Whistleblower

Dalam pemahaman buruh pabrik macem saya, whistleblower artinya adalah peniup sempritan, keahlian yang banyak saya temui dalam kehidupan sehari-hari dalam wujud tukang parkir atau wasit sepakbola, tapi menurut Mbah Wiki, whistleblower artinya adalah orang yang memberitahukan kepada publik atau pihak berwenang tentang dugaan ketidakjujuran atau tindakan ilegal yang terjadi di pemerintahan, organisasi publik atau swasta, atau perusahaan.

“Wong mau bilang pengadu saja pake acara mbulet kesana-kemari tho Le.” Potong Kang Noyo sambil memainkan sebatang rokok, baru saja ngambil punya saya tentunya.

Satu hal yang saya suka dari temen saya ini adalah dia cenderung lugas, ndak seneng basa-basi. Walaupun kadang jadi terkesan asal tabrak sana-sini, tapi sikapnya jujur, tanpa tedheng aling-aling, beda sama saya yang cenderung banyak rikuhnya, sungkan.

“Menurut sampeyan pengadu itu gimana Kang?” Tanya saya.

“Kamu itu lho, pertanyaan kok diulang-ulang, dulu kan kamu sudah pernah nanya!” Jawab Kang Noyo.

Asyem!

Saya mengingat-ingat jawaban yang dulu pernah diberikan Kang Noyo. Baca lebih lanjut

Jangan Putus Asa Karena Biaya

Saya sering bilang ke junior-junior di kampung saya yang ndeso mblesek untuk ndak pernah putus asa dalam menuntut ilmu. Kekurangan biaya bukanlah alasan yang sama sekali ndak bisa disiasati walaupun memang sulit, karena sekolah jaman sekarang banyak yang sudah bermetamorfosis dari lembaga pendidikan menjadi lembaga bisnis. Paling ndak berusahalah untuk menamatkan sekolah sampai SMA dengan predikat memuaskan.

“Lha kok nanggung cuma sampe SMA? Kenapa ndak sekalian kuliah?”

Untuk level kampung saya sekolah sampe SMA pun sudah bagus, banyak yang sudah putus sekolah waktu SMP. Anak-anak SMA yang saya liat pun kebanyakan cuma sekolah dengan semangat ala kadarnya, cuma mengejar predikat lulus. Alasannya klasik, biaya kuliah berada pada level yang ndak terjangkau angan-angan mereka. Orang tua mereka yang kebanyakan cuma jadi petani kecil juga ndak punya cukup wawasan untuk bisa memotivasi mereka agar keluar dari lingkaran setan itu, kemiskinan dan kebodohan.

Lulus SMA pun sebenernya juga kurang dipandang di dunia pekerjaan negara kita yang kebanyakan masih memandang ijazah sebagai benda sakral yang bisa menunjukkan kompetensi seseorang. Makanya saya bilang sama mereka, luluslah SMA dengan predikat memuaskan, karena setelah itu akan terbuka kesempatan untuk meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dengan lebih mudah, diantaranya melalui perguruan tinggi kedinasan.

“Tapi apa benar kalo bisa masuk ke perguruan tinggi kedinasan lantas ndak butuh biaya?” Baca lebih lanjut

Bantu Mereka untuk Tetap Sekolah

Hari Kamis malem kemaren saya pulang kampung, mumpung ada liburan tiga hari. Sudah lama saya ndak nengok orang tua di kampung halaman yang walaupun terpencil dan panasnya minta ampun tapi tetep selalu ngangeni, terbayang waktu jaman kecil dulu main-main di sawah, nangkep kepiting sambil bikin suling dari batang padi, berangkat sekolah lewat pematang sawah, berenang di kali sambil nyari ikan. Kalo kata orang kulon kali sana, there’s no place like home.

Perjalanan dari Malang ke Blora memakan waktu sekitar 5-6 jam dalam kondisi normal, seharusnya bisa lebih cepat lagi kalo saja jalan dari Bojonegoro sampe Randublatung ndak bergelombang dan bolong-bolong yang membuat kita seperti sedang naik perahu, goyang sana goyang sini. Tapi apa mau dikata, walaupun di situ banyak ladang minyak tapi predikat daerah minus masih bertahan sampe sekarang, sehingga mungkin pemerintah merasa keberatan untuk mbikin jalan beton beraspal sebagai salah satu alternatif mengingat kondisi tanahnya yang labil.

Selain nengok orang tua dan kangen-kangenan sama orang-orang kampung, saya juga menyempatkan diri untuk ngobrol-ngobrol sama seorang ponakan yang selama ini saya biayai sekolahnya. Sebagai informasi buat sampeyan, di kampung saya ini 99% warganya hidup dari bertani, sayangnya ndak semua punya lahan yang cukup untuk biaya hidup. Ada yang bener-bener cuma jadi buruh tani, ada yang selain jadi buruh tani juga punya sawah sendiri tapi hasilnya ndak cukup, selain tentunya orang-orang yang punya predikat sebagai juragan sawah. Baca lebih lanjut

Wawasan, Persiapan, dan Jangkauan

Di kampung saya ada satu profesi yang sepertinya jadi dambaan banyak orang, tentara. Saya ndak tau persis alasannya, tapi mungkin karena selain keliatan gagah juga dapet gaji bulanan dan setelah purna tugas masih dapet uang pensiun. Jadi tentara berarti kebanggaan keluarga, hal ini dapat dilihat dari foto berseragam yang pasti dipajang di ruang tamu, baik foto bareng seangkatan maupun foto sendirian.

Saya liat anak-anak sekolah di kampung saya itu seperti niat ndak niat sekolahnya, banyak yang sudah dibelikan motor waktu SMA (ironis, karena kadang buat mbayar sekolah saja susah, wong bapaknya rata-rata cuma petani kecil), kerjaannya nongkrong-nongkrong di prapatan, nunggu saat lulus saja. Pernah suatu saat saya iseng nanya, “Abis SMA mau ke mana?”

Dan mereka menjawab dengan mantab, “Ndaptar tentara!”

“Trus berapa orang tentara di kampungmu sekarang?” Tanya Kang Noyo waktu ngobrol sama saya di warung Mbok Darmi tadi sore abis maghrib.

Saya njawab malu-malu, “Cuma satu Kang…” Baca lebih lanjut

Sekolah Negeri Internasional

Sampeyan masih inget iklan sekolah gratis yang sempet ditayangkan secara gencar di tipi-tipi? Dalam iklan itu digambarkan seorang anak yang putus asa karena orang tuanya ndak mampu akhirnya tersenyum gembira diapit emak dan bapaknya karena bisa meneruskan sekolah tanpa biaya.

“Sebenernya sekolah gratis itu beneran ada ndak tho Le?” Tanya Kang Noyo semalem sambil nyruput kopi di warung Mbok Darmi. Setelah kehujanan dalam perjalanan pulang dari pabrik, nyruput kopi sambil ngemil telo goreng rasanya bener-bener mak nyus.

“Ndak tau kalo di Malang sini Kang, tapi ponakan saya sekolah SD Negeri di Kalideres Jakarta sana memang ndak mbayar.” Jawab saya.

Pasal 49 ayat 1 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa dana pendidikan selain gaji pendidik dan biaya pendidikan kedinasan dialokasikan minimal 20% dari APBN. Dalam praktek di lapangan salah satu program pemerintah diwujudkan dalam bentuk BOS, Bantuan Operasional Sekolah.

“Berarti dengan adanya BOS semua sekolah harusnya gratis. Gitu Le?” Tanya Kang Noyo.

“Ndak juga Kang, yang dapet BOS kan cuma SD sama SMP.” Kata saya.

Kalo membaca Buku Panduan BOS yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan Nasional memang tujuan BOS terdengar sangat menyejukkan, diantaranya menggratiskan seluruh siswa miskin dari seluruh pungutan baik di sekolah negeri maupun swasta, meringankan beban biaya operasi sekolah bagi siswa sekolah swasta, juga menggratiskan seluruh siswa SD dan SMP negeri dari biaya operasi sekolah. Baca lebih lanjut