Waktu Itu Sampeyan Pakai Sabuk Pengaman?

Salah satu kemampuan yang membuat saya merasa berguna di pabrik tempat saya mburuh adalah saya bisa nyupir. Kenapa bukan nyetir? Kesannya lebih elit. Nyupir, nyetir, sama saja tho substansinya. Dan sebagai orang yang dididik dengan konsep substance over form, saya lebih suka dengan kata nyupir, mungkin karena lebih terasa ndeso, sebagai pengingat bahwa saya memang aslinya ndeso.

“Ndeso bangga…” Cibir Kang Noyo.

Kang Noyo, akhirnya saya punya waktu juga untuk bisa ngopi bareng lagi di warung Mbok Darmi. Rutinitas nyaris bernuansa ritual yang akhir-akhir ini sempat terlupakan karena kesibukan yang bertubi-tubi, tumpukan peran yang membuat saya edan.

“Ini bukan masalah kebanggaan Kang, lebih seperti lonceng yang mengingatkan saya agar jangan lupa untuk selalu menginjak daratan.” *saya tau, ini lebay*

Sebagai buruh rendahan saya lebih sering kebagian duduk di belakang setir daripada berleha-leha sebagai penumpang.

“Setir tho? Berarti kata yang benar adalah nyetir, bukan nyupir.” Sela Kang Noyo.

Lhadalah, dibahas lagi!

Saya ndak lagi mengeluh, aslinya malah seneng kok jadi supir itu. Bisa jadi alasan untuk kabur dari rutinitas di pabrik yang kadang menjemukan. Apalagi saat yang disetiri kebetulan staf pabrik yang sekseh nan semlohay.

Kalo dihayati, nyupir adalah aktifitas yang bernuansa kontemplatif. Sifat asli sampeyan kadang bisa kelihatan saat berada di belakang setir, apakah sampeyan termasuk orang yang grusa-grusu, ekspresif, kalem, sabar, penyayang, baik hati, tidak sombong, atau rajin menabung. *tolong abaikan beberapa kata terakhir*

Watak mungkin ndak bisa diubah, tapi minimal sampeyan bisa memolesnya supaya bisa lebih diterima berdasarkan standard kelakuan yang berlaku umum. Dan itu bisa sampeyan lakukan melalui proses mengingat, membayangkan, menganalisa, merenung, yang berujung pada perbaikan perilaku saat nyupir. Proses yang berlangsung berulang-ulang itu nantinya akan terasa pada perilaku sampeyan setelah keluar dari mobil, percayalah. *tapi kalo ndak percaya ya ndak papa*

“Kemeruh tenan kowe iki Le, ojo diterusno, ndak edan.” Kang Noyo terbahak.

Sebagai orang yang hampir tiap pagi berangkat bareng ke pabrik, ada satu hal yang saya perhatikan dari Kang Noyo: dia nyaris ndak pernah pakai sabuk pengaman.

“Polisi di sini santai kok Le, ndak pernah nilang cuma gara-gara sabuk pengaman.” Kata Kang Noyo.

Lha ini, salah satu bentuk salah kaprah. Sabuk pengaman seharusnya merupakan alat pengaman, bukan alat untuk menghindari tilang polisi.

“Memang sih, tapi make sabuk pengaman itu bikin pinggang capek.” Kilah Kang Noyo.

Jawaban yang enteng sekali. Kenapa sampeyan ndak make sabuk pengaman? Karena mbikin pinggang capek. Baiklah, tapi cerita saya yang berikut ini mungkin bisa membuat sampeyan berpikir, ada saat-saat di mana pertanyaan tentang sabuk pengaman akan sangat sulit sampeyan jawab.

Beberapa tahun yang lalu mbakyu saya yang sedang hamil 9 bulan melakukan perjalanan dari Semarang ke Jogja. Sebagai perempuan yang sedang hamil tua mbakyu saya dapet tempat duduk istimewa di samping supir. Waktu itu dia lagi seneng-senengnya karena berdasarkan perkiraan dokter waktu kelahiran anak ketiga mbakyu saya tinggal seminggu lagi.

Sampeyan pasti tau kalo lagi hamil besar itu pake sabuk pengaman sangat ndak nyaman, wong dalam kondisi normal saja kata Kang Noyo make sabuk pengaman itu bikin sakit pinggang. Jadi mbakyu saya duduk di depan, sambil memangku tas, ndak make sabuk pengaman.

Lalu terjadilah kecelakaan itu, sebuah mobil dari arah berlawanan mendadak oleng dan menabrak mobil yang dinaiki mbakyu saya. Tragis, jabang bayi yang tinggal seminggu lagi dilahirkan itu meninggal dalam kandungan. Shock? Pasti. Bahkan saya pun masih merasa teriris tiap kali mengingat kejadian itu. Mbakyu saya sempat ndak percaya, karena dilihat dari luka luar perutnya ndak papa, tas yang dipangkunya juga ndak kelihatan rusak. Tapi saat melihat isi tas yang hampir semuanya hancur berantakan barulah mbakyu saya sadar, mungkin kejadian yang sama jugalah yang berlaku di perutnya.

Mbakyu saya bilang, pertanyaan yang paling menyesakkan adalah, “Waktu kejadian sampeyan pake sabuk pengaman ndak?”

“Kowe kok jadi cerita sedih gitu tho Le?” Kang Noyo bersungut-sungut.

“Aku mau pulang saja, ngopinya jadi ndak asik.”

Prestasi, Kang Noyo cuma ngembat rokok saya dua batang kali ini.

Kang Noyo sudah pergi, waktunya saya untuk berlalu dari warung Mbok Darmi.

“Berapa semuanya Mbok?”

“Punya sampeyan lima ribu, kalo Kang Noyo limabelas ribu, tadi dia buru-buru, katanya suruh sampeyan yang bayar, jadi semuanya duapuluh ribu mas.” Ujar Mbok Darmi.

Heh?

Saya misuh-misuh dalam hati, dasar kelakuan.

Jiyan!

10 comments on “Waktu Itu Sampeyan Pakai Sabuk Pengaman?

  1. devieriana mengatakan:

    Kalo di Jakarta tingkat kesadaran menggunakan sabuk pengaman itu lebih tinggi dibanding di daerah ya? cmiiw. Kebanyakan begitu mobil mau jalan, langsung ceklik-ceklik pasang sabuk pengaman. Kadang saling mengingatkan, \”sabuk pengamannya dipake tuh…\” Mau nggak mau itu jadi habit saya juga ketika di dalam mobil. Entah nyetir, entah disetiri, kalo posisi duduk di depan ya langsung spontan pake sabuk pengaman:mrgreen:

  2. putrimeneng mengatakan:

    setuju dengan mbak devi, kebiasaan di jakarta untuk selalu diingatkan menggunakan sabuk pengaman sudah kebawa sampe kesini, jadi meskipun di semarang sendiri banyak orang yang ga terlalu gagas dg pemakaian sabuk pengaman ya tetep ceklik ceklik dipasang begitu duduk di depan, tapi nek duduk di belakang sih endak ;)), btw karena skrg lagi mlendung juga, dibeliin suami kayak pengikat gitu yang dipasang di ujung atas sabuk agar ndak terlalu neken perut, kayak gitu ngurangin fungsinya ndak ya?

  3. Grosir Bersama mengatakan:

    Maka dari itu jangan menyepelekan sabuk pengaman karna sebenernya sangat penting untuk digunakan..dan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan

  4. Budiono mengatakan:

    waduh, selain ndak pake sabuk pengaman, mengapa ibu hamil itu disuruh duduk depan sampingnya pak kusir, eh, supir?

    mestinya ibu hamil, anak kecil, orang tua, semua duduk tengah aja…

  5. chocoVanilla mengatakan:

    Aduuuuh, menyedihkan banget, Mas😦 Gara-gara sabuk pengaman yang kelihatan tak gitu penting itu jadi….hiks….hiks…

    BTW, selamat hari raya Mas< maaf lahir batin. Salam untuk keluarga yaa

  6. kaosgrosir.info mengatakan:

    Setuju Mas.
    Sabuk pengaman untuk keselamatan kita sendiri. Hal yang sama berlaku juga untuk helm.
    Ok ?
    Salam

  7. hendra mengatakan:

    sabuk tu buat diri sendiri en kesadaran sendiri harusnya

  8. Emanuel Setio Dewo mengatakan:

    Hiks… ceritanya ngenes.

  9. lola mengatakan:

    sabar gan…critanya gmana gitu

  10. downloadskripsi88 mengatakan:

    very very nice information. I realy like this article download kumpulan skripsi gratis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s