Bersyukur Tanpa Pembanding

Kemaren waktu saya ngantri di bengkel, di jalanan saya liat ada mbah-mbah yang mungkin usianya sudah di atas 70, berjalan tertatih-tatih menarik gerobak penuh muatan.

penarik-gerobak-tua

Saya bertanya-tanya di manakah anaknya? Bagaimanakah keluarganya? Beban apa yang dia tanggung sampai harus bekerja seberat itu di usianya?

Sayangnya saya terlalu pengecut untuk menghentikan langkahnya, terlalu takut untuk bertanya kebenaran kepadanya.

Benarkah yang saya lakukan apabila saya bersyukur karena membandingkan kemalangan dia dengan kemujuran saya? Tidakkah seharusnya bersyukur itu urusan saya dengan Sang Maha Pemberi, tanpa perlu melihat penerima yang lain.

Selamat hari jumat sodara-sodara, sudahkah sampeyan bersyukur hari ini?

Iklan

42 comments on “Bersyukur Tanpa Pembanding

  1. adipati kademangan berkata:

    Terima kasih sudah mengingatkan, pada hari jumat ini.

  2. mercuryfalling berkata:

    disini masih kamis. td udah bersyukur sih..besok lagi ya hehhee

    besok kalo ketemu lagi ama bapak2x itu, tanyakin donk keluarganya dimana. aku miris juga mikirin orang tua yg tanpa pensiun, kalo dah gak kuat kerja, makannya gimananya ?

  3. wijna berkata:

    Alhamdulillah hari ini saya punya rejeki yang berlebih dan memberikannya kepada para tukang sampah di jalanan yang sempat saya jumpai. Itu tradisi dari keluarga.

  4. samsul arifin berkata:

    setelah aku membaca tulisan ini, aku langsung bersyukur mas.
    terima kasih banyak telah mengingatkan.
    mau siap2 untuk shalat jumat nih, untuk kembali bersyukur tentu saja.
    sekali lagi terima kasih banyak mas. 😀

  5. suryo berkata:

    kupandang, kutatap dan kuanalisa foto diatas…
    ternyata, sosok orang tersebut adalah salah satu manusia yang paling bersyukur di dunia…
    tidak seperti kita, yang berinternet ria…
    coba bayangkan :
    beliau sangat menerima kondisinya saat ini…
    beliau terus bekerja sekuat tenaga…
    beliau pantang menyerah dan tak menghiraukan dunia ini..
    beliau berpikir hari ini, dan tak mempedulikan esuk hari…
    kita….. parah…
    kita berpikir bagaimana besuk hari…
    memikirkan masa depan kita untuk mencari kenikmatan dunia…
    padahal belum tentu besuk kita masih ada di dunia yang fana ini…

    Wass…

  6. Menyentuh sekali mas !

  7. christin berkata:

    makasih mas buat renungannya pagi ini.

  8. Takodok! berkata:

    bisa jadi si bapak justru sangat bahagia dengan keadaannya 🙂

    memang agak sulit bersyukur tanpa pembanding, wajar sih 🙂

  9. ladybugfreak berkata:

    makasih mas dah mengingatkan..
    apapun kalau disyukuri akan terasa nikmatnya..
    alhamdulillah, saya bersyukur atas apapun pemberianNya di hari ini..

  10. Dengan melihat yang seperti itu kita akan lebih bersyukur, jangan melihat ke atas, karena akan membuat kita kurang bersyukur! karena kita akan selalu menginginkan apa yang dipunyai orang yang di atas kita!

  11. hanny berkata:

    bersyukur itu memang sebuah berkah 🙂

  12. hariez berkata:

    sebuah suguhan yang fantastis di siang ini…usai sudahkah rasa syukur kita hari ini ?
    pernahkah terpikir oleh kita untuk menjalani kehidupan seperti kakek tersebut ?
    dan seperti judul diatas, sudahkah bersyukur tanpa pembanding ?
    jawaban dari semua pertanyaan di atas = BELUM

    -salam- *_*

  13. Rindu berkata:

    Alhamdulillah … mensyukuri apa yang kita punya dan mensyukuri apa yang tidak kita miliki 🙂

  14. mas stein berkata:

    saya jadi teringat suatu kisah.
    konon ada seorang ulama yang menyesal berhari-hari, gara-gara suatu saat diberitahu kalo pasar tempat beliau berjualan kebakaran, beliau berkata, “innalillahi wa innailaihi roji’un”. tapi kios sampeyan ndak terbakar, spontan beliau berkata, “alhamdulillah”

  15. marshmallow berkata:

    ya ampun… soal ini luput dari perhatian saya, mas.
    selama ini saya selalu bersyukur setelah membandingkan.
    padahal tanpa melihat keberuntungan atau kenaasan orang lain sekali pun, kita sudah sangat pantas bersyukur karena kita itu sudah beruntung per se!

    ah, terima kasih atas tulisan ini, mastein.
    selamat jumatan…

  16. buJaNG berkata:

    Kadangpun saya juga sering berpikiran seperti mas stein. Dan saya berharap bahwa nantinya sebagai manapun sengsaranya hidup saya ini semoga saya bisa membahagiakan orang tua saya di masa tua mereka. Kasihan mereka jika di waktu muda membanting tulang untuk membiayai hidup saya, setelah mereka tua renta ternyata tetap saja harus bersusah payah…

  17. Jafar Soddik berkata:

    Ada pendapat ulama juga yang menyebutkan bahwa pandanglah akhirat dengan pandangan ke atas dan pandanglah dunia dengan pandangan ke bawah. Hal ini bermakna bahwa dalam urusan akhirat kita diminta untuk melihat kepada yang lebih rajin dan lebih taat agar kita semakin meningkatkan amal kebaikan kita.
    Dan dalam urusan dunia kita diminta memandang ke bawah agar kita bisa menjadi hamba yang bersyukur, bahwa di dunia ini masih banyak orang-orang lain yang mungkin kurang beruntung dibanding kita.

  18. Gandi Wibowo berkata:

    Saya sendiri masih gak tahu apa arti bersyukur yang sebenarnya,apa cukup dengan mengucap terimakasih pada-Nya? menunaikan zakat? shdaqah? apa itu cukup buat bersyukur,apa itu arti bersyukur?
    Ahhh… Udah komen paling telat, OON lagi…

  19. Ade berkata:

    Makasih Mas dah diingetin!

  20. Abdul Cholik berkata:

    -syukur terhadap nikmat,walau sekecil apapun.
    -udara yang kita hirup ini gratis lho,mari kita syukuri.
    -salam

  21. nomercy berkata:

    bersedekahlah … bentuknya bisa bermacam-macam … baik berbentuk barang, ucapan, senyuman, jasa maupun sekedar doa dan lain-lain … dengan bersedekah kita telah bersyukur …
    Allah tidak pernah protes dengan umatnya … semua umatnya diberi kesempatan dan rejeki yang sama dan disesuaikan takarannya terhadap kemampuan masing-masing untuk membawa, memanfaatkan dan mengamalkannya … sedangkan kemudian umatnya ini selalu merasa dirinya kurang beruntung atau serba kekurangan …

    bersedekah adalah cara yang sangat sederhana yang dapat dilakukan siapa saja dan kapan saja sebagai wujud syukur atas semua karuniaNya …

  22. miftahrahman berkata:

    waduhhh…untung mas ngingetin,aku belum bersukur hari ini

  23. hanif berkata:

    Kadang aku juga melihat seperti yang Mas lihat, seorang nenek tua yang mengayuh sepeda onta dengan beban berat disampingnya…atau nenek tua yang berjualan sesuatu yang tak mengundang selera orang untuk membelinya
    Ah…banyak hal di dunia ini yang seringkali menyentak logika

  24. wahyu ¢ wasaka berkata:

    Alhamdulillah… nice post…

  25. 1nd1r4 berkata:

    Mari selalu bersyukur, untuk segala kesenangan maupun kesusahan yg hadir. Semua sejatinya anugrah dari Allah yang kuasa

  26. deeedeee berkata:

    Setiap melihat kemalangan nasib seseorang, saya tak hentinya bersyukur dan berusaha tuk tidak mengeluh akan hidup yg saya jalani, wong mash byk yg kurang beruntung dari pada saya!

  27. Vicky Laurentina berkata:

    Saya bersyukur bahwa saya masih ingat untuk bersyukur..

  28. Muzda berkata:

    Ini adalah tipe postingan yang gak bisa kukomentari …
    Sama seperti aku menghindari nonton “andai aku menjadi” ,, atau “kejamnya dunia”

    Apakah aku terlalu takut menghadapi kenyataan ..??

  29. edylaw berkata:

    Perbuatan baik akan menghasilkan karma baik begitupun perbuatan buruk akan menghasilkan karma buruk di hari mendatang ataupun kehidupan mendatang
    Apapun yang kita dapat sekarang ini adalah hasil dari karma perbuatan kita yang lalu…..
    Supaya kehidupan mendatang kita tidak buruk, mulailah benabung kebajikan dari sekarang

    Begitu nasehat yang sering saya dengar dari orang tua saya.

  30. fanz berkata:

    kadang kita lebih sering memandang ke atas daripada ke bawah..
    thx buat postingannya mas

  31. kucrit berkata:

    Kadangkala rasa syukur akan tercipta pada saat kita melihat seseorang yang berada di bawah kita. Namun juga kadangkala rasa syukur akan sirna ketika kita melihat jauh diatas kita.
    sungguh orang yang terus pandai-pandai mengkondisikan dirinya dengan keadaan yang selalu berubah, adalah orang yang beruntung.

  32. lambenesugiman berkata:

    postingan berisi penuh makna, aku bersyukur karena telah dipertemukan dengan sobatku ini..masih trus belajar dengannya…OK bro

  33. Ria berkata:

    aku juga sering bertanya hal yang sama ketika bertemu dengan orang2 yang harus berjuang demi sesuap nasi dan segepok duit dengan cara yang sangat2 mengenaskan. apalagi ketika melihat orangnya sudha tua…duhhh…mungkin mereka gak punya anak, atau saudara ya…sesahnya mereka mengepulkan asap dapur…

    hiks…sedih mas 😦

  34. dihana berkata:

    mas, minta ijin kulo bade mengkopi fotonya nggih.
    maturnuwon sanget..

  35. […] adalah pilihan. Tergantung bagaimana sampeyan mengatur hati dan kepala. Bersyukur adalah urusan sampeyan dengan Pencipta, ndak usah liat kiri kanan, bandingkan diri sampeyan […]

  36. […] Saya mesem, “Coba liat satu-satu dulu kang. Yang ditayangkan media masa itu jeritan ketidakadilan atau sekedar bahan peningkat rating? Mohon maap, saya sering melihat media lebih suka mengeksploitasi penderitaan, tayangan yang memancing iba penonton alih-alih menyajikan fakta yang proporsional. Ndak sepenuhnya bisa disalahkan, lha wong memang itu yang diminati masyarakat kita, jatuh iba sambil mensyukuri keberuntungan diri” […]

  37. […] Bersyukur seharusnya tanpa pembanding, saya berpikir seperti itu dan sampe sekarang masih berpikir seharusnya begitu. […]

  38. […] Konon katanya kuda balap yang baik akan berlari sekuat yang dia mampu, tanpa melihat seberapa cepat kuda yang lain berlari. Kata-kata tersebut dalam konteks yang lain membuat saya ndak setuju dengan ungkapan “lihatlah ke atas agar semangatmu terpacu, dan lihatlah ke bawah agar kamu bersyukur”. Saya cenderung berpendapat bahwa karena tiap manusia memiliki keunikan dan jalan hidup masing-masing maka seharusnya pembanding yang tepat adalah dirinya sendiri. […]

  39. Ario Nugroho berkata:

    mas lihat di malang ya, di jalan besar?
    bapak itu setiap hari selalu berjalan jauh dengan membawa gerobak itu mas, entah mau kemana saya jg kurang tau, tapi bapak itu selalu lewat di rute yg sama..
    mungkin bila ada yang mengetahui keberadaannya bisa diberitahukan ke panti jompo setempat, agar hidupnya lebih layak dan tidak terlantar..

  40. historina berkata:

    singkat dan sangat simple, tapi penuh makna,,
    salam kenal.. 😀

  41. Putri Langit berkata:

    waaooo setelah baca “nempur beras” lalu baca ini (karena dikasih link nya) :))
    yang membuat sedih itu foto. nyeseg banget dihati ya om… :((

    aaahhh, tulisannya pun mak jleebbb…

    salam kenal ya om, saya tinggalkan jejak di lapak keren ini 😀

  42. onny iswanty berkata:

    ya saya juga sering liat bapak2 itu biasanya sich selalu berjalan di sekitaran jalan letjen suparman.aku pernah sampai nangis2 dan merinding.entah apa yang di bawa itu ko kyk berat sekali,tapi setiap hari ya itu2 saja yang di bawa kemana2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s