Hidup Adalah Pembuktian?

salesrunKemaren saya nelpon bapak di kampung, basa-basi bertanya kabar, ngobrol soal hujan yang mulai datang, dan sebagainya dan seterusnya. Karena niat nelpon cuma untuk menyenangkan hati orang tua maka ngobrolnya juga cuma ndobos saja, ndak ada yang benar-benar penting.

Sampai tiba-tiba bapak menanyakan soal rencana saya mbeli mobil. “Piye le? Jadinya mbeli mobil apa? Yang kursinya dua baris apa tiga baris? Kapan? Berapa?”

Saya bilang kalo saya masih mikir-mikir, mikir soal mobil apa yang saya mau beli, dan terutama lagi mikir gimana muter duit bulanan yang bakal tersedot buat mbayar utang. Lha mau gimana lagi, wong untuk beli secara tunai dananya ndak ada.

Terasa sekali kalo yang kebelet pengen saya punya mobil itu bukan saya sendiri, tapi bapak!

Apalagi setelah bapak saya ngomong begini, “Oooโ€ฆ tak pikir belinya bulan ini, trus bulan depan waktu acara mantenan anaknya bulik di Jogja bisa bawa mobil sendiri.”

Saya ndak nyalahkan bapak, yang ingin membuktikan kesuksesannya, antara lain dengan cara memperlihatkan kepada sodara-sodara bahwa anak yang dibesarkan dengan darah dan air mata ini (lebay to the max!) sudah jadi orang. Sebagai salah satu yang dulunya secara ekonomi termasuk paling bawah dibanding ipar-iparnya, tentu akan kelihatan lebih mentereng kalo sekarang anaknya mbawa mobil sendiri.

Tapi kata-kata yang keluar dari mulut saya adalah, “Gak perlu buru-buru, lagian saya ndak dalam posisi membuktikan diri. Kalo orang mau bilang saya sugih ya Alhamdulillah, orang mau bilang saya kere pun ndak masalah.”

Saya pikir-pikir sebenarnya masa-masa bapak merasa harus membuktikan diri lewat anak sudah lewat. Misalnya saya, dulu sering jadi rasan-rasan karena konon katanya saya ini ndableg, mokong, bandel waktu SMA. Bahkan di antara pakdhe dan budhe ada yang memvonis kalo masa depan saya sudah tamat. Tapi nyatanya waktu UMPTN (sekarang apa namanya?) saya diterima, walaupun cuma jurusan Akuntansi Unsoed, yang akhirnya ndak saya ambil karena dengan beberapa pertimbangan saya memilih masuk Sekolah Tinggi Kaum Dhuafa Kedinasan. Saat itu beberapa sepupu yang konon anak pinter dan penurut malah ndak masuk. Berarti dlihat dari segi pinternya anak (atau minimal beruntungnya anak) bapak ndak perlu minder. ๐Ÿ˜†

Saya juga sudah nikah, yang berarti saya ini laku. Juga sudah punya anak (hampir dua malah), yang berarti saya ini jitu. Ndak perlu minder dalam masalah ini juga tho? :mrgreen:

Saya sudah punya rumah walaupun ngredit 10 tahun. Konon katanya kalo sudah punya rumah sendiri berarti sudah mapan, karena mapan berasal dari kata papan yang didefinisikan sebagai tempat tinggal. ๐Ÿ˜Ž

Jadi tenang saja ya pakรฉ, ndak usah pusing-pusing mikir pembuktian. Kita sudah sukses dengan standard kita sendiri, ndak perlu mikir standard orang lain.

Iklan

45 comments on “Hidup Adalah Pembuktian?

  1. lambang berkata:

    Spirit carries on Kang!

  2. suryaden berkata:

    sepertinya kok pernah mbaca sih saya… yah.. semoga kesampaian selalu dan sukses ๐Ÿ˜€

  3. luvaholic9itz berkata:

    oh oh oh, bapak.

    huum, bapaaaak bapaaaak kucinta padamu lhaaaa

    ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€

  4. zefka berkata:

    ayo mas… beli aja mobilnya.
    Orang tua kayaknya memang tahu kemampuan kita, lha wong dari kecil dia selalu dekat ma kita jd kemungkinan besar jg tahu kemampuan diri kita. ๐Ÿ™‚

    • mas stein berkata:

      halah. kalo bapak saya sukanya ngomong gini, “memang harus agak dipaksa, kalo ndak dipaksa ya ndak punya.” :mrgreen:

      maklum, kalo dulu ndak maksa ya saya ndak sekolah

  5. detx berkata:

    memang seringkali orang tua terasa lebih ngebet dibanding kita sendiri kang, mungkin maksud beliau bukan untuk pembuktian-pembuktian itu, tapi untuk mendorong dan menyemangati kita supaya mencapai hal yang sepertinya sulit dicapai..

  6. Mawi Wijna berkata:

    Tolak ukur kebahagiaan seseorang itu bukan dinilai dari harta-bendanya toh mas? Saya ndak melarang mas beli mobil, tapi alangkah bijaknya kalau kita mengimbangi nafsu kebutuhan dengan kondisi keuangan.

    • mas stein berkata:

      ada itungan dan sejarahnya mas, saya pun ndak serta merta pengen beli mobil. yang jelas bukan karena kebelet pengen naik mobil atau siap-siap menghadapi musim hujan ๐Ÿ˜†

  7. Aurel berkata:

    Apik kisahe an……Menyenangkan orangtua, dapat membuat “beliau” awet muda lho…hahahahaaa

  8. Chic berkata:

    couldn’t agree more Mas… ๐Ÿ˜€

  9. adipati kademangan berkata:

    sampeyan sudah jadi orang kok mas, saya ndak nyebut lagi lhoh sebelumnya jadi pitik kalau sukses harus nurut standar sendiri, kalau nurut standar orang lain ndak bakalan selesai.

  10. Rindu berkata:

    Setuju kang, masing masing kita punya standar sukses minimal .. dan itu kita sendiri yang harus ciptakan ๐Ÿ™‚

    *mikir, saya punya apa yah? suami? anak? mobil? rumah? hahahha … gak punya apa apa ternyata kang ๐Ÿ˜‰ *

  11. edelweis box berkata:

    yang penting kan barakahnya bukan soal banyak ato sedikit.

  12. bodrox berkata:

    Yah benar mas. Itu ukuran sosial, sukses kita juga sukses orang lain. Semoga bisa lebih sukses buat mas..

  13. eemoo berkata:

    Sukses dilihat dari mana ya…, kalau diliat dari kacamata billgates maybe sedikit orang indonesia yg sukses, tapi kalau dari kacamata mbah surip alm. mhampir semua orang indonesia sukses

  14. lambenesugiman berkata:

    Yah begitulah orang tua…
    nek aku ibuku seng nanyain kemaren waktu mo pulang lebaran…”wes nggowo montor dewe le?”
    yo tak jawab : “wes mbok, iki aku nggowo 2, siji nggone roovy sijine nggone hafizh…wes tak lebokke tas…” hihi

  15. bukan facebook berkata:

    sepakat, sampai sekarang ibu saya selalu merasa pembuktian keberhasilan haruslah dengan bekerja di perusahaan bonafid.

    Sementara anaknya yang diam dan usaha dirumah macam saya ini dianggap belum membuktikan apa-apa…:D

  16. Vicky Laurentina berkata:

    Feeling saya, kayaknya bapaknya sampeyan aja yang beli mobil sendiri, Mas. Nggak usah ndesak-ndesak Mas Stein..

    Ukuran keberhasilan Mas Stein tentang lolos UMPTN + menghamili orang + punya rumah sendiri bikin saya merasa seperti makhluk gagal..:-D

  17. samsul arifin berkata:

    Ternyata definisi hidup itu banyak sekali ya? kali ini hidup adalah pembuktian.

  18. setuju mas!
    tidak perlu kita membuktikan diri ke orang lain, apalagi seringnya tolak ukur yang ‘dibebankan’ ke kita hanyalah persoalan materi.

    yang penting bagaimana kita menikmati aliran hidup, mencintai keindahan anugerah Tuhan ๐Ÿ™‚

  19. Setujuuuu banget!
    masing2 kita punya standart sendiri
    kalo saya punya prinsip… saya gak mau dnegar apa kata orang, tapi saya sungguh2 mendengarkan apa kata Tuhan buat saya (yaa walopun kadang masih meleset dlm pengamalannya hehehe :P)

    salam, EKA

  20. christin berkata:

    doh saya juga lagi ngalamin kaya gini e mas sama si bapak tapi ya… gitu deh ๐Ÿ˜ฅ

  21. ahmad berkata:

    Selamat pagi pak marbun, tadi iseng-iseng saya buka internet dan dapat tulisan bapak ! saat ini posisi di mana ? apa masih di padang atau udah balik ke Yogja ? kemaren janji mau share lagi masalah BMKT ( Kasus2nya yang terbaru ) kapan di kirim ke saya ? thank ya n selamat bertugas !! !

  22. warm berkata:

    sampeyan ini memang manteb, mas
    eh itu yg nyaria pak marbun siapa pula ? ๐Ÿ˜€

  23. […] pikir bapak cuma pengen manas-manasi saya yang ndak juga mampu beli mobil sendiri. Dan minggu kemaren, menjelang pensiunnya yang tinggal […]

  24. […] pikir bapak cuma pengen manas-manasi saya yang ndak juga mampu beli mobil sendiri. Dan minggu kemaren, menjelang pensiunnya yang tinggal […]

  25. […] duit tinggal ngambil, butuh belanja tinggal nggesek. Bener-bener mantab! Eh, tapi kalo mau buat beli mobil bisa gak ya? Ngambil duit di ATM kan dibatasi jumlahnya. Trus buat nutup KPR? Ah! Kalo buat sekedar […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s