Pengadu

Suatu saat di masa yang telah lama berlalu, saya bertiga baru balik dari jalan-jalan dan sedang berjalan kaki menuju asrama. Waktu itu sekitar jam tujuh malem, waktu terlarang bagi penghuni asrama untuk berada di luar. Ceritanya saya memang sedang jenuh dengan rutinitas harian asrama, kabur, dan sekarang dalam perjalanan pulang.

Saya berjalan berdua barengan, sedangkan temen saya yang satu berjalan agak jauh di depan. Pas sudah deket asrama ada seorang penduduk lokal yang berpapasan sama saya bilang, “Hati-hati, di depan ada keamanan.”

Itu berarti ada penjaga berwajah bengis dengan pentungan satpam lagi nyanggong anak-anak ndableg macem saya. Untuk ngasih tau temen saya yang jalan di depan sudah ndak sempet, maka kami berdua balik arah, muter lewat kuburan, hutan belantara, sawah dan bukit serta padang pasir, dan berhasil kembali dengan selamat ke asrama tanpa ketemu penjaga. *ini berlebihan, saya tau*

Pas lagi duduk-duduk santai di asrama mendadak ada temen yang manggil, “Kalian berdua dipanggil ke pos keamanan!”

Lhadalah!

Ternyata temen saya yang satu ketangkep, dengan wajah memelas ngomong ke saya, “Maap, tadi saya diancem, jadi terpaksa ngasih tau kalo kalian juga ikut kabur dari asrama.”

Asyem! Perjuangan kami mencari jalan alternatif menembus rawa dan hutan belantara jadi percuma karena ada seorang teman yang ndak bisa nutup mulut. Kalo ndak salah julukan untuk orang seperti itu adalah PENGADU.

Dalam kondisi normal biasanya orang ndak gitu suka sama pengadu. Seorang pimpinan mungkin males punya anak buah pengadu karena bisa mbikin kondisi internal bergejolak, belum lagi kalo ternyata ngadunya bercampur unsur iri, dengki, dan jilatan mematikan. Sesama kroco pun ndak suka punya temen pengadu, karena merasa seperti diikuti kamera pengawas kemanapun dia pergi.

“Kalo menurut sampeyan sebenernya jadi pengadu itu bener ndak sih Kang?” tanya saya sama Kang Noyo tadi sore. Tumben ndak ujan, acara ngopi di warung Mbok Darmi bisa berlangsung tanpa gangguan.

Kebetulan berita Susno Duadji dibawa paksa Propam Polri dari Bandara Sukarno Hatta masih anget, jadi topiknya ya ndak jauh dari itu.

“Yo tergantung Le, manusia diciptakan Tuhan kan tujuannya cuma buat ibadah.” Jawab Kang Noyo.

Welhadalah! Ini yang saya tanya soal pengadu kok larinya ke masalah ibadah. Piye tho?

“Jangan kayak wong bodo tho Le. Ibadah itu harus dilakukan dengan mengingat tiga hal, syarat, niat, dan rukun.” Lanjut Kang Noyo.

Menurut Kang Noyo, karena mengadu itu adalah perbuatan manusia sehingga seharusnya kalo pun terpaksa mengadu harus diniatkan sebagai ibadah. Ibadah sendiri konon memiliki tiga unsur:

Syarat
adalah sesuatu yang harus dipenuhi sebelum menjalankan suatu ibadah. Kalo memang berniat mengadu, harus ada syarat-syarat yang dipenuhi. Misalnya orang yang mau kita adukan sudah pernah diingatkan tapi tetep ndableg, atau syarat-syarat lain yang membuat omongan kita macet sehingga akhirnya luber.

Niat
adalah sesuatu yang kita maksud atau kita tuju dengan melakukan suatu perbuatan. Kalo memang niat ngadu, niatkanlah untuk kebaikan, ndak sekedar nyari bener sendiri. Lebih celaka kalo kita ngadu sebagai langkah antisipasi sebelum kita diadukan.

Rukun
adalah langkah-langkah yang dilakukan dalam menjalankan suatu perbuatan. Meskipun syarat dan niat sudah bener, tapi kalo ndak bijak dalam melangkah kadang hasilnya kontraproduktif juga, malah bisa melenceng dari niat semula.

“Jadi kesimpulannya piye Kang? Mengadu itu boleh apa ndak?” Tanya saya lagi.

“Terserah pendapat masing-masing lah. Pada dasarnya ngadu itu memang seperti makan temen sendiri, tapi kadang cuma diem juga merepotkan, contohnya si Gayus itu.” Jawab Kang Noyo.

Gayus maneh?

Jiyan!

Iklan

16 comments on “Pengadu

  1. warm berkata:

    jadi selalu ada dua alternatif jawaban di balim masalahanya kang Noyo ya mas
    ๐Ÿ˜€

    #stein:
    maklum, beda kepala beda pertimbangan om. Kang Noyo kan bukan guru, cuma buruh pabrik macem saya, mosok ngajari ๐Ÿ˜†

  2. budiono berkata:

    hahahah kang noyo ini model kamus berjalan..

    #stein:
    eh, ada pak ustadz…

  3. Dewa Bantal berkata:

    Haha… adventurous sekali ya… aku apapun alasannya tetap nggak suka sama pengadu, kecuali bener kata kang Yono.

    Kalau sudah di ingatkan berkali2 tetapi masih bandel, laporin. Lebih baik laporin daripada acuh tak acuh, terutama kalo merugikan beberapa orang lain. (ditempat kerja biasanya).

    Tapi kalo akibatnya ditanggung dia sendiri sih tinggal nimbang seberapa peduli kita terhadap kunyuk tersebut ๐Ÿ™‚

    #stein:
    lhai tu yang saya maksud mas, kadang kita ewuh pakewuh mau ngadu ternyata gara-gara itu kita semua jadi kerepotan ๐Ÿ™‚

  4. ulan berkata:

    mas aku pesen kopi satu
    *ikut nongkrong di bu darmi eh warung mbok darmi*

    #stein:
    ini kopinya campur jagung lho mbak, doyan ta sampeyan?

  5. mzjiwo berkata:

    Sik yang jelas aq bukan dua temanmu sing “escape” tow???

    #stein:
    sik, tak eling-eling dhisik wo…

    • yimz berkata:

      ning jiwo sing nduduhi nek ketemu keamanan kon lewat kuburan..:)

      #stein:
      gak cak, aku curiga jiwo sing nduduhi keamanan supoyo nyanggong :mrgreen:

      • yimz berkata:

        ho-oh paling, ak tau ngonangi jiwo ngopi bareng karo baweh neng warunge cak min. dalam rangka spionase ya’e..

        #stein:
        jiyahaha! nama yang sangat akrab :mrgreen:

  6. Advent Mardani berkata:

    Klo cuma mengadu tok sih masih bisa dimaafin,tapi kalo udah adu domba,adu ayam ,adu jotos ini sudah t e r l a l u :d

    #stein:
    …. ๐Ÿ˜†

  7. Asop berkata:

    Mengadu demi kebaikan? Mengapa tidak? Malah dibenarkan. ๐Ÿ˜€

    #stein:
    tapi kesannya masih tetep ndak enak tho mas ๐Ÿ˜†

  8. itikkecil berkata:

    hahaha… balik ke Gayus lagi dong…
    kalau saya pribadi tidak suka mengadu, apalagi kalau soal bukan prinsipil seperti soal minggat atau kenakalan biasa.
    tapi kalau soal seperti Gayus?
    menjadi whistleblower memang adalah pilihan yang sulit

    #stein:
    yang agak disesalkan kenapa orang-orang yang tau tingkahnya gayus ndak ada yang ngadu, akibatnya beribu-ribu orang ikut kena getahnya

  9. soewoeng berkata:

    lha pendaptku ben waelah

  10. koplak berkata:

    karena gayus KPP cianjur kena telor dan tomat

    #stein:
    dikumpulin trus dijuwal om ๐Ÿ˜†

  11. hidayanti berkata:

    saya SMA di SMA negri 1 bangil Lulusan taun 2005 ๐Ÿ™‚

    #stein:
    oo… agak jauh juga ternyata ๐Ÿ˜€

  12. mengadu.. ada baiknya ada buruknya.. ๐Ÿ™‚
    salam kenal

    #stein:
    salam kenal juga

  13. Tetanggajenderal berkata:

    Gayus maneh….

    #stein:
    ……… :mrgreen:

  14. […] mengingat-ingat jawaban yang dulu pernah diberikan Kang Noyo. Antara lain bahwa mengadu adalah perbuatan manusia, makhluk yang konon diciptakan hanya untuk […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s