Ono Rego Ono Rupo

Hari ini sebenarnya saya sudah bersiap untuk menerima kedatangan ponakan saya yang kuliah di Semarang, katanya lagi ada acara di Malang, mau sekalian mampir. Tapi setelah saya telpon dia bilang jadwalnya padat, mungkin baru bisa main ke rumah besok. Kebetulan, karena hari ini jadwal imunisasinya precil saya yang kedua, jadi saya bisa nganter.

Uenak tenan rumah sakit tempat imunisasinya, ber-AC, naiknya pake lift, ada tempat mainan buat anak, pokoknya ndak bau rumah sakit. Setelah nunggu sekitar satu jam (maklum dokternya telat) akhirnya imunisasi selesai dan waktunya mbayar. Ediyan! Mahal! Paling ndak untuk ukuran buruh pabrik macem saya.

Siangnya saya ketemu Kang Noyo di Warung Mbok Darmi, beliau ketawa ngakak waktu saya cerita soal biaya imunisasi si precil, “Yo salahmu sendiri, kok ndak nyadar kelasmu itu kelas puskesmas, sok-sokan imunisasi di rumah sakit gede.”

“Rumah sakit sekarang memang ndak bisa dianggap bentuk pelayanan sosial lagi Kang, lha semua diitung. Ngobrol sama dokternya diitung, vaksinnya diitung, jarumnya diitung, sampe ada namanya jasa imunisasi segala. Mungkin kalo tadi saya yang berobat trus sama dokternya disuntik di kuitansinya bakal ada tagihan jasa menyuntik yo Kang?” Kata saya geleng-geleng.

“Herannya lagi, si precil saya kan sudah punya buku imunisasi dari rumah sakit itu. tadi waktu ndaptar cuma dapet selembar kertas ditulisi nomer antrian, kok ya masih ada biaya administrasi.” Ujar saya terheran-heran.

“Makanya, buruh pabrik macem kita ini kelasnya kelas puskesmas. Rumah sakit segede itu kan butuh mbayari pegawai, ada satpam, ada klining serpis, ada petugas administrasi. Kalo mbayarmu cuma empat ribu kayak di puskesmas yo ndak nutut, bisa tutup rumah sakitnya.” Kata Kang Noyo sambil mesam-mesem.

“Tapi mosok cuma demi alasan bisnis jadi rumah sakit boleh seenaknya nagih pasien Kang? Kayak misalnya jasa imunisasi sama biaya administrasi, saya kok merasa rumah sakitnya agak mengada-ada. Belum lagi sering obat yang saya beli di rumah sakit dijual di atas Harga Eceran tertinggi.” Kata saya mengeluh.

Kang Noyo ngakak lagi, “Soal obat yang dijual di atas HET itu aku ndak tau aturannya, tapi di negaramu ini kan sudah biasa harga di pasaran di atas Harga Eceran tertinggi. Kalo jasa imunisasi mungkin sama dengan biaya tindakan, jadi wajar rumah sakit narik bayaran, trus kalo biaya administrasi mungkin itu ongkos ngetik sama ngganti kertas nomer antriannya.”

“Tapi yang jelas pelayanan di sana lebih berkelas tho dibanding puskesmas? Ndak usah banyak protes tho, ono rego ono rupo!” Pungkas Kang Noyo.

Ada harga ada rupa, memang dimana-mana sama saja, duit yang bicara. Mungkin bener yang dibilang Kang Noyo, harusnya saya ke puskesmas saja.

7 comments on “Ono Rego Ono Rupo

  1. Sugeng mengatakan:

    Pertaqmaxxxx………. untuk mbok darmiO…darmIO..darmo..darmodar…modar…modar….modar…. 😆
    Memang begitulah mas, malah ada yang lebih extrem lagi. sebelum memberi vaksin imunisasi dokternya nanya, “pake yang (ada afek) panas ato enggak 😕 ❓ ” yang panas sekian… yang enggak sekian…. **cape dech**
    salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

  2. lindaleenk mengatakan:

    lhah mmg ada harga ada rupa..
    rumah sakit juga butuh duit buat bayarin ini itunya
    dan selama mmg pelayanannya baik, saya rasa itu worth it kok sama biayanya..
    kadang dirumah sakit pemerintah, hal2 sepele kayak toilet bersih susah banget ada…
    makanya kadang kalau untuk penyakit sepele ya ke puskesmas belakang kosan/ pakai fasilitas medical centre nya kampus.. :p
    kalau yang lain2, masih lebih percaya sama rumah sakit swasta 😐

  3. warm mengatakan:

    kang Noyo beraksi lagi..

    ya benar-benar ada harga ada rupa
    kalo saya sih,
    kalo sama saja hasilnya, misalnya kaya imunisasi gitu,
    mending di puskesmas, yang penting tujuan tercapai, dan
    lebih ekonomis tentu 😀

  4. novee mengatakan:

    sama kayak kasus temenku yang kecelakaan motor di sekitar RS bertaraf Int. di kawasan Jakarta Timur. dalam keadaan shock, dia di bawa ke UGD-RS itu sama orang2 yang menolong…begitu sadar, dia langsung semaput begitu tahu bahwa tangannya yang cuma tergores nggak begitu parah dikenakan bayaran 400 rb…padahal tangannya cuma diperban+betadine thok..yang bikin dia lebih apes lagi, dia dapat kecelakaannya tepat di tanggal tua..hehehe 🙂

  5. yim mengatakan:

    dadi eling arek2 sering nglinggiske unen2 iki dengan: there is a price there is a face. hahaha

  6. […] rumah sakit wabil khususon imunisasi ini saya inget ada komentar dari salah seorang pengunjung blog jelek saya, beliau bilang, “Memang begitulah mas, malah ada yang lebih extrem lagi. sebelum memberi […]

  7. […] niat memberikan pendidikan yang terbaik mungkin akan memilih sekolah mahal, sesuai dengan prinsip ono rego ono rupo. Masalahnya saya kuatir dengan lingkungan cenderung homogen yang dikenalkan kepada anak dari kecil […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s