Membingkai Sensasi dalam Secangkir Kopi

Rasanya sudah lama sekali saya ndak mengunjungi warung ini, tempat saya biasa menikmati kopi seribuan yang pekat aroma jagungnya, sambil pelan-pelan mengunyah pisang yang baru diangkat dari wajan berisi minyak jelantah mendidih dengan level kekeruhan tingkat dewa. *saya lebay, memang…

Kangen, saya rindu menyesap nuansa, kangen dengan kemakinya Kang Noyo, kangen dengan bualan Pak Darmo, kangen dengan cerita-cerita Mbah Suto, kangen juga dengan keluguan Mbok Darmi.

“Mas, kopinya sekarang naik lho, jadi dua ribu!” Sambut Mbok Darmi dengan kejam, eh maksudnya bukan kejam, tapi mbok yao, saya kan sudah lama ndak ke sini, ada basa-basinya sedikit gitu lho…

“Lah Mbok, kalo jadi dua kali lipat itu namanya bukan naik, tapi ganti harga…”

Ngomong-ngomong ada alasan kenapa saya lama ndak ke warung Mbok Darmi. Salahkan temen saya dari Jakarta, yang dengan semena-mena sudah mengirimkan kopi luwak kemasan satu kilogram, dua kali. Dan kalo sampeyan mau tahu harga satu kilonya, Rp 3.400.000! Baca lebih lanjut

Antara Mepet dan Kepepet

Konon suatu saat ada seorang maling lagi diuber-uber sama penduduk kampung. Setelah maraton bercampur sprint yang melelahkan akhirnya si maling terpojok di sudut yang dibatasi pagar setinggi tiga meter. Dihimpit oleh rasa takut level 11 karena teringat nasib rekan sejawatnya yang dibakar hidup-hidup waktu ketangkep mendadak dia mendapat tenaga luar biasa, diiringi pandangan penuh keterkejutan dia melompati pagar setinggi tiga meter tersebut dan lolos dari kejaran warga.

Namanya juga konon, sampeyan boleh percaya boleh ndak, yang jelas orang kepepet, apalagi kepepet yang menyangkut urusan hidup dan mati, bisa tiba-tiba memiliki ide atau kekuatan yang ndak bakal muncul dalam keadaan normal.

Misalnya kejadian yang dialami oleh bapak saya. Dulu kampung saya ndak punya jalan, jadi tiap pagi bapak saya harus menyeberang sungai di belakang rumah waktu berangkat mburuh. Sungai ini kalo lagi kemarau paling cuma selebar 2-3 meter, tapi kalo pas banjir musim hujan lebarnya bisa sampe tigapuluhan meter dengan kedalaman sampe 3 meter. Untuk menyeberang sungai waktu banjir biasanya bapak saya memanfaatkan batang bambu sebagai pelampung.

Suatu saat bapak baru pulang mburuh saat hari sudah petang, sekitar abis maghrib bapak siap-siap menyeberang dengan bambu andalannya. Kebetulan saat itu tanggal muda, bapak juga membawa jatah beras dari pabrik sekitar 50kg. Pas di tengah sungai mendadak batang bambu yang digunakan sebagai pelampung pecah, Baca lebih lanjut

Jangan Putus Asa Karena Biaya

Saya sering bilang ke junior-junior di kampung saya yang ndeso mblesek untuk ndak pernah putus asa dalam menuntut ilmu. Kekurangan biaya bukanlah alasan yang sama sekali ndak bisa disiasati walaupun memang sulit, karena sekolah jaman sekarang banyak yang sudah bermetamorfosis dari lembaga pendidikan menjadi lembaga bisnis. Paling ndak berusahalah untuk menamatkan sekolah sampai SMA dengan predikat memuaskan.

“Lha kok nanggung cuma sampe SMA? Kenapa ndak sekalian kuliah?”

Untuk level kampung saya sekolah sampe SMA pun sudah bagus, banyak yang sudah putus sekolah waktu SMP. Anak-anak SMA yang saya liat pun kebanyakan cuma sekolah dengan semangat ala kadarnya, cuma mengejar predikat lulus. Alasannya klasik, biaya kuliah berada pada level yang ndak terjangkau angan-angan mereka. Orang tua mereka yang kebanyakan cuma jadi petani kecil juga ndak punya cukup wawasan untuk bisa memotivasi mereka agar keluar dari lingkaran setan itu, kemiskinan dan kebodohan.

Lulus SMA pun sebenernya juga kurang dipandang di dunia pekerjaan negara kita yang kebanyakan masih memandang ijazah sebagai benda sakral yang bisa menunjukkan kompetensi seseorang. Makanya saya bilang sama mereka, luluslah SMA dengan predikat memuaskan, karena setelah itu akan terbuka kesempatan untuk meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dengan lebih mudah, diantaranya melalui perguruan tinggi kedinasan.

“Tapi apa benar kalo bisa masuk ke perguruan tinggi kedinasan lantas ndak butuh biaya?” Baca lebih lanjut

Bersedekahlah Dengan Benar

Saya pernah membaca tulisan salah seorang narablog, orang Indonesia yang tinggal di Amerika. Dalam tulisan tersebut si mbak cerita kalo dia pernah kecele karena waktu dia mau mbeli es krim ternyata si penjual ndak nerima pembayaran dengan kartu, sedangkan si mbak ndak pernah mbawa duit cash. Sesuatu yang sulit dibayangkan bakal terjadi di kehidupan nyata seorang buruh pabrik macem saya, lha kartu kredit ndak punya, dan yang jelas di negeri kita membawa duit cash adalah suatu kewajiban. Paling ndak wajib mbawa duit receh.

“Mosok ya mbawa duit jadi kewajiban tho Le, memang ada aturannya? Lagian kok ada embel-embel duit receh, kan ndak semua orang punyanya recehan seperti kamu.” Ujar Kang Noyo.

Asem!

Sampeyan pernah naik bis? Kalo sampeyan naiknya bis ekonomi kayak saya pasti sering ketemu sama seniman jalanan, dari yang membawakan lagu dengan aransemen rapi sampe yang pitch control-nya ndak jelas dengan musik pengiring cuma tangan penyanyinya yang lagi keplok-keplok.

Di perempatan lampu merah malah lebih banyak lagi jenis orang yang siap menampung recehan kita, dari pengemis yang pura-pura cacat, sampe yang cacat beneran, dari yang tua renta sampe yang muda belia sambil nggendong anak tetangganya. Belum lagi anak-anak mulai dari yang lusuh, yang nge-punk, sampe yang make baju rapi. Dari yang beneran niat nyari duit buat mbantu orang tua sampe yang sekedar nyari duit buat internetan.

“Mosok ada anak jalanan nyari duit buat internetan?” Tanya Kang Noyo ndak percaya. Baca lebih lanjut

Transkrip Pidato Kuliah Umum Perpisahan Sri Mulyani

Inilah transkrip pidato Sri Mulyani pada kuliah umum yang diadakan oleh Perhimpunan Pendidikan Demokrasi. Pidato ini membuat gerah beberapa anggota DPR, khususnya yang kemaren menjadi gerilyawan kasus Century. Tapi apa mau dikata, memang susah memuaskan orang-orang yang lebih suka menggunakan urat leher.

Transkrip ini hasil kopi paste dari milis alumni sebuah sekolah, konon hasil forward dari milis economics-feui, pidato ditranskrip oleh Ririn Radiawati Kusuma (jurnalis Media Indonesia), mohon maaf kalo ada yang kurang berkenan.

Perhatian: sediakan waktu yang cukup, ini naskah yang lumayan panjang.

monggo dinikmati…

Saya rasanya lebih berat berdiri disini daripada waktu dipanggil pansus Century. Dan saya bisa merasakan itu karena sometimes dari moral dan etikanya jelas berbeda. Dan itu yang membuat saya jarang sekali merasa grogi sekarang menjadi grogi. Saya diajari pak Marsilam untuk memanggil orang tanpa mas atau bapak, karena diangap itu adalah ekspresi egalitarian. Saya susah manggil ‘Marsilam’, selalu pakai ‘pak’, dan dia marah. Tapi untuk Rocky saya malam ini saya panggil Rocky (Rocky Gerung dari P2D) yang baik. Terimakasih atas…… (tepuk tangan)

Tapi saya jelas nggak berani manggil Rahmat Toleng dengan Rahmat Tolengtor, kasus. Terimakasih atas introduksi yang sangat generous. Saya sebetulnya agak keberatan diundang malam hari ini untuk dua hal. Pertama karena judulnya adalah memberi kuliah. Dan biasanya kalau memberi kuliah saya harus, paling tidak membaca textbook yang harus saya baca dulu dan kemudian berpikir keras bagaimana menjelaskan. Dan malam ini tidak ada kuliah di gedung atau di hotel yang begitu bagus tu biasanya kuliah kelas internasional atau spesial biasanya. Hanya untuk eksekutif yang bayar SPP nya mahal. Dan pasti neolib itu (disambut tertawa). Oleh karena itu saya revisi mungkin namanya lebih adalah ekspresi saya untuk berbicara tentang kebijakan publik dan etika publik.

Yang kedua, meskipun tadi mas Rocky menyampaikan, eh salah lagi. Kalau tadi disebutkan mengenai ada dua laki-laki, hati kecil saya tetap saya akan mengatakan sampai hari ini saya adalah pembantu laki-laki itu (tepuk tangan). Dan malam ini saya akan sekaligus menceritakan tentang konsep etika yang saya pahami pada saat saya masih pembantu, secara etika saya tidak boleh untuk mengatakan hal yang buruk kepada siapapun yang saya bantu. Jadi saya mohon maaf kalau agak berbeda dan aspirasinya tidak sesuai dengan amanat pada hari ini.

Tapi saya diminta untuk bicara tentang kebijakan publik dan etika publik. Dan itu adalah suatu topik yang barangkali merupakan suatu pergulatan harian saya, semenjak hari pertama saya bersedia untuk menerima jabatan sebagai menteri di kabinet di Republik Indonesia itu. Baca lebih lanjut

Bukan Manusia Biasa

Sampeyan pernah denger nama Billy Sheehan? Seorang pemain bass yang dulu pernah bergabung dalam David Lee Roth Band bersama gitaris Steve Vai sebelum akhirnya melejit dengan band bernama Mr Big. Mungkin ada baiknya sampeyan mendengarkan lagu Addicted to That Rush sebelum meneruskan mbaca dobosan ini.

Seorang pemain bass mempunyai posisi yang vital dalam sebuah band, karena bersama drummer dia bertugas menjaga ritme permainan. Karena tugasnya menjaga ritme, biasanya permainan bass ndak terlalu menonjol dan cenderung statis, hal yang wajar karena permainan bass bisa diibaratkan pondasi dalam bangunan, ndak perlu indah, yang penting kuat.

Tapi teori seperti itu ndak berlaku buat Billy Sheehan. Ndak puas cuma jadi sekedar penjaga ritme, Billy mencoba memasukkan teknik yang biasanya cuma dilakukan para gitaris ke dalam permainan bassnya. Dari mulai bermain mengandalkan kecepatan, sampe teknik bending, tapping, bahkan pinched harmonic.

Sampeyan mungkin pernah mendengar nama Mike Portnoy, drummer band Dream Theater. Baca lebih lanjut

Wawasan, Persiapan, dan Jangkauan

Di kampung saya ada satu profesi yang sepertinya jadi dambaan banyak orang, tentara. Saya ndak tau persis alasannya, tapi mungkin karena selain keliatan gagah juga dapet gaji bulanan dan setelah purna tugas masih dapet uang pensiun. Jadi tentara berarti kebanggaan keluarga, hal ini dapat dilihat dari foto berseragam yang pasti dipajang di ruang tamu, baik foto bareng seangkatan maupun foto sendirian.

Saya liat anak-anak sekolah di kampung saya itu seperti niat ndak niat sekolahnya, banyak yang sudah dibelikan motor waktu SMA (ironis, karena kadang buat mbayar sekolah saja susah, wong bapaknya rata-rata cuma petani kecil), kerjaannya nongkrong-nongkrong di prapatan, nunggu saat lulus saja. Pernah suatu saat saya iseng nanya, “Abis SMA mau ke mana?”

Dan mereka menjawab dengan mantab, “Ndaptar tentara!”

“Trus berapa orang tentara di kampungmu sekarang?” Tanya Kang Noyo waktu ngobrol sama saya di warung Mbok Darmi tadi sore abis maghrib.

Saya njawab malu-malu, “Cuma satu Kang…” Baca lebih lanjut