Melihat Lebih Jernih

Konon ada sekitar 32.000 pegawai pajek di seluruh Indonesia, suatu jumlah yang lumayan besar. Terlalu gemuk jumlahnya? Ndak juga, sesuai dengan struktur organisasi Direktorat Jenderal Pajak yang sekarang berbasis fungsi, dari jumlah itu yang menangani dan berhubungan langsung dengan Wajib Pajak ndak banyak, malah di beberapa daerah rasionya sangat njomplang. Ndak usah di luar Jawa, di Pasuruan saja misalnya, seorang petugas pajek bisa ditugaskan mengawasi dua kecamatan dengan ribuan wajib pajaknya.

“Weh, manteb yo Mbah, lebih berkuasa dari camat. Cepet sugih!” Kata saya waktu ngobrol sama Mbah Suto kemaren sore.

“Cepet sugih ndhasmu kuwi! Kamu pikir semua pegawai pajek sama seperti Gayus po kelakuannya?” Ujar Mbah Suto.

Miris memang, orang-orang yang katanya pinter, mulai dari anggota DPR sampe mantan menteri, main gebyah uyah dengan memvonis kelakuan 32.000 orang berdasarkan kesalahan yang dilakukan oleh satu orang, atau mungkin beberapa gelintir orang.

“Padahal kalo cuma main gebyah uyah gitu, semua organisasi di negara kita ndak bakal ada yang bener Le. Lha piye, polisi ada yang korup, tentara ada yang sewenang-wenang, wartawan dan LSM ada yang suka meras, hakim ada yang main suap, mahasiswa ada yang kerjaannya mabok, belum lagi kelakuan sebagian anggota DPR. Selalu ada yang ndak bener dari tiap komponen masyarakat, tapi ndak berarti kelakuan itu mewakili komponennya tho?” Kata Mbah Suto.

Ada sebuah kisah nyata, seorang pegawai pajek yang juga beristrikan seorang pegawai pajek. Sekitar bulan Maret 2007 mereka boyongan dari pondok mertua indah yang ada di Jakarta ke sebuah rumah kontrakan di Malang, sampeyan boleh percaya boleh ndak, mereka ngutang 15 juta untuk biaya pindah plus biaya ngontrak, mbayarnya nyicil.

Ah, itu kan cuma satu diantara sekian banyak orang pajek. Pasti dia ini kalangan minoritas.

“Kamu kok bisa ngomong itu minoritas, tapi ndak bisa ngomong hal yang sama waktu Gayus ketauan punya rumah mewah dan duit milyaran?” Tanya Mbah Suto.

Suatu saat pegawai pajek yang baru pindah ke Malang itu anaknya sakit panas, kejang, semaleman ndak tidur. Akhirnya jam 3 pagi berangkat ke Rumah Sakit Lavalette dengan membawa duit 300 ribu, memang cuma itu sisa bayarannya. Sambil berharap anaknya ndak perlu opname, soale bingung harus minjem ke mana jam segitu kalo harus mbayar DP rawat inap.

Mbok ya jangan main pukul rata kalo semua orang pajek kelakuannya seperti Gayus.

“Apa reformasi birokrasi di pajek memang ada efeknya Mbah?” Tanya saya.

“Tentu ada.” Jawab Mbah Suto.

Jaman dulu kadang orang pajek malu kalo harus bilang kerja di pajek, wong citranya memang ndak karu-karuan. Sekarang dengan reformasi birokrasi yang sudah dilakukan banyak hal sudah berubah, bukan semata-mata karena perubahan struktur organisasi, penerapan SOP, juga perbaikan remunerasi, tapi lebih karena pada dasarnya setiap orang pengen kerja yang ndak neko-neko, hidup nyaman dengan sewajarnya, ndak terkecuali orang pajek.

Kalo sampeyan ada waktu, monggo dibaca-baca kisah-kisah yang ditulis sendiri sama orang pajek
tentang reformasi birokrasi. Bagaimana perjuangan mereka saat pajek masih mengalami jaman jahiliyah sampai akhirnya mencapai jaman modern. Kalo sampeyan pengen lihat bagaimana masyarakat menilai perubahan yang terjadi di pajek, monggo mampir di sini. Biar sampeyan bisa lebih fair menilai orang pajek.

Yang salah harus dihukum, tapi tidak dengan menyalahkan Direktorat Jenderal Pajak secara keseluruhan. Ndak perlu membunuh tikus dengan cara membakar ladang tho?

Iklan

13 comments on “Melihat Lebih Jernih

  1. harikuhariini berkata:

    Setuju mas, ‘pada umumnya’ itu tidak sama dgn ‘selalu’. Ya kan?

    #stein:
    welhah! kalo pada umumnya ya brarti wong pajek bosok kabeh :mrgreen:

  2. daniboy berkata:

    Setuju. Jangan mengeneralisasi.

    Tp sbg orang pajak juga hrs liat kedalem, sadar diri, mungkin saja mas gayus cuma ujung dr gunung maha besar. Kita ga boleh pura2 bodoh dan pura2 ndak berdaya toh?

    Salam hormat 🙂

    #stein:
    setuju. dan seharusnya di era sekarang ndak ada lagi alasan untuk pura-pura bodoh dan ndak berdaya.

  3. retnani berkata:

    ho oh,.. betul dan setujuh banget,…knp harus membakar ladang hanya u/ bunuh tikus..hehehehe:D.

    #stein:
    kecuali ladang ganja, ndak popo mungkin mbak 😆

  4. cyraflame berkata:

    Setuju banget mas..

    kebudayaan ‘karena nila setitik rusak susu sebelanga’ harus bener2 dikurangi malah dihilangkan kalo bisa dari pikiran2 kita sekarang..

    Kasiyan yang ndak salah.. 😐

    #stein:
    saya jadi penasaran, seperti apa sih mukanya si nila itu, kok ngrusak banget. cakep banget mungkin yo?

  5. Dante5460 berkata:

    kayaknya pengalaman pribadi nih????nice share bos….

    #stein:
    memang pengalaman pribadi, masalahnya pribadine sopo? 😆

  6. Sigit Argo berkata:

    Nice story……
    Halo prend, kayaknya aku kenal ama org pajak di cerita itu.
    Setelah membaca habis q jd ingin ngasi komentar…..mmmm..
    apa y???

    o mkgn di bawah saia duluan….silakan…..

    #stein:
    komentar wae kok nggantheng-ngganthengan

  7. novee berkata:

    kasian tikusnyah…..

    kenapa selalu tikus yang disalahin…

    hehe…nais inpo, kang…keep posting!

    #stein:
    memang sudah nasibnya, senasib sama kambing hitam :mrgreen:

  8. sigit bukan argo berkata:

    saya juga orang pajek..nggak mau yang neko2..hidup yg wajar, jujur,Bersih..biar anak2 saya nggak nakal,nggak kena narkoba gara2 dikasih makan dari duit haram..biar saya nggak kena kanker, stroke, impoten di usia muda gara2 nasi yang saya makan dari duit haram
    Harapan itu masih ada..bangkit yoook..

    #stein:
    kok yo nggowo-nggowo impoten barang tho yo. jiyan!

  9. Asop berkata:

    Wah, itulah pegawai pajak yang jujur…
    Coba kalo semua orang pajak seperti itu,… 😦

    #stein:
    lama-lama mumet juga saya sama wong pajek

  10. djoko.widodo@yahoo.co.id berkata:

    Ehem…Mas Stein ini buruh pabrik pajak juga yah?? Mudah2an demikian, karena kayaknya orangnya baik…

    #stein:
    saya cuma buruh parik saja kok om

  11. gargoyle berkata:

    Sengtujuh banget oom
    Akibat susu Nila, rusak orang sebelahnya…

    Kang Kerto: Orang-orang indonesia itu kok sukanya menggeneralisasi kasus….
    Lik Parno: Lha kok sampeyan itu juga menggeneralisir kalo orang indonesia suka menggeneralisir?
    Kang Kerto: lah iya bener kan?, eikkeh kan mangsih termasup orang Indonesia!

    #stein:
    jadi nek menurut sampeyan susu nila itu bagaimana om? *plak!*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s