Persepsi Vs Sensasi

Masih ngomongin hasil dari in hotel training kemaren, sekarang saya mau nulis sedikit tentang komunikasi. Cuma sedikit yang bisa ditulis bukan karena saya males atau pelit, ini karena yang kemaren disampaikan oleh trainer juga cuma sedikit, istilahnya cuma icip-icip saja karena waktu pelatihan yang sangat terbatas.

Konon katanya proses komunikasi sangat dipengaruhi oleh persepsi. FYI saya kemaren abis in hotel training langsung bablas ke Solo, ada persepsi kawinan adik kelas. *Halah! Kuwi jenenge resepsi!!*

Misalnya sampeyan waktu malem-malem liat orang keluar dari diskotik, jalannya nggleyor kiri nggleyor kanan trus muntah-muntah, sampeyan bilang, “orang itu mabuk!”

Orang nggleyor kiri nggleyor kanan trus muntah-muntah itu fakta, sedangkan yang sampeyan bilang “orang itu mabuk!” itu persepsi. Poin pertama disebut fakta karena itulah yang ditangkap sama pancaindera, sedangkan poin kedua disebut persepsi karena merupakan interpretasi sampeyan sendiri atas apa yang ditangkap sama pancaindera. *mohon maap kalo definisi saya sedikit ngawur, kalo ada yang mau ngoreksi silakan*

Persepsi dipengaruhi oleh pengalaman dan pengetahuan. Coba misalnya sampeyan blom pernah liat orang mabuk, ndak pernah dengar apa itu mabuk, mungkin waktu ada orang nggleyor kiri nggleyor kanan trus muntah-muntah sampeyan ndak akan bilang kalo orang itu lagi mabuk.

Makanya kata si trainer kemaren kalo kita mau berkomunikasi secara efektif, kita harus bisa membedakan dulu mana yang fakta (atau dalam teori komunikasi disebut sensasi, sesuatu yang dirasakan pancaindera) dan mana yang persepsi.

Sayang sekali karena waktunya mepet banget kemaren saya lupa menanyakan sesuatu sama si trainer. Jadi sekarang mumpung di sini pasti banyak yang lebih pinter dari saya, saya nanya sama sampeyan saja.

Menurut sampeyan mana yang lebih efektif, menyebarluaskan fakta atau memanipulasi persepsi? *mumpung sekarang juga lagi musimnya perang informasi antar capres*

29 comments on “Persepsi Vs Sensasi

  1. lambenesugiman mengatakan:

    Saya menunggu sensasimu ketika di hotel solo itu..hehe

    Biar fakta yang bicara… *loh*

  2. emyou mengatakan:

    lah kalo pembentukan opini publik itu gimana mas??

  3. adipati kademangan mengatakan:

    fakta sing wes ono malah dadi rebutan, thekku, duwekku.

  4. samsul arifin mengatakan:

    kalau aku sih lebih memilih menyebarluaskan fakta, karena lambat laun yang namanya kebenaran itu pasti akan terkuak. 😀

  5. Chic mengatakan:

    menyebarkan fakta hasil manipulasi persepsi 😆

  6. yustha tt mengatakan:

    ooo…jadi sensasi itu fakta to….
    *manthuk2*

    memanipulasi sensasi…

  7. mawi wijna mengatakan:

    fakta mas, wlo katanya fakta itu bisa diutak-atik, jadi sebarkanlah fakta yang sebenar-benarnya

  8. masoglek mengatakan:

    mending memanipulasi persepsi 😀

  9. kucrit mengatakan:

    menyebarkan fakta tanpa adanya persepsi akan lari kemana ya.. faktanya…

  10. Generasi Patah Hati mengatakan:

    Bagusnya sih menyebarluasakan fakta, tapi nyatanya memanipulasi persepsi sering lebih efektif untuk mencapai tujuan dan err, kekuasaan :mrgreen:

  11. zefka mengatakan:

    harus pilih salah satu lagi ya…
    kayaknya pertanyaannya harus ditambah deh mas (hanya usul 🙂 ), untuk tujuan apa dulu dua hal itu dilakukan, komunikasi? ato ada tujuan lain 🙂
    Ini kalo untuk kasus2 yg umum,kayaknya lebih milih memanipulasi persepsi.

    Bohong dong berarti… gak juga. Persepsi timbul krn pengalaman menginterpretasi sesuatu, ini bisa aja berbeda untuk orang yg beda. Memanipulasi persepsi mungkin bisa merubah sugesti buruk kita ke sesuatu. Persepsi cenderung ke arah yg gak baik, kalo baik kayaknya bukan persepsi lagi deh.. 🙂

    Trus ntar dikira berburuk sangka, kan dilarang Allah tuh.. gak juga. Ini dia… seperti yg gw bilang di atas, persepsi biasanya timbul untuk menanggapi hal2 uh negatif, kalo kita memanipulasi persepsi artinya kan kita malah berbaik sangka.

    *)just my opinion 🙂

  12. Rossa mengatakan:

    say mah angkat tangn kalo soal yang beginian.
    takut salah kata.
    hho

  13. suwung mengatakan:

    setelah dari diklat dasyat bahasanya

  14. Acha mengatakan:

    fakta itu bahan mentahnya informasi, setelah diracik dgn campuran persepsi maka jadilah itu informasi yg dikonsumsi. Jd, mau tidak mau persepsi itu akan senantiasa bercampur dgn fakta (sensasi), ini adalah konvensi alamiah…
    wallohu’alam…

  15. big sugeng mengatakan:

    Waduh… hebat nih in haouse training saja di hotellll
    lha saya ngajar DDF dari jam 8 pagi sampe jam 8 malem selama 5 hari horrrorrrnya cuma 900 rbuan
    dipotong biaya perpisahan jadi terimanya sekitar 600 ribuan

    weleh weleh
    makanya aku males njawab pertanyaan di atas
    tapi tidak kapok jadi trainer, Insya Alloh nanti juli jadi trainer untuk TOT fungsional
    he he he

  16. frozzy mengatakan:

    bahaya juga yah kalau persepsi yang belum bisa dibuktian kebenarannya saja sudah bisa dimanipulasi….
    yang ada jadinya persepsi yang diterima sebagai fakta….*geleng2….baca lagi komen sendiri, ko mbulet yah ?*

  17. mamas86 mengatakan:

    Barang kali tergantung situasi dan kondisi, kalau pas waktunya harus mengatakan yang fakta ya dikatakan. Tapi kalau memang belum waktunya ya… nunggu dulu waktu yang tepat… 😀

  18. buJaNG mengatakan:

    Nunggu fatwa dari mas stein saja deh… :mrgreen:

  19. Jafar Soddik mengatakan:

    Kita butuh fakta dan di lain pihak kita pun butuh persepsi. Persepsi bisa bermakna positif dan negatif. Ketika kita melihat seseorang dengan badan kekar, penuh tato dan wajah sangar tentu persepsi kita org seperti itu bukanlah orang yang baik-baik. Dan dengan persepsi seperti itu pulalah yang mungkin akan menyebabkan kita selamat karena sedari awal tidak mau dekat-dekat dengan dia.

  20. Puspita mengatakan:

    Melalui persepsilah manusia memandang dunianya.

    Manipulasi persepsi….?

  21. Muzda mengatakan:

    Harus dijawab ya Mas, pertanyaannya ??
    Heehee,, kalo kata Hercule Poirot, pisahkanlah fakta dan opini, maka kau akan mendapatkan kebenaran.
    😀

  22. Ade mengatakan:

    klo saya liat orang muntah2, berarti dia hamil mas hehehe.. eh, gimana kabar istrinya mas? dah berapa bulan nih sekarang?

  23. Taktiku mengatakan:

    Sepetinya Sensasi deh yang akan menang 😀

  24. mercuryfalling mengatakan:

    oh kalo yg aku bari belajar dikelas Claim VS Facts 😀

    Claim bisa diperdebatkan, sedangkan fakta gak.

    menurut aku sih fakta lbh efektip. kalo persepsi bakalan masih panjang ceritanya hehhee gak efektip

  25. Gandi Wibowo mengatakan:

    Mas… tenan’e ra mudeng… Kayaknya musti ikut in hotel training dulu nih

  26. egah mengatakan:

    in my humble opinion

    fakta tetaplah fakta tidak peduli itu baik atau buruk karena baik buat seseorang belum tentu baik buat orang lain begitu pula sebaliknya

    kalo persepsi pada kondisi2 tertentu kita memang butuh untuk memanipulasinya om stein tergantung tujuan kita…asal tujuannya baik tidak masalah 😀

  27. deeedeee mengatakan:

    saya lebih suka fakta.. walau ujung2nya saya bakalan bikin persepsi sendiri 😀

  28. Eka Situmorang - Sir mengatakan:

    mari kita sebarkan persepsi yg dimanipulasi hingga org2 percaya itu adalah fakta 😀

    hahahahha
    ngawur.com nih gue 🙂

  29. asri mengatakan:

    fakta… *tanpa alesan? 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s