Standard Anak TK

soal cerita

Coba sampeyan baca soal pada gambar di atas. Kalo saya ndak salah waktu jaman masih sekolah dulu, soal semacam itu disebut soal cerita, alias cerita yang mengandung soal, atau soal yang terkandung di dalam cerita. Mohon maap atas mbuletnya pengertian yang saya berikan, karena seingat saya memang dulu saya ndak pernah diajari definisi dari soal cerita. Yang jelas mengerjakan soal cerita semacam itu butuh mikir lebih panjang dibanding soal sederhana macem 1 + 1 atau 2 + 2.

Sampeyan masih ingat kelas berapa waktu pertama kali diberikan soal cerita?

Kalo sampeyan lupa seperti saya, kita ganti saja pertanyaannya, “Menurut sampeyan soal di atas pantesnya diberikan di kelas berapa?”

Ndak usah kaget sodara-sodara, soal seperti itu di jaman canggih macem sekarang sudah diberikan waktu precil-precil sampeyan duduk di kelas 1 Sekolah Dasar.

buku pelajaran kelas satu SD

Sudah kebayang tho? Dalam 15-20 tahun dari sekarang negara kita akan dipenuhi oleh orang-orang yang cerdasnya ngalah-ngalahi orang amerika atau jepang. Sudahlah, ndak usah kuatir dengan kelakuan para pemimpin atau wakil rakyat yang ada sekarang. Tenangkan hati, karena calon-calon pengganti mereka adalah orang-orang yang sudah terdidik dengan keras baik dari usia dini.

Sampeyan pengen menyekolahkan anak sampeyan ke luar negeri?

Jangan!

Sampeyan boleh saja termasuk orang yang ndak terlalu percaya sama kinerja pemerintah, khususnya kementerian pendidikan, tapi jangan takut, sekolah-sekolah di negara kita ini canggih dan pinternya sudah melampaui kementerian. Standard sekolah dalam negeri kita sudah tinggi sodara-sodara, lebih tinggi dari yang ditentukan pemerintah.

Kalo ndak percaya monggo sampeyan baca Peraturan Menteri Pendidikan No 58 Tahun 2009 yang mengatur soal Standard Pendidikan Usia Dini. Misalnya standard pencapaian anak usia 5-6 tahun di bidang konsep bilangan, lambang bilangan, dan huruf. Di situ disebutkan bahwa anak umur 5-6 tahun standardnya sudah bisa :

  1. Menyebutkan lambang bilangan 1-10
  2. Mencocokkan bilangan dengan lambang bilangan
  3. Mengenal berbagai macam lambang huruf vokal dan konsonan

Standard banget tho?

Karena menurut pemerintah tujuan dari pendidikan di Taman Kanak-kanak adalah :

  1. Membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut (Pasal 1.14 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003);
  2. Mengembangkan kepribadian dan potensi diri sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik (Penjelasan Pasal 28 ayat 3 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003);
  3. Membantu meletakkan dasar ke arah perkembangan sikap, pengetahuan, keterampilan, dan daya cipta yang diperlukan oleh anak didik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan untuk pertumbuhan serta perkembangan selanjutnya (Pasal 3 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 1990).

Untunglah sekolah di Indonesia ini canggih-canggih dan selalu berpikir progresif visioner revolusioner, sehingga dibuatlah kurikulum versi mereka sendiri yang menghasilkan pencapaian di bidang konsep bilangan, lambang bilangan, dan huruf lulusan TK adalah sudah pinter membaca, menulis, berhitung. Mungkin ke depan kurikulum ini akan dipercanggih lagi sehingga lulusan TK sudah pinter ngapusi ngarang, minimal bisa mbikin blog sendiri, sukur-sukur bisa mbikin buku.

Karena lulusan TK sudah secanggih itu tentunya masuk SD pun ndak semudah yang disyaratkan oleh pemerintah.

Standard pemerintah untuk penerimaan murid Sekolah Dasar sesuai yang diatur di Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 19 tahun 2007 dan dipertegas di Surat Edaran Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah No 1839/C.C2/TU/2009 adalah berusia sekurang-kurangnya 6 tahun, tanpa melalui tes masuk, dengan memprioritaskan anak yang berusia 7-12 tahun dari lingkungan sekitar tanpa diskriminasi.

Kenyataannya?

Harus ada tes tho. Dan sampeyan jangan protes, karena kalo sampeyan protes berarti sampeyan termasuk golongan yang kontra progresif visioner revolusioner, alias menghambat pengembangan anak-anak luar biasa yang akan membawa kejayaan bagi Indonesia pada 15-20 tahun yang akan datang tersebut.

Lupakanlah pengertian Taman Kanak-kanak versi pemerintah yang menyebut bahwa

Sebutan “Taman” pada Taman Kanak-kanak mengandung makna “tempat yang aman dan nyaman (safe and comfortable) untuk bermain” sehingga pelaksanaan pendidikan di TK harus mampu menciptakan lingkungan bermain yang aman dan nyaman sebagai wahana tumbuh kembang anak

Mari kita paksa anak-anak kita untuk terus belajar, belajar terus, dan terus belajar. Demi terciptanya anak-anak yang pinter, lebih pinter, sangat pinter, dan jenius.

Ada orang yang cerita, di Sendai, Jepang sana, murid selevel kelas dua SD belum lancar membaca, dia baru bisa berkreasi membuat mainan sendiri, bisa cerita bagaimana liburannya, baru bisa bersosialisasi sama lingkungan dan tau perbuatan yang benar secara sederhana macem membuang sampah dan sebagainya. Matematika di sana cuma diajari itung-itungan semacam

… + … = 9

Katanya itu itung-itungan yang memancing kreatifitas anak, karena jawaban yang diberikan bisa berbeda-beda.

Lucu tho? Itu kelasnya Jepang lho, ternyata cuma segitu!

Mari kita ejek jepang-jepang itu, bilang sama mereka, “Level seperti itu di negara kami adalah levelnya anak TK!”

Jiyan!

*gambar diambil secara semena-mena dari sini

26 comments on “Standard Anak TK

  1. ndableg.com mengatakan:

    kalo nurut Gus Dur, anak2 TK itu yang di senayan itu kok om..😀

    #stein:
    begitulah. lho…

  2. kembu mengatakan:

    Moga2 nanti anak saya paham kalo semua kurikulum yg diajarkan di tk semacam tersebut itu adalah bentuk2 permainan yang membuat dia senang. Meskipun ada permainan2 lain yg pastinya lebih menyenangkan macam perosotan, penekan, bandulan, oyak2an, betengan lan sak panunggalane. #mbayangkethokwesabotcah

    #stein:
    semoga dan semoga, aku yo mumet je mbu

  3. yohana mengatakan:

    bener mas…Tk saiki lebay puol..ponakanku TK B wes penjumlahan dan pengurangan menurun.sak elingku aku belajar kyk ngono kelas 2 SD.ckckckck

    #stein:
    bukan lebay, itu namanya progresif visioner revolusioner👿

  4. alfakurnia mengatakan:

    wah, berarti TKnya anak saya termasuk yang kontra progresif visioner revolusioner, mas. Wong kalo ditanya tadi belajar apa di sekolah selalu jawab “nyanyi, bikin prakarya, running, walking, dancing jumping and stop.” Sampe sekarang belum bisa baca, nulis, berhitung juga masih main-main. Mesti seneng apa sedih ya saya?

    #stein:

    mestinya seneng, entahlah kalo nanti pas masuk SD dibikin ruwet😦

  5. mawi wijna mengatakan:

    eee….

    jadi inget dulu pas kelas 5 SD saya disuruh belajar aljabar, macamnya nyari nilai X yang memenuhi 3 + X = 1, sampai saya nangis-nangis. Saya baru tau itu pelajaran tingkat SMP. Tapi efeknya terasa pas saya kuliah di Prodi Matematika, saya jadi lumayan menguasai bidang aljabar dibanding teman-teman, karena mungkin efek dari yang bikin saya nangis waktu kecil dulu itu, hahaha😀

    #stein:
    mungkin sekolah sampeyan jaman itu sudah progresif visioner revolusioner 😆

  6. Chic mengatakan:

    ah ini tulisanku 2 tahun yang lalu dan masih ga ada perkembangannya sampe sekarang. *sedih*

    bikin sekolah sendiri apa ya?

    #stein:
    ayo mbak, tak dukung doa😆

  7. itikkecil mengatakan:

    ini yang membuat saya ngeri membayangkan nasib calon anak saya di masa depan nantinya…

    #stein:
    kuatirnya nanti saja mbak, bikin anak dulu:mrgreen:

  8. arman mengatakan:

    sebenernya udah sejak lama mas kalo emang terbukti pelajaran (terutama matematika) di indonesia itu lebih tinggi dari negara lain (negara2 maju). tapi ternyata kok walaupun dari kecil udah dicekokin mata pelajaran yang canggih2 melebihi negara2 lain, tapi pas udah pada gede kok KO semua ya??

    kayaknya sebenernya bukan masalah dulu-duluan atau cepet-cepetan belajar matematika. tapi metoda dan penerapannya gimana.

    boleh jadi anak2 indonesia kalo diadu matematika ama anak jepang/amerika menangan anak indonesia. tapi kok yang punya microsoft, yang punya apple, dan yang punya segala macem teknologi yang canggih2 lainnya kok bukan orang indoesia ya?

    itu yang harus ditelaah sebenernya. ada yang salah sama kurikulum indonesia. mungkin sebenernya gak perlu anak dari kecil udah dicekokin pelajaran yang terlalu rumit. mungkin malah itu bikin anaknya jenuh dan akhirnya pas gede jadi udah pada butek dan gak bisa berpikir kreatif lagi, karena otaknya udah penuh? ini cuma sekedar pemikiran sederhana aja… tapi bisa jadi kan?

    analoginya sama kayak anak bayi. ada yang udah bisa jalan dari umur 8 bulan dan papa mamanya bangga setengah mati. ada anak yang ampir 2 th baru bisa jalan. trus apa berarti yang bisa jalan umur 8 bulan trus bakal jadi pelari handal nantinya pas gede? gak mesti juga kan… mungkin malah yang baru bisa jalan pas 2 th malah jadi pelari handal…

    jadi dulu2an, cepet2an belajar itu gak menjamin nanti hasilnya gimana… pelajaran akademik bukan satu2nya dan bukan segalanya. jangan lupa masa anak2 juga harus banyak bermain dan explore ini itu. terlalu dipaksa belajar untuk lebih juga belum tentu hasilnya baik…

    well, this is just my opinion…😀

    #stein:
    like this!

  9. agussupria mengatakan:

    wah ribet banget dunia pendidikan

  10. wibisono mengatakan:

    soal yang …. +….. = 9 itu kreatif banget.. coba 10 soal bentuknya semua kayak gitu.. hehehe

    #stein:
    yang penting pelajaran bagi anak kecil itu haruslah fun

  11. Asop mengatakan:

    Wis Mas, pokoke soal cerita kuwi yang soalnya puanjang-puanjang.😀

    Ternyata ada ya, standar anak umur 5-6 tahun sampe tertera di UU segala…😮

    Ternyata juga benar ya, kata guru SMP dan SMA saya. Pelajaran di Indonesia memang lebih maju ketimbang di negara2 lain, bahkan barat sekalipun. Barangkali pelajaran akar-kuadrat saat ini udah diajarin ke anak kelas 2 bahkan kelas 1 SD.😯

    Perihal saat sudah dewasa, itu lain lagi. Kalo negara kita unggul di IQ, mungkin negara2 lain lebih unggul di pengembangan EQ. Eh, entahlah…. sotoy nih….

    #stein:
    sayangnya gak diatur sanksi bagi yang tidak patuh

  12. nDarundaru mengatakan:

    cilikanku ndisik TK ki isine mung dolanan karo nyanyi je..lha kok saiki wes diwarai itung2an…mesakke temen

    #stein:
    makane kuwi, masalahe mlebu SD yo tambah nggilani pelajarane

  13. pipitta mengatakan:

    hwaduuuhhh… sedih banget😦 jadi kepikiran gimana dan dimana nyekolahin anak ntar.. supaya anakku nyaman dan senang sekolah *ngimpi kali nih* dan gak ‘tersiksa” dengan kurikulum yang gak banget😦

    #stein:
    makanya sampe ada buku persiapan tes masuk SD, edan ora?

  14. yim mengatakan:

    dan jangan lupa, sekolah di luar negeri lebih banyak liburnya. sepertinya itu kuncinya..:)

    #stein:
    halo boss, piye TK di kanada?😆

  15. recipe book mengatakan:

    jadi inget nih delu pas TK sering maen ayunan sampe jatuh hehe.. mantap postingnya mas..

  16. Mzjiwo mengatakan:

    terus jawaban soal ceritane jadinya berapa om??

    *mikir kok mbulet ae soale*

    #stein:
    wis wis, kono sertipikate ndang digarap:mrgreen:

  17. hajarabis mengatakan:

    join to hajarabis

  18. chocoVanilla mengatakan:

    Nanti kau akan lebih terkejut setelah melihat pelajaran kelas 3, Mas😦

    Dulu aku SD kelas 3 baru maju satu-satu ngapalin perkalian 1-10, sekarang sudah perkalian ratusan dan pembagian😦 Mesakno kedua malaikatku, tapi kalo gak sinau nanti gak iso ngikuti hiks…hiks….

    #stein:
    dilematis tho mbakyu, saya yo bingung kok

  19. ButikDannis mengatakan:

    Tapi kalo milih baju muslim anak gak usah bingung2, ajak sekalian anaknya u/ milih di web kita🙂

  20. Rahmat mengatakan:

    Wah pelajaran TK sekarang sulit ya.

  21. sapimoto mengatakan:

    Saya tetap optimis, Indonesia bakal banyak mencetak manusia berkualitas berdasar pada pendidikan yang diberikan. Yang jadi masalah, apakah 50% dalam kelas, bisa memahami pelajaran serumit itu? Mungkin memang ini juga sebagai seleksi untuk mendapatkan kualitas maksimal.

    Trus lagi, setelah mereka-mereka ini mampu melewati seluruh tahap seleksi alam dan lulus dengan nilai sangat memuaskan, apakah mereka mau mengabdi kepada negeri ini?

    Nyuwun ngapunten, Mas. Suwe gak dolan mrene, sekaline dolan kok malah nggawe rusuh. Hehehehe…

    #stein:
    kemampuan itung-itungan penting, tapi yang saya tau attitude-lah yang lebih berperan dalam kesuksesan hidup seseorang. jadi daripada anak dijejali ilmu itung-itungan sejak dini gimana kalo mereka dibekali kemampuan dasar attitude yang baik terlebih dahulu😀

  22. mamaray mengatakan:

    jadi resah mikirin hari depan anak-anak…

  23. bundanya cantika mengatakan:

    yupps.. buku matematika standar KTSP indonesia jauuuuh lebih “hebat” dr buku Math standar International.. di semester satu kls 1 aza yg “national” soal ceritanya njelimet ampe mumet, hitungan pengurangan sm penjumlahan dua digit.. laa yg international cuma nyari “number bonding” ….+….= 5 sama ngapalin one sampe ten… sy tahu krn anak sy sekolahnya pake dua buku itu.. ckckck… pantesan anak Indonesia sering menang di olimpiade MTK.. hehehe

  24. […] Standard Anak TK – mas stein « menulis selayaknya berbicara – wah, berarti TKnya anak saya termasuk yang kontra progresif visioner revolusioner, mas. Wong kalo ditanya tadi belajar apa di sekolah selalu jawab “nyanyi, bikin …… […]

  25. […] Standard Anak TK – mas stein « menulis selayaknya … – Coba sampeyan baca soal pada gambar di atas. Kalo saya ndak salah waktu jaman masih sekolah dulu, soal semacam itu disebut soal cerita, alias cerita yang …… […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s