Membingkai Sensasi dalam Secangkir Kopi

Rasanya sudah lama sekali saya ndak mengunjungi warung ini, tempat saya biasa menikmati kopi seribuan yang pekat aroma jagungnya, sambil pelan-pelan mengunyah pisang yang baru diangkat dari wajan berisi minyak jelantah mendidih dengan level kekeruhan tingkat dewa. *saya lebay, memang…

Kangen, saya rindu menyesap nuansa, kangen dengan kemakinya Kang Noyo, kangen dengan bualan Pak Darmo, kangen dengan cerita-cerita Mbah Suto, kangen juga dengan keluguan Mbok Darmi.

“Mas, kopinya sekarang naik lho, jadi dua ribu!” Sambut Mbok Darmi dengan kejam, eh maksudnya bukan kejam, tapi mbok yao, saya kan sudah lama ndak ke sini, ada basa-basinya sedikit gitu lho…

“Lah Mbok, kalo jadi dua kali lipat itu namanya bukan naik, tapi ganti harga…”

Ngomong-ngomong ada alasan kenapa saya lama ndak ke warung Mbok Darmi. Salahkan temen saya dari Jakarta, yang dengan semena-mena sudah mengirimkan kopi luwak kemasan satu kilogram, dua kali. Dan kalo sampeyan mau tahu harga satu kilonya, Rp 3.400.000! Baca lebih lanjut

Rodo Keminggris: Substance Over Form

Bulan kemaren waktu main ke Batu, saya kaget saat adik saya cerita, simbok saya di kampung berobat ke pengobatan alternatif. Sik, biar ndak salah paham saya cerita dulu. Simbok saya itu punya penyakit diabetes, setelah dua tahun berobat ke dokter di Blora sana dan ndak ada perubahan signifikan akhirnya saya meminta beliau untuk berobat di Malang.

Saya bawa beliau berobat ke Prof Djoko Wahono Soeatmadji di klinik Bromo, lumayan, selain kondisinya membaik di sini juga ada pelajaran dasar tentang diabetes yang selama ini saya ndak tau. Tiga hal yang harus dijaga bagi penderita diabetes adalah kadar glukosa darah, tekanan darah, dan lemak darah, jadi ndak cuma kadar gula saja yang harus diperhatikan. Lha untuk menjaga tiga hal tersebut si dokter sudah meresepkan obat dengan takaran yang dibuat pas, ndak kurang ndak lebih. Yang saya takutkan dari pengobatan alternatif adalah takaran dari dokter tadi mungkin jadi ndak pas buat simbok.

tiga sasaran kendali pada diabetes

tiga sasaran kendali pada diabetes

Saya telepon simbok, saya bilang ndak usah neko-neko pakai pengobatan alternatif segala, wong si profesor bilang diabetes itu penyakit yang ndak bisa disembuhkan, ndak usah percaya sama pengobatan ajaib. Simbok saya ngeles, beliau bilang, “Ini lho yang mbuka praktek perawat, dan obatnya herbal, ndak seperti obat kimia yang punya efek kemana-mana.”

Dengan nada yang sedikit sinis saya terpaksa mengingatkan simbok, “Opo kalo perawat itu pasti ampuh? Trus kurang herbal apa kecubung sama ganja?” Baca lebih lanjut

Menakar Watak Dalam Secangkir Kopi

Salah satu kebiasaan yang kadang dipandang aneh adalah saat pagi begitu sampai di pabrik saya akan membuat secangkir kopi, diseruput sedikit-sedikit, dan nanti baru habis sore menjelang jam bubaran pabrik, benar-benar habis. Ndak seperti kawan-kawan saya yang membuat kopi dan hanya dinikmati selagi panas, maksimal sampai anget, kalo ternyata sebelum habis sudah dingin ya ditinggal.

Suatu saat ada seorang pejabat dari gedung belakang, bukan pejabat kemaki yang dengan kawalan voorijder suka minta didahulukan itu, pejabat yang saya maksud di sini adalah pemuda jawa beraroma batak. Maklum, sebelum ke Pasuruan dia ini sempat terdampar cukup lama di tanah Sumatra. Sebagai tanda persahabatan saya tawarkan untuk join kopi, dia menyeruput sedikit dan langsung lari ke kamar mandi, kopi saya dimuntahkan.

“Bwah! Kopi apa ini? Pahit…” Katanya sambil misuh-misuh.

Lha, ini kan kopi, dan semua kopi memang pahit, sampeyan berharap apa? Baca lebih lanjut

Belajar Memahami Arti Bacaan Sholat

Suatu saat Perdana Menteri Jepang dijadwalkan bertemu dengan Presiden Amerika Bill Clinton. Sang Perdana Menteri agak grogi karena beliau ndak bisa Bahasa Inggris. Oleh stafnya beliau mendapat briefing, “Santai saja Pak, nanti waktu ketemu sampeyan tanya saja how are you? Nanti paling akan dijawab sama Pak Clinton i’m fine, thank you, and you? Sampeyan jawab me too. Wis, setelah itu biar penerjemah yang membereskan sisanya.”

Bertemulah mereka, Perdana Menteri Jepang bertanya, “Who are you?”

Bill Clinton yang kaget mendapat pertanyaan itu spontan menjawab, “I’m Hillary’s husband.”

Perdana Menteri Jepang menyahut, “Me too…

Guyon lama yang saya yakin 68% sampeyan pernah mendengarnya. Lucu, sampai saya ingat bahwa saya pun melakukannya, minimal lima kali sehari, berkomunikasi dengan bahasa yang saya ndak 100% memahaminya. Mengucap tanpa memahami artinya, padahal komunikasi itu saya lakukan dengan Pencipta alam seisinya.

Betul sekali sodara-sodara, bacaan yang tiap hari saya baca seolah sedang merapal mantra itu adalah bacaan sholat. Tulisan ini saya ambil bahannya dari blog Mas Ansori, sebagai pengingat untuk diri sendiri, sukur-sukur kalo ada manfaatnya buat sampeyan juga.

Baca lebih lanjut

Maukah Sampeyan Dimengerti?

Perempuan menerima kehadiran lelaki dengan harapan mereka akan berubah, dan mereka salah, karena lelaki tidak pernah berubah. Lelaki menerima perempuan dengan harapan mereka tidak akan berubah, dan mereka salah, perempuan akan berubah.

Saya ndak tau siapa yang pertama kali membuat ungkapan seperti itu. Mungkin yang dimaksud adalah perempuan menerima lelaki dengan harapan sifat buruknya akan berubah, ternyata mereka ndak pernah bisa berubah. Dan lelaki yang berharap istrinya akan tetap sesekseh saat masih pacaran, ternyata proporsinya berubah. Atau paling ndak itulah yang saya pahami.

Mungkin di antara sampeyan ada yang berpikir bahwa pernikahan adalah sebuah momen, “when two become one” seperti lagunya Spice Girls. Sah-sah saja, wong di sekolah memang ndak pernah diajarkan, dan di ujian nasional juga ndak pernah ditanyakan, alias ndak ada bener salah yang mutlak di sini. Tapi menurut saya when two become one yang dimaksud Spice Girl bukan itu, baca saja liriknya

Come a little bit closer baby, get it on, get it on
‘Cause tonight is the night when two become one

Syaratnya when two become one adalah sampeyan harus get it ON, jadi pastinya itu bukan pernikahan, tapi hanya sebuah efek samping dari pernikahan. *oke, tulisan ini makin lama makin ndak jelas* Baca lebih lanjut

Gambar Kamu Kurang Bagus

Beberapa hari ini sebenarnya nongkrong di warung Mbok Darmi kurang begitu menenangkan, yang berarti kehadiran saya di situ jadi sedikit keluar dari konsep awal, saya ngopi adalah dalam rangka mencari nuansa. Menyesap kopi sambil mencoba mengecap apa yang mungkin masih terserak di hati. *halah!*

Sebab utama tentu karena akhir bulan adalah tanggal tua, saat tiap receh yang tersisa harus diperhitungkan secara cermat demi mempertahankan asap dapur. Penyebab lainnya adalah angin kencang yang beberapa hari terakhir makin menggila, kadang saya agak kuatir warung Mbok Darmi yang banyak make bahan dari bambu ini bakal ambruk.

Tapi ngopi di warung Mbok Darmi buat saya adalah sebuah ritual, rasanya ada yang hilang kalo ndak saya jalankan. Walaupun resikonya tanggal tua jadi makin terasa tua berkat bantuan Kang Noyo yang masih rajin menjarah batang demi batang rokok saya.

“Piye Le? Menang kemaren?” Tanya Kang Noyo sambil dengan santainya mengambil batang kedua dari bungkus rokok saya.

“Menang opo Kang?” Saya agak bingung.

“Itu, yang lomba hari bapak.”

Ooh, yang itu. Jadi ceritanya saya dapet surat dari TK-nya si Barra, bilang kalo hari Sabtu di sekolah akan diadakan lomba finger painting dalam rangka memperingati Father’s Day, Baca lebih lanjut

Bukan Tentang Muhammadiyah, Ahmadiyah, Syiah, dan Salib

Komplek tempat saya tinggal mendadak anget, bukan karena musim hujan yang mendadak pergi tentunya, karena sampe sekarang ternyata hujan deras masih setia berkunjung tiap hari. Bukan pula efek pemanasan global, yang konon telah berhasil mencairkan sedikit demi sedikit salju di kedua ujung bumi. Bukan pula gesekan antar etnis atau antar agama yang berujung bakar-bakaran (kalo ini sih panas, bukan anget lagi).

Lha trus apa?

Penyebabnya adalah pendatang baru yang ngontrak bekas rumah Pak Gatho.

Kok?

Jadi ceritanya dulu ada tetangga saya namanya Pak Gatho, ngontrak sebuah rumah di komplek saya. Setelah genap dua tahun si pemilik rumah minta tarifnya naik, sekitar tiga atau empat juta lebih mahal dari tarif semula, Pak Gatho nawar, ndak ketemu harga yang pas, akhirnya beliau pindah. Dan beberapa hari yang lalu datanglah pengontrak baru yang katanya menghangatkan suasana itu, paling ndak itulah yang diceritakan Kang Noyo sama saya.

“Mosok kamu ndak liat Le, dia itu NGGANTENG!” Cetus Kang Noyo sambil agak bersungut-sungut.

Saya garuk-garuk kepala, ngganteng, trus di mana masalahnya? Baca lebih lanjut