Preman, Manusia Dunia Antara

Di daerah Semanan, Kalideres, kampung istri saya, banyak angkot dengan plat hitam berkeliaran. Jumlahnya jauh lebih banyak dibanding angkot plat kuning. Sampeyan kalo mau ikut mengadu nasib menjadi pengusaha angkot juga bisa, cukup bayar Rp 250ribu ke koordinator.

“Koordinator? DLLAJ maksudmu Le?” Tanya Kang Noyo.

“Yo ndak Kang, koordinatornya ya preman.”

Preman, kata ini kembali naik pamornya menyusul bentrokan antara dua kelompok menjelang sidang kasus Blowfish di pengadilan Jakarta Selatan. Sampeyan bayangkan, di tempat digelarnya sidang seorang jenderal bintang tiga orang-orang berani menghunus golok dan parang. Ndak cukup senjata tajam, senjata api pun digunakan. Dua anggota salah satu kelompok beserta sopir kopaja yang disewa tewas, tiga polisi dibacok, satu polisi tertembak, bahkan Kapolres Jakarta Selatan pun terserempet peluru.

Beberapa pikiran berkelebat di kepala saya waktu melihat orang-orang dengan santainya menenteng golok di berita tipi, mulai dari hilangnya rasa kemanusiaan, hukum yang diabaikan, polisi yang kehilangan kewibawaan. Kok bisa mereka sedemikian bebasnya mengayunkan senjata?

“Karena mereka memang orang bebas Le.” Kata Kang Noyo sambil nyeruput kopinya.

Konon istilah preman berasal dari kata vrijman yang sudah dikenal dari abad 17. Waktu itu vrijman berarti orang yang bukan pejabat VOC tapi melakukan negosiasi atas nama pejabat. Kata vrijman memiliki arti orang merdeka dan bebas. Baru mulai sekitar tahun 1970 istilah preman diasosiasikan dengan perbuatan kriminal lewat serial karangan Teguh Esha, Ali Topan, Detektip Partikelir.

“Tapi kok ya bisa mereka ndak ada takut-takutnya sama polisi?” Saya masih ndak ngerti.

“Sebenernya sama saja Le, sama seperti pekerjaan yang lain, preman berawal dari masalah perut.” Ujar Kang Noyo.

“Dalam mencari nafkah orang bisa terjun ke dunia hitam, bisa juga nyari pekerjaan di dunia terang, lha preman ini ada di tengah-tengahnya, dunia antara.” Lanjut Kang Noyo sambil menyalakan rokoknya, lebih tepatnya rokok yang diambil dari punya saya.

“Sampeyan ngomong soal preman saja sok pilosopis Kang!” Anyel saya liat gaya keminter Kang Noyo.

Menurut Kang Noyo preman kebanyakan berasal dari dua golongan, penjahat dari dunia hitam yang sudah pensiun dan pengangguran. Kebutuhan untuk tetep makan dikombinasi dengan kemampuan serta keberanian berkelahi minus keahlian lain lah yang memaksa mereka jadi preman.

“Tapi kemaren ada temen saya cerita, dia baru mau mbuka usaha sudah didatengi preman. Dikasih tawaran untuk ngasih jatah bulanan, kalo ndak keamanannya ndak terjamin. Itu kan ngancam Kang? Maksa! Berarti mereka seharusnya termasuk golongan dunia hitam.” Kata saya.

“Yo ndak Le, lain!” Kang Noyo ngeyel.

“Misalnya ada pelacuran, perjudian, itu dunia hitam. Preman hanya memungut uang keamanan dan berperan menjaga supaya bisnis mereka tetep jalan. Di pertokoan atau pasar sama juga, di situ dunia terang, preman juga cuma mungut uang keamanan. Mereka berada di luar dunia hitam dan dunia terang.” Lanjutnya.

Piye tho?

“Kalo ndak mbayar kan yang ngrusuhi paling juga preman-preman itu sendiri Kang? Atau kalo misalnya ternyata setelah preman dibayar ternyata ada kelompok preman lain yang lebih kuat gimana? Apa mereka masih bisa njamin?” Tanya saya.

Kang Noyo cuma mesem, “Ada lagi yang membuat preman berbeda dari pelaku dunia hitam Le, mereka biasanya berkoordinasi dengan aparat.”

“Kalo kamu jadi preman yang melindungi perjudian dan pelacuran misalnya, ndak akan jalan kalo kamu ndak rutin setor ke aparat. Bisa tentara, bisa juga polisi. Misalnya kamu njaga tempat bisnis dunia terangpun, akan ada banyak gangguan yang ndak bisa kamu tangani kalo ndak ada koordinasi sama aparat. Ndak usah yang begitu, tukang parkir pun bisa kegusur kalo ndak rajin nyetor ke aparat.”

“Makanya ndak usah kaget kalo preman-preman yang di Ampera kemaren ndak takut sama aparat. Pokoknya selama pemerintah ndak bisa ngasih makan semua rakyatnya trus aparatnya juga masih doyan suap jangan berharap negara ini bebas dari preman. Itu masih preman kelas jalanan, belum preman berdasi, lebih gawat lagi…”

Welhah! Saya lirak-lirik, takut ada aparat yang juga lagi nongkrong di warung Mbok Darmi.

Sepulang dari warung saya liat Pak Yono, bekas preman yang sekarang jadi satpam di komplek saya lagi nongkrong di pos sama beberapa pemuda gondrong dan bertato. Saya liat di depan mereka beberapa botol dan gelas. Pesta miras di pos satpam??

Pak Yono mendekati saya sambil berbisik, “Ndak papa Mas, ini cuma cara saya merangkul mereka. Daripada mereka ngisruh…”

Ternyata Kang Noyo salah, bukan aparat yang memelihara preman, tapi satpam.

Jiyan!

Iklan

8 comments on “Preman, Manusia Dunia Antara

  1. warm berkata:

    bukannya preman itu berasal dari kata free man ?

    ah entahlah, yg jelas
    kehadiran mereka diperlukan
    😀

  2. […] This post was mentioned on Twitter by Tobagus Manshor, Tobagus Manshor. Tobagus Manshor said: Preman, Manusia Dunia Antara: http://wp.me/ppZ5c-wS […]

  3. novee berkata:

    harusnya UUD kita diubah ya, mas..kan selama ini isinya hanya” orang miskin & anak² terlantar dipelihara oleh negara”, jadi ditambah satu lagi, yaitu: preman..

    supaya semuanya ndak setengah-setengah…

    • harikuhariini berkata:

      Oalah mba..
      Wong disuruh melihara orang miskin dan anak terlantar aja pemerintah msh belum bisa melaksanakan tugasnya dgn baik.
      Lah ini kok mau ditambahin lg untuk melihara preman.

  4. mawi wijna berkata:

    Preman tak hanya masalah perut, tapi juga lemahnya pendidikan moral, dan kurangnya rasa sabar bagi sebagian besar masyarakat ‘abangan’.

  5. nDaru berkata:

    coba anak2 sampeyan itu dikudang jadi preman, nanti pasti jadi orang2 sukses macam dokter ato direktur pabrik…Soale, rata2 orangtua itu kalok ngudang anaknya pasti bilang gini “leee/nduk, dadio dokter, dadio pejabat” eeee yang ada setelah gede mereka jadi preman, itu yang ngakunya mewakili rakyat di senayan itu jg tingkahnya banyak yang 11 12 sama preman to

  6. Tapi kalau preman sudah main kekerasan ya repot juga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s