Aku Berlindung dari Godaan …

Itu adalah Ramadan masa kecil, ketika di malam-malam harinya, aku mau berangkat mengaji dan ketakutan karena harus melewati sawah dan kuburan. Orang-orang bilang, “Ndak usah takut. Sekarang bulan puasa. Setan lagi pada dirantai, ndak bisa ke mana-mana.”

Aku bisa sedikit tenang. Dalam bayanganku waktu itu, segala jenis jin, setan, demit, prewangan sedang meratap dalam pasungan kayu. Kenapa pasungan kayu? Harap maklum, aku menghabiskan masa kecil di dusun yang juga kecil. Seberapa kecil? Jika kau pernah membaca Ronggeng Dukuh Paruk-nya Ahmad Tohari, kira-kira begitulah. Hanya ada enam puluh lima kepala keluarga di kampung kami yang bersahaja. Dan satu-satunya contoh manusia terbelenggu di kampong yang kutahu adalah Mbah Bodo. Ia dipasung dengan kayu karena sering mengamuk. Aku tak mengenal bentuk belenggu-belenggu yang lain.

Boleh-boleh saja jika pasungan kayu itu membuatmu ingin ceramah soal Hak Asasi Manusia, aku akan dengan senang hati mendengarkan. Kau bisa bercerita sambil kutraktir kopi hitam dan gorengan ubi, sembari melihat-lihat keluguan kampung kami. Barangkali kau akan berkenan memberi pencerahan kepada warganya bahwa pasungan kayu tidaklah manusiawi. Yang jelas, gambaranan pasungan kayu benar-benar membantuku saat itu. Aku tidak takut lagi melewati pojok kuburan yang jauh dari rumah penduduk. Aku tak lagi takut sesosok pocong atau kuntilanak akan muncul tiba-tiba seperti di film-film horor bikinan Raam Punjabi.

Beranjak remaja, pemahamanku sedikit berubah. Ternyata jin, setan, demit, dan prewangan itu banyak ragamnya. Dan tak semua dibelenggu di bulan puasa. Konon, cuma iblis kelas berat dan anak turunnya saja karena mereka suka menggoda manusia untuk berbuat dosa. Mereka dibelenggu supaya tak mengganggu umat Islam dalam berpuasa. Apesnya, itu juga berarti aku harus kembali waspada. Kembali terbuka kemungkinan setiap kali jalan sendiri malam-malam, aku bertemu mbak-mbak berambut panjang, berbaju putih dengan punggung berdarah, dan tertawa ngikik di bawah rumpun bambu.
Baca lebih lanjut

Tentang Jalan Paving dan 60 Lampu

Konon katanya, pemerintah merencanakan membangun jalan tol sepanjang 1.000 kilometer dalam lima tahun ke depan. Dari total tersebut, sepanjang 392 kilometer akan diselesaikan di tahun 2017. Penambahan ruas tol tersebut bertujuan untuk meningkatkan konektivitas dan mendorong pemerataan pembangunan di daerah.

Secara umum, jalan tol memang lebih nyaman untuk dilewati. Makanya agak janggal semisal ada orang yang memprotes kehadiran jalan tol, kecuali para makelar tanah yang sedang mencoba menggoreng harga tentunya. Namun sampeyan boleh percaya boleh ndak, hal semacam itu pernah terjadi.

Jaman saya kecil dulu, sekitar awal sembilanpuluhan, bapak sering membawa pulang majalah bekas dari rumah paklik saya di Jogja. Di salah satu majalah tersebut -kalo saya ndak salah, majalah Tempo- ditulis tentang protes sekelompok orang di Malaysia atas pembukaan jalan tol di salah satu daerah. Setelah ditelisik, penyebab kemarahan tersebut ternyata karena selain membuka jalan tol, pemerintah setempat juga menutup jalan arteri yang selama ini digunakan warga. Meskipun lebih nyaman dan tarifnya murah menurut klaim pemerintah, warga protes karena hilangnya jalur alternatif.

Baca lebih lanjut

Panjangin dikit Mas, buat…

“…, pada sahihnya kerja kita belumlah tamam.”

Potongan kalimat itu saya cuplik dari majalah internal pabrik tempat saya mburuh. Barangkali terdengar biasa saja bagi sampeyan. Boleh jadi satu-dua orang saja yang menyempatkan diri menengok Kamus Besar Bahasa Indonesia, sebelum bergumam bahwa akan lebih mudah dipahami jika ditulis “sebenarnya kerja kita belum selesai”.

Dalam tulisan, pilihan kata yang tepat dan selaras sangat penting demi mendapat efek tertentu yang diharapkan. Penulis tentu sudah menggambar aura yang ia ingini, yang akan hadir di benak pembacanya. Seperti kenapa memilih “sahih” ketimbang “benar”, atau “tamam” alih-alih “selesai”.

Tak semua tulisan bagus memakai kata-kata tidak jamak – saya pribadi lebih suka menyebutnya eksotis – semacam itu. Sebagaimana tidak semua yang memakai kata-kata ajaib, lantas berujung menjadi tulisan bagus. Pilihan kata saja tentu tak cukup. Selain kata yang cermat, perlu kemampuan tersendiri untuk menyusunnya dalam kalimat yang tertata apik. Baca lebih lanjut

Tulisan untuk Abang

Konon katanya, pemimpin itu cuma satu, sedangkan anak buah itu banyak. Sehingga, pemimpin bisa mengerti anak buah itu sunnah, sedangkan anak buah mampu menyesuaikan diri dengan pimpinan adalah wajib. Silakan berargumen bahwa pemimpin haruslah bisa mengayomi semua anak buah, yang masing-masing mengandung keunikan individu. Tapi, sampeyan akui atau ndak, setiap pemimpin, yang juga merupakan individu unik, bakal lebih menuntut untuk diikuti jalan pikirannya, dan ini wajar, inilah yang membuat mereka disebut pemimpin.

Jadi ceritanya, pabrik tempat saya mburuh kedatangan juragan baru, laki-laki, Batak, dan masih muda. Sempat rada kecewa sebenarnya, karena saya sempat berharap yang datang Batak perempuan, semacam Nadya Hutagalung, Atiqah Hasiholan, Astrid Tiar, atau sukur-sukur mirip Raline Shah. Oke, abaikan nama terakhir, Raline Shah memang bukan Batak. Tapi, menyebut kata Batak, di pikiran saya mau ndak mau terlintas kata Medan, dan memikirkan Medan, sungguh berdosa bagi lelaki pecinta keindahan seperti saya kalo ndak nyebut nama Raline Shah.

Waktu ketemu pertama kali dengan juragan baru ini, sebut saja si Abang, saya ndak terkesan. Beliau menyampaikan sambutan di depan kami, anak buahnya, dengan suara pelan, nyaris ndak terdengar oleh saya yang duduk di baris belakang. Batak asli lho, masih muda pula, seharusnya minimal volume suaranya ndak kalah sama Indro Warkop, yang cuma bergaya Batak. Harapan saya akan pemimpin yang berani dan tegas jadi agak menurun, lha wong di depan anak buah saja begini, gimana di depan orang lain? Baca lebih lanjut

Sareh, Sumeh, Sumeleh

Dalam filosofi Jawa, ada istilah sumeleh, yang berasal dari kata seleh, dalam bahasa Indonesia kurang lebih artinya adalah meletakkan. Semacam apabila kita memiliki sesuatu, kemudian kita meletakkannya, kita akan berusaha memastikan bahwa sesuatu tersebut terletak dengan sebaik-baiknya, seaman-amannya. Setelah itu kita memasrahkan pada alam, menyadari bahwa selalu ada sesuatu yang berada di luar kuasa kita.

Beberapa dari sampeyan mungkin menyebutnya tawakal, “Saya sudah berbuat semampu saya untuk menjaganya, sekarang giliran sampeyan, alam, untuk menjaganya.”

Hari itu, Rabu minggu yang lalu, saat beberapa dari sampeyan sedang bersiap melakukan coblosan pilkada, sebenarnya saya sedang ingin menyenangkan anak-anak saya, jalan-jalan ke pantai selatan Malang. Tapi, rencana tinggal rencana, pukul 05.30 pagi, Nokia 1280 saya berbunyi, tertera nama mbakyu saya yang tinggal di Jogja. Bukan pertanda bagus, mbakyu saya jarang nelpon, apalagi jam segini, “Dek, tadi pagi jam setengah tiga ibu jatuh waktu tahajud, sampai sekarang kondisinya gak sadar…”

Dan separo dunia saya runtuh. Baca lebih lanjut

Saya Ikut Amnesti, Supaya Halal

periode III amnesti pajak

Kadang saya pikir kebablasan juga orang-orang yang lagi promo amnesti pajak, nyaris di mana-mana saya ketemu sama logo burung kertas berwarna emas ini. Oke lah, kalo misalnya saya liat di mesin ATM, di mal, atau cafe yang memang isinya orang-orang berduit, atau minimal berusaha kelihatan berduit. Lha ini, di dinding warungnya Mbok Darmi, tempat kami kaum jelata berusaha memelihara pergaulan sosial bermodal selembar duit bergambar pahlawan asal Papua pun ndak luput dari tempelan amnesti pajak.

Kalopun ada pengunjung warung ini yang layak mikir ikut amnesti pajak apa ndak, paling cuma Mbah Suto, juragan kampung saya yang sugihnya ndak kira-kira itu. Dan panjang umur, baru saja saya mbatin, ternyata beliau sudah duduk di pojokan warung, melambaikan tangan memanggil saya. Dan tentu saja saya langsung merapat, rejeki memang ndak bakal kemana, malem ini saya ndak bakal keluar duit, sedikit memanjangkan nafas di tanggal tua.

“Lho Mbah, sampeyan tho yang nempel amnesti pajak di depan itu?” Curiga saya, lha di sebelah gelas kopinya ada beberapa lembar leaflet amnesti pajak.

Beliau terkekeh, “Biar orang-orang kayak kamu juga tahu, amnesti pajak tinggal tiga bulan lagi.”

Welhah, ngece Mbah Suto ini, biarpun level saya masih tetep buruh, ndak naik-naik sejak jaman kolobendu, tapi kalo soal amnesti pajak boleh lah kami diadu. Sekedar tau lho ya, kalo soal ikut ya lain lagi ceritanya.

Baca lebih lanjut

Tentang Hujan

Hujan adalah titik-titik air yang berjatuhan dari udara, sering membuat genangan, kadang juga membawa kenangan. Konon pula, ada rindu di setiap tetes hujan. Kalimat-kalimat sendu yang lantas dibalas dengan, ”Aneh dengan orang jaman sekarang, pas hujan yang diingat kenangan, bukan jemuran.” Atau kalimat ngenes beraroma dengki semacam, ”Hujan, suatu hal yang diharapkan para jomblo di setiap malam minggu.”

Cak Nun mengajak kita hujan-hujanan dalam buku Secangkir Kopi Jon Pakir. Sohachi Yamaoka mengisahkan Oda Nobunaga menyembunyikan air matanya dalam hujan. Sampeyan mungkin pernah dengar lagu Have You Ever Seen The Rain, liat video klip November Rain, atau kalo yang itu terlalu lawas mungkin sampeyan pernah dengar Hujan-nya Utopia. Banyak kisah tersimpan dalam tiap derainya. Mungkin sampeyan pun punya cerita sendiri tentang hujan.

Menurut wikipedia, hujan adalah proses kondensasi uap air di atmosfer menjadi air yang cukup berat untuk jatuh dan biasanya tiba di daratan. Tentu penjelasan di wikipedia ndak sependek itu, tapi kalo semuanya saya salin di sini, niscaya ndak akan tersisa ruang bagi saya untuk sekedar nyampah, setelah sekian lama blog hina ini terabaikan.

Yang jelas, sore ini saya terjebak di pabrik. Setelah dari siang langit menjanjikan perjalanan pulang yang menyenangkan, mendadak hujan turun, deras sederas-derasnya umat. Sampeyan jangan lantas menodong saya, ”Umat yang mana?” Kuatirnya nanti berlanjut, Sunni apa Syiah? Ngaji pondok apa ngaji google? Mendukung imam besar apa ndak? Percaya bumi bulat apa datar? Ruwet, dan kebetulan saya termasuk yang percaya bahwa hidup sudah terlalu ruwet tanpa kita meributkan hal-hal semacam itu.

Baca lebih lanjut