Karena Duit Saja Ndak Cukup

Sekian waktu yang lalu Kang Noyo pernah menawari saya untuk menjadi orang tua asuh. Sampeyan mungkin pernah juga pernah membaca tawaran semacam itu. Untuk SD nilainya sekian rupiah per anak, SMP sekian, SMA sekian, dan seterusnya. Saya cuma nyengir.

Ndak, saya ndak bermaksud meremehkan tawaran semacam itu. Bukan pula karena yang menawarkan adalah Kang Noyo, seorang perokok yang memberatkan teman dan penggemar kopi gratisan. Apalagi sampai ingin membelokkannya ke arah, “Bukankah itu tanggung jawabnya negara?”

Sebagai seorang jarkoni –iso ngajar ora iso nglakoni- saya membalas penawaran itu dengan sebuah usulan, “Gimana kalo dana semacam itu dikelola sendiri, Kang.”

Ambillah contoh, misalnya seperti Direktorat Jenderal Pajak. Sebuah instansi pemerintah yang memiliki ratusan kantor dengan puluhan ribu pegawai. Dalam beberapa tahun terakhir mereka rutin mengumpulkan dana dari pegawai yang berkenan. Dana itu lantas disalurkan untuk membiayai pendidikan anak-anak yang membutuhkan di sekitar lokasi kantor masing-masing. Penyalurannya bukan atas nama instansi, tentu saja, melainkan atas nama paguyuban pegawai.

Riya?

Oh, ndak. Riya itu kalau misalnya masing-masing orang ingin terlihat dermawan. Ini ndak seperti itu. Para pegawai itu hanya ingin memberi manfaat bagi sesama manusia. Dan manfaat apa yang lebih besar daripada ilmu yang bermanfaat? Manfaat yang beranak-pinak. Kalau misalnya di sebuah momen wisuda kok kebetulan ada salah satu siswa (atau mahasiswa) berkata dengan nada terharu dan suara bergetar, “Terima kasih saya ucapkan kepada KPP Pratama Anu,” lalu nama DJP terangkat dan mendadak petugas pajak disambut hangat di masyarakat ya itu cuma efek samping. Niatannya kan ndak begitu.

Yang mengelola siapa? Ah, sampeyan itu. Instansi sebesar DJP kan ndak pernah kekurangan orang. Selalu ada golongan yang mempunyai kelebihan energi sampai ikut organisasi macem-macem, kegiatan macem-macem, bahkan paham dan aliran macem-macem. Banyak di antara mereka yang selalu berkeluh kesah ingin mengubah keadaan, kan? Ya mereka ini pengelolalnya. Alhamdulillah ndak pernah ada masalah.

Haibat, bukan? Khoir ya akhiy….

Eh, itu contoh beneran ndak, sih?

Pokoknya contoh semacam itulah yang saya uraikan kepada Kang Noyo. Ibarat kata pepatah, sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui. Ya Rabb, dayungnya segede apa coba? Selain memberi manfaat pada sesama juga menyumbang nama baik pada instansi.

Saya teringat tawaran Kang Noyo itu gara-gara saat ngopi di warung Mbok Darmi tadi sore saya ketemu Mbah Suto, juragan paling sugih sekampung. Beliau lagi mumet.

“Mbok ojo mumet tho, Mbah. Kalo urusan sesepele mumet saja sudah Sampeyan ambil, lalu kroco mumet seperti saya kebagian apa?” tanya saya.

“Ngomong maneh, tak tuku lambemu!” Saya langsung mak klakep.

Ternyata beliau mumet karena salah satu anak asuhnya minggat. Jadi ceritanya Mbah Suto ini punya pembantu, seorang janda beranak satu. Sebagai juragan yang bertanggungjawab, tur sugih, beliau membiayai sekolah anaknya si pembantu. Ndilalah, si anak yang baru kelas satu SMA ini berulah. Uang SPP dua bulan ndak dibayarkan.

“Aku sebenarnya ndak masalah, Le. Umur segitu kan memang ndableg-ndablegnya bocah. Tapi anaknya entah malu apa gimana, trus ndak mau sekolah.” Ujar Mbah Suto.

Sudah beberapa kali pihak sekolah, juga Mbah Suto mendatangi si anak di rumah mbahnya. “Kemarin itu anaknya sudah sempat mau sekolah, masuk setengah hari. Pengennya tak suruh tinggal di rumahku saja, biar gampang ngawasi, lha kok malah sekarang minggat,” keluh Mbah Suto.

“Kamu dengar itu? Iyo nek dibayari sekolah terus lulus dan bilang terima kasih. Kalau dibayari terus minggat, piye?” Suara nyinyir Kang Noyo mendadak terdengar. Ampas tenan. Sekian lama ndak ke warung Mbok Darmi, sekalinya datang kok yo ketemu makhluk ini lagi.

“Wong-wong sing duite nanggung koyo kowe ki ncen sering salah kaprah. Kowe jarang pegang duit tho? Jadi mbok pikir semua-muanya bakal beres kalau ada duit.” Kata Mbah Suto.

Wogh, sapi!

Mbah Suto lantas bercerita. Suatu saat ada anak di kampungnya yang berniat ndak sekolah setelah lulus SMP karena faktor biaya. Si anak lantas dibiayai untuk masuk SMA. Semua berjalan lancar, sepertinya, sampai beberapa bulan kemudian Mbah Suto mendengar kabar bahwa si anak sudah ndak masuk sekolah selama sebulan.

“Jebul situasi keluarganya ndak terlalu mendukung dia untuk tetep sekolah. Akhirnya anak itu tak suruh tinggal di rumahku, mengulang SMA dari kelas satu,” cerita Mbah Suto.

“Kalau kamu ngomongin anak sekolah, itu ndak cukup kalau kamu cuma setor duit, terus semua mbok serahkan ke pihak sekolah. Keluarga dan lingkungan juga ikut berpengaruh,” lanjut Mbah Suto.

“Kamu harus ikut memotivasi, mengikuti perkembangan, mengawasi lingkungan pergaulan dan segala macemnya. Nek kamu berniat jadi orang tua asuh yo harus berlaku selaiknya orang tua.”

Saya cuma diam. Pengalaman saya jadi orang tua memang baru seujung upil beliau. Apalagi pengalaman mengeluarkan duit. Yang saya rada ndak ikhlas diamnya itu karena melihat Kang Noyo yang manggut-manggut sambil melirik seolah dia sederajad sama Mbah Suto.

“Kita itu sama-sama kroco mumet, Kang!” Saya misuh. Dalam hati, tentu saja.

“Kamu dengarkan itu, Le. Menyekolahkan itu ndak sesederhana membayar sekolah.” Kang Noyo sekarang mulai menimpali.

“Ndak cukup kalo kamu nyekolahin, terus cuma nanya, mbayarmu piro? Butuhmu opo? Segini, cukup? Sana sekolah.”

“Sekolah ki ndak cukup mung nyoh, nyoh, nyoh! Nek kurang njaluk maneh.”

Saya tak lagi menyimak obrolan. Sore ini harusnya menjadi sore receh yang menyenangkan. Dan saya bertekad untuk tetap menjadikannya seperti itu. Cukuplah sepotong ubi, secangkir kopi, dan segenggam lamunan yang melenakan.

Saya melihat Kang Noyo berdiri, “Ini semua yang mbayar Sampeyan kan, Mbah?”

Dasar ampas tahu.

Jiyan!

Iklan

One comment on “Karena Duit Saja Ndak Cukup

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s