Kesadaran yang Membelenggu

Saya teringat ramadhan waktu masih kecil dulu, malem-malem mau ke berangkat ngaji dan saya ketakutan karena harus lewat sawah dan kuburan, orang-orang akan bilang, “Ndak usah takut, sekarang kan bulan puasa, setan lagi pada dirantai, ndak bisa kemana-mana.”

Sedikit tenanglah saya, dalam bayangan saya waktu itu segala jenis jin, setan, dedemit, prewangan sedang dikerangkeng dalam rangka menyambut ramadhan. Ndak perlu takut waktu lewat pojokan kuburan yang jauh dari rumah penduduk itu mak bedunduk tau-tau muncul sosok pocong atau kuntilanak. Pokoknya kita tenang jalan malem kemana-mana waktu bulan puasa karena semua setan dibelenggu.

Waktu beranjak remaja pemahaman saya berubah, ternyata jin, setan, dedemit, dan prewangan itu banyak macemnya, dan ndak semua dibelenggu waktu bulan puasa. Jadi cuma iblis dan anak turunnya saja yang dibelenggu, soalnya mereka ini suka menggoda manusia untuk berbuat dosa. Mereka dibelenggu biar umat Islam puasanya ndak ada gangguan. Yang berarti juga kalo malem-malem saya kembali harus waspada, jangan sampe waktu jalan sendiri tau-tau ketemu mbak-mbak berambut panjang berbaju putih dengan punggung berdarah lagi ketawa ngikik di bawah rumpun bambu.

Waktu itu mulailah saya bertanya-tanya, “Kalo memang semua setan dikerangkeng, kenapa masih ada yang berbuat dosa waktu bulan Ramadhan?”

Seharusnya kalo iblis dan bala tentaranya sudah dibelenggu di tempat semacam penjara azkaban ala Harry Potter berarti gak ada yang bisa menggoda manusia dong? Lha kok masih ada yang tergoda?

“Yo kuwi Le, kadang orang suka salah kaprah, apalagi yang otaknya pas-pasan macem kamu.” Celetuk Kang Noyo.

Asyem!

Seorang guru saya pernah bilang begini, “Pada saat sampeyan pulang dari kuburan, setelah nganter jenazah, orang tua akan menyuruh untuk cuci kaki. Orang kadang berpikir kalo itu adalah tradisi jawa yang cenderung klenik, karena katanya kalo pulang dari kuburan ndak cuci kaki bisa sawanen. Padahal isi nasihat yang terkandung bukan itu, cucilah kaki sampeyan sepulang dari kuburan, maksudnya bersihkan langkah yang masih akan sampeyan jalani dalam hidup karena nanti pada saatnya sampeyan akan mati seperti orang yang baru saja sampeyan antar ke kuburan.”

Nasihat yang diajarkan turun temurun dari mbah-mbah dulu memang sering disalahpahami, lebih sulit lagi karena budaya ewuh pakewuh yang sangat kental di jawa membuat penerus keturunan macem saya ini ndak bisa berkutik menghadapi penghalang mati bernama gak ilok. Pokoknya take it for granted lah.

“Dan sepertinya kesalahpahaman itu masih tetep ada sampe sekarang yo Le.” Kata Kang Noyo seraya mengambil sebatang rokok saya, persiapan menyambut adzan maghrib.

“Salah paham opo Kang?”

“Sampe sekarang masih ada pihak-pihak yang berkeyakinan kalo waktu ramadhan begini setan-setan memang seharusnya dibelenggu, tapi mereka sama bingungnya kayak kamu, pada saat setan seharusnya dibelenggu kok masih banyak yang tergoda? Sama bingungnya seperti jaman kecilmu.”

Trus?

“Akhirnya mereka membelenggu semua yang bisa berpotensi menimbulkan godaan, semua tempat yang mereka anggap bagian dari iblis, mulai dari tempat pelacuran, panti pijet, sampe warung makan.” Papar Kang Noyo.

“Kalo memungkinkan, bisa saja suatu saat mbak-mbak yang pada make tank top sama rok kelewat pendek itu bakal disegel.”

Halah!

Ramadhan adalah bulan kesadaran. Bukanlah setan dibelenggu yang membuat manusia mampu menahan godaan, tapi sebaliknya, karena manusia mampu menahan godaan lah maka iblis menjadi terbelenggu.

Ngomong-ngomong, judulnya sedikit menyesatkan. Saya sempat berpikir seharusnya judul yang lebih pas adalah, “Belenggu itu Bernama Kesadaran”, atau mungkin dibuat lebih sederhana, “Belenggu Kesadaran.” Tapi itu pun tetep ndak akan pas, karena walaupun kesadaran itu awalnya adalah sesuatu yang membelenggu, tapi pada saat kesadaran itu bener-bener telah berwujud sebuah kesadaran maka seharusnya ndak akan ada lagi rasa terbelenggu.

Ah sudahlah, semakin banyak saya ngomong semakin banyak pula salahnya. Lagian siapa tho saya ini? Wong buruh pabrik yang ngaji alif ba’ ta’ saja belom khatam sok-sok mbuka lapak pengajian.

Selamat menikmati sisa-sisa Ramadhan, semoga kita bisa mengais berkahnya, dan diberi kesempatan untuk bertemu lagi di tahun-tahun yang akan datang.

15 comments on “Kesadaran yang Membelenggu

  1. clingakclinguk mengatakan:

    setuju mas, kalau sudah sadar seharusnya ndak perlu lagi ada perasaan terbelenggu, sadar yang diiringi keikhlasan.

    #stein:
    atau ikhlas yang dibarengi kesadaran😀

  2. mikhael mengatakan:

    kalau iman kita sekeras gunung batu maka godaan kayak apapun niscaya tidak akan sanggup menggoyahkan kita. sehingga tidak perlu ada usaha orang mencari nafkah yang sampai dibredel *halah*😀

    #stein:
    nah itu, tapi mbuhlah dari tahun ke tahun ya masih begitu saja

  3. Abi Sabila mengatakan:

    Di bulan Ramadhan setan memang dibelenggu, tapi bila masih ada maksiat di bulan yang penuh rahmat, itu karena hasil didikan setan yang sudah berurat akar di hati ahli maksiat, yang menjadikan setan sebagai teman, bisikannya jadi tuntunan, maka Ramadhan tinggallah bulan yang hanya terlihat di siang hari orang tidak minum dan tidak makan. Astaghfirulloh!
    Semoga kita bisa memanfaatkan Ramadhan penuh barokah ini untuk melatih diri sebelas bulan kedepan. Insha Allah.

    #stein:
    amien, pak ustadz😀

  4. Mz Fer mengatakan:

    nice article bro😀
    ancene saiki salah kaprah, setan bukan hany mahluk dedemit saja, tapi manusia jg bs menjelma jad setan. memang butuh kesadaran untuk membelenggu setan yg bergentayangan😀

    #stein:
    tumben mampir gus😀

  5. lilliperry mengatakan:

    benar mas, sebetulnya banyak kearifan dari petuah2 orang2 tua jaman dulu.
    salah kaprahnya mungkin karena dimulai dari ‘di bulan puasa setan2 dibelenggu’ sementara kesadaran manusianya gak meningkat2.
    *iki komen opo tho, serius banget*😀

    nice artikel mas..

    #stein:
    sampeyan memang biasa nulis serius tho?🙂

  6. rully mengatakan:

    Kalo liat hadits nya Rasulullah, ya memang setan tu dibelenggu. Entah dibelenggu dalam artian fisik atau tafsir lain.
    Intinya, kalau pas ramadhan masih ada yang berbuat dosa berarti bukan dari setan, tapi dri hawa nafsu si manusia itu sendiri. Adanya bulan ramadhan membuat manusia bisa mengenali dirinya, ternyata kesalahan dan dosa yang dibuat itu selain karena bisikan setan, juga karena dorongan hawa nafsunya. Gitu kayaknya hehehehe…
    btw, kalo kata temenku sesama buruh, peraturan tutup diskotik, keharusan warung makan pake penutup saat siang, itu salah satu bentuk “pelecehan”. Emang iman kita segitu kecilnya, sampek harus dijaga supaya gak tergoda… hehehehehehehe….
    Ayo mas, wes pirang wulan kok kosong postingan anyar. sibuk yo? hehehehehe….

    #stein:
    saya sih kemaren denger di pengajian kayak gitu mbak, wallahua’lam. lagi mual mbak, muales😆

  7. Asop mengatakan:

    Semoga kita bisa mempertahankan rutinitas ibadah kita di bulan ramadhan kali ini hingga tahun-tahun mendatang, dan bahkan kalo bisa lebih baik, lebih bagus.🙂

  8. chocoVanilla mengatakan:

    Itu pertanyaan yang sama yang belum lama kuajukan ke suami. Padahal aku wis tuwo bukan kanak2 lagi😳

    Maklumlah….😛

    welkam bek, Mas:mrgreen:

  9. Emanuel Setio Dewo mengatakan:

    Setuju…
    Sementara komen saya ini saja dulu. Hehehe…

    Salam

  10. hamzah mengatakan:

    kitalah yang membuat setan terikat dengan menjaga diri…

  11. moody mengatakan:

    tapi sekarang setannya sudah lepas lagi,,, hayyooo….

  12. wadems mengatakan:

    hahahha…
    begitu ya… waduh sayang ramadhan lewat baru saya tau…

  13. gsi mengatakan:

    setan itu kan juga dipikiran manusia, jadi yang dibelenggu itu pikiran setannya manusia kali!! haahaha

  14. golongan setan itu dari jin dan manusia (Q.SAn-Nas)

  15. seagate mengatakan:

    Barangkali pertanyaan sampeyan juga sama dengan pertanyaan saya dulu, saya pernah menanyakannya kepada guru agama jaman SMP dulu, “kalau memang di bulan puasa setan dibelenggu, kenapa masih ada kemaksiatan?” beliau menjawabnya “walaupun setan dibelenggu, tidak otomatis kemaksiatan langsung berhenti karena di bulan-bulan sebelumnya maksiat sudah banyak, ibaratnya seperti kereta api yang melaju kencang, tiba2 di rem, pasti ga langsung berhenti tapi pasti masih jalan pelan”. Logikanya bener tapi tetep ga menjawab pertanyaan.
    Menurut saya, orang “melanggar” itu ada empat alasan :
    1.Lupa, 2.Ndak tahu ilmunya, 3. Digoda setan dan 4. Sengaja
    jadi walaupun di bulan puasa setannya di belenggu, masih ada alasan yang buat orang berbuat maksiat.

    nice posting mas, sorry kalo kepanjangan komennya hehe

    salam kenal

    #stein:
    matur nuwun sharingnya mas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s