Belajar Tanggung Jawab

Barra & Haidar

Barra (belakang), Haidar (depan)

Pagi ini di rumah saya terjadi ritual seperti biasa, semua terlihat sibuk. Saya bersiap mburuh, istri saya juga, precil saya yang kedua lagi disuapi sama Mbahnya. Kecuali satu orang, precil saya yang pertama masih tiduran di depan tipi, kombinasi antara terkantuk-kantuk dan menikmati pilem kartun.

“Mas, ayo mandi. Kamu kan sekolah.” Terdengar suara istri saya.

Precil saya cuma ngulet, “Aku gak mau sekolah.”

Welhah! Lha kok enak?

Tapi berhubung katanya hubungan orang tua dan anak ndak boleh otoriter dan harus ada komunikasi dua arah, istri saya nanya, “Kenapa ndak mau sekolah?”

“Aku gak mau mandi! Gak mau sekolah!” Precil saya mulai cemberut sambil mengeluarkan nada tinggi.

Saya menduga istri saya bakal mulai ngomel, tapi ternyata ndak. Baca lebih lanjut

Semoga Bukan Ritual Semata

Ada seorang ustad dalam pengajian yang pernah saya ikuti bercerita, beliau punya langganan warung soto di daerah Wajak, sekitar 35 km arah tenggara dari Malang. Pemilik warung soto ini pasangan suami istri yang sudah berumur. Suatu saat waktu beliau datang ke sana si bapak pemilik warung ternyata sudah meninggal, dan yang menarik perhatian ustadz saya adalah (menurut cerita sang istri) si bapak pemilik warung ini bisa tau kapan beliau akan meninggal.

“Hari Minggu yang akan datang, jam tujuh pagi, nyawaku akan dicabut Gusti Allah.” Kata bapak pemilik warung.

“Jangan guyon tho Pak.” Sang istri ndak terlalu menanggapi.

Selama seminggu itu si Bapak pemilik warung pamitan dan minta maaf ke sanak famili serta tetangga. Sampai akhirnya datanglah hari Minggu pagi. Baca lebih lanjut

Jadi Buruh Jangan Kecil Hati

Ketika masih mburuh di Probolinggo dulu saya pernah ketemu seorang pengusaha yang cukup terpandang di sana. Beliau ini dulunya seorang pegawai di Pemda setempat yang kemudian memilih pensiun dini, setelah sempat luntang-lantung akhirnya beliau berhasil membangun bisnisnya sendiri. Sukses dan kaya.

Beliau ngomong sama saya, “Sampeyan jangan mau terus-terusan jadi buruh, harus punya target, umur sekian berhenti dan jadi pengusaha. Kalo ndak ya sampeyan ndak akan bisa sukses.”

Saya liat memang kata-kata beliau masuk akal. Kalo jadi buruh ya begini-begini saja, hidup nunut sama orang. Tokoh-tokoh yang sukses macem Ciputra atau Bob Sadino pun saya dengar sering menekankan pentingnya semangat enterpreneurship, jangan mau sekedar jadi pegawai. Kalo mau kaya jadilah pengusaha. Jiyan! Melas tenan rasanya jadi buruh pabrik macem saya, rasanya jadi ndak berharga. Baca lebih lanjut

Bolehkah Menikah Siri?

Yang saya tau pernikahan adalah hal yang membahagiakan, oleh karena itu dianjurkan bagi keluarga pengantin untuk membuat sukuran dengan dua tujuan : berbagi kebahagiaan dan menyebarkan berita perkawinan. Berita bahagia sudah selayaknya disebarkan tho?

Makanya saya heran kok ada istilah nikah siri, siri itu rahasia, nikah kok dirahasiakan?

“Bukan dirahasiakan! Nikah siri itu maksudnya nikahnya sah menurut agama tapi ndak didaftarkan ke KUA.” Cetus Kang Noyo.

“Bodoh aja perempuan yang mau diajak nikah siri!” Lanjut temen pabrik yang sudah banyak membantu nulis di blog jelek saya itu.

Bodoh? Kok ndak enak bener pilihan katanya. Baca lebih lanjut

Selamat Jalan Gus Dur

Apa yang terlintas di benak sampeyan waktu mendengar nama Gus Dur? Presiden keempat RI yang suka guyon? Cucu Kyai Hasyim Asyari yang nyeleneh? Pernyataan-pernyataan yang kontroversial? Pencabutan Ketetapan MPRS yang mengekang hak anak cucu pengikut PKI? Penghapusan diskriminasi etnis Tionghoa?

Bagi saya Gus Dur adalah tipe orang yang ndak suka basa-basi politik. Beliau bukan manusia sempurna karena memang ndak ada manusia yang sempurna. Tapi di balik tindakan dan pernyataan beliau yang kadang kontroversial selalu ada tujuan yang kadang bagai terselimuti kabut bagi sebagian orang.

Ini salah satunya, mungkin di antara sampeyan masih ada yang ingat soal naga hijau, yang sempat populer sekitar tahun 1997-1998. Waktu itu terjadi kerusuhan di beberapa daerah yang merupakan basis warga Nahdlatul Ulama. Terakhir beredar isu tentang dukun santet, dan dimulailah pembunuhan orang-orang yang diduga menjadi dukun santet oleh sekelompok orang yang berpakaian ala ninja. Baca lebih lanjut

Buku Ngerumpi yang (Konon Bakal) Dicekal

Sampeyan tentu sudah mendengar bahwa PBNU memfatwa haram infotainment yang bersifat ghibah, ngrasani, membuka dan menelanjangi aib orang. Untuk alasan-alasan tertentu saya bisa memahami keluarnya fatwa itu, kadang gosip itu menyakitkan, dan celakanya sering berlaku pameo tragedi bagi orang lain adalah komedi bagi sebagian lainnya.

Sampeyan tau dimana gosip biasa diperbincangkan selain di acara infotainment? Tentu saja di ajang ngerumpi. Mbok-mbok ngumpul di teras rumah, nyari kutu sambil nyari-nyari gosip terbaru, ngomongin aib sambil ketawa-tawa melepas kepenatan hidup. Tinggal menunggu waktu saja sampe MUI mengeluarkan fatwa ngerumpi itu haram.

Sekarang coba sampeyan bayangkan hasil dobosan di forum ngerumpi seperti itu dikumpulkan trus dijadikan buku. Bagaimana kira-kira reaksi masyarakat? Opo ndak haram kuadrat itu namanya?? Baca lebih lanjut

Infotainment Diharamkan?

Selama libur empat hari kemaren saya nyaris ndak online blas, hanya sesekali mbuka twitter di sela-sela ngurusi bapak dan simbok saya yang dateng dari kampung, juga mbakyu dari Jogja yang baru sekali ini sempat dolan ke Malang.

Ada yang agak ngganjel di pikiran saya waktu beberapa orang di twitter mengomentari pendapat menteri agama yang mendukung fatwa haram NU atas infotainment yang bersifat Ghibah.

Awalnya ada memberi link berita di Tempo Interaktif dan bilang, “Kenapa jadi seperti ini?”

Mungkin yang bersangkutan menyesalkan kenapa ribut-ribut Luna Maya dan beberapa wartawan infotainment jadi melebar sampai harus keluar fatwa haram. Baca lebih lanjut