Klakson

Konon katanya, salah satu perbuatan yang diharamkan saat berada di jalan adalah mengklakson angkot. Bukan apa-apa, berbeda dengan kebanyakan orang yang akan bereaksi saat diklakson, sopir angkot seakan sedang berada pada ruang dan waktu yang berbeda. Mereka seperti tak mendengar apapun, dengan mata tetap fokus mencari penumpang. Sungguh, mengklakson angkot adalah perbuatan sia-sia, mubazir. Dan sampeyan tau, mubazir itu temannya setan.

Jalanan adalah pabrik kesia-siaan yang luar biasa produktifnya. Misalnya, saat ada kendaraan dari arah berlawanan sedang menyalip, sampeyan akan langsung reflek ngedim atau minimal menyalakan sein kanan. Walaupun jaraknya masih aman. Atau saat motor di depan sampeyan tau-tau belok kiri dan berhenti, sampeyan akan mengklakson. Sekadar untuk meluapkan kekesalan. Kadang sampeyan juga mbengok, “Wooo!” sambil mulut mecucu setengah meter saat ada perilaku yang sampeyan anggap ngawur. Masalahnya, sampeyan mecucu di dalam mobil yang tertutup rapat dengan kaca film 80%.

Makanya, sampeyan jangan terlalu bangga kalo baru sampai pada level berhasil menjauhkan tangan dari klakson saat berada di belakang sopir angkot. Masih terlalu banyak kesia-siaan yang mungkin sampeyan buat di jalanan sana.

Sekarang balik lagi ke soal klakson. Tentu ada alasan di balik kecuekan seorang sopir angkot. Hidup di jalanan itu mirip-mirip orang disuguhi secangkir kopi tanpa gula, pahit. Awalnya mungkin sampeyan merasa seperti sedang minum jamu, ndak enak. Namun setelah berkali-kali sampeyan akan kebas, mati rasa. Kurang lebih seperti itulah yang mereka rasakan, awalnya ndak nyaman. Namun lama-lama bunyi klakson bagi mereka sudah ndak ada rasanya.

Di tingkat yang lebih tinggi, saya harus menjura pada Kang Noyo. Iya, teman ngopi saya yang kampretnya setengah mati itu. Kalau kebanyakan sopir angkot baru pada level mati rasa, Kang Noyo sudah bisa merasakan nikmatnya diklakson. Ibarat peminum kopi yang sudah bisa menyesap rasa lembut dan manisnya arabika.

“Dipisuhi orang di jalan itu sudah biasa, jangan diambil hati,” katanya suatu saat waktu saya tanya bagaimana caranya mempertahankan senyum di jalanan yang seringkali ruwetnya ndak karu-karuan.

Menurut Kang Noyo, bersabar saat dimaki orang, apalagi sekedar diklakson, adalah sarana untuk mengurangi dosa. Tentu dia juga pernah mengklakson dengan cara biadab, sekaligus memaki saat di jalan. Namun yang membuat perbedaan adalah niatnya.

“Orang itu tak klakson sama tak pisuhi, biar dosanya berkurang,” Kata Kang Noyo, masih dengan senyum tersungging. Bajingan Elok tenan, tho?

Sayangnya, walaupun sudah sering berkendara bersama, saya masih belum bisa seberadab itu. Jalanan masih merupakan tempat paling efektif untuk merontokkan bulir-bulir kesabaran saya.

Misalnya, siang tadi saat berhenti di lampu merah pertigaan Blimbing. Jalan yang saya lalui terdiri dari dua lajur, kanan untuk yang ke arah kota, kiri untuk yang ke arah Surabaya. Lampu merah menyala, saya pun berhenti. Posisi saya sekitar baris ketiga dari garis batas berhenti. Lalu datanglah suara itu, bunyi klakson berkali-kali dari motor di lajur kiri tepat di sebelah saya. Kampret tenan! Saya tahu pasti, di bawah lampu merah lajur kiri ada tulisan, “Ikuti isyarat lampu.”

Saya mungkin orang yang selalu kesulitan memahami isyarat perempuan. Namun setahu saya kata-kata “ikuti isyarat lampu” artinya adalah apabila lampu merah menyala, sampeyan harus berhenti. Bahkan, kalaupun yang belok kiri boleh jalan terus, seberapa beratnya sih nunggu sekian detik?

Saya sudah merapal pisuhan, “Rumangsane iki dalane Mbahmu, ta!”

Namun setelah saya menengok ke arah kiri, saya batal misuh. Lha wong yang nglakson sudah mbah-mbah. Takutnya kalo saya pisuhi beliau njawab begini, “Iyo, aku mbahmu, iki dalanku! Kate lapo koen?”

Setelah beberapa saat, lampu hijau menyala. Dan kejadian yang tiap hari saya alami pun berulang. Kendaraan dari arah kota yang menuju Surabaya masih menutupi jalur kami, namun mobil-mobil di sebelah kanan saya sudah mulai mengklakson, menyuruh motor-motor yang ada di depan mereka untuk jalan.

Ketahuilah, Bapak dan Ibu pengguna mobil yang terhormat. Motor-motor di depan sampeyan itu memang salah, karena mereka berhenti melewati garis batas. Sehingga mereka juga ndak tau lampu sudah menyala hijau. Namun percayalah, bukan itu yang membuat mereka belum jalan. Mbok sampeyan klakson ping sewidak jaran, mereka ndak akan jalan kalo kendaraan yang ke arah Surabaya belum berhenti. Ini kan persimpangan, buoss. Jalannya gantian.

Klakson dan lampu merah bukanlah perpaduan yang bagus, kecuali bagi orang-orang yang memang sengaja hendak melatih kesabaran. Namun, kalo boleh milih, saya lebih suka terjebak di lampu merah yang ramai daripada yang sepi. Di jalanan kita ini kan lampu hijau artinya jalan, kuning jalan lebih cepat, merah apalagi. Seringnya kalo jalan sepi, saat lampu kuning menuju merah, orang malah ngebut. Serem. Dan saat kita langsung berhenti, lagi-lagi suara itu yang terdengar, klakson. Kampret tenan.

Namun yang paling juara nganyeli, tentu saja, adalah orang yang bolak-balik mengklakson saat jalanan macet. Karepmu piye, Lek? Kebelet? Nek kesusu budhalo wingi!

Jiyan!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s