Dilarang Memakai BBM Bersubsidi

Anggota DPR dari Komisi V Yudi Widiana Adia mengatakan setuju dengan rencana pemerintah untuk melarang sepeda motor memakai bahan bakar bersubsidi alias premium. Beliau bilang rencana itu cocok kalo dijalankan di kota-kota besar dengan alasan, “Mengurangi kesemewrawutan, selain itu di kota-kota besar banyak kan pengguna motor banyak juga yang bukan dari kalangan bawah.”

Selintas berita yang saya baca di detikcom dengan cara nyolong-nyolong lewat komputer Pak Mandor itu lumayan menggemeskan. Gemes yang pertama saya baru denger ada rencana pemerintah melarang pemakaian premium bagi sepeda motor, yang kalo beneran dilaksanakan berarti bakal berdampak langsung ke saya selaku penyemplak motor. Gemes yang kedua kok ya ada wakil rakyat yang langsung bilang setuju, padahal mengingat statusnya yang cuma sebagai wakil harusnya beliau kan nanya ke saya dulu!

“Saya ini kan rakyat Kang, saya ini bossnya.” Ujar saya gemes kepada Kang Noyo menjelang bubaran pabrik kemaren sore.

“Lagian dengan alasan mengurangi kesemerawutan, pasti ini ngliatnya dari kacamata pengendara mobil. Mana ada anggota DPR mau susah-susah berangkat ke senayan naik motor.” Lanjut saya.

“Memangnya kalo dari kacamatamu sebagai penyemplak motor, banyaknya motor bersliweran di jalan ndak bikin semrawut?” Tanya Kang Noyo.

“Ya… Agak semrawut sih.” Asem! Memang harus saya akui walaupun sesama penyemplak motor saya cenderung menghindari kerumunan motor, takut.

“Berarti alasan anggota dewan yang kamu sebut tadi bener tho.” Ujar Kang Noyo.

Mungkin alasan yang beliau pake masuk akal, tapi mosok cuma dengan alasan begitu maka sepeda motor ndak boleh pake premium, sementara untuk pelarangan premium bagi mobil beliau Pak Yudi cuma berkomentar, “Ya kalau itu diriset dahulu, harus ada kajiannya apakah baik atau tidak. Jangan hanya like and dislike.”

“Berarti beliau memang lebih mendukung pengendara mobil tho Kang?” Kata saya.

“Halah! Ini kan bukan pilihan ketua partai atau pilkada, mosok ya acara ada dukung mendukung. Sebenernya ini ada apa tho?” Tanya Kang Noyo.

Konon ini berawal dari pernyataan Dirjen Migas Evita Legowo yang mengatakan pemerintah berencana melarang penggunaan BBM bersubsidi bagi sepeda motor. Hal ini katanya merupakan hasil kesepakatan dari pembicaraan dengan Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia. Evita mengatakan bahwa hasil pembicaraan dengan beberapa pihak semua pihak sepakat bahwa yang diperbolehkan menggunakan BBM bersubidi adalah kendaraan umum dan kendaraan pribadi dengan kriteria tertentu.

“Dan sepertinya sepeda motor ndak masuk yang kriteria tertentu itu Kang.” Ujar saya.

Ibu Evita berharap pembatasan konsumsi BBM bersubsidi tersebut bisa diputuskan pada akhir Juni dan bisa dterapkan mulai bulan Agustus 2010.

“Mumet tho Kang, wong seumur-umur saya ini belum pernah beli pertamax. Nanti bisa-bisa ndak bisa mbagi rokok buat Sampeyan.” Kata saya.

“Rupamu!” Kang Noyo misuh.

Itung-itungannya begini, tiap minggu saya beli premium buat motor sekitar Rp 60.000, dibagi harga sekarang berarti tiap minggu saya habis sekitar 13 liter. Kalo saya dipaksa beli pertamax seharga Rp 7.300 berarti tiap minggu saya harus keluar duit sekitar Rp 97.300.

Kalo tujuannya biar jalanan ndak semrawut gara-gara motor mungkin kenaikan ini dibikin untuk maksa saya naik bis. Sekarang kalo naik bis ke pabrik rinciannya adalah 2 X Rp 8.000 (ongkos bis), 2 X Rp 2.500 (ongkos angkot), Rp 1.500 (biaya parkir motor di terminal). Ditotal kalo saya mburuh 5 hari seminggu habisnya Rp 110.500, masih lebih murah naik motor.

Kesimpulannya kalo pelarangan ini dibikin biar ndak semrawut kayaknya ndak efektif. Kalo bener saya dilarang mbeli premium ndak akan mbikin saya beralih ke angkutan umum, karena tetep lebih murah naik motor. Dengan kata lain ini penyiksaan yang ndak berguna.

“Tapi mosok ya dilarang cuma gara-gara motor bikin semrawut tho Le?” Tanya Kang Noyo.

“Yo ndak lah Kang, itu kan katanya anggota DPR, yang seringnya memang ndak mampu mikir ruwet.” Kata saya meringis.

Alasan yang lebih masuk akal mungkin untuk mengurangi beban subsidi. Konon katanya dengan pelarangan pemakaian BBM bersubsidi bagi sepeda motor pemerintah bisa menghemat Rp 32 trilyun. Tapi biar lebih adil harusnya mobil juga dilarang tho, wong dia make BBM-nya lebih banyak. Misalnya mobil Kang Noyo, seminggu dia bisa habis premium 38 liter. Bandingkan dengan saya yang cuma 13 liter, sama-sama dinaiki sendirian.

Berita terakhir yang saya baca katanya Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia membantah sudah menyetujui soal pelarangan pemakaian BBM bersubsidi, AISI mengaku hanya ditanya soal aspek teknis dari penggunaan BBM Non Subsidi, bukan soal pelarangan.

“Ndak usah kuatir gitu Le, wong badai belum datang kok kamu sudah siap misuh-misuh. Lagian nanti kalo beneran kamu ndak mampu beli pertamax kan bisa diganti teh manis.” Ujar Kang Noyo.

“Teh manis? Caranya piye Kang?” Tanya saya ndak ngerti.

“Ya biasa saja, sebelum berangkat ke pabrik kamu mbikin teh manis. Dari Malang ke Pasuruan kan jalannya banyak turun, kamu naiki saja motornya ndak usah dinyalakan. Nanti pulangnya kamu dorong, kalo capek berhenti dulu, minum teh manis.” Kang Noyo ngakak.

Jiyan!

Iklan

22 comments on “Dilarang Memakai BBM Bersubsidi

  1. […] This post was mentioned on Twitter by Aditya R Sani, mas stein. mas stein said: Dilarang Memakai BBM Bersubsidi: http://wp.me/ppZ5c-t2 […]

  2. chocoVanilla berkata:

    Hubungane gak boleh pake premium biar gak semrawut apa ya, Mas? Wong aku yakin biar diganti pake pertamax motor gak berkurang kok. Paling-paling emak2 yang pada marah, soale ongkos ngojek jadi mahal.

    #stein:
    mungkin biar pada mengurangi kebut-kebutan pake motor, lha wong pertamax mahal ๐Ÿ˜†

  3. chocoVanilla berkata:

    Weladalah, aku pertamax to? Hihihihi….. good bye premium….

    #stein:
    pertamaxnya yang tadi, yang ini pertamax plus :mrgreen:

  4. Vicky Laurentina berkata:

    Saya pikir, mungkin naik kendaraan umum jatuhnya lebih murah buat penggunanya. Tapi kalau dikaitkan dengan pemanasan global, justru emisi gas kotor akan jauh berkurang jika semua orang dipaksa naik kendaraan umum, Mas Stein.

    Untuk membuat hidup jadi murah bagi seluruh rakyat, memang harus mbikin mahal hidup sebagian rakyat (dalam hal ini, pengendara kendaraan bermotor).

    Kita sedang menuju kehidupan a la sosialis, nampaknya.

    #stein:
    ah, itu alasan ketiga yang ndak terpikir sama saya. makasih pencerahannya mbak ๐Ÿ™‚

  5. harikuhariini berkata:

    Alasan yg terlalu dibuat2 ya kang. Hehe, tp kayaknya saran kang noyo patut dicoba tuh.

    #stein:
    50km je mbak, bisa pingsan saya ๐Ÿ˜ˆ

  6. Adi berkata:

    Sangat detil perinciannya, smg apapun yg trjadi menjadi yg terbaik.XD

  7. Arif R. berkata:

    kunjungan perdana nih saya, salam kenal aja dulu ya mas.. ๐Ÿ˜€

  8. Dewa Bantal berkata:

    Sebuah kebijakan yang … aneh… -_-; bukannya yang bikin semrawut itu sebenarnya mobil? Kenapa brompit yang kena imbasnya…

    Btw, maksud kang noyo itu BELI SEPEDA… Pake brompit gak dinyalain itu sama aja kayak tidur gak pake bantal! (lol)

    #stein:
    mungkin kalo di amrik sono yang mbikin ruwet mobil mas, kalo di sini ya motor ๐Ÿ˜†

  9. deady berkata:

    adaaaaa aja ini mesti salah satu komentar DPR yang gak populer
    iya sih, sepeda motor di jalan masih semrawut tapi come onnnn udah baguskah MRT kita?

    #stein:
    akur…

  10. adipati kademangan berkata:

    lha aku malah pengen ndelok sampeyan nyurung motor mlg-psr je, lumayan bahan bakar “teh manis” kuwi dadi lebih manjur ๐Ÿ˜€

    #stein:
    tega tenan sampeyan iki om ๐Ÿ˜ˆ

  11. arman berkata:

    nah bagus tuh idenya… pake teh manis dan dorong. jadi hemat dan sehat. asal jangan sampe pingsan aja. hahaha.

    #stein:
    jiyan! ๐Ÿ˜†

  12. Ifan Jayadi berkata:

    Banyak sekali aturan yang dibuat oleh pemerintah, tapi apakah aturan tersebut telah benar2 dikaji dan bermanfaat bagi masyarakat

    #stein:
    lha ini yang perlu kita bantu untuk mengkajinya

  13. prasetyandaru berkata:

    Jangan2 besok DPR mbikin undang2 “dilarang beli motor”

    #stein:
    kalo itu memang dipandang perlu dalam rangka mengatasi kesemrawutan, kenapa ndak? *halah* ๐Ÿ˜†

  14. bowo berkata:

    yo opo tumon…

  15. Fadhli berkata:

    bagaimana kalau motr2 diredesign biar kayak mobil…hehe

    #stein:
    dikasih atap gitu?

  16. Asop berkata:

    Lah, pertamax di sini kok harganya 6 ribuan? ๐Ÿ˜€
    Untung saya udah lama pake Pertamax. ๐Ÿ™‚

    #stein:
    kan naik turun mas

  17. dewira berkata:

    Beberapa waktu lalu Gubernur DKi mengatakan kalau biang macet jakarta itu motor..

    Apakah kalo semua pada pake mobil, Jakarta ga bakalan macet lagi?

    Kasian yah orang miskin di negri ini..

    Eh mas, btw aku mo nanya nih..disaat blog-blog pada di blocked di kantor, mengapa blog mu ini masih bisa diakses?

    Bagi tips nya donk?

    #stein:
    mungkin karena blog saya ini ndak gitu populer mbak, jadi orang-orang mikir percuma saja diblokir :mrgreen:

  18. harusnya semuanya dilarang juga donk biar sama2 adil…
    Tapi aku jan tenan salut ama idenya Kang Noyo^^

    #stein:
    jiyan! ๐Ÿ˜†

  19. macangadungan berkata:

    pemerintah selalu nyari solusi yg gampang dan enak buat mereka. padahal jelas-jelas kalau fasilitas tansportasi umum dirombak besar-besaran pelayanan, keamanan, dan kualitasnya, masyarakat pst otomatis beralih ke kendaraan umum. emang ribet pasti ngurusinnya, tp efeknya berjangka panjang.

    dasar, mau enaknya sendiri…

    #stein:
    betul mbak, saya inget jaman Gus Dur dulu, beliau bilang sudah ndak jamannya lagi orang cuma nyari selamat sampe tujuan, orang sekarang juga butuh kenyamanan.

  20. pipitta berkata:

    boleh-boleh aja bikin aturan kayak gitu.. tapi betulin dulu tuh moda transportasi rakyat yang murah dan nyaman!!!

    *ikut gemess…*

    #stein:
    sepakat mbak, tanpa transportasi umum yang nyaman kayaknya susah menyuruh orang beralih dari kendaraan pribadi

  21. mas awe berkata:

    nyeleneh.. iki aturan, mestinya mobil di atas 2000CC yg kena

    #stein:
    sepakat!

  22. yohan wibisono berkata:

    “klo subsidi kendaraan bermotor q gak setuju tapi klo bermobil baru q setuju.kan kasian untuk kalangan bawah seperti AKU ini..Pemerintah harusnya mengerti akan keluhan masyarakat jangan menurut kalangan atas aja yang serba LUX..

    #stein:
    sepertinya ndak jadi kok rencana ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s