Sabda Pandhito Kyai

Menarik sekali yang ditulis sama KH Mustofa Bisri di Jawa Pos hari ini, Jumat 10 Juli 2009.

Salah satu hal yang disentil sama ulama yang juga seniman ini adalah soal aksi dukung mendukung yang dilakukan oleh beberapa kyai belakangan ini. Sampeyan yang tinggal di Jawa Timur mungkin sudah pernah membaca pernyataan bersama yang ditandatangani oleh beberapa kyai ternama untuk mendukung salah satu calon gubernur beberapa waktu lalu. Juga yang baru saja dilakukan dalam pemilihan presiden kemaren.

Gus Mus menulis, rakyat sekarang sudah cukup dewasa untuk bisa memilah kapan saat harus tunduk dengan kyai dan kapan harus melakukan ijtihad alias menentukan pendapat sendiri. Untuk ilmu agama dan yang kaitannya sama akhirat, umat masih akan tunduk dan patuh sama kyai, tapi untuk beberapa hal yang lain, pemilu misalnya, rakyat sepertinya sudah bisa bikin itungan sendiri.

Saya sendiri sebenarnya terlahir dalam keluarga yang kental dengan kultur santri, NU khususnya. Saya juga pernah mencicipi pendidikan di pesantren. Jadi sedikit banyak saya tau budaya sami’na wa atho’na yang bagi sebagian orang kadang dicap sebagai taklid buta itu.

Di kalangan pesantren, kyai itu ibarat bangsawan, kyai yang menjadi tokoh sentral di suatu pesantren bisa diibaratkan raja. Sekarang coba sampeyan bayangkan sampeyan tinggal di suatu lingkungan kerajaan. *merem dulu, coba dibayangkan*

Bagi kami, santri di pesantren, ditempeleng sama kyai bukanlah suatu hukuman, kami menganggapnya suatu berkah. Kok bisa?? Ya bisa saja. Apapun yang diperintahkan kyai, para santri akan berusaha ridho, ikhlas menjalankan. Kelihatannya ndak masuk akal, tapi itulah yang terjadi di dunia pesantren. Salah satu bentuk feodalisme yang masih ada di jaman ini, berjalan dengan wajar karena memang santri memilih untuk tetap bertahan dengan kultur seperti itu. Sama halnya seperti orang jogja yang merasa nyaman dengan sultannya, atau orang inggris dengan keluarga kerajaannya.

Intinya adalah perintah dari kyai bisa diibaratkan sabda pandhito ratu, titah raja yang ndak terbantah.

Kalo gitu kenapa calon yang konon katanya didukung kyai bisa kalah? Apakah para santri sekarang mulai mbalelo sama kyainya?

Mbuh, saya sendiri juga kurang paham sebenarnya. Yang jelas sebagai santri kadang saya malu kalo melihat poto di surat kabar atau gambar di televisi. Saat pejabat sama ulama lagi salaman, trus ulamanya dalam posisi menunduk. Bukan, bukan berarti ulama ndak boleh menghormati pejabat, tapi kadang kelihatan sekali dalam gambar itu kalo ulamanya nunduk karena kalah wibawa!

Menurut saya ndak pantes seorang ulama merendahkan diri di depan pejabat. Ibarat kasta brahmana diperintah sama kasta ksatria, ndak pantes, ndak pada tempatnya. Saya takut itulah yang sekarang sedang terjadi.

Apakah kyai sedang turun kasta?

Semoga tidak, semoga masih banyak kyai yang bisa menempatkan diri sebagai pengayom umat, ndak ikut terombang-ambing carut marut dunia.

Iklan

29 comments on “Sabda Pandhito Kyai

  1. Widyas berkata:

    Lha Kok Tumben,,ndak ada pernyataan “Selamat Hari Jum’at Sodara,,Apa Sampeyan Nyontreng calon yang disaranin ma pak Kyai,Rabu Kemarin????”
    Hehehehe,,Salam KenaL ^^

    #stein:
    salam kenal juga, kok ndak ada url yang bisa diklik?

  2. Dapat khasanah ilmu baru 🙂
    thanks mas

    Saya rasa masyarakat mulai cerdas untuk bisa memilah sendiri apa yg mesti nurut santri dan mana yg bisa nurut pendapat sendiri.
    mengenai Kyai yang tunduk sama politisi.. wah belum bisa komen.

    Btw udh sembuh ya 🙂
    welkam bek

  3. Erikson berkata:

    iya mas, pernah malah ditempat saya seruan nya disampaikan pas khotbah jumat 😦 terus yang denger banyakan pada manggut2 nurut…

  4. Mz Jiwo berkata:

    Berarti sampeyan dulu pernah ditempeleng sama Gus’e sampeyan yo…..

    Wis disepuro ae cak….

  5. Kuliah Gratis berkata:

    Betul sekali mas……….masa kyai tunduk sama pejabat

    gak macem

  6. Aden Kejawen berkata:

    Semoga saja belum seperti itu pak stein

  7. Menurut saya kalo kyai sudah mengurusi masalai ndonyo (dunia) itu sudah lepas “jabatan” kyai. Jadi sebenarnya yang ngomong itu bukan kyai A tapi hanya bapak A.
    Informasi yang sangat menarik, trim’s

  8. samsul arifin berkata:

    sepertinya malah terkesan bahwa para kyai itu yang kurang tanggap bahwa santri2 saat ini sudah cerdas dan merasa sudah merdeka!

  9. CatatanRudy berkata:

    Ku netral aja deh kalo masalah ini…

  10. ireng_ajah berkata:

    Yang penting koment dulu..baca belakangan..

    hehehhehe…

    Opo meneh wis sue urak mampir teng griyone mas mas Stein ..

    🙂

  11. kucrit berkata:

    bener sampean mas, gak semua tingkah laku, gerak-gerik, pendapat, kongkonan kiyai harus kita terima dan di telan mentah-mentah. Semua itu ada batasannya dan kadarnya masing-masing.. Hmm.. jadi ingat sama kiyai yang saya durhakai..

  12. eoin77 berkata:

    betul mas, kalo kata guru saya, kiayi gak boleh merendahkan ilmunya untuk mendekati kekuasaan.. pernah denger juga, cukuplah disebut sebagai Ulama Suu’ kalo dia deket dengan pemerintah. ingat juga riwayat imam2 terdahulu yang hidupnya susah justru saat menolak diangkat menjadi tuan qhadi.. kalo sekarang sih (maaf) saya kurang hormat ama kiayi yang berpolitik, seperti emas di taroh dilumpur.. kata-katanya saya saring (meski padahal gak berhak) saya dengerin yang murni Ilmu saja, bila sudah berhubungan dengan kebijakan si A, si B.. saya cuek aja mas..

  13. Ely berkata:

    seharusnya sih nggak kyai saja, masyarakat biasa juga nggak harus nunduk2 sama pejabat, semua orang baik pejabat atau masyarakat biasa khan nggak ada bedanya, punya hak yang sama, betul ndak mas ? 😉

  14. sekartaji berkata:

    om, ada buku barunya KH Mustofa Bisri judulnya satu rumah seribu pintu, di sana ide2 sang kyai ter-explore hbs2n… dan banyak puisi2 kocak ciptaan beliau. semua menyentil keadaan negeri

    #stein:
    nanti coba saya liat-liat kalo jalan di gramed mbak

  15. quinie berkata:

    hm…. gimanah ya? kadang orang2 kita suka nge blank mau gimana, nah pas ada yang ngasih ide untuk ini itu, ya tinggal yukkk mareeee…

  16. mawi wijna berkata:

    Ranah politik ndak boleh disusupi oleh ranah agama, ujungnya bisa-bisa runyam. Yang harus diberantas itu budaya ikut-ikutan mas. Jangan-jangan mereka nyontreng ini, karena tetangga dan kerabat pada nyontreng ini semua. Hiiii…

  17. Casual Cutie berkata:

    hufff….terkadang kalo lagi bingung, ya mau ga mau pasti pada ngikut..

  18. wishper girl berkata:

    sore2 sambil menikmati wedangan
    baca postingan mas stein
    manteb tenan 🙂
    sudah mandi belom mas :p
    hihihihihi

  19. nomercy berkata:

    Gus Mus adalah panutan … sabdanya adalah nada dan alur keselarasan kata … semoga dapat bermanfaat dan dimanfaatkan bagi kita semua …

  20. racheedus berkata:

    Temanku sekantor yang pernah nyantri di Lirboyo juga di-sms untuk dukung JK. Tapi, dia tetap mbalelo, dan tetap mencontreng SBY.

    Mas Stein, sampean ojo ngomong macem-macem, lho! Ndak kuwalat karo Kyai! Ilmune mengko ra berkah. He…he….

    Tapi, saya setuju, ulama justru harus menjaga jarak dengan penguasa.

    #stein:
    lha ini nulisnya juga sambil takut-takut om 😆

  21. Eru berkata:

    bukan berarti ulama ndak boleh menghormati pejabat, tapi kadang kelihatan sekali dalam gambar itu kalo ulamanya nunduk karena kalah wibawa!

    Malah semua rakyat apapun ga mesti nunduk sama pejabat, malah sebaliknya 🙂

  22. Jafar Soddik berkata:

    Kultur seperti itu memang sangat kuat di wilayah-wilayah yang memiliki basis-basis NU seperti di daerah Jawa Timur. Kyai menurut pandangan mereka adalah ‘imam’ sekaligus juga pemimpin. Kultur ini kemungkinan muncul sejak zaman penjajahan dahulu dimana ketika itu sosok kyai juga dikenal sebagai pemimpin perjuangan dalam melawan penjajah.

  23. Acha berkata:

    jd rindu kyai yg kyai …

  24. ichanx berkata:

    semoga ulama-ulama seperti itu segera terbuka wawasannya… biar ulama bisa kembali menjadi panutan masyarakat, tanpa peduli latar belakang politiknya, sosialnya, atau apapun

  25. suwung berkata:

    sampean ki nulis kok campur aduk
    kyai dan kasta wakakakakakakakakakka

  26. Ade berkata:

    kyai kalah wibawa.. tanya kenapa *saya juga ndak tau mas 😆 *

  27. KangBoed berkata:

    Waaakaakakakak.. kala DUIT sudah jadi TUHAN.. maka UUD selalu terjadi.. ujung ujungnya duit
    Salam Sayang

    stein:
    bukan saya yang ngomong lho ya 🙂

  28. Uke Poet berkata:

    Kl masalah kyai seperti Syekh Puji itu piye Mas? Soale dese sepertinya masih bak raja (terbukti dengan kecuekannya dalam masalah hukum terkait nikah sirinya dengan Neng Ulfa)
    *wakakak… maaf bahasanya campur aduk*

  29. Mas Adien berkata:

    hal ini seperti yang aku lihat waktu di suatu daerah di luar jawa sana…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s