa yang berhubungan sama ibadah kamu ngotot yang penting niat?” Tanya Kang Noyo.

“Sik tho Kang, Sepertinya ada yang salah di sini. Bukankah manusia itu diciptakakan hanya untuk beribadah? Berarti semua perbuatan yang kita lakukan adalah ibadah. Atau lebih tepatnya semua yang kita lakukan harus diniatkan sebagai ibadah, supaya kita dapet nilai ibadah.” Kata saya.

“Jadi si bapak-bapak dengan sepeda pancalnya itu pastinya bukan berniat nganter kopi, tapi niat ibadah!” Saya merasa di atas angin dengan kata-kata yang sebenarnya saya pikir sedikit absurd.

“Pokoknya diniati ibadah?” Tanya Kang Noyo.

“Iya, pokoknya niat!” Tandas saya mantab.

Waduh, kok saya jadi ngomong pokoknyaTM , ini kan kata-kata bebal yang menandakan diskusi ndak bisa dilanjutkan. Bisa apa sampeyan kalo ketemu orang yang berlindung di balik kata pokoknya?

Tiba-tiba Kang Noyo pamitan. Mutung?

“Sampeyan belum bayar lho Kang. Mosok saya terus yang disuruh mbayari?” Protes saya.

“Kamu mikirnya jangan begitu. Niatku adalah supaya pahalamu jadi banyak karena mbayari terus. Pokoknya niatku sudah bener tho?”

Pokoknya?

Jiyan!

9 comments on “Pokoknya Niat

  1. chocoVanilla mengatakan:

    Wakakakaka….. mbayarin terus deh😆

    Sebetulnya kalo si Bapak itu emang niat mo ngirim kopi ke para bapak yang lagi kerja bakti ya mestinya kopi dikemas dengan baik, diikat, jangan sampe tumpah. Lha klo niat doang tapi ndak nyampe tujuan ya agak-agak sia-sia to, Mas? Eman-eman kopi sak teko tumpah hanya karena kurang hati-hati….😀

    Pokoknya kali ini saya mbelain Kang Noyo😛

    #stein:
    kalo masih kopinya mbok darmi saja ndak papa mbakyu, asal jangan disuruh nraktir di setarbak aja😆

  2. chocoVanilla mengatakan:

    Hahahahaha…. aku pertama yak?

    #stein:
    tenang mbakyu, blog ini sepi, pertamax ndak laku di sini:mrgreen:

  3. chocoVanilla mengatakan:

    Biar pahalanya tambah banyak, kirimin saya kopi jagungnya itu hahahaha….

    #stein:
    ini ceritanya mbales hetrik tho?

  4. mikhael mengatakan:

    niat itu sudah sangat bagus, tapi akan lebih baik lagi jika niat tsb dilanjutkan dengan tindakan, hasilnya…sempurna😆

    #stein:
    sepakat!

  5. Emanuel Setio Dewo mengatakan:

    Jadi ada niat, tapi pelaksanaannya bisa ada bbrp kemungkinan:

    1. Cuma niat tapi tidak dilakukan
    2. Niat & dilakukan tapi ngga selesai
    3. Niat & dilakukan dengan tuntas

    Rasanya niat + tuntas adalah yg terbaik. Hehehe…

    #stein:
    sepakat😀

  6. pipitta mengatakan:

    wow… ‘dalem’ ya bahasannya🙂
    bikin mikir juga pagi-pagi… salam buat kang noyo, hehe…

    #stein:
    dalem? sepertinya sampeyan saja yang mikir begitu😆

  7. agussupria mengatakan:

    memang segala sesuatunya tergantung niat mau niat baik ataupun tidak….

  8. hadits pertama dalam salah satu kitab Islam adalah tentang niat… tidak bisa disangkal lagi begitu pentingnya…

  9. azh mengatakan:

    segala sangat tergantung pada niatnya… seorang pejuang yang syahid pun bisa masuk neraka karena niatnya yang tdk ikhlas…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s