Permisi Pak Menteri, Saya Mau Macul!

“Nama menteri keuangan sopo Kang?” Tanya saya kemaren sore waktu ngopi bareng Kang Noyo di warung Mbok Darmi. Di saat tanggal tua begini warung Mbok Darmi benar-benar tempat nongkrong yang menyenangkan buat saya, modal seribu rupiah sudah bisa ndobos ngalor ngidul.

“Masih Sri Mulyani tho? Kenapa memangnya?” Kang Noyo balik nanya.

“Ndak papa, cuma nanya. Kalo menteri pertanian sopo?” Tanya saya lagi.

“Siapa ya? Ini ada apa tho kok tiba-tiba nanya nama-nama menteri? Kita kan bukan anak SD lagi yang harus apal nama anggota kabinet.” Protes Kang Noyo.

“Yo ndak papa Kang. Saya kan anak petani, sampeyan juga anak petani, trus di Indonesia ini ada Kementerian Pertanian, siapa tau sebagai anak petani Sampeyan tau siapa nama menterinya.” Kata saya.

Saya yakin kalo misalnya saya pulang kampung dan nanya ke tetangga-tetangga saya yang tiap hari macul bermandi peluh di sawah mereka juga ndak tau siapa nama menteri pertanian. Bahkan bisa jadi mereka ndak tau kalo di negara ini ada kementerian yang dibentuk khusus untuk ngurusi mereka dengan judul Kementerian Pertanian.

Tiap tahun perasaan ndak ada yang berubah dari siklus hidup petani kampung saya. Waktu musim tanam ngantri buruh tani, setelah itu bingung soal pupuk dan obat yang sering ilang dari pasaran. Soal air bisa milih, berharap dari langit dengan resiko tanaman kekeringan, atau ikut kelompok pengairan dengan ongkos 20% dari hasil sawah.

Nanti setelah panen bingung karena harga jual ndak sesuai dengan yang diharapkan. Mau ditahan tapi terdesak kebutuhan, akhirnya nyerah sama tengkulak. Sebagian hasil panen dijual untuk kebutuhan hidup dan biaya tanam periode berikutnya, sebagian disimpen buat kebutuhan sendiri.

Konon katanya ada petugas penyuluhan yang bertugas untuk memberi pencerahan pada petani supaya bertaninya lebih efektif dan efisien, tapi mungkin petani di kampung saya cuma inget sama penyuluh pertanian yang muncul di acara-acara TVRI jaman dulu. Lha piye, wong memang mereka ndak pernah muncul di sawah.

“Lho kok malah ngoceh ndak jelas tho Le, jadi nama menterinya siapa?” Pertanyaan Kang Noyo memotong ocehan saya.

Saya sebenernya juga lupa kalo ada lembaga yang bernama kementerian keuangan, sampe tadi pagi saya mbaca korannya mandor saya yang tergeletak nganggur karena yang langganan lagi cuti. Isinya soal draft Peraturan Menteri Keuangan tentang Pedoman Perizinan Usaha Budidaya Tanaman Pangan. Menurut draft itu kalo sampeyan pengusaha budi daya tanaman pangan dengan lahan 25 hektar atau lebih harus ijin untuk nanam tanaman pangan.

Kalo sampeyan cuma petani gurem dengan lahan ndak sampe 25 hektar ndak perlu ijin, tapi nanti bupati atau walikota akan mendaftar sampeyan dan memberi tanda daftar usaha dalam proses produksi. Konon katanya tujuan pendaftaran itu untuk mengetahui luas lahan dan jumlah komoditas yang ditanam.

“Jadi siapa nama menterinya?” Tanya Kang Noyo ndak sabar.

Saya sudah coba mbuka situs kementerian pertanian, saya klak-klik di sana-sini tapi ndak ketemu nama menterinya. Semua nama pejabat beserta alamat kantornya ada tapi nyari nama menterinya ndak ketemu. Terpaksa saya nanya sama paklik gugel, dan beliau memberi tau saya kalo nama menterinya adalah Bapak Suswono, seorang politisi dari PKS.

“Trus kamu setuju ndak Le sama draft peraturannya?” Tanya Kang Noyo lagi.

“Mbuh Kang, wong saya nyari-nyari draft lengkapnya ndak nemu.” Jawab saya.

Kalo dari yang saya baca di media masa konon katanya draft peraturan menteri itu hanya mengejar kepastian usaha bagi industri atau investor, tetapi mengkhawatirkan bagi jaminan ketersediaan pangan nasional, dan yang jelas dengan menyamakan petani dan pengusaha sebagai sesama pelaku usaha pertanian sepertinya pemerintah kurang memperhatikan petani kecil.

“Tapi ndak usah dipikir Kang, wong paling-paling yo sama saja. Petani-petani di kampung Sampeyan atau kampung saya sudah biasa hidup susah, sudah terbina untuk pasrah. Nambah satu aturan menteri lagi tak pikir ndak masalah.”

Jiyan!

Iklan

10 comments on “Permisi Pak Menteri, Saya Mau Macul!

  1. Antyo Rentjoko berkata:

    Jadi, nama menterinya siapa? Mas Stein ya? 😀

    #stein:
    sampeyan mau nyalon paman? nanti saya dukung 😆

  2. darnia berkata:

    “Kebijakan” macam gitu hanya dibuat untuk kalangan tertentu aja dan AMAT SANGAT TIDAK MUNGKIN untuk kepentingan kalangan cilik. Lha wong di Indonesia lebih banyak buruh tani daripada pemilik tanah :p

    Kehidupan para petani akan gonjang-ganjing kalo masyarakat kita udah berpindah selera jadi makan beling ato batu bata.Kalo hanya aturan semlekethe gitu, agaknya kurang digdaya…

    #stein:
    saya pikir juga daripada mbikin aturan aneh-aneh gitu mbok mending dibenahi dulu distribusi bahan dan hasil pertanian

  3. pipit berkata:

    mertua saya juga petani di jawa tengah sana. bulan ini baru saja panen dan sedang siap-siap ngolah sawah untuk ditanami lagi nantinya.

    yang lagi hip (duh, istilah apa nih) adalah pupuk yang tiba-tiba ngilang setelah (katanya) harganya mau naik.. nyebelin..

    sebetulnya bisa ga sih, ga pake pupuk kimia gitu? jadi biarin aja ngilang, kan ga butuh.. :p

    *lho kok malah misuh-misuh di sini yah*

    #stein:
    sayangnya masih butuh mbak, bapak saya di kampung juga make pupuk kandang, tapi cuma buat suplemen saja.

  4. prasetyandaru berkata:

    ah….aturan lagi aturan lagi..birokrasi lagi birokrasi lagi…duit lagi duit lagi…*yang terakhir semoga cumak prasangka saya saja*

    #stein:
    jelas duit lagi tho mbak, kalo pun bukan buat uang rokok minimal buat ndata kan butuh duit

  5. budiono berkata:

    jan tenan kok kang noyo iki..

    #stein:
    halah…! 👿

  6. engeldvh berkata:

    iya ya…..
    petani jadi seperti ditekan dari beberapa arah, padahal mereka jadi penopang hidup semua masyarakat Indonesia, wah…jadi miris 😦
    oiya, silakan berkunjung ya….ada bonus browser baru dari Microsoft, GRATISSS!!!
    http://engeldvh.wordpress.com/2010/02/28/pivot-suksesor-atau-mempelai-ie/

    lapak saya yang lain:
    http://engeldvh.wordpress.com/2010/04/20/rocket-dock-aplikasi-launcher-di-windows/
    http://engeldvh.wordpress.com/2010/04/18/editlah-file-pdf-dengan-pdf-ocr/

    #stein:
    semoga banyak yang berkunjung 😆

  7. Asop berkata:

    Semakin getir saja negara ini…. 😦

    #stein:
    ndak tambah getir mas, masih sama kok 😆

  8. Rindu berkata:

    padahal dulu kita swasembada pangan ya kang? 🙂

    #stein:
    karena dulu presidennya anak petani 😆

  9. ulan berkata:

    jadi siapa nama mentri nya mas?? bener yang diatas ??

    #stein:
    iya mbak di atas, Pak Suswono tho?

  10. trusted ptc berkata:

    SAmpai saat ini memang hidup petani masih banyak dbawah garis kemiskinan..,, petani adalah masyarakat yang sering dilupakan oleh bapak2 yang di atas kursi. Hmmm.. Ceritanya menarik lho Mas…

    #stein:
    makasih mas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s