Sekolah Negeri Internasional

Sampeyan masih inget iklan sekolah gratis yang sempet ditayangkan secara gencar di tipi-tipi? Dalam iklan itu digambarkan seorang anak yang putus asa karena orang tuanya ndak mampu akhirnya tersenyum gembira diapit emak dan bapaknya karena bisa meneruskan sekolah tanpa biaya.

“Sebenernya sekolah gratis itu beneran ada ndak tho Le?” Tanya Kang Noyo semalem sambil nyruput kopi di warung Mbok Darmi. Setelah kehujanan dalam perjalanan pulang dari pabrik, nyruput kopi sambil ngemil telo goreng rasanya bener-bener mak nyus.

“Ndak tau kalo di Malang sini Kang, tapi ponakan saya sekolah SD Negeri di Kalideres Jakarta sana memang ndak mbayar.” Jawab saya.

Pasal 49 ayat 1 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa dana pendidikan selain gaji pendidik dan biaya pendidikan kedinasan dialokasikan minimal 20% dari APBN. Dalam praktek di lapangan salah satu program pemerintah diwujudkan dalam bentuk BOS, Bantuan Operasional Sekolah.

“Berarti dengan adanya BOS semua sekolah harusnya gratis. Gitu Le?” Tanya Kang Noyo.

“Ndak juga Kang, yang dapet BOS kan cuma SD sama SMP.” Kata saya.

Kalo membaca Buku Panduan BOS yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan Nasional memang tujuan BOS terdengar sangat menyejukkan, diantaranya menggratiskan seluruh siswa miskin dari seluruh pungutan baik di sekolah negeri maupun swasta, meringankan beban biaya operasi sekolah bagi siswa sekolah swasta, juga menggratiskan seluruh siswa SD dan SMP negeri dari biaya operasi sekolah.

“Gratis semua Le?” Tanya Kang Noyo ndak percaya.

“Ndak semua sih Kang, ada pengecualian pada rintisan sekolah bertaraf internasional dan sekolah bertaraf internasional.” Jawab saya.

Rintisan sekolah bertaraf internasional dan sekolah bertaraf internasional? Makhluk apakah gerangan?

Menurut Dr. Sungkowo, Direktur Pembinaan SMA, pengertian RSBI atau SBI bukan berarti kita membuat sekolah internasional, tetapi diharapkan lulusan dari sekolah-sekolah yang namanya hebat tersebut nantinya setara dengan kemampuan lulusan sekolah yang ada di mana saja, apakah itu sekolah di Singapura, London, Jepang, dan sebagainya.

“Memangnya lulusan Singapura, London, sama Jepang kemampuannya setara Le?” Tanya Kang Noyo.

Lha mbuh!

Yang jelas Pasal 50 ayat 3 UU Sisdiknas menyuruh tiap pemda untuk membuat minimal satu sekolah bertaraf internasional di tiap jenjang pendidikan.

Kalo menurut saya pribadi, RSBI atau SBI adalah sekolah khusus untuk anak-anak orang kaya dan merupakan bentuk pelepasan tanggung jawab oleh pemerintah. Karena seperti diatur dalam PP 48 tentang Pendanaan Pendidikan dan dijlentrehkan dalam Buku Panduan Bos, bahwa peserta didik, orang tua dan atau walinya bertanggung jawab atas pendanaan sebagian biaya investasi pendidikan dan biaya tambahan untuk pengembangan sekolah menjadi bertaraf internasional.

“Lha iyo tho Kang, negara nyuruh tiap pemda mbuat SBI tapi nyuruh wali murid nanggung biayanya. Namanya lepas tanggung jawab tho?” Ujar saya.

Sebenernya BOS yang diterima sekolah juga lumayan nilainya, dari Buku Panduan BOS yang saya baca menyebutkan besarnya BOS adalah :

SD Kota

:

Rp 400.000/siswa

SD Kabupaten

:

Rp 397.000/siswa

SMP Kota

:

Rp 575.000/siswa

SMP Kabupaten

:

Rp 570.000/siswa

Tapi mungkin biaya pendidikan di Indonesia memang relatif mahal, apalagi kalo prinsip dasarnya adalah prinsip jual beli yang mengatakan ono rego ono rupo.

Kalo di Malang mungkin sampeyan bisa lihat contohnya SD Sabilillah, uang pangkalnya 8,5 juta dengan SPP sekitar 430ribu sebulan. Atau SD Anak Saleh yang mematok uang pangkal 6-7,5 juta dengan SPP 200-250ribu sebulan. Ini baru level sekolah dasar lho ya.

“Wajar tho, wong swasta.” Kata Kang Noyo.

Lha tadi katanya BOS bertujuan meringankan beban siswa sekolah swasta?

Dan walaupun Buku Pedoman Bos mengatakan sekolah negeri gratis tapi prakteknya juga ndak selalu, misalnya di Madrasah Ibtidaiyah Negeri I Malang. Jangan sampeyan bayangkan madrasah kumuh yang muridnya ndeso-ndeso kayak jaman saya kecil dulu, di sini walaupun judulnya negeri tapi uang pangkalnya tiga juta dengan SPP sebulan sekitar Rp 200.000.

“Itu sekolah negeri?” Tanya Kang Noyo.

“Namanya saja MIN Kang, Madrasah InsyaAllah Negeri.”

Semoga saja pemerintah ndak sedang merintis sekolah bertarif internasional, nanti wali murid yang mumet. *atau sudah?*

Jiyan!

20 comments on “Sekolah Negeri Internasional

  1. Thomas mengatakan:

    Kapan ya bisa bener2 gratis>>padahal dana apbn naik sampe 20% lho

    salam

    http://thomasandrianto.wordpress.com/2010/04/22/info-dari-kawan-broloe-mau-blog-loe-kebanjiran-pengunjung-kaga/

    #stein:
    mungkin nanti kalo APBN buat pendidikan sudah 20,5% 😆

  2. firdausfarisqi mengatakan:

    di indoensia bukan sekolah BERTARAF internasional, tapi yg ada sekolah BERTARIF internasional…… SD saya dulu jelek tapi buktinya saya tetap bisa berprestasi kok ( hahahahahhahahah…. narsis )

    #stein:
    makanya, saya pikir kebijakan ini agak-agak ndak jelas

  3. chocoVanilla mengatakan:

    Anak temen saya sekolah di SMP Negri di Bekasi. Semua gratiiisss termasuk buku sekolah pelajaran walo ngasihnya telat (udah masuk sebulan baru dikasih bukunya).

    Tapiiii, waktu baru mo masuk, orang tua murid suruh ngumpul, mbahas iuran untuk beli AC, toilet sendiri, meja kursi, karpet, LCD, laptop, soale ini kelas UNGGULAN!! Akhirnya tiap ortu kena iuran 3,5 jt.

    Ck..ck.. kelas eksklusif di antara kelas reguler. Apa gak bikin mereka sok lebih jago dari yang reguler?

    #stein:
    dan yang lebih saya kuatirkan adalah pergaulan yang makin terbatas, cuma kenal kalangan elit nan sugih saja

  4. […] View original here:  Sekolah Negeri Internasional « Mas Stein […]

  5. Vicky Laurentina mengatakan:

    Ponakan saya sekolah di MIN 1 Malang situ. Sudah mbayar, tapi kok ya tetep aja kemampuan IPA-nya kurang, sampek kakak saya mesti manggilin guru les privat segala. BOS nggak berbanding lurus dengan peningkatan kemampuan anak didik, ternyata.

    #stein:
    mungkin lebih tepatnya biaya mahal dan jor-joran fasilitas ndak selalu berbanding lurus dengan peningkatan kemampuan anak didik :smile

  6. Desi mengatakan:

    Wah, di t4 q bupatinya belum mau buat nggratisin skolah. Maklum daerah tertinggal, masih sibuk buat membangun dulu 🙂

    #stein:
    tapi kalo ndak salah anggaran pendidikan ndak boleh kurang dari 20% APBD juga tho mbak?

  7. lovelyfla mengatakan:

    Intinya nggak ada yg bener-bener gratis ya mas, sekolah itu 😦

    #stein:
    nanti ada yang ngomong, gratis kok njaluk selamet 😈

  8. Dewa Bantal mengatakan:

    Hehehe, rodok tragis ya… ga ada yang namanya gratis. Dan susahnya juga kalau ada yang bener2 gratis,, dari keluarga menengah keatas pasti juga akhirnya “memiskinkan” diri buat bisa masuk dengan biaya semurah-murahnya, dan di eksploitasi, kalau bisa gratis.

    #stein:
    itu sudah pernah terjadi kok mas, contohnya waktu ada pengobatan gratis dengan surat keterangan miskin, atau waktu pembagian BLT, banyak yang tiba-tiba jadi “miskin” 😆

  9. hitamputih mengatakan:

    kalo ponakan saya di SD negeri,..SPP gratis,..tapi banyak pungutan2 lainnya,..
    Yang diwajibkan ikut les lah…biaya perawatan lab lah…apa lah..
    Malah lebih mahal dr sebelum “digratisin”

    #stein:
    hahaha! :mrgreen:

  10. prasetyandaru mengatakan:

    Memang sih sistem pendidikan negeri ini masih belum terlalu mapan (saya sebenernya mau bilang amburadul) Tapi kita patut berbangga lho paklek..minat anak2 di negri kita tercinta ini untuk sekolah masih jawuh lebih tinggi daripadai minat anak2 kita di negri “tetangga” jauh kita Ostrali..Sampai2 mereka mbukak beasiswa buat orang2 di seluruh dunia liwat yayasan2 Beasiswa di negara2 dunia ke3..Lha, pertanyaannya, apakah itu bener2 minat atau hanya keterpaksaan belaka, coba kalok nyarik kerjaan di Indonesia ini endak butuh ijazah,. cumak butuh KTP doang, masihkah minat buat sekolah itu tinggi?

    #stein:
    pertanyaan yang menarik, lha nek menurut sampeyan kira-kira piye mbak? 😆

    • prasetyandaru mengatakan:

      Mmmm…ini kalok menurut saya ya!…monggo kalok panjenengan punyak pemikiran berbeda..Kalok melihat situwasi akhir2 ini,tingkat kelulusan tahun ini yang turun 10% dari tahun kemarin, sepertinya bisa jadi indikasi bahwa minat sekolah anak2 itu mulai menurun, sekarang 10% tahun besok brapa persen? 15%?..Lha kenapa kok bisa turun? Ada kecenderungan bahwa sebenernya yang berminat sekolah itu bukan anak2..tapi malah justru orang tuwa anak itu sendiri, ndak sedikit lho paklek, anak2 yang terpaksa menuruti minat bapak ato ibuknya untuk sekolah..anak endak lebih dari sekedar aset dari ortu yang bisa seenak jidat dibentuk dan diperlakukan semena-mena oleh orang tuwa tanpa memperhatikan minat bakat si anak..Saya kasian sama anak2 korban ambisi ortu macam itu,dulu saya cukup beruntung, bapak saya membolehkan saya buat sekolah di STM. Parahnya lagi, sisdik di negri kita ini menggiring anak untuk mengikuti sebuah pattern yang pakem, Jika sampeyan brilian ngutik2 mesin ngalahin Alain Prost, jangan harap bisa lulus SMA kalok nilai ujiyan bahasa indonesia dan IPS sampeyan 3koma sekiyan..Padahal menurut para ahli yang saya lupa siapa itu, 2 skill itu (ngulik mesin dan pelajaran IPS) diolah dari bagian otak yang berbeda. Jadi ya jika minat buat sekolah itu turun..ya jangan langsung menyalahkan anak2 bangsa ini.

      #stein:
      saya jadi ingat tulisan di salah satu iklan sekolah, bahwa semua anak itu pada dasarnya pinter tapi beda-beda bidang kepintarannya. guru saya dulu pernah bilang biarlah mawar tumbuh jadi mawar dan melati tumbuh jadi melati, sayangnya memang sistem pendidikan kita belum mampu menampung ide itu, atau jangan-jangan memang blom ada sistem pendidikan yang bisa mengadopsi kalimat itu?

      tapi ada hal yang harus diingat juga mbak, ndak semua anak cukup punya pertimbangan untuk memilih apa yang menurutnya terbaik untuk dirinya sendiri. misalnya dulu saya waktu sekolah milih jurusan IPS, oleh sekolah sempat ditakut-takuti bahwa jurusan itu suram masa depan, pilihan lebih terbatas nantinya, dsb, dsb. saya tetep ngotot milih IPS, bukan dengan alasan yang masuk akal, saya cuma ndak mau ketemu guru kimia yang sering satru sama saya :mrgreen:

      soal anak menjadi pelampiasan ambisi ortu yang ndak terwujud itu saya juga kasian. kadang terbersit juga untuk mengkursuskan precil saya main gitar, kalo saja saya ndak inget bahwa menjadi seorang gitaris handal adalah cita-cita saya yang ndak kesampaian, yang belum tentu juga merupakan minat dan bakat precil saya. sering miris liat anak jadi miniatur ortunya.

      • nDaru mengatakan:

        setuju dengan paragraf #2, ada semacam paradikma bahwa ngelmu itung aliyas eksak itu lebih keren dibanding ngelmu sosiyal ato budaya..denger2 slentingan jugak dulu di SMA, siswa2 di kelas 3 IPS, itu identik dengan anak nakal dan kurang berprestasi.

        #stein:
        dan kalo melihat saya sepertinya itu benar :mrgreen:

        • prasetyandaru mengatakan:

          etapi ada juga slentingan kalok anak STM itu juga pasti nakal, awut2an dan sukak tawur..tapi nyatanya saya alim & ndak pernah brantem tuh? kece lagi 😀

          #stein:
          gubrag! :mrgreen:

  11. Asop mengatakan:

    Lho, itu besarnya BOS segitu per-semester apa per tahun? Kalo buat SD dan SMP setahun, saya rasa itu cukup untuk menggratiskan SPP. 😦

    #stein:
    itu setahun mas

  12. anonymous mengatakan:

    kalo mo gratis ya masuk sekolahnya mastein aja..
    SMA dan kuliahnya gretongan kan bos?
    wkwkwkwkwkwk

    #stein:
    ndak benar itu…

  13. Emanuel Setio Dewo mengatakan:

    Ehm…

    Kalo menurut saya pribadi, RSBI atau SBI adalah sekolah khusus untuk anak-anak orang kaya dan merupakan bentuk pelepasan tanggung jawab oleh pemerintah.

    Nampaknya ini yg paling mengena.

    #stein:
    lha memang begitu kok mas, sekolah sekarang sudah bukan urusan didik-mendidik lagi, sekolah adalah bisnis! 😆

  14. […] ndak selain sibuk misuhi pemerintah yang masih saja ndak mampu menyediakan pendidikan murah, kita juga sudah berpartisipasi untuk membangun negeri ini. kalo kata Bu Sri Mulyani, walaupun […]

  15. Bob Benyamin mengatakan:

    Hebat ya Indonesia…sekolah untuk anak anak SD dan SMP gratis……Dana nya dari mencetak uang baru atau pinjaman baru?

  16. […] Dan lagi kenapa harus pake finger painting? Apakah kata-kata melukis dengan jari kurang terdengar intelek? Kurang berstandard internasional? […]

  17. rita mengatakan:

    Malang kota pelajar malang nian nasibmu yang ngga punya duit :((
    padahal surabaya ngga segitunya kaleee

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s