Ojo Terlalu Serius, Ndak Edan

ojo terlalu serius, ndak edan

ojo terlalu serius, ndak edan

Kalo ndak salah inget, saya dipindah oleh juragan gede ke cabang pabrik yang ada di Pasuruan pada Desember 2007, setelah lima tahun sebelumnya mburuh sambil sesekali menikmati angin gending di kaki Bromo. Tempat baru, atasan baru, teman-teman baru, dibalut dengan aroma canggung yang kental membaur jadi satu.

Rasanya masih belum lama, berapa tahun itu? Empat? Yang jelas belum lima tahun.

Dalam dunia perburuhan di pabrik tempat saya ngabdi itu awalnya saya termasuk pupuk bawang, istilah lain yang bisa sampeyan pakai untuk menggambarkan anak yang belum cukup umur. Senior bilang ke barat ya saya ke barat, mandor bilang ke timur ya saya ikut ke timur, juragan bilang masuk sumur ya saya kecemplung. Manut saja pokoknya[tm].

Seneng juga dapet suasana baru, ketemu senior-senior yang sudah pernah melanglang buana, belajar banyak ilmu-ilmu baru, mulai dari ilmu trawangan sampai ngrogo sukmo. *sik, saya tak ngecek dulu, jangan-jangan sebenarnya saya kerja di pabrik menyan*

Tapi selama perjalanan waktu itu ada satu hal yang membuat saya merasa istimewa, bukan hal penting sebenarnya, mungkin malah bukan sesuatu sama sekali.

Opo kuwi?

Saya ndak pernah pindah meja. Empat kali saya ganti mandor, tiga kali ganti juragan, meja saya tetep di situ, mesin ketik berlayar teve pegangan saya ya masih yang itu. Di saat kawan sebelah kanan, kiri, depan, pojokan, diputer atas nama penyegaran, saya selalu bertahan, atau dipertahankan, tergantung dari sudut mana sampeyan melihatnya. Tapi yang jelas ya itu, saya ndak pernah pindah meja.

Istimewa?

Yo ndak, tapi dalam guyon imaji yang saya nikmati sendiri kadang saya berujar, “Saya ini orang sakti.”

Waktu bergeser lagi, putaran-putaran waktu yang konon relatif itu akhirnya menyentuh lagi suatu picu bernama mutasi. Kawan-kawan yang masuk ke Pasuruan bareng saya satu per satu dipindah ke cabang pabrik di tempat lain, ada yang pindah sepelemparan bis, ada yang sepelemparan pesawat, tergantung garis tangan, walaupun konon ada kawan saya yang ndak punya garis tangan gara-gara keseringan ngucek cucian. *sik sik, sepertinya ada yang salah dalam paragraf ini*

Layaknya sistem persediaan dengan metode DMDM (dhisik mlebu dhisik metu) alias FIFO (first in first out), mutasi-mutasi itu akhirnya menggeser posisi saya, atau mungkin lebih tepatnya posisi di perasaan saya. Dari sekedar pupuk bawang, geser jadi pupuk cabai, lalu pupuk kedelai. *Ojo diterusno, ndak edan*

Akhirnya saya dipecat dari keanggotaan Suju, super junior, pindah posisi jadi agak senior. Bukan dari segi umur, karena saya tetaplah seorang anak manis umur tujuhbelasan, tapi dari segi kelamaan saya berada di cabang pabrik Pasuruan. Maksud saya bukan kelamaan, err…. apa ya… tapi sampeyan ngerti kan maksud saya?

Sampai akhirnya datanglah saat itu. Kalo ndak salah sekitar akhir Mei 2012, ada perintah dari juragan gede untuk memindahkan para buruh yang sudah agak lama bercokol di cabang tertentu. Perintah itu menyapu bersih kawan-kawan yang bareng sama saya masuk Pasuruan. Yup, sapu bersih, kecuali saya.

Bohong kalo saya bilang saya ndak nelongso ditinggal belasan kawan itu.

Perginya para kawan sebarengan, yang dilanjut dengan kedatangan kawan-kawan baru yang unyu dan menggemaskan, membuat posisi saya naik di level paling senior dari segi kelamaan. *gak ada kosakata yang lebih bagus gitu?*

Ndilalah di pabrik tempat saya mburuh itu ada semacam forum untuk para buruh ngobrol-ngobrol soal kerjaan. Bukan forum resmi, sekedar ajang untuk berbagi biar ndak mumet sendiri, kalo saya mengistilahkannya sebagai forum pencegah keedanan dini. Dan begitulah, secara musyawarah dan mufakat yang menjadi ciri masyarakat kita, saya langsung diangkat jadi ketua forum ini, tanpa acara penyampaian visi misi macem ajang pilkada DKI.

Pertimbangan senioritas?

Mbuh, bahkan saya masih bingung, mungkin sama bingungnya dengan beberapa kawan lain, sebenarnya yang musyawarah dan mufakat itu siapa?

Saya yang terbiasa ngantuk waktu rapat, pura-pura sibuk sebelum rapat, kabur sebelum rapat ditutup, mendadak disuruh memandu rapat. *tepok jidat, jidat kawan sebelah*

Agak susah jadinya, wong saya ini orangnya ndak smooth blas kalo ngomong, sukur njeplak dan waton muni. Tapi yo namanya dikasih peran, tentunya ndak sopan kalo saya mengabaikan. Karena salah satu hal yang saya percayai adalah setiap orang harusnya berlaku sebagaimana lakon yang dia perankan.

Yang jadi pertanyaan adalah: apakah lakon yang saya perankan itu telah membuat saya jadi semakin kemaki dan mbagusi?

Atau pertanyaan yang lebih mendasar lagi: apakah benar ada lakon yang sedang saya perankan?

“Ayah, bangun, sudah jam empat! Mau sahur gak?”

“Eh, opo Bu? Forum, senior? Opo? Sahur?” Saya gelagepan sambil mengecap iler di bantal.

Ini tadi cuma mimpi tho?

Jiyan!

10 comments on “Ojo Terlalu Serius, Ndak Edan

  1. jhon koplo mengatakan:

    Jos tenan kangmas stein ini… tulisannya kadang bisa bikin ngakkak… Kadang juga bisa bikin mbrebes mili inget perjalanan hidup saya yg rada-rada mirip dengan perjalanan hidup beliau..(Asli mas, bukannya ngaku-ngaku) … NB: o ya mas, mbok blog sampeyan ini disetting seperti semula,.. Loadinya lama klo mo mbukak, pdhl awal saya keblasuk di blog ini ndak seberat ini, beda dgn blog mbah mbel, mbah dipo…dari dulu mpe sekarang syat syut syat syut cepet banget loadingnya.

  2. Mas seno mengatakan:

    jos tenan…..lha tak kiro kui mau ki…tenanan .. jebulane..hahhaha

  3. chocoVanilla mengatakan:

    Postingan ini berdampak agak sedikit mengedankan saya alias bingung, Dadi lakon iki ngimpi opo beneran, Mas?

    (dampak ngelih nunggu buka suwiiiii bangget)

  4. annosmile mengatakan:

    sahur sek mas ndak imsak :p

  5. Abi Sabila mengatakan:

    Ada sedikit kesamaan antara saya dengan sampeyan, Mas. Dimana karena faktor usia, lamanya masa kerja dan mungkin ditambah status saya yang d*da, maka makin terlihat senior ( tua ) lah saya di antara lima rekan kerja sebagian saya. Entah harus senang atau sebaliknya, segala sesuatu selalu juragan berikan lewat saya. Bukannya uang, tapi setiap tugas baru mesti diujicobakan kepada saya, kalau berhasil baru dilanjut rekan-rekan junior lainnya. Terkadang, antara dipercaya dan disiksa saya sulit membedakannya, hanya ikhlas dan sabarlah yang menjadikan saya masih bertahan. kok malah curhat? yo wis, ojo serius, ndak edan. hehehe.

  6. Emanuel Setio Dewo mengatakan:

    Lha ngimpi kok serius tenan tho?

  7. hendra mengatakan:

    hahaha…nice story

  8. rizky ardian mengatakan:

    mantepp mas stein … bisa sedikit ngambil ilmu nulis nya inni…

  9. sapimoto mengatakan:

    Edan tenan….
    Cara penulisan-e tambah mateng ae…

    Jempol 4, Om

  10. […] Orang hidup memang kadang perlu meracau, ndak semuanya harus selalu dilakukan dengan serius, dengan latar belakang, tujuan, dan program yang serius setelah menimbang dan memperhatikan segala macam tetek bengek ala aturan perundang-undangan. Ada saat di mana orang ndak usah terlalu serius, ndak edan. […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s