Sudah Berapa Kurban Sampeyan?

Sampeyan pasti sudah pernah mendengar kisah Nabi Ibrahim yang diperintah Allah untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail. Suatu ujian maha berat untuk membuktikan kecintaan dan ketaatan makhluk kepada Sang Khalik. Kisah yang kemudian diabadikan dalam momen ibadah kurban setiap kali datang hari raya Idul Adha bagi kaum muslim.

Saya ndak bermaksud mbahas sisi religi kisah tersebut, ndak cukup ilmu, takutnya malah berujung sesat dan menyesatkan. Apalagi menjelang Idul Adha seperti ini di sepanjang jalan berjejer orang jualan kambing dan sapi, membuat saya teringat nasib peliharaan saya yang harganya ndak juga kunjung membaik.

Sempat terpikir untuk menjual sapi saya sekarang, mumpung harganya agak lumayan, biar ndak rugi-rugi amat, tapi apa daya sapi saya betina, dan konon sedang hamil. Mana bisa sapi hamil buat kurban?

Tapi berarti saya berpotensi dapet keuntungan dari hamilnya si sapi tho, minimal kalo harga ndak juga membaik saya masih bisa untung anaknya. *dan postingan ini makin gak jelas jluntrungannya*

Oiya, balik ke soal kisah Nabi Ibrahim tadi. Ada satu pelajaran yang saya tangkap dari kisah ini, rasa percaya yang ndak pake nawar. Kalo jaman sekarang rasanya yang seperti itu ediyan tenan, susah membayangkan ada kepercayaan selevel itu di masa sekarang.

Kenapa?

“Yang pertama kita bukan nabi, yang kedua jaman sudah berubah Le, sudah bukan jaman unta dan padang pasir lagi.” Celetuk Kang Noyo sambil nyeruput kopi di sela menikmati desis angin campur hujan di warung Mbok Darmi.

Untuk urusan jodoh dan rejeki saja kadang orang masih suka mikir-mikir, bener ndak jodoh itu sudah ditentukan, bener ndak rejeki itu sudah ada kaplingnya, bener ndak duit yang saya sedekahkan bakal diganti dengan yang lebih banyak, kalo ini saya sumbangkan gimana nasib dapur saya di akhir bulan, gimana sekolah anak saya nanti, dan pikiran-pikiran lain yang menunjukkan bahwa level kepercayaan saya masih setengah-setengah.

Lha yang ini, ndak cuma urusan jodoh dan rejeki, sampai urusan mati pun Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ndak pake protes, disuruh ya berangkat. Opo ndak ediyan tenan level percayanya?

Saya jadi teringat beberapa hari yang lalu, saat pengurus mesjid pabrik dateng menanyakan adakah yang mau kurban, dan lagi-lagi saya menjawab, “Maap mas, bulan ini lagi banyak butuhan je, bulan kemaren saja nganu, trus bulan ini nganu, rencananya bulan depan saya mau nganu.”

Wis pokoknya[tm] saya ndak bisa kurban karena nganu.

Lha kok ndilalah waktu lagi sholat jumat sang khotib ngomong begini :

Zakat mal alias zakat harta seyogyanya digunakan untuk sesuatu yang produktif, sesuatu yang bisa membuat tangan yang semula di bawah menjadi tangan di atas. Saya pernah dititipi zakat mal, titipan itu kemudian saya wujudkan menjadi beberapa buah rombong untuk jualan, juga saya belikan becak.

Mungkin perlu sampeyan tau, di antara orang-orang yang mendapat becak hasil dari zakat mal tersebut ada yang kemudian bertekad, saya tiap tahun harus mampu menyembelih hewan kurban.

Kalo misalnya harga kambing satu ekor Rp 900.000 berarti tiap bulan saya harus mampu menabung Rp 75.000, kalo dalam sebulan ada 30 hari berarti tiap hari saya harus bisa menyisihkan Rp 2.500 dari hasil saya mbecak.

Dua ribu lima ratus sehari para jamaah…

Sekarang saya tanya, rokok sampeyan merknya apa?

Dji Sam Soe misalnya, berapa harga sebungkus? Sepuluh ribu misalnya, maka dalam sebulan Rp 300.000 yang sampeyan habiskan untuk beli rokok, Rp 3.600.000 dalam setahun.

Saya tanya lagi, sudah berapa kambing yang sampeyan sembelih untuk kurban?

Mak jleb! Asyem! Saya misuh-misuh dalam hati, kok ya telak banget si khotib ini nanyanya. Mbok ya yang rada smooth gitu lho…

“Memang sudah berapa kambing yang pernah kamu kurbankan Le?” Tanya Kang Noyo seraya mengambil sebatang rokok saya.

“Memangnya sampeyan sudah pernah kurban berapa??” Tanya saya balik, rada mangkel juga saya disindir.

“Lho kok balik nanya? Si khotib tadi kan sudah jelas, nanya berapa duit yang kamu habiskan buat beli rokok, dibanding sama duit yang bisa dikumpulkan sama si tukang becak untuk bisa beli kambing kurban.” Ujar Kang Noyo.

Terus?

“Yang beli rokok kan kamu, aku lho cuma minta.”

Ealah…

Jiyan!

*)gambar diambil dengan semena-mena dari sini

21 comments on “Sudah Berapa Kurban Sampeyan?

  1. Akbar PU mengatakan:

    Xi …. xi …xi …

  2. JIH mengatakan:

    mantab p. ustad

  3. Jeung Vita mengatakan:

    wahahaha…berarti mas stein sudah turut berkorban kambing, dan temannya yang menikmati😀

    #stein:
    lha?

  4. mandor mengatakan:

    Lha iya, sebenarnya kalau mau nabung harian itu bisa terkumpul sejumlah segitu. Tapi karena alasannya macem-macem jadi gak jadi jadi
    * njaluk rokok e pisan*

    #stein:
    pokoke nganu

  5. mawi wijna mengatakan:

    Dengan upah 1 juta yg pasang-surut tiap bulannya, nekat saja nabung buat kurban. Syukur klo pas mendekati tgl 10 Dzulhijjah uangnya masih utuh, ndak buat keperluan “nganu”, :p

    #stein:
    sampeyan ini super sekali!

  6. Asop mengatakan:

    Ternyata efek berhenti merokok bisa merambat ke mana-mana…😀

    #stein:
    siapa yang berhenti merokok?

  7. Chic mengatakan:

    saya sudah banyak kurban…
    kurban perasaan:mrgreen:

    #stein:
    sama! *eh*

  8. fauziah85 mengatakan:

    saya dulu kurban kalo dapet arisan menjelang bulan besar😀 sekarang udah nikah jadi ngeles dengan alasan mau nganu juga… >.<

    #stein:
    wis, pokoknya nganu lah😆

  9. rully mengatakan:

    jadi…, siapa yang menghamili sapi betina-mu mas?
    #eh

    #stein:
    jiyan!

    • mamaray mengatakan:

      Muahahahahhaha….
      Dudu Rully jenenge nek ga komen-e seje dewe, mantab!! Hahahha

      • rully mengatakan:

        jeng laily, koyoke nek aku dines neng malang dan sekitarnya, aku kudu sowan nyuwun ngapura neng suhu blogger mastein iki…. nyuwun sewu mas… sewu yuto😀
        utawa takdongakne pabrikmu pindah neng jakarta yo mas… ben iso kopdar…😀

        #stein:
        ojo tho… seminggu diklat nang jakarta wae wis tobat

  10. recipe book mengatakan:

    Apparently the effect of quitting smoking can creep everywhere …

  11. beruangqutub mengatakan:

    walah, mas bro, lha kok yang diomongkan pak khotib tadi mirip apa yang aku tulis di http://beruangqutub.wordpress.com/2011/07/01/smoke-get-in-your-eyes/

    padahal namaku Kholid, bukan Khotib😀

    tapi setuju sama komen di atas, aku penasaran, sebenarnya, siapa yang menghamili sapi betinamu ?
    xixixi…..

    #stein:
    ngono yo, wis berbuat tapi ndak mau bertanggungjawab sampeyan iki

  12. baju wanita mengatakan:

    haiii…salam kenal yaaa…

  13. mamaray mengatakan:

    Kalo di pabrikku Mas, ada yg inisiatif bikin Tabungan Qurban. Sebulan nabung 100ribu. Kalo 10bulan nabung udah dapet 1juta Mas. Gak kroso iku, alhamdulillaah ben tahun iso qurban.
    Alhamdulillaah yaaaa…🙂

    #stein:
    sesuatu banget:mrgreen:

    manteb! patut ditiru kuwi mbakyu

  14. chocoVanilla mengatakan:

    Nabung 2500 sehari bisa berkurban? Oh, sesungguhnya berkurban itu tidak berat, wahai orang-orang yang bergaji melebihi tukang becak!

    (ngumpet:mrgreen: )

  15. hajarabis mengatakan:

    hanya ingin mengikuti postingan agan .
    postingan yang menarik
    nice gan .

    sempatkan mampir ke website kami
    http://www.hajarabis.com

  16. warm mengatakan:

    yg ndak smooth iku bukan khotbahnya khatib, tp njenengan iki lhoh
    makjleb kuadrat pokokna mah..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s