Peduli Pajak

Sebenarnya kadang saya merasa lucu kalo membandingkan pajak dengan SIM dan STNK misalnya.

Kenapa sampeyan mbikin SIM? Kalo mau jujur mungkin ndak sampe 10% yang menjawab karena peduli akan pentingnya keselamatan di jalan, karena mengemudi itu mempertaruhkan keselamatan banyak orang maka seharusnya ndak semua orang boleh turun ke jalan, hanya orang-orang yang memang layak mengemudi, yang sudah lulus ujian SIM sajalah yang boleh nyetir. 90% saya yakin akan njawab biar ndak kena tilang polisi. Tidak ada kepedulian di sini, yang ada hanya ketakutan.

Kenapa sampeyan mbayar pajak kendaraan tiap tahun? Apakah karena sampeyan merasa sudah ikut merasakan fasilitas yang dibuat pemerintah daerah untuk sampeyan trus sampeyan tergerak hatinya, ikut peduli sama anggaran pemda, jadinya sampeyan mau mbayar pajak kendaraan. Lagi-lagi saya yakin kebanyakan orang ndak punya kepedulian seperti itu, yang penting kalo polisi meriksa di jalan surat-surat kendaraan lengkap. Tidak ada kepedulian, hanya ketakutan.

Lain ceritanya kalo berurusan sama pajak, ndak pernah ada razia NPWP misalnya. Karena ndak ada rasa takut akhirnya orang juga males ngurusi pajak. Orang baru kepikiran pajak saat merasa butuh, misalnya butuh NPWP buat tender, atau butuh NPWP biar ndak kena fiskal. Sedikit sekali yang ngurus NPWP karena merasa peduli dengan nasib bangsa.

Soal dikorupsi? Ini analoginya kayak waktu pemilu kemaren, sampeyan bisa milih untuk golput karena takut nanti pemimpin yang sampeyan pilih ternyata ndak mumpuni, atau sampeyan bisa milih untuk nyontreng dengan tetap mengawasi kinerja pemimpin sampeyan. Lucu tho kalo sampeyan teriak-teriak minta korupsi diberantas padahal disuruh mbayar pajak susahnya setengah hidup, bayar dulu pajaknya baru sampeyan awasi penggunaannya, rasanya lebih elegan.

*kabur sebelum ditimpukin* :mrgreen:

Iklan

29 comments on “Peduli Pajak

  1. lambenesugiman berkata:

    wow..indah sekali..

  2. Big Sugeng berkata:

    Emangnya pemimpin yang kita pilih tahu kalau ada pajak, ada 30 ribu pegawai pajak???? jangan2 dia nggak tahu he he

    mari menata masa depan dengan berkebun emas : http://kebunemas.com/?id=abikuni

  3. Vicky Laurentina berkata:

    Masalahnya, Mas Stein, orang tuh sungkan mbayar pajak justru karena takut pajaknya dikorupsi..

  4. uke poet berkata:

    Hari gini masih belum bayar pajak? Apa kata dunia….

  5. mawi wijna berkata:

    Saya urus NPWP ah…

  6. Setia bayar pajak duuunk ! 😉

  7. arman berkata:

    nah itulah… orang kalo emang udah gak peduli harus bener2 gak peduli. jangan gak peduli tapi mengeluh ini itu ya…. huahahaha… ya kayak gua lah.. gua juga gak peduli (ngaku dah rata2 orang pasti sama :P)… bikin sim ya biar bisa nyetir aja (bikinnya juga pake calo), golput juga… tapi gua juga gak berkoar2 kok kalo kinerja pemerintah gak bener… gua nerimo aja.. huahahaha

    *contoh warga negara yang gak baik ya… :P*
    *jangan ditiru ya anak anak… hehe*

  8. arman berkata:

    eh btw.. gak punya npwp bukan berarti gak bayar pajak lho… kalo kita karyawan perusahaan kan pasti udah langsung dilaporin pajak dari perusahaan…

    kalo kewajiban sih harus tetep dipenuhi ya… 😀

  9. Chic berkata:

    sampeyan bayar pajaknya taat ga mas? 😛

  10. annosmile berkata:

    wajib bin terpaksa..
    hihihihi..

  11. morishige berkata:

    ide bagus tu mas. pemerintah ngadain razia NPWP aja mending.. :mrgreen:

  12. adipati kademangan berkata:

    sampeyan ojok bongkar rahasiaku ngono tah mas ?!

  13. nie berkata:

    wakakakak..betul. aku jujur..masi setengah ati bayar pajak. jd aku ga berani ikutan teriak2 soal korupsi. hahaha

  14. […] Kecil Ditangkap “Sepertinya ndak percuma rakyat menyisihkan sebagian rejekinya untuk mbayar pajak, aparat kita makin berkomitmen dalam menegakkan supremasi hukum.” Kata saya waktu begadang […]

  15. […] dengan perantara penjual. Konsumen, sesuai dengan naluri dasarnya mencari harga termurah, ndak peduli sama pajak dan segala tetek bengeknya. Penjual sesuai dengan hukum ekonomi akan mengimbanginya, yang penting […]

  16. […] Mungkin level orang kita memang masih level ketakutan, belum mencapai level kesadaran dan kepedulian. Atau jangan-jangan memang sudah ndak ada lagi yang namanya level kepedulian? […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s