Semua Berawal dari Keluarga

Saya agak terheran-heran dengan fenomena anak yang lari dari rumah demi teman baru yang dikenal lewat pesbuk. Kalo yang umur 14 tahun masih agak masuk akal, umur segitu mungkin pikirannya masih polos, rawan bujuk rayu. Tapi ada juga yang sudah anak kuliahan menghilangkan diri dengan sukarela demi orang dari negeri antah berantah.

Ada apa ini?

Menurut ilmu kemeruh saya ada beberapa hal yang bisa jadi penyebabnya.

Bapak saya pernah bilang kalo kesalahan mendasar yang membuat jarak antara orang tua dan anak adalah orang tua ndak ngerti keinginan anak, dan anak juga ndak tau keinginan orang tua. Karena sebab-sebab tertentu orang tua lebih memilih untuk mengeluh tentang anaknya di belakang, dan anak juga memilih untuk menutup diri dari orang tua.

Poin pertama, kurangnya keterbukaan.

“Mosok anak sama orang tua ndak bisa saling terbuka?” Tanya Kang Noyo.

Banyak yang bisa jadi penyebab kurangnya keterbukaan, gaya komunikasi yang bernada menindas dari orang tua mungkin jadi salah satunya. Anak mana yang mau dengan sukarela menceritakan masalahnya kalo dia tau ujung-ujungnya bakal dihakimi. Sampeyan mungkin bisa mempelajari sesuatu dari sikap diam orang tua saya, ndak semua kesalahan anak harus dibuka dan diadili. Mari bersikap fair, semua orang pernah berbuat salah, tak terkecuali orang tua.

Poin kedua, kurangnya kebijaksanaan.

Menurut begawan pendidikan kita Ki Hajar Dewantoro ada tiga proses dalam belajar, satu diantaranya adalah menirukan. Siapa yang pertama kali ditiru anak? Dalam kondisi “normal” jelas orang tua adalah figur yang dimaksud. Maka celakalah kalo orang tua ternyata termasuk dalam kategori yang suka berkata, “do as i say, not as is do“.

Poin ketiga, kurangnya keteladanan.

Orang tua seharusnya bisa jadi tempat bersandar bagi anak, kapanpun, di manapun. Kadang tanpa sadar tercipta jarak karena kurangnya komunikasi. Monggo sama-sama mawas diri, baik yang masih berstatus sebagai anak maupun yang sudah menjadi orang tua. Pesbuk bukanlah penyebab utama, semua berawal dari keluarga.

“Tumben omonganmu serius Le?” Tanya Kang Noyo lagi.

Mbuh lah, sepertinya saya lagi meracau.

7 comments on “Semua Berawal dari Keluarga

  1. rizda mengatakan:

    hehehe,,saya mw nulis soal beginian kok rasanya uda pusing liat contoh2 yang ada,,mau nyalahin sapa juga ga jelas,,mungkin bener yang penting itu kominukasi,,

    trus kayanya buat org tua jangan deh bikin peraturan keras anak dilarang pacaran, mending dipahami sapa temen2 anaknya,,

  2. budiono mengatakan:

    ilmu kemeruh?

    lho sejak kapan si mbelgedez mewariskan ilmu pamungkasnya itu? kwkwkw..

  3. mawi wijna mengatakan:

    Sepertinya memang betul bahwa tiap orangtua itu ndak ada yang ahli dalam mendidik anak…

    Kebenaran itu nisbi kata sampeyan 😀

  4. mochamad arif wibowo mengatakan:

    mas stein, mungkin saat ini anak2 pean masih kecil2 ya?
    problemnya masih belum kompleks…
    coba nanti kalo sudah kelas 3 keatas…
    asik coy….

  5. vizon mengatakan:

    thanks infonya mas. menarik dan berguna sekali…

    kalau anak di bawah usia baligh masih agak mudah menghadapinya, tapi bila sudah menginjak usia remaja, sangat perlu kehati-hatian. terlalu keras akan mental, tapi kalau lembut akan diremehkan. serba sulit.. makanya, kita perlu membekali diri dengan pengetahun, sehingga tidak salah dalam mendidik.. 🙂

  6. darahbiroe mengatakan:

    waduw saya kurang keterbukaan nuy hahahhaha

    berkunjung dan ditunggu kunjungan baliknya makasihhh 😀

  7. […] Semua berawal dari keluarga, niat boleh ada, kesempatan bisa saja tersedia, tapi semua ndak akan berarti kalo keluarga ndak ridho. Kira-kira akan bertahan berapa lama sampeyan mengeruk uang dengan cara-cara ndak halal tapi istri sampeyan, orang tua sampeyan ndak mau nerima? […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s