Tidak

Tidak katamu, dan aku masih termangu. Sembilan kali dentang bunyi jam mungkin bisa membantu, tapi yang menempel di ruang tamu bukan jenis yang itu. Kamu salah tingkah, mungkin kamu sangka aku sedang menahan sedih, atau mungkin marah. Bukan, bukan itu, aku sedang berusaha menghilangkan canggung. Setelah berbulan-bulan kita terlihat dekat, selalu berjalan beriringan, aku tak mau kata tidakmu membuat jurang.

Aku bilang kalau sekarang aku pulang meninggalkan suasana canggung maka nuansa itulah yang akan selalu menghinggapi tiap pertemuan. Bisa jadi besok berani memanggilmu pun akan menjadi sebuah keajaiban. Tolong beri waktu sejenak, biarkan aku menetralkan rasa. Aku sedang berusaha menyamakan penolakanmu dengan kata tidak yang kamu lontarkan saat aku menawarkan jaket waktu gerimis turun saat itu. Tidak akan pernah sama rasanya, aku tahu, tapi paling tidak biarkan aku mencoba menurunkan derajat kekeramatan kalimatmu.

Aku sedikit tersenyum, setelah melakukan apa yang paling masuk akal, mentertawakan diri sendiri. Bodohnya aku yang tidak bisa membaca gelagat dan isyarat, dan tetap memaksa untuk terus maju. Mungkin bukan itu, tapi apa pedulimu, mungkin juga apa peduliku, yang penting aku bisa tersenyum kan? Peduli setan apa yang kupikirkan, aku cuma ingin kecanggungan ini sedikit menghilang.

Aku tanya apa yang salah dalam langkahku, dan kamu bingung, kenapa harus ada yang salah?

Pengalaman adalah guru terbaik kataku, dan pengalaman buruk adalah guru yang lebih baik lagi. Mungkin sebutan guru yang baik kurang tepat, karena menurutku guru yang baik akan selalu memberi peringatan di depan, bukan mentertawakan kesalahan di belakang. Ah, lagi-lagi kalimat basi yang berputar dalam pikiranku. Penolakanmu adalah sesuatu, dan sungguh kerugian bagiku bila tidak ada pelajaran yang kudapat dari situ.

Bodohnya aku, mana mungkin seorang perempuan bisa menjawab pertanyaan setolol itu? Mana mungkin dia mengatakan dengan jujur buruknya mukaku, rusaknya tabiatku, kasarnya pendekatanku. Atau mungkin bukan semua itu, tapi tetap saja, mungkin juga tidak akan banyak membantu.

Lupakan pertanyaanku yang tadi, mari kita buat lebih mudah. Apakah aku datang pada saat yang salah, ataukah pada orang yang salah?

Aku sudah tau jawabanmu pasti itu, tapi tak apalah, sekedar penghilang keraguanku.

*gambar dari google

15 comments on “Tidak

  1. hari mengatakan:

    Wah..ternyataa..
    Sekian lama saya mengikuti blog ini, baru x ini nemu genre tulisan yg kayak gini. Hahaha. Kirain mastein anti dgn tulisan yg beginian.

    #stein:
    saya ndak anti mbak, tapi memang susah nulis yang beginian😆

  2. Abi Sabila mengatakan:

    Wah, ada apa nih Kang, tumben postingane tidak biasa, tapi justru aku suka

    #stein:
    lagi belajar ngarang mas🙂

  3. Arbesdj mengatakan:

    artikelnya seruu….ceritanya si cewek nolak ya Mas??

  4. Vicky Laurentina mengatakan:

    Mas Stein, salah minum obat ya?

  5. ndaru mengatakan:

    ah..soal cinta, ayeee….banyak orang dateng ke saya mintak pertimbangan soal “nembak” ato endak, lalu kapan enaknya buat “nembak”. Dan jawaban saya selalu endak kreatip “sekarang!” akhiri penderitaanmu dengan menyatakan perasaanmu. Hasilnya yaaaa…penderitaan baru karena ditolak, atau hati yang berseri setelah cintamu mendapat stempel tidak bertepuk sebelah tangan. seendaknya, makan jadi enak, tidur jadi nyenyak..buat yang ditolak..percaya deh sama saya..sampeyan cuman butuh waktu seminggu buat hidup normal lagi.

  6. Chic mengatakan:

    eh ini beneran mas stein yang nulis?😯

  7. Admin mengatakan:

    Salam kenal mas.. hehe

  8. yustha tt mengatakan:

    Kang Noyo lagi liburan ya mas??😛

  9. chocoVanilla mengatakan:

    Mas? Are you okay?

    Ternyata kalo sampeyan nulis yang beginian saya harus mencerna kalimat per kalimat, pilihan kalimatnya itu lho. Keren😀

    (*lebih mudah mencerna Kang Noyo😛 )

  10. hajarabis mengatakan:

    nice…
    sempatkan mengunjungi website kami http://www.hajarabis.com
    sukses selalu..

  11. Emanuel Setio Dewo mengatakan:

    Wah, daku harus mbaca 2 kali.

  12. sugiman mengatakan:

    seperti masa lalu gitu deh ih…:))

    waktu telpon, pake telpon umum dibelakang koperasi ituh
    :))

  13. jati mengatakan:

    membuatku sering berkunjung …..

  14. […] otak ndak jenuh, misalnya tulisan saya yang biasanya nggedabrus ala warung kopi bisa mendadak jadi sendu mendayu atau sedikit berbau […]

  15. dobelden mengatakan:

    ini mesti sang mpunya blog lagi galau *uhuk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s