Belajar Tanggung Jawab

Barra & Haidar

Barra (belakang), Haidar (depan)

Pagi ini di rumah saya terjadi ritual seperti biasa, semua terlihat sibuk. Saya bersiap mburuh, istri saya juga, precil saya yang kedua lagi disuapi sama Mbahnya. Kecuali satu orang, precil saya yang pertama masih tiduran di depan tipi, kombinasi antara terkantuk-kantuk dan menikmati pilem kartun.

“Mas, ayo mandi. Kamu kan sekolah.” Terdengar suara istri saya.

Precil saya cuma ngulet, “Aku gak mau sekolah.”

Welhah! Lha kok enak?

Tapi berhubung katanya hubungan orang tua dan anak ndak boleh otoriter dan harus ada komunikasi dua arah, istri saya nanya, “Kenapa ndak mau sekolah?”

“Aku gak mau mandi! Gak mau sekolah!” Precil saya mulai cemberut sambil mengeluarkan nada tinggi.

Saya menduga istri saya bakal mulai ngomel, tapi ternyata ndak.

Dengan tenang istri saya mendekati si precil, “Ya udah kalo ndak mau sekolah, tapi ngomongnya jangan sama Ibu. Mas Barra kan gurunya Bu Nani, Mas Barra ngomong sendiri sama Bu Nani ya? Bilang hari ini ndak mau sekolah.”

Ditelponlah si Bu Nani, guru precil saya di Taman Kanak-Kanak.

“Bu Nani, ini Mas Barra mau ngomong.” Kata istri saya sambil menyodorkan HP.

Precil saya makin cemberut, “Aku gak mau ngomong, kamu saja!”

“Lho katanya tadi Mas Barra mau bilang ke Bu Nani, ayo ini sudah Ibu telponkan, ayo ngomong.” Kata istri saya.

Cerita di atas adalah salah satu kejadian waktu mengajari si precil salah satu hal pokok dalam hidup: tanggung jawab. Saya ndak mau anak saya dari kecil sudah belajar untuk lari dari masalah.

Mungkin sampeyan mikir jangan-jangan di sekolah ada masalah yang membuat precil saya males? Mungkin saja. Karena tiap anak memiliki sifat berbeda dan tiap lingkungan juga membuat tantangan berbeda maka kita wajib melakukan orientasi dulu sebelum memutuskan metode apa yang bakal dipakai dalam mendidik anak.

Saya pernah beberapa jam mencueki anak saya, dia ngomong apapun saya pura-pura ndak denger. Gara-garanya dia sempet marah dan memukul saya. Saya ndak ngomel, saya tau dia tipenya emosian dan gampang meledak, mirip saya. Tapi saya mengharuskan dia minta maap, sesuatu yang pasti berat karena gengsinya tinggi, mirip-mirip saya juga. *halah!*

Dengan mengajari dia untuk memungut sendiri benda yang dia jatuhkan, merapikan yang dia buat berantakan, mengelap air yang dia tumpahkan, saya berharap dia belajar arti tanggung jawab. Dan kalo semua orang tua sedari dini mengajari anaknya arti tanggung jawab, saya berharap paling ndak di masa depan Indonesia akan dipenuhi orang-orang yang punya rasa tanggung jawab, semoga.

17 comments on “Belajar Tanggung Jawab

  1. ulan mengatakan:

    pertamaaaaaaaaaakkk

  2. ulan mengatakan:

    weh cara mendidik yang baik itu mas, gitu donk orang tua, oalah, baru sekarang buka buka an keluarga mas, biasa nya foto aja helem an 😛

  3. christin mengatakan:

    Wahh.. Terimakasih sudah berbagi. Iya ya karakter tiap anak kan beda-beda… Mesti tau si anak tipenya seperti apa.

    Jadi takut punya anak… *eh*

  4. nurdin mengatakan:

    “saya berharap paling ndak di masa depan Indonesia akan dipenuhi orang-orang yang punya rasa tanggung jawab, semoga”…..

    Mari kita sama sama berusaha ya….Amin

  5. Afa mengatakan:

    like this ah… patut digugu dan ditiru

  6. Asop mengatakan:

    Oalaaah, like father like son, muirip kayak Mas Stein gengsi dan emosinya. :mrgreen:
    Hebat, bagus, sejak kecil udah diajari tanggung jawab. 🙂

  7. Mas Adien mengatakan:

    anak kecil gampang meniru…karna mereka belum baligh jadi belum bisa membedakan mn yg pantas ditiru mn yg tidak…so..

  8. harikuhariini mengatakan:

    Wueedddeehhh..
    Bisa dijadikan contekan untk mendidik anak nh. Tengkiu mas..

  9. toko online mengatakan:

    Betul sekali mas, rasa tanggung jawab itu memang diajarkan dari kecil..saya salut dengan cara mendidik anda.

  10. Chic mengatakan:

    Hahahahaha kok saya sama persis kayak cara saya mendidik Vio… 😆
    Marah-marah ga menyelesaikan masalah kok memang. Jadi, kalo Vio lagi tantrum ya saya biarin aja dulu sampe marahnya reda.. baru abis itu ajak ngomong baik-baik :mrgreen:

  11. chocoVanilla mengatakan:

    Aiih, lucunya itu si kecil, montok banget 😀

    Betul mas, anak emang harus diajar tanggung jawab sejak kecil. Berani berbuat harus berani menanggung resiko 😀

  12. ferry mengatakan:

    hoo,
    setuju dengan postingan mas Stein..
    mendidik anak dengan contoh…

    two thumbs up.. ^^

  13. ndaru mengatakan:

    belum dikenalin sama kang noyo to?

  14. dewira mengatakan:

    Ibu yang cerdas 🙂

    ..mengelap air yagn ditumpahkan..
    Ada pengalaman yang gregetan ttg ini. Satu kali saya berkunjung ke rumah kerabat yang kuayaaa ruayyaa.
    Nah saat ngobrol dengan istrinya anak sulungnya yang sudah kls 5 SD menumpahkan air minum di meja. Bukannya nyuruh anaknya ngelap air tumpahan itu malah ibunya nyuruh manggil pembantu untuk membersihkannya. Padahal anaknya dah segede gitu. Ya amplop. Dont try this at home.

  15. Ria mengatakan:

    wow…really nice mas!
    memang anak2 itu harus diajari cara bertnggung jawab dari kecil, kalau gak nanti malah sampe besar gak gerti bagaimana memanage tanggung jawabnya.

    Thanks mas…atas postingannya 😉

  16. Yohan Wibisono mengatakan:

    Nice Article, inspiring. Aku juga suka nulis artikel bidang bisnis di blogku : http://www.TahitianNoniAsia.net, silahkan kunjungi, mudah-mudahan bermanfaat. thx

  17. Vie mengatakan:

    Saya suka artikel ini. Dukungan penuh untuk seseorang diajari tanggungjawab sejak kecil. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s