Wawasan, Persiapan, dan Jangkauan

Di kampung saya ada satu profesi yang sepertinya jadi dambaan banyak orang, tentara. Saya ndak tau persis alasannya, tapi mungkin karena selain keliatan gagah juga dapet gaji bulanan dan setelah purna tugas masih dapet uang pensiun. Jadi tentara berarti kebanggaan keluarga, hal ini dapat dilihat dari foto berseragam yang pasti dipajang di ruang tamu, baik foto bareng seangkatan maupun foto sendirian.

Saya liat anak-anak sekolah di kampung saya itu seperti niat ndak niat sekolahnya, banyak yang sudah dibelikan motor waktu SMA (ironis, karena kadang buat mbayar sekolah saja susah, wong bapaknya rata-rata cuma petani kecil), kerjaannya nongkrong-nongkrong di prapatan, nunggu saat lulus saja. Pernah suatu saat saya iseng nanya, “Abis SMA mau ke mana?”

Dan mereka menjawab dengan mantab, “Ndaptar tentara!”

“Trus berapa orang tentara di kampungmu sekarang?” Tanya Kang Noyo waktu ngobrol sama saya di warung Mbok Darmi tadi sore abis maghrib.

Saya njawab malu-malu, “Cuma satu Kang…”

Lha iya, memang cuma satu orang tetangga saya yang jadi tentara, itu pun setelah beberapa kali mendaftar. Terakhir dia nyoba daftar jadi bintara Angkatan Darat di Kalimantan dan akhirnya diterima.

“Yang lain jadi apa?” Tanya Kang Noyo.

“Ya tani, nerusin sawah bapaknya, kalo lagi musim tanam mereka di kampung, kalo lagi ndak musim pada merantau jadi kuli bangunan di kota,” Jawab saya.

“Ndak ada yang kuliah?” Tanya Kang Noyo lagi.

“Ada juga Kang, tapi bisa diitung pake sebelah tangan.” Kata saya.

“Pasti karena masalah biaya!” Vonis Kang Noyo.

Welhadalah! Ngece tenan temen saya ini. Memang benar soal biaya adalah salah satu pertimbangan dalam memutuskan mau kuliah opo ndak, tapi saya pikir masalah utamanya bukan cuma itu.

Ada seorang tetangga saya yang setelah lulus SMA ndaptar jadi bintara kepolisian, ketipu sama calo yang ngakunya bisa meloloskan, walaupun akhirnya dia jadi polisi tapi duit yang dikeluarkan nominalnya di atas 100 juta, hasil dari njual 2 rumah, sawah, dan sapi. Lebih dari cukup kalo cuma buat biaya kuliah tho?

“Lha trus masalahnya apa kok jarang yang mau kuliah?” Tanya Kang Noyo.

Saya pikir yang pertama adalah karena contoh yang sudah ada sama sekali ndak enak buat dicontoh. Lha di tempat saya itu yang termasuk generasi pertama kuliah adalah 2 anak juragan tanah, satu cowok setelah kuliah cuma nongkrong di rumah ndak jelas kerja apa, satunya lagi cewek setelah kuliah langsung kawin, ndak kerja juga.

Dengan biaya yang kurang lebih sama mendingan buat ndaptar tentara tho? Sudah jelas “investasi” segitu langsung dapet kerja, gagah dan dihormati orang pula.

Masalah kedua adalah kurangnya wawasan, orang tua karena pendidikan dan pergaulannya terbatas jadinya ndak mampu memberikan wawasan yang luas pada anak, nanti anaknya waktu jadi orang tua juga mewariskan wawasan ndak lebih baik dari yang dulu diterimanya. Muter-muter seperti lingkaran setan.

Karena lingkungan yang cuma sauplek gitu jadi ndak ada yang punya pikiran misalnya, “Saya harus jadi yang terbaik, nanti siapa tau kuliah bisa dapet beasiswa, atau paling ndak bisa kuliah di perguruan tinggi kedinasan yang gratis dan langsung kerja.”

Untuk yang punya cukup modal bisa ndaptar tentara, yang ndak ada modal ya ndak papa, masih ada sawah untuk dicangkul.

Ndak salah milih jadi petani, tapi saya pikir akan lebih elegan kalo pilihan itu diambil setelah sampeyan tau dan paham ada pilihan-pilihan lain. Dan biaya ndak selalu harus jadi halangan. Saya punya temen yang dulu waktu kuliah cuma dapet jatah 25ribu seminggu, ada juga temen kuliah saya yang bapaknya cuma tukang becak. Sedangkan orang-orang di kampung saya taunya kuliah cuma buat orang kaya, doh!

Tapi ternyata kurangnya wawasan yang berakibat pada kurangnya persiapan dan akhirnya berujung pada kurangnya jangkauan itu bukan monopoli anak-anak di kampung saya saja. Tadi siang salah seorang sodara saya yang tinggal di kota, lulusan SMA kemaren, sms begini, “Saya mau kuliah tapi masih bingung mau ndaptar di mana, cara ndaptarnya gimana, trus nanti biayanya gimana?”

Lhadalah! Mbok kalo niat kuliah itu dipikir dari kemaren-kemaren, perluas wawasan, tetapkan tujuan, jadi persiapannya bisa lebih maksimal. Apa yang seperti ini ndak diajarin di sekolah?

Kang Noyo nyeletuk, “Suruh ndaptar tentara saja.”

Halah! Sampeyan pikir jadi tentara ndak butuh persiapan?

Jiyan!

16 comments on “Wawasan, Persiapan, dan Jangkauan

  1. […] This post was mentioned on Twitter by mangkum, mas stein. mas stein said: Wawasan, Persiapan, dan Jangkauan: http://wp.me/ppZ5c-rz […]

  2. mawi wijna mengatakan:

    pikirnya jadi tentara enak? bisa bawa-bawa senjata? beh, tentara kita aja miskin, kalau ndak tugas rangkap kerja njaga warung. Weleh…

    #stein:
    kecuali jenderalnya :mrgreen:

  3. darnia mengatakan:

    kalo ngomong sama orang yang masih money orineted, ngomong tujuan hidup, kayaknya rada susah, Mas.
    Coba kalo semua orang di kampung Mas Stein bisa diajak mikir kayak Mas Stein sama Kang Noyo? Bisa tata tentrem kertha raharja tuh…

    #stein:
    yang utama memang wawasan, kalo ngomong sama orang yang wawasannya cupet mbikin setress 😆

  4. prasetyandaru mengatakan:

    jeleknya, di budaya kita…sekolah/kuliah itu identik dengan nyarik kerjaan, padahal kalok menurut penerawangan spiritual saya, sekolah/kuliah itu lebih pada investasi mental diri kita sendiri,ya memang, ijazah itu syarat mutlak nyarik kerja kalok di sinih, padahal nantinya toh dengan ijazah S3 pun, tanpa soft sekil yang tokcer, di kerjaan dia ya keteteran jugak..kalok ada sarjana yang cumak kongkow di rumah selesai kuliah/merit setelah kuliah, sepertinya lebih ke pilihan hidup. Sebenernya ya ndak bisa jugak dijadiin contoh..Dengan kuliah, minimal mata kita melek dunia luar, minimal gak kuper, minimal tau apa itu SKS, dan paling penting, minimal menambah 1 lagi tahapan hidup di dunia inih. Tabik

    #stein:
    berhubung saya ini dasarnya ndeso jadi seringnya ya mikir begitu mbak, sekolah itu ya nanti kira-kira ada balikannya apa ndak. tapi saya setuju sama sampeyan kalo sekolah itu tujuan utamanya memperluas wawasan, biar ndak meneruskan lingkaran setan.

  5. ulan mengatakan:

    saya mau daftar tentara lek ngunu 😛

    #stein:
    jadi model-modelnya GI Jane gitu mbak? 😆

  6. chocoVanilla mengatakan:

    Waduh, lha mau kerja cari duwit kok malah disuruh mbayar ratusan juta. Ha mbok mending bukak warung aja, ketahuan hasilnya :mrgreen:

    #stein:
    sepakat mbak, saya juga heran kok ndak mikir ke situ. tapi konon katanya memang mental pegawe itu kalo disuruh dagang juga susah

  7. Dewa Bantal mengatakan:

    Aku jadi mikir, apakah sedemikian susahnyakah untuk jadi tentara di Indonesia? :O — soalnya dibeberapa negara justru negara yang minta2 supaya masyarakatnya berpartisipasi dalam militer kan? wajib militer gitu (walau gak harus wajib, tapi sangat di himbau)..

    #stein:
    di sini bukan di sana mas, lha kalo saya liat di tipi itu ada bekas tentara jadi pulisi. atau jadi tentara cuma sebentar trus ganti kerjaan. di sini mana ada 😀

    • Dewa Bantal mengatakan:

      Iya cuman sebentar, terus ganti juga gpp. Di Indo gimana to? Sekali jadi tentara harus sampe mati gitu? Kok serem O_O.. hihihi. Atau memang ga ada yang mau keluar kalau sampe keterima jadi tentara, karena bayarannya yahud gitu?

      #stein:
      bukan masalah yahud ndak yahud, jadi tentara di indonesia gengsinya tinggi, selain tentu saja nyari kerjaan memang susah 😆

  8. adipati kademangan mengatakan:

    Lha kalau macul di sawah, sebenernya kalau ilmu tentang menanam dikuasai bisa berhasil lho. Kadang setelah lulus SMU trus nyemplung sawah malah ndak tahu apa-apa. tetep saja belajar dari awal, kerja keras sambil memeras otak memahami karakteristik tanaman yang ditanamnya.

    #stein:
    sampeyan nang endi ae om, gak tau ketok?

  9. lekdjie mengatakan:

    Tapi kalo kuliah sekarang kok identik dg demo,tawuran,freesex,ayamkampus,hedonis,liberalis,gaulisme,ujung2nya cuma nyari ijasah buat diperintah orang lain..ah,semoga hanya pikiranku semata..ndak ngrasain bangku kuliah sih..

    #stein:
    lho, memangnya ada yang pernah ngrasain bangku kuliah tho Lek? kok nggragas tenan :mrgreen:

  10. novee mengatakan:

    -Sudah jelas “investasi” segitu langsung dapet kerja, gagah dan dihormati orang pula. –

    masalahnya tentara masa kini sudah jarang yang dihormati, yang ada DITAKUTI…

    #stein:
    ini sampeyan yang ngeblog di multiply?

  11. Asop mengatakan:

    Nah, walau bagaimanapun, pendidikan tetap nomor 1! ^__^ 🙂

    #stein:
    betul mas, pendidikan harus diutamakan

  12. warm mengatakan:

    saya skarang bingung sndiri pas nanya anakk saya,
    ntar mau jadi apa le ?
    dia ngejawab dgn gagahnya : “jadi tentara”

    lha kok ya bisa toh ya 😀

    #stein:
    jadi tentara itu memang gagah kok om, ndak papa tho

  13. […] kata yang teramat tinggi untuk orang seperti mereka. Si bapaknya bilang sebenernya kalo bisa sih pengen ndaptar jadi tentara, tapi beberapa orang bilang katanya untuk masuk tentara masih pake […]

  14. bisnis wanita mengatakan:

    kalo udah kaya gitu gimana ya cara mengubah persepsi mereka? saya jadi prihatin nih 😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s