Menunggu Saat Buka Kartu

Sebelum dipindah jadi buruh bagian tukang nggali kayak sekarang, dulu pernah saya jadi buruh bagian kelayapan, tepatnya tukang nagih utang. Jadi tugas saya adalah mendatangi pihak-pihak yang punya utang sama pabrik, trus mengingatkan kalo mereka punya kewajiban yang belum dilunasi.

“Itu namanya ndak nagih Le, nagih kok cuma mengingatkan. Harus galak, serem, biar pada mbayar.” Ujar Kang Noyo waktu nongkrong di warung Mbok Darmi kemaren sore. Nyeruput kopi sambil mbatin kenapa sampe bulan Mei kok hujannya ndak brenti-brenti.

“Ya kalo mbayar? Kalo nggertak balik sambil mbawa celurit gimana?” Kata saya.

Saya ndak ngoyo kalo nagih utang pabrik, wong kalo utangnya dibayar ndak nambahi bayaran saya, kalo ndak dibayar juga ndak motong bayaran saya. Ada kalanya memang cara kekerasan macem sita dan lelang digunakan, tapi lebih banyak cara persuasif. Eman-eman kalo sampe nambahi daftar musuh personal, wong ini cuma tugas.

Paling ndak ada empat macem tipe penunggak yang saya temui dalam pekerjaan ini, tipe yang mau tapi ndak mampu mbayar, tipe yang mampu tapi ndak mau mbayar, tipe yang ndak mampu dan ndak mau mbayar, serta tipe yang mampu dan mau mbayar.

Paling enak kalo ketemu tipe yang terakhir, ndak perlu capek-capek berdebat panjang lebar. Dan yang lebih menyenangkan lagi dari tipe terakhir ini adalah pembayarannya bisa dinego!

Jangan berpikir macem-macem dulu, nego yang saya maksud di sini bukan nego untuk ngemplang duit pabrik agar bisa masuk kantong saya. Tapi nego agar setiap bulan saya bisa nampak berprestasi.

“Maksudmu ki piye tho Le?” Tanya Kang Noyo ndak ngerti.

“Jadi begini Kang, tiap bulan kan saya dapet target harus bisa nagih utang sekian rupiah, padahal ndak tiap bulan saya bisa ketemu penunggak yang mau atau mampu mbayar utang. Nah kalo ada orang yang mampu dan mau mbayar utang, trus kebetulan pembayarannya gede, saya atur agar dia ndak mbayar sekaligus.” Ujar saya.

Jadi tiap target saya kurang saya bisa minta dia untuk ngangsur utangnya, bukan ngemplang, ini hanya soal pengaturan waktu.

“Walah! Kalo kerjamu kayak gitu yo ndak beres-beres utangnya pabrik. Wong niatmu cuma biar keliatan kerja.” Omel Kang Noyo.

Saya pringas-pringis ndak jelas. Ini memang main politik kecil-kecilan ala buruh pabrik. Konon katanya politik itu berkaitan erat dengan pencitraan, ndak masalah itu benar atau salah, yang penting kita bisa mencitrakan bahwa itu baik. Seorang juragan blog pernah bilang kalo politik itu soal timing, semua kartu yang didapat disimpan dulu, nanti pada saat dibutuhkan baru dibuka.

Seorang kawan saya di pabrik pernah berkomentar agak sinis tiap kali Detasemen Khusus 88 menggerebek sarang teroris, “Yang seperti ini memang sudah dikondisikan, sebenernya target sudah lama terkunci tapi operasi baru dilakukan saat butuh berita untuk pengalihan.”

Saya ngakak, teringat kata-kata beberapa anggota dewan yang selalu menuding setiap peristiwa sebagai upaya untuk mengalihkan perhatian publik dari kasus Century.

Tapi yang seperti ini memang seperti seperti ngomongin dunia gaib, antara percaya dan ndak percaya. Kang Noyo pun pernah berseloroh bahwa dunia esek-esek bisa tetap ada karena keseimbangannya memang dijaga, PSK dan germonya butuh makan, konsumen butuh pelampiasan, dan aparat butuh tangkapan.

Dengan metode mbuka kartu yang sengaja diirit-irit untuk bahan tawar-menawar seperti itu saya kok ragu metode pemberantasan korupsi yang pernah terjadi di Italia bisa dilakukan sama di negeri tercinta. Bukan cuma korupsi, tapi juga banyak bidang lainnya, termasuk mungkin juga terorisme.

Ini tentang pencitraan, bukan bermaksud untuk menutupi, hanya soal pengaturan waktu.

Jiyan!

Iklan

15 comments on “Menunggu Saat Buka Kartu

  1. tmn kang nyono berkata:

    inget2 kyk jmn dl ditimur ex kerasidenan kekuasaan smpeyan yaitu maen kartu “Trup”….

    #stein:
    hahaha!

  2. mawi wijna berkata:

    semua politis pegang kartu Joker, jiyan!

    #stein:
    ndak semua joker kok mas, tapi yang penting bisa dimainkan ๐Ÿ˜†

  3. clingakclinguk berkata:

    oooo…jadi kalo kartunya buru-buru dibuka smua sekarang, permainan jadi cepet bubar donk ya? *nunggu timing buat pasang taruhan*

    #stein:
    kayaknya memang begitu, sengaja biar disorot lampunya makin lama :mrgreen:

  4. Bupil.com berkata:

    Bgus sekali postingnya. Dari tentang profesi jadi tukang nagih utang sampe ke korupsi di italia. Oke tetap semangat ngeblog

  5. […] This post was mentioned on Twitter by mas stein. mas stein said: Menunggu Saat Buka Kartu: http://wp.me/ppZ5c-sy […]

  6. dedekusn berkata:

    Pengutang, penagih utang, ternyata banyak jenisnya ๐Ÿ™‚

  7. chocoVanilla berkata:

    Ooo, ngono to, Mas? Jadi sebetulnya semua dah tau semua tinggal nunggu waktu yang tepat to?

    (maklum aku ini cuma konsentrasi nyari minyak goreng murah mulu, sihh… :D)

    #stein:
    piro mbak standardnya? yang dua liter dibawah 18 ribu? ๐Ÿ˜†

  8. Vicky Laurentina berkata:

    Wow, Mas Stein! Saya terkesan dengan cara Mas memupuk prestasi!

    Saya rasa tiap pegawai butuh reward ya, Mas. Entah itu berupa rupiah atau sekedar pujian. Makanya saya ngerti kenapa motivasi kerja PNS tidak sekencang pegawai swasta. Lha wong kerja nggak kerja tetap aja bayaran tunjangannya sami mawon..

    #stein:
    ssstttt… jangan keras-keras mbak…

  9. Asop berkata:

    Mantab. ๐Ÿ™‚
    Bener ya Mas, politik itu masalah pencitraan. ๐Ÿ˜

    #stein:
    sampeyan minat? pake citra sekarang! *eh*

  10. Yu2n berkata:

    Setuju dg taktik pengalihan isu itu mas.. memang sering terjadi skr. Media pun sptnya mengikuti saja, mana berita terhangat itu yg diangkat, berita yg lalu2 apa trus jadi dilupakan? padahal masyarakat msh penasaran dg kelanjutannya. entahlah.. saya ndak ngerti juga ๐Ÿ™‚

    Oya, salam buat mbok Darmi yaa.. kpn2 bisa ikut ngopi disana? hehe.. tp kang Noyo yg bayar. *eh*

    #stein:
    yang penting dagangan laku pokoknya ๐Ÿ˜†

    • Gali tutup lobang sudah jadi solusi paten sejak dulu. hebatnya netizen banyak yg tak tergoda ๐Ÿ™‚ seperti mastein ini

      #stein:
      sampeyan salah mas, saya sudah terbiasa gali lobang tutup lobang. ini pola hidup standard buruh ๐Ÿ˜†

  11. ulan berkata:

    oooww gitu to mas

    #stein:
    mungkin begitu mbak, apalah saya ini

  12. soewoeng berkata:

    kasihan perusahaanya… gara gara satu orang jadi babak belur semua

    #stein:
    perusahaannya siapa om? ๐Ÿ˜†

  13. cerdik ya… untung gak ketahuan^^ Kalo soal pengalihan isu saya setuju banget, biar kelihatannya ada hal yang lebih heboh dan peristiwa yang lalu terlupakan.

    #stein:
    berita menutup berita ๐Ÿ˜†

  14. adipati kademangan berkata:

    wow carane sampeyan iso ditiru ki
    Ben pencitraanku cepet munggah ๐Ÿ˜€

    #stein:
    mumpung masih buruh, ayo main akal-akalan :mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s