Stop! Dengarkan Saya!

kemahiran mendengar

dengarkan saya!

Hari Sabtu dan Minggu kemaren saya ditugaskan sama pabrik tempat saya mburuh untuk mengikuti semacam penyegaran, atau kalo dalam spanduk yang saya baca di tempat acara berjudul Internalisasi Corporate Value. Bukan bermaksud mengeluh, tapi akhir pekan itu kan waktu buat keluarga. Precil saya selalu menunggu waktu yang cuma dateng seminggu sekali itu untuk sekedar main-main ke stasiun atau liat topeng monyet di alun-alun.

“Saya kasian liat anak saya Kang, biasanya hari Sabtu kan saya yang ngantar sama njemput dia sekolah, tapi gara-gara acara kemaren jadi ndak bisa.” Keluh saya. *lha, katanya ndak ngeluh?*

“Belum lagi sebenernya saya sudah niat mau ngajak dia naik kereta Penataran, pasti seneng banget dia Kang, tapi ya tertunda gara-gara acara kemaren. Mau naik kereta sore-sore keburu hujan.” Lanjut saya.

Kang Noyo mengangguk-angguk dengar keluhan saya. Tapi belum sempat saya membuka mulut lagi, Kang Noyo sudah mendahului, “Lha kamu enak cuma jadi peserta.”

“Aku lho jadi panitia, capeknya bisa 4 kali lipat. Kamu pagi dateng jam setengah delapan, aku lho dari sebelum subuh sudah nongkrong di tempat acara. Malemnya kamu pulang, aku sampe jam 1 pagi masih sibuk beres-beres. Masih enak kamu Le, pulang di rumah bisa ngobrol sama anak istri, aku sampe malem masih mbahas acara sama mandor-mandor. Kita ini kan cuma buruh, yang paling banyak kerja, paling capek, tapi ya yang paling banyak dapet omelan juga. Tapi kalo acaranya sukses bukan kita yang dapet pujian, ya mandor-mandor itu.” Kang Noyo ngeluh panjang lebar.

“Kalo kamu paling cuma Sabtu Minggu kemaren gak bisa istirahat di rumah, aku ini dari minggu sebelumnya, trus lanjut sampe minggu depan, wong ini ada tiga gelombang. Kalo dipikir mangkel yo mangkel juga, kenapa aku terus yang disuruh jadi panitia. Wong yang lain lho masih banyak yang belum pernah ditunjuk, mbok ya gantian…”

Saya datang ke warung Mbok Darmi ini niatnya mau nyari suasana tenang sambil sedikit curhat, tapi yang ada saya menghabiskan segelas kopi dengan 3 batang rokok untuk mendengarkan curhatan Kang Noyo. Blom lagi saya harus kehilangan lima batang rokok lagi yang dihabiskan sama Kang Noyo.

Iki piye tho??

Pernah sampeyan mengalami kejadian seperti saya? Saat sampeyan baru sedikit cerita tentang suatu masalah yang sampeyan alami tiba-tiba lawan bicara sampeyan langsung menimpali dan sedikit memotong dengan kalimat, “Apalagi saya…”

Konon hal seperti ini jamak terjadi. Salah satu hal yang paling sulit dilakukan dalam menjalin suatu komunikasi yang efektif adalah menjadi pendengar yang baik, bahkan seorang bijak di seberang kali sana bilang,

sebagian besar orang tidak mendengarkan, mereka hanya menunggu giliran berbicara.

Ini fakta, dan saya ndak akan repot-repot menuduh sampeyan melakukan hal tersebut. Saya sendiri merasakan hal itu, setiap ada orang yang berbicara kepada saya, otomatis pikiran saya langsung bekerja mencari bahan yang siap dimuntahkan begitu dia berhenti ngomong.

Kalo dibilang penyakit ya bisa saja yang seperti ini dianggep penyakit, karena hal ini jelas jadi salah satu penghambat dalam upaya saya untuk melakukan totalitas pelayanan. Ndak cuma dalam pekerjaan, dalam kehidupan sehari-hari termasuk dalam kehidupan rumah tangga, penyakit ndak bisa mendengar ini turut berperan dalam menciptakan kepura-puraan komunikasi.

Kalo sampeyan merasa memiliki penyakit yang sama dengan saya dan punya keinginan untuk memperbaiki kemampuan mendengar, konon inilah tahap-tahap mulai dari yang paling mudah hingga paling sulit yang harus sampeyan latih:

  • Diam
  • Mendengarkan
  • Memahami
  • Menerima pendapat
  • Menerima kritik
  • Menerima hinaan
  • Menerima pujian

Kalo sampeyan termasuk orang yang berpendapat bahwa yang paling sulit adalah menerima hinaan, siap-siaplah merubah pendapat sampeyan karena konon yang paling sulit dilakukan adalah menerima pujian. Mbah Suto sering bilang sama saya, “Orang Jawa itu kalo dipangku mati.”

Ibarat sekolah, kemampuan mendengarkan juga terbagi dalam beberapa kelas. Dari kelas terendah sampe kelas tertinggi mungkin bisa diurutkan seperti di bawah ini :

  • Mengabaikan
  • Berpura-pura mendengarkan
  • Selektif, hanya mendengarkan yang pengen didengar
  • Penuh perhatian
  • Mendengarkan secara empati

Jadi, sampeyan masuk kelas yang mana?

 

*gambar diambil secara semena-mena dari http://wwwujangbatulintang.blogspot.com/

Iklan

11 comments on “Stop! Dengarkan Saya!

  1. ndaru berkata:

    jiahahahaha…mungkin bawaan orok ya, saya endak gitu sukak cerita..dan mendengarkan orang pun ya saya sebenernya enggan, tapi karena saya endak sukak cerita, dalam banyak hal saya jadinya mau endak mau ya jadi pendengar. Kadang jadi pendengar yang baek, tapi lebih sering males kalok si pencerita sudah mulai ndobos ngalor ngidul

  2. risdania berkata:

    Kalo saya lbh suka baca ^^

  3. wongiseng berkata:

    Barangkali dalam mengomentari blog juga mungkin begitu. Ada yang tidak baca blas, ada yang baca tapi sekilas dan tidak komentar, atau baca sekilas tapi nekad komentar asal, baca sampai lengkap tapi tidak komentar, atau baca lengkap dan komentar ngawur yg gak nyambung :))

  4. jardeeq berkata:

    “Orang Jawa itu kalo dipangku mati.”

    nggak cuma kao kena pangkon doang mati. kalo kena pasangan juga mati kok mas….

    sifat dasar manusia emang gak mau kalah baik pada hal yang menyenangkan atau hal yang menyakitkan….

    tapi, emang bener sih…. jadi pendengar yang baik itu susah. dan menerima pujian dengan baik itu lebih susah.

  5. Chic berkata:

    sebagian besar orang tidak mendengarkan, mereka hanya menunggu giliran berbicara

    ha ya itu bener banget emang. Apalagi jaman sayah masih kerja di Law Firm. Kekeuh pada pendirian masing-masing, dan berusaha saling mematahkan itu biasa toh? 😆

    sekarang saya sudah keluar dari dunia itu, dan pelan-pelan mulai lagi belajar caranya mendengarkan dan berdiskusi, bukan saling mematahkan pendapat. Kalo kita punya pengen denger hal-hal yang kita akuin kebenarannya, lalu kapan bisa belajar hal-hal baru…
    *komen sotoy*

  6. devieriana berkata:

    sering 😆

    saya habis ngeluh “duh kerjaan nggak ada habisnya ya, cuwapek..”, trus diingetin sama temen, “bersyukur kamu diberi kesibukan, pekerjaan, coba liat yang pengangguran atau di kantor tapi nggak ada kerjaan, itu bosen banget lho”

    Biasanya langsung mak clep, klakep! 😆

  7. christin berkata:

    kalo istilah klisenya “itulah makanya Tuhan kasih dua telinga dan satu mulut”

    tapi ya kadang istilah tinggal istilah sih.. di mana ya ada training cara mendengar yang baik, biasanya kok cuman ada cara berbicara yang baik

  8. pipitta berkata:

    “Orang Jawa itu kalo dipangku mati.” itu maksudnya gimana ya, mas? *penasaran*

    • mas stein berkata:

      sebenernya falsafah ini diambil dari huruf jawa. huruf jawa kan hidup semua, misalnya ha na ca ra ka, untuk ‘membunuh’ huruf na jadi n ada semacam tanda baca yang disebut pangku. dalam kehidupan sehari-hari diterjemahkan seseorang ndak akan berkutik setelah dia dipuji atau disanjung.

  9. chocoVanilla berkata:

    Saya termasuk selektif dalam mendengarkan. Kalo ada temen yang ndobos plus ngeluh gak da juntrungannya pikiran saya malah melayang-layang. Paling cuma bilang “Ooo”, “he eh”. Nah yang bikin mati kutu klo dah selese trus minta pendapat saya. Matik aku, hawong tadi gak ndengerin je 😀

  10. mawi wijna berkata:

    resiko Kang, kalau udah tau resikonya ya jangan ngeluh, mbolos wae piye? tapi dah tau resikonya mbolos tow? :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s