Tawar-menawar Sedekah

jagung bakar

Dulu waktu masih bujang, saat pulang ke kampung saya selalu nanya ke tukang ojek yang akan mengantar saya dari tempat pemberhentian bis di kecamatan ke kampung saya yang ndeso pelosok itu, “Berapa Mas?”

Bukan karena saya kuatir ndak mampu mbayar, saya cuma pengen ngetes seberapa tingkat ketulusan dia jadi tukang ojek. Setau saya harga wajar ojek ke rumah waktu itu sekitar 6-7ribu, kalo dia nawarin seharga itu biasanya orangnya saya kasih 10-15 ribu. Tapi kalo dia nawarin 15 ribu saya akan tawar dengan agak ngotot sampe turun jadi 6-7ribu, dan ndak akan saya tambahi! :mrgreen:

Tawar-menawar memang bukan melulu soal memberi sesedikit mungkin untuk memperoleh hasil maksimal, bukan hanya soal kemampuan dan kebutuhan, tapi juga soal kepuasan.

Suatu saat waktu lagi jalan di Malioboro saya naksir sama sebuah hiasan meja berbentuk gitar kecil, saya tanya, “Berapa Mas?”

Kata penjualnya, “50 ribu saja, murah.”

Saya punya temen yang pernah jualan di Malioboro, dia bilang penjual di situ ada yang menawarkan barang dengan harga dua kali lipat harga sebenarnya. Hal itu dilakukan karena jarang orang yang berani nawar hingga separo harga, sehingga berapapun nanti harga yang disepakati dia akan dapet untung.

Itu terbukti, saya ndak berani nawar separo harga, “35 ribu yo Mas?”

Penjualnya langsung mengangguk. Barang dibungkus dan saya pergi dengan hati ndongkol, dalam hati saya mbatin, “Asem! Harusnya tadi ditawar lebih rendah lagi!”

Sampeyan mungkin juga pernah merasakan hal yang sama. Bukan karena duitnya, tapi lebih karena tawar-menawar yang dilakukan rasanya ndak maksimal. Rasanya kurang lega. Beda kalo misalnya saya sampe ngomong, “Ndak mau ya sudah!” Pura-pura pergi dan kemudian penjualnya memanggil untuk mengiyakan. Ritual yang hampir basi tapi tetep menyenangkan.

Makanya walaupun rasanya agak miris tapi saya bisa memahami mbok-mbok di pasar yang kadang untuk harga seratus dua ratus perak saja masih pake nawar. Bukan masalah duitnya, tapi kepuasan batin.

Berarti tawar menawar hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan dengan itung-itungan ekonomis, serta untuk mencari kepuasan batin?

Awalnya saya juga berpikir seperti itu, sampe suatu saat saya membaca tulisan Emha Ainun Najib alias Cak Nun.

Ilmunya penjual jagung asal Madura di Malang tahun 1976 saya pakai sampai tua. Saya butuh 40 batang jagung bakar untuk teman-teman seusai pentas teater, tapi uang saya kurang, hanya cukup untuk bayar 25, sehingga harga perbatang saya tawar. Dia bertahan dengan harganya, tapi tetap memberi saya 40 jagung.

“Lho, uang saya tidak cukup, Pak”

“Bawa saja jagungnya, asal harganya tetap”

“Berarti saya hutang?”

“Ndaaak. Kekurangannya itu tabungan amal jariyah saya”.

Logika saya masih ndak njangkau untuk mencerna cerita terakhir. Jiyan!

gambar diambil tanpa permisi dari sini

12 comments on “Tawar-menawar Sedekah

  1. christin mengatakan:

    Saya diajarin ibu saya nawar sampe titik darah penghabisan… sempet ‘menguasai ilmu’ itu sih beberapa saat tapi trus saya sadar kalo saya orangnya gak tegaan nawar terlalu rendah, karena abis dapet barang yang ditawar lalu ngerasa bersalah sama yang jual 😆

  2. big sugeng mengatakan:

    Tukang jagung itu ingin bilang bahwa kalau jual beli itu yaa berarti harus jelas itunganya, tapi kalau keiklasan dan sedekah yaa beda urusan.

    Kalau saya bilang sama anak saya, tawar menawar adalah bagian dari teknik negosiasi, kalau diam ya nggak bakalan dapat, tapi kalau iseng nawar kan siapa tahu hasilnya buat yang lain misalnya bisa buat mbayar ongkos becak dsb.

    nah kalau tukang becak di malioboro pasti nawarin kita muter2 “hanya” lima ribu rupiah. Soalnya dia mengharapkan fee dari pemilik toko batik, dagadu plasu dan bakpia. Kalau belanja 600 rb mereka bisa dapat feenya 20%(untuk barang toko itu, 5 % untuk barang konsinyasi) an lho… sudah gitu ramah dan mbantu ngangkatin barang … akhirnya kita nambah mbayarnya bukan 5 rb tapi 50 rb.

  3. desty mengatakan:

    saya sebenarnya ga bs nawar. tapi kalo harganya kebangetan naiknya dr harga biasanya ya nawar jg.. 😀

  4. pandaya mengatakan:

    saya liat2 yang jual mas kl mau nawar
    kl udah melas bgt pasti saya ga tega nawar

  5. novee mengatakan:

    taktik saya berbelanja. selalu memberikan tawaran awal kurang dari 1/2 harga yg ditawarkan..contohnya:
    kalo si penjual menjual sesuatu seharga 50 rb, maka akan saya tawar 15-20 rb, jadi kalopun ngotot2an sampe tarik2an urat leher..harga yg biasanya disepakati bisa berkisar 23-27 rb…& taktik ini biasanya efektif!

  6. soyjoy76 mengatakan:

    Sama mas…saya juga ndak mudeng sama cerita yang terakhir.

    Fitrahnya lelaki emang rada susah kalau tawar menawar barang mas.. Tanya harga…mikir bentar… tawar sedikit….ditolak….cabut dompet…bayar.. 🙂

  7. deady mengatakan:

    set dahhh
    tukang jagung yang tulus dan total banget nyari pahala yaaa

  8. mawi wijna mengatakan:

    khusus belanja di Pasar, saya ndak mau tawar-menawar.

  9. Rian mengatakan:

    aku paling lemah dan selalu kalah dalam hal tawar menawar.

  10. Mas Ben mengatakan:

    Hahaha, yang penting jangan jajan bakso atau es dawet di sekitaran jala perwakilan dan gedung DPR … wo mesti kagol tur kapok wis … hahhaha

    Salam bentoelisan
    Mas Ben

  11. Social comments and analytics for this post…

    This post was mentioned on Twitter by mangroll: Tawar-menawar Sedekah: Dulu waktu masih bujang, saat pulang ke kampung saya selalu nanya ke tukang ojek yang akan… http://bit.ly/cIRyzw

  12. kressek mengatakan:

    bagus sekali mas artikelnya, izin copas di http://www.kressek.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s