Spontan Itu Menyenangkan

Suatu siang di salah satu sudut Jakarta, seorang ibu setengah baya keluar rumah saat pintu pagar rumahnya diketok, nampak di pinggir jalan dua orang lelaki dengan seragam toko elektronik menunggu sambil membawa sebuah kotak besar.

“Ini ada kiriman teve Bu.” Ujar salah seorang lelaki di depan pagar.

Muka si ibu berubah sedikit masam, “Saya ndak mau, saya ndak pesen teve, saya ndak punya duit buat nyicil kreditnya.”

“Ini bukan penawaran kredit Bu, teve ini sudah dibayar.” Sahut si lelaki.

Si ibu langsung berbinar, dengan cepat mempersilakan kedua lelaki tersebut masuk, disambut bapak tuan rumah yang ndak kalah seneng.

Beberapa menit kemudian sebuah telepon genggam di Malang berdering, terdengar suara si bapak saat diangkat, “Alhamdulillah, makasih ya, teve yang lama sudah dikasih ke tetangga, sekarang bapak mau nonton bulutangkis.”

Sedikit terharu bercampur pedih sebenarnya, ternyata saya adalah anak yang nyaris durhaka. Berapa kali orang tua membuat saya bahagia dengan sesuatu yang di luar dugaan, tapi jarang sekali saya terpikir untuk membuat kejutan kecil yang menyenangkan untuk mereka. Padahal nilai yang saya kirim ke Jakarta itu relatif kecil, tapi reaksi mereka sungguh membuat saya terharu, dan sekali lagi, pedih, kok ya saya ini jarang mikirin orang tua…

“Itu kan mertuamu Le.” Ujar Kang Noyo saat duduk bareng saya di pojok warung Mbok Darmi.

“Sama saja tho Kang, mertua kan orang tua juga, saya bisa jadi begini kan salah satunya karena istri saya, istri saya bisa jadi orang kan karena orang tuanya. Jadi mau orang tua sendiri, mau mertua, sama saja, orang tua kita.” Sahut saya.

Saya pernah menulis soal kejutan yang menyenangkan, betapa senyum bahagia orang lain saat kita memberinya kejutan selalu terasa menyenangkan, kesenangan yang juga membuat kita senang. Dan itu ndak selalu harus berwujud benda dengan nilai yang cukup material. Yang lebih utama adalah unsur kejutannya.

Waktu masih bujang dulu rasanya banyak ide untuk membuat kejutan-kejutan, misalnya iseng beli makanan di minimarket untuk diberikan kepada siapapun tukang becak yang lewat, membelikan minum buat anak jalanan yang keleleran di perempatan. Ndak mahal, yang penting spontan.

Sayangnya setelah menikah, dengan kerjaan yang makin menggunung, tanggung jawab yang makin berlimpah, ide-ide seperti itu seperti ndak punya tempat lagi. Hidup adalah rutinitas yang nyaris membosankan, bangun tidur, berangkat mburuh, pulang, ngobrol-ngobrol seperlunya, tidur, besok bangun lagi, mburuh lagi, ngobrol lagi, dan seterusnya.

Butuh efforts yang luar biasa untuk keluar dari rutinitas, lalu mencari spontanitas yang menyenangkan, karena saya merasa apa yang menjadi kewajiban sudah saya laksanakan.

“Alesan saja kamu itu Le, males yo males. Wong dalam hidup itu pilihannya cuma dua kok, mau atau ndak mau. Kalo kamu mau ya jalan, tapi kalo sudah ndak mau yo pasti ada saja alasannya.” Ujar Kang Noyo.

“Bener sekali.” Batin saya.

Asyem!

“Kapan terakhir kamu ngasih kejutan buat anak istrimu, buat orang tuamu?” Tanya Kang Noyo.

Kapan ya?

“Nganu…”

“Aku ndak nanya kapan kamu ngasih sesuatu buat mereka, kalo yang jadi kewajibanmu ya sudah, jangan dibahas, aku nanya kejutan, kapan terakhir kali?” Desak Kang Noyo.

Saya memeras otak, kapan ya?

“Kalo ndak inget ya sudah, jangan dipaksa, nanti malah kamu ngapusi. Biar gampang, kamu belajar dulu mbikin kejutan.” Kata Kang Noyo.

Caranya?

“Mbok Darmi, tolong gorengan yang baru diangkat itu bungkus semua, sama nambah es teh dua, dibungkus juga, sama rokoknya sebungkus, nanti temenku ini yang mbayar. Aku yo kaget, wong tanggal tua kok mau nraktir sebanyak itu, tapi kata dia ini kejutan, yo wis ndak papa.”

Kang Noyo terus nyerocos, membiarkan saya tergagap-gagap sambil merogoh kantong, mencari sisa-sisa recehan.

Jiyan!

6 comments on “Spontan Itu Menyenangkan

  1. Emanuel Setio Dewo mengatakan:

    Hahaha, Kang Noyo memang jiyaaan…
    Eh hati2 loh memberi kejutan sama orang tua… Nanti terkejut sangat.

  2. @ndorondoni mengatakan:

    Iya, dulu saya juga disenangkan saat menonton Spontan Uhuy! dari Komeng.😀

  3. Imam Fahruddin mengatakan:

    Ndak semua orang mampu memberikan kejutan yang baik, kebanyakan ngasih kejutan yang bikin kepala tambah pusing…,

    blog ini konsisten menampilkan trio lakon, sampeyan, kang noyo dan mbok darmi… inilah ciri khas sampeyan, lanjutkan mastein🙂

  4. Ummu Aisyah Al Atsari mengatakan:

    menginspiratif skali….

  5. nv0id mengatakan:

    Betul mas, spontan itu betul-betul menyenangkan. Jadi inget waktu saya nonton TEDx, uang itu membawa kebahagiaan kok, if you spend it right.😉

  6. chocoVanilla mengatakan:

    Saya serign mengejutkan ortu saya dengan ngirim martabak Alim (delivery). Tapi krn keseringan, mereka ndak terkejut lagi:mrgreen:

    Kejutan untuk orang terkasih, keluarga memang perlu, agar menyemarakkan rutinitas😀

    (nunggu kejutan dikirim apel malang sak kranjang)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s