Menerima Kenyataan

Saya ingat waktu jaman masih sekolah dulu pernah ada semacam psikotes, mungkin semacam pengenalan karakter, soale waktu keluar hasilnya karakter saya adalah kaku, mudah tersinggung, dan cenderung menentang. *jiyan! Karakter kok ndak ada yang nggenah*

Saya mencoba bercermin, kayaknya memang bener, saya orangnya mudah tersinggung. Kadang ada momen yang saya sebut ledakan sesaat, kejadian kecil misalnya tatapan ndak enak atau nada tinggi dalam suara yang membuat saya pengen mbanting komputer. *lebaydotcom*

Namanya ledakan sesaat, habis meledak ya sudah ndak bersisa. Yang tersisa hanya penyesalan, dengan bonus efek ledakan pada orang-orang terdekat.

Suatu saat saya ngobrol sama Dadap, temen saya yang punya kemampuan mengutip dan menciptakan kata-kata bijak. Saya pengen merubah karakter jadi lebih baik.

“Untuk bisa berubah, pertama yang harus sampeyan lakukan adalah menerima bahwa karakter sampeyan memang kaku, mudah tersinggung, dan cenderung menentang.” Kata Dadap memulai dobosannya.

“Saya memang kaku dan mudah tersinggung, tapi saya bukan orang yang cenderung menentang!” Kata saya.

“Tuh kan, baru dibilangin suruh menerima saja sampeyan sudah menentang.” Kata Dadap kalem.

Siyal!!

Seiring berjalannya waktu karakter saya bisa berubah, lebih kompromis dan lebih panjang sumbu. Dan bener kata si Dadap, awalnya harus dengan menerima kenyataan, dilanjutkan dengan memberi ruang lebih pada kepentingan dan ego orang-orang terdekat. Tetep ndak sempurna tentunya, karena perbaikan adalah proses yang akan terus berlangsung sampai waktu terhenti.

Saya kadang berpikir, apakah carut marutnya negara kita yang ndak beres-beres ini gara-gara kita ndak mau nerimo?

Ndak mau menerima kalo pendidikan kita belum punya dasar yang kuat tapi cuek saja membuat standard nilai kelulusan. Ndak mau nerima kalo fasilitas dan pengajar banyak yang masih ala kadarnya tapi maksa mbikin sekolah berbiaya berstandard internasional. Itu contoh kecil.

Perbaikan membutuhkan kebijakan yang membumi, kebijakan yang menimbang kenyataan.

21 comments on “Menerima Kenyataan

  1. dwi222 mengatakan:

    Semoga berhasil ya…(supaya bisa berubah)
    Btw, malah ada beberapa orang yang belum pernah ‘meledak’ tapi sangat ingin bisa meledak lho..(Yah, kira-kira dalam keadaan depresi gitu).

  2. Wempi mengatakan:

    kalo dijalani dengan ikhlas, jangankan ujian nasional ujian internasional pun kita hajar 😆

  3. katakatalina mengatakan:

    pendidikan kita ini, malah lebih mekso daripada yang di jepang. anak sma di sini banya dituntut macam-macam dengan standar nilai tinggi. di jepang aja ndak segitunya. lebih santai, tapi lihat saja hasilnya…

    wah…la kok saya yang malah meledak di sini 😛

  4. Mawi Wijna mengatakan:

    Nerimo mas, kita ini nerimo kok, buktinya nerimo kalau para koruptor itu bebas berkeliaran di jalan-jalan. Nerimo “banget” ya kita ini …

  5. GPH mengatakan:

    Kalau rakyat kecil sih terbiasa nrimo mas 😀 . Ngomong2 tentang psikotest, saya jadi teringat teman yg contek2an waktu nggarap psikotest 😆

  6. Emanuel Setio Dewo mengatakan:

    Berarti karakter sebagian besar masyarakat (dan pemimpin) masih seperti itu ya?

    *nyulut sumbu kompor*

  7. bukan facebook mengatakan:

    kita sama om…sumbunya pendek..

    tapi sekarang sudah lumayan memanjang sejak punya istri dan anak 😀

  8. chocovanilla mengatakan:

    Saya sudah nrima kenyataan bahwa hasil psikotes saya adalah orang yang mudah menangis sekaligus mudah tertawa. Rada korslet gitu 😀

    (mas, blognya tak link yaa)

  9. kucingusil mengatakan:

    wah, artikel berlapis ini ceritanya. bingung mau ngomentarin cerita psikotesnya atau sistem pendidikan di endonesia yang maksa bikin standarisasi :mrgreen:

  10. Mas Adien mengatakan:

    ## hmmm…saya salah satu orang yang pernah menyoba mengrubah karakter yang terbawa semenjak lahir dengan karakter yang sama sekali baru karna menyadari bahwa karakter bawaan itu ndak bagus..(plg ndak menurut saya )…tapi apa jadinya??? malah tambah ndak karu2wan..akhire memang benar kata konco sampeyan iku…
    trus jadi ingat wejangan ki semar yang diucapkan oleh salah satu dalang wayang kulit terkenal bahwa beda antara watuk dan watak adalah bahwa watuk dikasih obat bisa sembuh tapi kalo watak ndak ada obatnya…
    weladalah aku kok malah ngoceh nang kene….muga2 aja yg punya rumah ini mbaca…

  11. […] jelas sampeyan harus bisa menerima diri sendiri secara apa adanya terlebih dahulu, sebelum mulai berbenah. Prosesnya mungkin akan sedikit berbau […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s