Mbokdhe Dari Kampung Sebelah

Kang Noyo ngakak campur misuh-misuh waktu cerita sama saya kemaren sore di warung Mbok Darmi. Makan gorengan anget di waktu hujan lumayan deras, sambil ngopi bercampur ngrasani, sungguh pengisi waktu yang jauh dari bermutu, tapi menyenangkan.

Jadi ceritanya ada mbok-mbok di kampung nun agak jauh di sana, sebenarnya saya bingung antara nyebut beliau ini budhe-budhe atau mbok-mbok, yang jelas beliau ini perempuan, pernah sebentar jadi kepala desa menggantikan kepala desa sebelumnya yang dengan beberapa intrik berhasil digulingkan. Beberapa orang bilang kepala desa sebelumnya terlalu jujur, terlalu blak-blakan untuk jadi kepala desa.

“Biarpun cuma desa, adat berpolitik juga ada Le, harus pinter-pinter bermanis mulut kalopun mau nusuk dari belakang. Lha Pak Lurah yang dulu itu ndak peduli tabrak kanan kiri depan belakang, katanya gitu aja kok repot, akhirnya ndak lama tho jadi lurah.” Tutur Kang Noyo.

Seusai masa jabatan si mbokdhe ini mencoba mencalonkan diri jadi lurah, tapi sayang beliau kalah sama bekas anak buahnya, Pak Bambang, yang sebelumnya menjabat jadi jogoboyo, semacam petinggi hansip di desa. Dan konon sejak saat itu beliau bersumpah ndak mau menginjak balai desa lagi kecuali dia atau anak turunnya kembali menjadi lurah.

Setelah ndak lagi menjabat lurah beliau kembali ke kesibukan lamanya, menjadi ketua PMB, Persatuan Mbok-mbok Berdikari. Walaupun namanya sedikit kurang komersil tapi organisasi ini lumayan berpengaruh, salah satunya konon karena bapaknya si mbokdhe ini adalah seorang sesepuh yang dulu ikut mbabat alas mbuka kampung itu. Sesepuh yang sakti mandraguna, yang wibawanya ndak habis-habis, bahkan konon bisa diturunkan ke anak dan cucunya.

Dengan bekal wibawa dari bapaknya tersebut PMB berhasil merekrut banyak orang, bukan cuma ibu-ibu malah. Ada banyak lelaki yang ikut dalam organisasi PMB, dan mereka juga bukan orang sembarangan, banyak diantaranya orang pinter yang akhirnya masuk dalam kepengurusan BPD, Badan Perwakilan Desa, semacam parlemen kecil-kecilan ala kampung. Walaupun kadang saya juga heran, kok ya betah orang-orang itu, lha wong tiap ada acara si mbokdhe ini ngomongnya ndak jauh dari soal bumbu dapur, arisan, kebaya, dan semacamnya.

Yang mbikin Kang Noyo ngakak campur misuh-misuh adalah saat kemaren dia ikut datang ke acara ulang tahun PMB, Persatuan Mbok-mbok Berdikari. Tentu bukan karena Kang Noyo adalah seorang simpatisan, seperti biasa Kang Noyo hanya mengincar makan dan rokok gratisan yang biasanya ada di tiap acara kampung.

Di acara itu sebenarnya ada beberapa petinggi desa yang diundang, misalnya Pak Jogoboyo, juga Pak Bayan, tapi mereka ndak bisa hadir karena konon harus menemani Pak Lurah dalam acara dinas. Walaupun informasi yang saya dengar mengatakan mereka ndak mau dateng karena takut bakal ditanya berapa harga cabe kriting dan bawang bombay, yang sudah jelas berada di luar tugas mereka.

“Sebetulnya kenapa, ya, enggak bisa hadir? Yang memilih Anda, kita juga. Pak Jogoboyo dan Pak Bayan, jangan lupa, Pak,” Kata si mbokdhe dalam sambutannya.

“Yo lucu wae Le, wong si mbokdhe ini diundang acara apapun di balai desa ndak pernah mau dateng kok, walaupun acara rakyat. Begitu ada yang dia undang ndak mau dateng kok ngambek.” Kata Kang Noyo.

Sedikit di luar dugaan, mbokdhe ndak hanya membahas bumbu dapur saja waktu ngasih sambutan, tapi juga menyinggung soal banyaknya politisi kita yang masuk penjara gara-gara korupsi.

“Paling gede sepanjang saya tahu, korupsi yang dilakukan biasanya kurang dari Rp 4 miliar. Bukannya mengecilkan, tapi kok murah banget sampai orang-orang mau masuk penjara,” ujar mbokdhe.

“Lha kok 4 miliar, wong cuma urusan duit ratusan ribu saja orang bisa sampe mbunuh kok.” Tutur Kang Noyo sengit.

Konon suaminya mbokdhe ini punya buanyak sekali kios bensin, yang jumlahnya makin banyak saat beliau menjabat sebagai lurah. Jadi mungkin urusan duit memang beliau kurang peka, lha wong ndak biasa kurang duit. Tapi ini cuma katanya lho ya…

Dan mungkin untuk meninggikan posisi Persatuan Mbok-mbok Berdikari yang sejatinya ditujukan untuk kaum perempuan, beliau menunjukkan sebuah fakta, paling ndak menurut beliau ini fakta.

“Berdasarkan hasil survei, yang biasanya melakukan korupsi itu bapak-bapak,” kata mbokdhe. Hal ini konon berdasarkan riset yang dilakukan di Amerika Serikat.

“Laki-laki mencari dan perempuan menyimpan.” Tutur si mbokdhe.

Saya ndak begitu konsen sama ceritanya Kang Noyo yang makin lama makin ngelantur. Saya cuma berpikir pastilah bapaknya si mbokdhe ini orang yang sangat hebat, wong hanya dengan menjadi keturunannya saja bisa menarik begitu banyak pengikut, konon setelah mbokdhe ndak mau nyalon jadi lurah lagi anaknya yang akan meneruskan trah kepemimpinan.

“Mbah saya dulu lurah, Simbok saya pun lurah, tentunya saya juga bisa jadi lurah.” Kata anaknya yang kebetulan juga perempuan.

“Trus sampeyan kok anyel banget sama mbokdhe kenapa tho Kang? Wong kenal juga ndak.” Tanya saya.

“Lha mau ndak anyel piye, dia itu ngomongnya ndak cerdas, ndak konsisten.” Kang Noyo bersungut-sungut.

“Ndak cerdas? Ndak konsisten…?”

Kalo melihat cara sampeyan dengan nggragasnya ngambil rokok saya kesimpulannya cuma satu : sampeyan anyel karena waktu itu sampeyan ndak dapet rokok.

Jiyan!

14 comments on “Mbokdhe Dari Kampung Sebelah

  1. pd bowo mengatakan:

    lagi mbahas ovj ya mas, cen ngguyokke

  2. chocoVanilla mengatakan:

    Err, aku kok jadi membayangkan si Mbokde ini pake kebaya merah ya? Eh, mbuh ding:mrgreen:

    Untung dia ndak mbikin PSSI (Persatuan Simbok-Simbok Ingusan) yo? Wong masih ingusan kok mau nyalon jadi Lurah:mrgreen:

    Hush! Ngumpet aaahhh…..😛

  3. blanthikayu mengatakan:

    mbokdeee…mbokdeee..mbokyao wes lenggah anteng, momong putu ae…. *sok kenal karo mbokde* :p

  4. andipandora mengatakan:

    ikut menyimak gan..btw nice info

  5. pipitta mengatakan:

    wahahahaaa.. mastein.. makin lama makin cihuy aja nih nulisnya😀
    cerdas euyyyyy…. *menjura-jura*

  6. terimakasih buat infonya …
    salam kenal ……….

  7. susihariyanti mengatakan:

    artikel yang sangat menarik ,
    tapi untuk tau lebihnya lagi kunjungi aja websiti kami di http://ict.unsri.ac.id
    terima kasih.

  8. dheta mengatakan:

    waaaa bagus banget artikel,jadi suka ni……ada baiknya juga nanti kunjungi website kami di http://ict.unsri.ac.id terima kasih.

  9. surya mengatakan:

    Terima kasih atas infonya,mungkin kita bisa bertukar informasi melalui http://unsri.ac.id

  10. zaldy mengatakan:

    terimah kasih ya,,,,,, infonya bagus bnget ya!!!

    kita bisa bertukar infokan ,,, liat infonya disini ya : http://www.unsri.ac.id/

  11. Jikuns mengatakan:

    hahaa mbok darmi. guyonan kalo buat bercanda sama temen2 ku.

    Pintu dan Jendela

  12. megahindra mengatakan:

    Owalah… Kang… Kang… Mergo ra entuk rokok kok ndadakan nyebut-nyebut kalo mbokdhe ki ngomongnya ndak cerdas, ndak konsisten. Rokok… Rokok… Kau telah meracuni kang Noyo. Nek teko kumpulan ki intine iso udud gratis… Hehehe. Top dah! Salam hangat buat kang Noyo yoh mas… Suwun.

  13. […] Mbokdhe Dari Kampung Sebelah « mas stein – Err, aku kok jadi membayangkan si Mbokde ini pake kebaya merah ya? Eh, mbuh ding Untung dia ndak mbikin PSSI (Persatuan Simbok-Simbok Ingusan) yo?… […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s