[Tips] Menghadapi Kebohongan Anak

Sampeyan pernah ketemu sama orang yang defensif? Selalu berlindung di balik cangkang, susah menerima masukan, cenderung melakukan penyangkalan, menempatkan diri di zona yang ndak bisa disentuh orang? Lebih celaka lagi untuk melestarikan kenyamanan itu dia melakukan berbagai macam kebohongan. Saya pernah, dia seorang perantauan usia belasan, berasal dari keluarga broken home yang kerja jadi pembantu (atau yang sekarang sering disebut asisten rumah tangga) di rumah temen.

Sebagai seorang mantan calon psikolog gagal (dulu saya ini ndaptar di fakultas psikologi UGM, tapi sayang otak pas-pasan) saya berusaha menganalisa perilaku tersebut. Sesungguhnya tulisan ini ndak perlu dibaca lebih lanjut karena dasarnya cuma ilmu kemeruh yang sudah mencapai taraf kronis, tapi apabila ternyata sampeyan sedang mengalami sindrom galaundakpunyagaweanis mungkin tulisan ini bisa berguna untuk membunuh waktu.

Menurut sebuah artikel yang saya kutip dari okezone, seorang anak mulai berbohong pada umur 3 tahun. Arnold Goldberg, seorang psikolog dari Rush Medical College, Chicago, mengatakan berbohong merupakan bagian yang tak terpisahkan dari perkembangan kemampuan dalam upaya mengidentifikasi kenyataan sekitarnya. Sedangkan Paul Ekman dalam bukunya yang berjudul Why Kids Lie, menyatakan keberanian berbohong merupakan pertanda munculnya keberanian menafsirkan kenyataan yang ada di sekitarnya, dan merupakan awal kemandirian.

Lain psikolog, lain lagi kata psikiater. Menurut psikiater Bryan King dari UCLA School of Medicine yang pernah meneliti kebohongan akibat kelainan patologis, menyatakan bahwa berbohong merupakan perilaku yang melebihi batas-batas kejahatan, tetapi pelakunya tidak harus berbuat dan tidak berbakat bertindak kriminal. Tidak sampai di situ saja, King menemukan kelainan neurologis pada otak anak yang suka berbohong. Pada bagian gudang memori terjadi gangguan yang mengakibatkan hilangnya sejumlah data.

Pada bagian lain, anak akan mengalami kelemahan pada pusat berpikir kritisnya, yang berfungsi untuk mengevaluasi setiap informasi yang masuk ke otak. Kerusakan neurologis ini akan mengakibatkan hilangnya sensitivitas pada akurasi yang membuat seseorang (pembohong) tidak lagi tahu mana yang bohong dan mana yang tidak bohong (benar). Kesimpulannya, kebohongan merupakan pasangan tetap beberapa kelainan jiwa. Semua kebohongan dikategorikan sebagai kebohongan yang destruktif alias merusak.

Manteb tenan tho tulisan di atas? Ya jelas, wong itu cuma kopi paste dengan sedikit modifikasi.

Jujur adalah kunci perbaikan, orang harus berani jujur kalo dia bodoh agar mau belajar, orang harus berani jujur penghasilannya kurang biar konsumsi ndak berlebihan dan mau nyari tambahan, orang harus berani jujur tulisannya cuma kopi paste biar ndak besar kepala padahal cuma ndompleng kerja keras orang lain. *halah!*

Untuk mencegah anak berbohong pertama-tama kita harus tau penyebabnya. Dan menurut artikel dari kompas yang (lagi-lagi) cuma saya kopi paste, ada 5 alasan anak berbohong:

  1. Takut disalahkan

    Ndak ada orang yang suka duduk di posisi tertuduh. Demi menghindari teguran dan hukuman sangat mungkin anak akan berbohong, apalagi kalo dia pernah mendapat pengalaman buruk saat berbuat kesalahan.

  2. Terlihat lebih hebat

    Kadang anak bisa berbohong karena ingin telihat lebih hebat dari yang sebenarnya, hal ini bisa disebabkan kurang percaya diri saat berada di lingkungan yang “berlevel” tinggi.

  3. Merasa tidak punya pilihan

    Pola pengasuhan yang otoriter bisa membuat anak berpikir bahwa kesalahan adalah sesuatu yang ndak terampuni, sehingga ketika dia bersalah mau ndak mau dia akan berbohong demi menghindari hukuman.

  4. Tidak ingin mengecewakan

    Hati-hati apabila sampeyan selalu menaruh harapan yang tinggi pada anak, bisa saja suatu saat mereka berbohong hanya karena ndak pengen mbikin sampeyan kecewa.

  5. Merasa tidak dihargai

    Kadang orang tua kurang menghargai proses yang sudah dijalani anak dan hanya berorientasi pada hasil. Hal ini pun bisa memicu anak untuk berbohong karena merasa perjuangannya ndak dapet apresiasi.

Setelah tau apa saja yang kira-kira membuat anak berbohong, saatnya kita tau apa yang harus kita lakukan pada saat anak berbohong. Dan tentu saja bagian terakhir tulisan ini pun cuma sekedar kopi paste dari sebuah artikel di internet (yang saya bingung, sebenarnya yang nulis si Eka atau Radel?).

Inilah yang bisa kita lakukan saat mengetahui anak kita telah berbohong:

  1. Jangan langsung memarahi anak, pastikan bahwa anak ndak bohong bukan karena takut tapi karena tau bahwa bohong itu ndak baik.
  2. Ndak semua kebohongan bisa diselesaikan dengan metode yang sama, asap knalpot lain dengan asap sampah karena beda penyebabnya tho?
  3. Pererat komunikasi dengan anak, buatlah mereka merasa nyaman dan berani terbuka dengan kita.
  4. Buat anak merasa aman dengan kita walaupun dia telah melakukan kesalahan.
  5. Jika sudah merasa buntu mulailah menggali tembok perbanyaklah referensi atau berkonsultasi dengan pihak lain.
  6. Evaluasi cara mendidik di rumah, penerapan disiplin yang berlebihan kadang cuma membuat anak takut tapi mereka tetep ndak ngerti.

Setelah dobosan yang panjang dan lebarnya sedikit melebihi kapasitas otak buruh pabrik macem saya ini saya menyimpulkan, salah satu pemicu anak berbohong adalah pengalaman tidak menyenangkan saat mengungkap kesalahan, jadi tanamkan kepercayaan pada anak bahwa jujur adalah kunci perbaikan, jangan sampai anak berpikir bahwa jujur itu menyakitkan. Ingat, bukan cuma anak, semua orang pernah berbuat salah, termasuk saya dan sampeyan.

Iklan

7 comments on “[Tips] Menghadapi Kebohongan Anak

  1. ndaru berkata:

    gejala bohong ini endak terjadi cuman pada anak kecil saja lho paklek..saya dulu sempat malang melintang di dunia maya, aliyas ngempros ngalor ngidul di sarana perchattingan..kebanyakan pelakunya didasari motif ke2 dari artikel di kompas itu…dunia chatt kadang juga menjadi pelarian dari apa yg endak bisa dia bikin di dunia nyata..saya endak tau bohong macam ini dosa apa endak

  2. dobelden berkata:

    peran orangtua pun besar, karena suka “tanpa sadar” mengajarkan anak untuk berbohong, misal : ada tukang bakso lewat, krn gak mau belikan anak jajan, sang ortu berkata :”baksonya abis” atau “baksonya gak enak” atau “baksonya gak dijual” dan lain kata serta sikon.

    prilaku ortu seperti ini juga mempengaruhi kebiasaan bohong dari sang anak.

    membentuk mental anak itu gampang-gampang susah, karena masa balita, adalah masa meniru.

  3. MeyBengkulen berkata:

    kl bner2 dikuliti sbnernya bnyak bgt kekeliruan yg dilakukan org tua baik dlm mndidik anaknya. ini yg kdg blm disadari kita.

    salam kenal mastein

    mhon do’a jg atas kabar duka di http://kakmila.wordpress.com/2011/01/04/semangat-sembuh-untuk-sausan/

  4. chocoVanilla berkata:

    Klo anak-anakku berbuat salah yang saya taunya belakangan, gak tak marahi. Soale mereka berani menceritakan apa adanya saja sudah bagus bgt buatku. Kalo dimarahi nanti malah mereka gak mo cerita2 lagi. Nanti kalo dah lamaaa baru dinasehatin jadi gak langsung2an 😀

  5. andinoeg berkata:

    suatu kebohongan akan menimbulkan kebohongan baru

  6. andinoeg berkata:

    satu kebohongan akan menciptakan kebohongan yang lain

  7. yulifia berkata:

    nice post…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s