[Tips] Mengatasi Writer’s Block

Salah satu pertanyaan yang sering diajukan kepada penulis senior oleh penulis pemula, termasuk blogger abal-abal macem saya ini adalah: apakah sampeyan pernah mengalami writer’s block? Dan bagaimana cara sampeyan menghadapi writer’s block?

Lebih parah lagi, dulu yang saya tanyakan adalah, “writer’s block itu apa?”

Menurut Mbah Wiki, Writer’s block is a condition, associated with writing as a profession, in which an author loses the ability to produce new work. The condition varies widely in intensity. It can be trivial, a temporary difficulty in dealing with the task at hand. At the other extreme, some “blocked” writers have been unable to work for years on end, and some have even abandoned their careers. It can manifest as the affected writer viewing their work as inferior or unsuitable, when in fact it could be the opposite.

Bingung?

Monggo kita tanyakan sama Paklik Gugel, dan inilah terjemahannya:

Writer’s block adalah suatu kondisi, yang berhubungan dengan menulis sebagai profesi, di mana seorang penulis kehilangan kemampuan untuk menghasilkan karya baru. Kondisi ini bervariasi secara luas di intensitas. Hal ini dapat sepele, sementara kesulitan dalam berurusan dengan tugas di tangan. Pada ekstrem lain, beberapa “diblokir” penulis telah tidak dapat bekerja selama bertahun-tahun, dan beberapa bahkan meninggalkan karir mereka. Hal ini dapat bermanifestasi sebagai penulis terpengaruh melihat pekerjaan mereka sebagai rendah atau tidak cocok, padahal sebenarnya bisa jadi sebaliknya.

Sudah mudheng sekarang? Kok saya makin mumet ya…

Jadi intinya writer’s block adalah kondisi saat sampeyan miskin ide, ndak tau mau nulis apa. Kalo buat saya yang paling menyiksa adalah kehilangan gairah menulis, ndak ada emosi yang seharusnya mengarah pada nuansa tertentu. Sekilas kalimat saya memang kelihatan halah banget, tapi buat saya gairah menulis ini penting agar tulisan kelihatan hidup dan bukan semata-mata kumpulan huruf yang disusun dalam bentuk paragrap-paragrap.

Pernahkah saya mengalami writer’s block?

Ya sering tho, wong yang sudah penulis top saja pasti pernah ngalami, apalagi yang amatiran macem saya.

Apa saya saya lakukan saat mengalami writer’s block?

Yang paling mudah adalah berhenti menulis sampe dapat ide baru, tapi pilihan ini beresiko membuat otak saya makin tumpul dan kemampuan mengolah kata jadi turun. Mungkin kalo diibaratkan hal ini seperti beristirahat di tengah tanjakan, waktu mau jalan lagi rasanya berat.

Ada beberapa alternatif yang bisa sampeyan lakukan saat buntu ide, diantaranya:

  1. Menulis Fakta, Merangkum Berita

    Kalo memang mumet ndak punya ide, yang paling gampang dilakukan adalah menulis yang ndak perlu banyak mikir. Misalnya postingan saya soal kontroversi penghentian film impor, itu tulisan yang nyaris ndak perlu mikir, cukup mencomot tulisan di sana-sini, tambahi sedikit dobosan sebagai bumbu penyedap, dan tulisan pun siap diterbitkan.

  2. Menulis Sesuai Keahlian

    Ini juga lebih mudah dilakukan daripada nyari wangsit di awang-awang. Misalnya sampeyan punya keahlian di bidang gitar, daripada mumet mikir gimana nulis tentang tersangka pembobol citibank yang bermasa depan besar itu, lebih baik sampeyan menuliskan tips-tips memilih gitar yang berkualitas.

  3. Blogwalking

    Jangan remehkan blogwalking, karena dari situ banyak ide yang bisa sampeyan dapat. Pernah suatu saat saya ndak punya ide mau nulis apa, tapi setelah membaca tulisan Mbak Sabai tentang ancaman pada anak, saya jadi tau apa yang saya mau tulis, dan jadilah tulisan Marah Itu Mudah. Atau tulisan Instan yang terispirasi postingan Mbak Devieriana dan Mbak Ndaru.

  4. Menulis di Luar Kebiasaan

    Kadang perlu juga menulis di luar pakem biar otak ndak jenuh, misalnya tulisan saya yang biasanya nggedabrus ala warung kopi bisa mendadak jadi sendu mendayu atau sedikit berbau mistik.

  5. Menulis yang Ndak Penting

    Dalam bahasa saya ini disebut meracau, misalnya tulisan saya soal sendal jepit, ndak penting, ndak mutu, waton muni dan asal njeplak. Percayalah, ndak ada larangan meracau di blog sendiri.

  6. Menulis bahwa Sampeyan Ndak Punya Ide

    Kalo memang semua yang saya tulis di atas masih ndak bisa sampeyan lakukan, menulislah dengan terus terang bahwa sampeyan memang lagi ndak punya ide buat nulis. Atau kalo mau sedikit disamarkan, buatlah postingan tentang bagaimana mengatasi kebuntuan ide menulis.

Jadi begitulah, saya memang lagi ndak punya ide buat ditulis.

Jiyan!

20 comments on “[Tips] Mengatasi Writer’s Block

  1. Gatot Widayanto mengatakan:

    Wah asik nih blognya … Saya juga baru denger istilah writer block. Yang jelas, saya lebih banyak block nya mas … ha ha ha ….
    Nice blog mas ….!!

    #stein:
    blognya campur aduk mas, ndak konsisten seperti blog sampeyan

  2. mawi wijna mengatakan:

    Ngopi ndisik wae lah Lang ng warunge mbok Darmi

    #stein:
    ceritanya ini nulisnya waktu tanggal tua mas, ndak ada dana buat ke warung

  3. Misfah mengatakan:

    ngga punya ide aja nulisnya bagus kayak gini apalagi ada ide.

    #stein:
    ini muji apa ngece?😆

  4. rully mengatakan:

    cari gairah menulis ssama kang noyo dulu aja mas :p
    wah, keren kie, gak punya ide kok nggedabrus (ikutan bosone sampeyan) sampek sepanjang ini. thumb up deh😀

    #stein:
    nggedabrus yang kepanjangan itu juga sebenernya bermasalah mbak, soale sekarang lagi jamannya yang pendek-pendek😆

  5. ndaru mengatakan:

    kalok endak ada ide ya tidur aja..sapa tau ngimpi seru to..trus dicritain di blog misalnya:

    Saya pergi bekerja di kantor saya di bilangan Kuningan memakai mobil BMW X3 saya. Jam masih menunjukkan pukul 7.30, sisa hujan semalam membuat pagi ini begitu dingin dan syahdu. Tiba di sebuah lampu merah, pintu saya di gedor orang dari luar, saya mengambil H&K VP70 di dashboard bawah saya. Dan terdengar orang itu berkata “TANGI LE!!!!”

    #stein:
    H&K VP70 itu semacam senjata gitu?

  6. 😆

    saya sih paling sering menerapkan tips yang terakhir itu kalo lagi blank wkwkwkwk… terbukti ampuh menghasilkan postingan (wlopun ndak mutu) dan ampuh juga mendatangkan komen2 ndak jelas yang lucu2 yang bikin ngakak… akhirnya blank nya sembuh karena banyak ngakak deh wkwkwk😆

    #stein:
    brarti dasarnya sampeyan memang mbakat nulis mbak, meracau juga susah lho

  7. sabry mengatakan:

    inspiratif bnget buat saya…semoga saya smkin rajin belajar tulisnulis….

    #stein:
    sukurlah kalo berguna🙂

  8. Chic mengatakan:

    yuks ke warung kopi, Mas:mrgreen:

    #stein:
    yuks mari… traktir starbak ya mbak😆

  9. Asop mengatakan:

    Walah, walopun Mas Stein pernah mengalami buntu ide, tetep aja tulisan2 Mas Stein enak dibaca dan sangat berisi.🙂

    #stein:
    makasih mas, tapi kepopulerannya ndak bisa ngalahin sampeyan tho?😆

  10. mamaray mengatakan:

    haaa… bener ini… saya juga pernah vakum ngeblog, bukan karena miskin ide, tapi karena miskin waktu khusus, hiahaha… *nggaya

    ohya, komen di sini nda ada yang dibaleskah…? haloo?? anybody??

    #stein:
    kalo sampeyan ndak ada waktu buat nulis, saya sulit nyari waktu buat mbales komen:mrgreen:

    • rully mengatakan:

      mas stein, mamaray nie ndak ada waktu buat nulis di blog, soale dia yang bagian itung gaji buruh pabrik. hajat hidup orang banyak, jangan sampe diganggu.
      (hehehe, peace yo jeng).
      salut buat mas stein, di akhir tenggat ngumpulin SPT masih bisa ngeblog. keren tenan pokoke…

      #stein:
      ini muji apa nyindir?:mrgreen:

      ini fungsinya schedulling mbak, menulis bisa kapan saja, tapi sebisa mungkin dijadwalkan terbit di saat banyak orang manteng internet, apalagi kalo blog sampeyan dihubungkan ke socmed yang lain, macem twitter atau facebook.

  11. chocoVanilla mengatakan:

    Saya sering kehabisan ide dan sering menulis hal yang gak mutu.

    (Padahal memang idenya selalu gak mutu:mrgreen: )

    #stein:
    sering kehabisan ide tapi blog apdet setiap hari?😈

  12. esdoger mengatakan:

    Lha piye iki, katanya menulis sesuai dengan keahlian; kok aku belom nemu tulisan soal musik atau paling nggak cara milih gitar seperti yang sampeyan katakan🙂

    atau jangan jangan punya cewek (blog) simpenan lain yah …

    #stein:
    keahlian saya yo cuma nggambleh gini cak:mrgreen:

  13. putty mengatakan:

    Lhah mas, terjemahannya mbah Google malah bikin mumet soalnya dianya nerjemahinnya sesuai kata, bukan grammar atau alur kalimat..hehehe…tapi saya ngerti kok maksudnya…
    karena saya aslinya tuh nggak doyan nulis tapi pengen punya blog alhasil tiap hari yo kena writer’s block heheh…makanya sekarang saya blogwalking dulu…^_^

  14. Rizka Ayu Assyifa mengatakan:

    aku masih gak ngerti kak sama yg no.5?????

  15. alfa mengatakan:

    Sesering virus writer’s block hinggap di pikiran, sesering itu pula lenyap. Caranya; cari warung, minum kopi hangat, ngobrol dengan siapapun. Habis iru, nulis lagi. Ide pun bermunculan lagi.

  16. Gy_anggraeni mengatakan:

    Mantep mba’e… aku skrg lagi diserang virus itu. Huhu😥 ide numpuk di otak, tp klo udh hadepin laptop malah bediem, ngetik nya cm huruf A ampe berjam-berjam ga ada tambahan temen lg utk huruf A nya itu, aku bahkan ketiduran ampe ketiduran di dpn laptop. OMG.

    Alternatifnya ga ada yang cocok sepertinya, aku ikut yg terakhir aja, hrus ngmong sm reader klo aku msih terkena virus itu wkwk.
    Tapi makasih yey, Mba’e udh ngasi saran. Ah suka blognya, lucu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s