Bertahan Hidup di Tanggal Tua

Piala Dunia memang luar biasa, ndak setiap hari saya bisa melihat bendera-bendera negara asing berkibar di sela-sela gang sempit, melambai dengan gagahnya di atas rumah-rumah reot yang ada di sekitar pabrik tempat saya mburuh. Agak miris juga sebenernya, melihat ukurannya yang sakhohah alias besar sekali, lebih besar dari ukuran bendera merah putih yang mereka pasang waktu tujuhbelasan. Saya ndak mau berprasangka lebih jauh tentang nasionalisme, ini cuma euforia yang ada sekali dalam empat tahun, hiburan yang ndak mengenal kasta.

Tapi ada satu hal yang ndak berubah walaupun dengan serunya hingar bingar piala dunia, bahwa sekarang saya lagi mengalami masa paceklik bulanan yang disebut tanggal tua. Seheboh-hebohnya orang nonton bola tetep butuh makan tho? seseneng-senengnya orang yang semalem liat tim jagoannya menang, mereka juga tetep butuh sarapan.

Satu bulan kalo kata guru SD saya dulu terdiri dari empat minggu, begitu anggaran belanja sudah saya bagi dalam empat minggu ternyata waktu saya liat kalender bulan ini ada lima minggu, mumet tho? Sudah begitu ndak tau kenapa bulan ini banyak orang hajatan, hampir tiap minggu saya harus menyiapkan amplop beserta isinya buat kondangan, makin mumet saya.

“Tumben berapa hari ini kok kamu ndak pernah keliatan di warung Mbok Darmi, memang tipimu sudah bisa nangkep siaran piala dunia po?” Tanya Kang Noyo tadi pagi waktu ketemu di pabrik.

Saya mau terus terang itu ya ndak enak, tapi kadang Kang Noyo memang agak-agak keterlaluan, saat tanggal tua begini nonton piala dunia 2 x 45 menit mata melotot liat tipi ya rokoknya masih ndak modal. Dompet saya bisa sekarat duluan kalo tiap hari nonton di warung Mbok Darmi sama dia.

“Saya nemeni istri nonton di rumah Kang, biar gambarnya rada bruwet-bruwet yang penting bolanya masih keliatan,” Jawab saya beralasan.

Ndobos berlanjut dengan ngobrol acara penerimaan raport, soal orang tua yang pada mumet mau masukin anaknya ke SD mana. Beberapa orang tua di TK tempat anak saya sekolah pada mindahin anaknya ke yayasan tertentu yang selain menaungi TK juga ada SD sampe SMP, dengan alasan nantinya waktu masuk SD biar ndak repot karena yayasan itu memprioritaskan lulusan dari TK-nya sendiri. Juga soal cerita dari guru anak saya yang bilang kalo Diknas mewajibkan anak-anak TK nol besar mampu melakukan penjumlahan sampe tigapuluh.

Dobosan ndak mutu dari dua orang buruh pabrik yang pada waktu-waktu tertentu kadang merasa lebih intelek dari para pembuat kebijakan negeri ini, seperti biasanya.

“Eh, ngomong-ngomong abis nerima raport anakmu mbok ajak kemana Le?” Tanya Kang Noyo tiba-tiba.

“Mm… Cuma ke Batu Kang, ke museum satwa di Jatim Park II,” Jawab saya. Sengaja ndak cerita kalo di sana cuma nongkrong-nongkrong di tempat parkir liat pemandangan, lha tiket masuknya 25ribu je! Ini kan sudah tanggal tua.

Soal belanja dapur saya lumayan terbantu oleh Gusti Allah, yang telah menyuruh beberapa tanaman tumbuh di pekarangan saya. Jadi ndak tau kenapa ternyata di rumah saya itu tumbuh beberapa taneman, lumayan bisa ngirit duit belanja.

cabai rawit

cabai rawit

tomat

buahnya lumayan banyak

bayam

sayuran gratis

Saya jadi berpikir untuk nyari pot, trus nanti nanem lebih banyak, siapa tau nanti bukan cuma bisa nutup kebutuhan sendiri, malah bisa dijual. *kalo ini jelas ngayal, wong tanahnya ndak ada*

“Ooo… pantesan, kok kayaknya kemaren aku liat ada orang nongkrong di museum satwa mirip kamu.” Kang Noyo membuyarkan lamunan saya, “Kamu ndak masuk tho? Cuma mondar-mandir di parkiran?”

“Eh, sampeyan ke sana juga tho Kang?” Saya mendadak merasa bodoh.

“Wis ndak papa Le, aku ngerti kok, sudah tanggal tua. Lagian kamu masuk ke situ juga percuma, melihat-lihat museum itu ndak cocok untuk level buruh pabrik macem kamu.” Lagi-lagi saya terpaksa melihat senyum dengan hawa pekat pelecehan.

Jiyan!

9 comments on “Bertahan Hidup di Tanggal Tua

  1. Chic mengatakan:

    ini sebenernya pamer udah pernah sampe parkiran museum, atau pamer photo2 taneman? :mrgreen:

    #stein:
    sengaja dibikin ndak jelas kok mbak 😆

  2. […] This post was mentioned on Twitter by mangkum, mas stein. mas stein said: Bertahan Hidup di Tanggal Tua: http://wp.me/ppZ5c-tU […]

  3. harikuhariini mengatakan:

    Huh..musim kawin, musim khitanan jg..tgl 30 berasa lama datang.

    #stein:
    dan masih terus berlanjut 🙂

  4. mawi wijna mengatakan:

    Yang bikin dompet seret di bulan Juni ini memang amplop sumbangan nikahan. Yah…nyumbang 10rb aja, ndak usah dikasih nama, maklum lagi kere…

    #stein:
    hahaha, sempat terlintas juga ide kayak gitu

  5. Vicky Laurentina mengatakan:

    Mas, kalo ke hajatan nggak usah nyumbang gimana? Dateng ke hajatan tapi nggak ngamplop, dan tetap masuk dengan kepala tegak?

    #stein:
    susah mbak, soale pasti kepikiran dirasani sama penerima tamu yang jagain kotak amplop

  6. nDaru mengatakan:

    saya bulan ini total ndapet 17 undangan je paklek, ya khitan ya manten, yang jarak dekat ada 5, lumayan ada ijol dikirim punjungan, jadi sayur2 dan lauk2 asal ndak telat manasin bisa bertahan 3 hari. hahahaha Yang punyak mantu itu kok ya kadang nganyelke lho, punyak gawe kok tanggal 27, itu kan dompet lagi sepi2nya. Jiyaaaan tenan

    #stein:
    wong kalo sabtu minggu gitu kadang sehari dua undangan, jiyan!

  7. Asop mengatakan:

    Wah Mas, apalagi buat anak kosan dan perantauan… tanggal tua, makan sehari cuman sekali… 😐

    #stein:
    tapi masih kuat ngenet tho mas 😆

  8. Emanuel Setio Dewo mengatakan:

    Weh…

    “Ooo… pantesan, kok kayaknya kemaren aku liat ada orang nongkrong di museum satwa mirip kamu.” Kang Noyo membuyarkan lamunan saya, …

    Kamu nyamar jadi satwa apa?

    #stein:
    halah!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s