Hanya Mengeluh

Jika sampeyan bukan bagian dari solusi, maka sampeyan adalah bagian dari masalah.

Syahdan, suatu saat beberapa tahun yang lalu, saya yang kebetulan didapuk menjadi ketua perkumpulan buruh-buruh bagian diakon (konon katanya singkatan dari diawasi dan dikongkon), sedang dalam tahap setengah jalan menuju konslet. Gara-garanya sudah dua kali temen-temen itu saya ajak kumpul-kumpul tapi ndak juga nemu keputusan. Mungkin saya juga yang salah, harusnya kan diajak rapat, bukan kumpul-kumpul. Tapi karena rapat itu menurut saya sudah levelnya staf sampai manajemen, maka saya memaksa acaranya untuk tetap bertajuk kumpul-kumpul, sambil ngopi tentu saja.

Waktu kumpul semuanya iyas-iyes, manggut-manggut sambil ngangkat jempol, oke katanya. Tapi begitu di luar satu dua orang mengeluhkan hasilnya, terus ngadu ke mandornya, yang kemudian menyampaikan ke saya agar diadakan acara kumpul-kumpul lagi.

Akhirnya pada kali ketiga, dengan agak muntab saya bilang, ”Ini adalah kumpul-kumpul yang terakhir kalinya. Setelah ini saya ndak mau denger lagi ada yang mengeluh di luar. Kalo di antara sampeyan ada yang mau disampaikan, silakan sampaikan di sini. Tapi ingat, yang mau mengeluhkan masalah harus lengkap sama usulan solusinya, saya ndak mau sampeyan cuma jadi sumber masalah.”

Alhasil, setelah satu dua orang memberi pendapat, kumpul-kumpul itu akhirnya menghasilkan keputusan. Entah karena keputusan yang diambil sudah pas, atau hanya karena ndak mau dianggap sebagai sumber masalah.

Saya percaya bahwa seorang pemimpin harus memiliki konsep, seperti halnya saya juga percaya bahwa ndak ada konsep yang sempurna. Dan saat itu terjadi, pilihan bagi anak buah hanya ada tiga: sempurnakan, ubah, atau diamlah.

Kalo dipersempit dan disederhanakan lagi, pilihannya cuma dua: sampeyan mau jadi orang yang bermanfaat atau kebalikannya.

Itulah yang kemudian berusaha untuk saya jadikan pelajaran, menjadi orang yang bermanfaat, walaupun cuma sedikit. Bukan apa-apa, saya ini cuma buruh medioker, ndak punya kapabilitas yang mumpuni, juga bukan orang yang rajinnya level juara, jadi cukup sadar diri kalo saya ndak mungkin bisa memberi manfaat besar.

Makanya seumur-umur saya ini ndak pernah jadi favoritnya atasan, jangankan juragan gede, di mata para mandor pun saya termasuk yang ndak terdeteksi radar, karena alasan yang sangat jelas, ya itu tadi, kerjanya sakmadyo, dan ndak punya kemampuan istimewa.

“Kecuali sekarang, ya tho? Jadi anak emas juragan…” Ujar Kang Noyo sinis, sambil mengambil sebatang rokok saya. Luar biasa temen saya ini, minta rokok, dan tetep nyinyir.

Itulah…

Entah dosa apa saya ini, mendadak jadi orang dekat juragan.

Jadi ceritanya saya itu dipindah ke cabang pabrik yang Alhamdulillah dekat rumah, setelah bertahun-tahun mburuhnya di cabang luar kota. Ndak ada yang berubah sebenarnya, kerja tetep sakmadyo, prinsip jangan sampai pekerjaan mengganggu waktu ngopimu pun tetep jalan. Tapi ya itu, ndak tau kenapa, saya mendadak lumayan dekat sama juragan.

Padahal sampeyan tau sendiri kan, stereotipe orang yang deket sama atasan. Di antara dua kemungkinan, apakah dia seseorang dengan kapabilitas luar biasa sehingga menjadi kebutuhan tak tergantikan, ataukah dia seseorang yang pintar bertanam tebu di pinggir bibir.

Mengingat saya ini bukan spesies dengan kapabilitas luar biasa yang mampu menjadi kebutuhan tak tergantikan, berarti saya penggemar Siti Nurhaliza tinggal kemungkinan kedua kan?

“Lha kamu merasa jadi penjilat opo ndak?” Duh kah, Kang Noyo kok ya vulgar sekali kalimatnya.

”Rasanya sih ndak Kang, sampeyan tau sendiri gimana ndableknya saya.” Jawab saya, tetep galau.

“Berarti sudah selesai, trus apa yang kamu bingungkan?”

Wuedyan! Kok enak banget ya ngomongnya.

Rasanya tetep beda, saat sampeyan ndak punya label apa-apa, mau berbuat apapun enak. Sampeyan ndak merepresentasikan siapapun, hanya sampeyan sebagai sampeyan, titik. Sedangkan kalo ada embel-embel orang dekat juragan, setiap sampeyan berbuat sesuatu pasti satu dua orang akan mengait-ngaitkan, oh mesti ae, oh pantes ae, dan oh ae oh ae yang lain.

Well, sometimes it sucks!

Wew, kelincipen lidah saya, keminggris…

”Ancen kowe ki kakehan mikir kok Le.” Kata Kang Noyo lagi.

Kalo kata orang kulon kali sana,

Work for a cause, not for applause. Live life to express, not to impress. Don’t strive to make your presence noticed just make your absence felt.

“Opo maneh iku Kang…?” Saya makin gagal paham.

”Wis, sekarang tak kembalikan lagi kata-katamu, kalo kamu bukan bagian dari solusi, berarti kamu bagian dari masalah.”

”Maksudnya piye?”

”Katamu nek misal ngeluh harus juga ngasih solusi, biar ndak cuma jadi sumber masalah? Kayaknya dari tadi kamu ngeluh thok, ndak ada solusi…” Ujar Kang Noyo enteng.

Wasyem!

”Yo wis, gini aja, ndak papa mengeluh, manusiawi kok. Tapi kalo dalam tiga hari keluhan berlanjut, hubungi dokter.” Katanya seraya berlalu, sambil ngembat rokok terakhir saya.

Jadi rupanya begitu, termakan omongan sendiri, ndak boleh ngeluh tanpa solusi?

Jiyan!

13 comments on “Hanya Mengeluh

  1. warm mengatakan:

    saya setuju dengan kang Noyo:

    Ancen kowe ki kakehan mikir kok ..
    hihi

  2. memperlancar asi mengatakan:

    cerita yang enak dibaca. penuh perasaan

  3. Agus Triana mengatakan:

    Yups, terkadang sudah sifat alami manusia mas suka sekali untuk mengeluh ketimbang mencari solusi di awal tindakan. Namun semua terganung watak dan perangai masing2 insan juga

  4. wah jadi kesayangan Ibu kepala pabrik… uhuy …

  5. Hotel Murah di Bogor mengatakan:

    jadi pemimpin itu tidak mudah, bagaimana bersikap bijak dalam menerima masukan dan memutuskan suatu permasalahan atau langkah.
    terima kasih atas informasinya mudah-mudahan jadi isnpirasi untuk kita semua.
    artikelnya bagus banget gan.

  6. Online mengatakan:

    Iya itu mas, mengeluh tanpa adanya solusi cuma nambahi ngelu tok ya mas…

  7. deket juragan dulu sapa tau suatu saat jadi juragan

  8. lotijewelry mengatakan:

    susah yaa karna mengeluh itu karakter bawaan setiap orang sepertinya

  9. emir mengatakan:

    kadang kita lupa akan nikmat-NYA dan jauh dari rasa bersyukur hanya bisa mengeluh padahal sekecil apapun yg kita rasa dan dapatkan Nikmat-Nya itu tiada henti2nya mengalir :((

  10. Madumoe Top mengatakan:

    Sering kita menjadi masalah dari pada bisa memberi solusi, hikhikhiiikk.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s