Jika Aku Menjadi

Saya bukan mau ngomongin acara di salah satu tipi swasta yang berisi drama dengan bumbu mbak-mbak manis berurai air mata dan biasanya diakhiri dengan sedekah kambing itu. Ini adalah cerita saya sendiri, waktu libur 1 Muharram yang jatuh pada hari Selasa, 7 Desember 2010 kemaren, bersama-sama sejumlah warga memperbaiki jalan yang melintas di depan komplek.

Jadi ceritanya jalan di depan komplek saya itu hancur, ndak panjang, paling yang rusak cuma sekitar 10 meter dengan lebar 4 meter. Berhubung janji dari pengembang perumahan untuk memperbaiki jalan tersebut ndak pernah terlaksana akhirnya warga sepakat untuk memperbaiki jalan tersebut secara swadaya, dananya dari urunan dan pengerjaannya dengan cara kerja bakti.

Pagi sekitar jam 7 saya sudah siap dengan seragam kebesaran, celana pendek, kaos oblong dan sendal jepit kebanggaan. Memakai mobil pick up milik seorang warga, saya dan beberapa tetangga pergi untuk mengambil batu koral. Dengan modal 2 sekop kami menaikkan koral ke pick up. Dimulailah cerita hari itu, jika aku menjadi kuli bangunan.

Ternyata menaikkan batu koral satu pick up lumayan makan tenaga, keringat mulai bercucuran, nafas ngos-ngosan, apalagi buat saya yang memang ndak hobi olahraga. Selesai menaikkan koral istirahat sebentar, sampe di tempat proyek mulai lagi kerjaan, menurunkan koral. Byuh! Saya sempet mikir, mungkin enaknya pick up ini kita gulingkan saja biar cepet selesai. :mrgreen:

Setelah itu pergi lagi ke toko bangunan, beli semen. Di situ saya baru tau kalo 1 sak semen beratnya 50kg, berhubung tokonya kecil dan tukang angkutnya cuma satu akhirnya kita juga yang ngangkuti semen-semen itu dari toko ke pick up. Lumayan untuk mbikin perut dan pinggang saya sedikit menegang. Dapet 29 sak semen kita nongkrong lagi di bak belakang pick up, berasa kayak kuli beneran.

Dengan posisi matahari yang mulai meninggi dimulailah kerja bakti hari itu, kebetulan pasir sudah ada di lokasi dari sehari sebelumnya. Ndak kebayang kalo saya harus ngambil pasir juga, bisa-bisa tenaga habis sebelum acara dimulai. Untuk mengaduk semen, pasir, dan koral dipake mesin molen milik seorang warga yang berprofesi sebagai kontraktor. Kita yang rata-rata ndak punya pengalaman kerja bangunan cuma disuruh angkut-angkut adonan semen ke jalan yang mau diperbaiki. Sekilas diliat ndak berat kerjanya, tapi capeknya setengah hidup.

Belum sampe jam 11 beberapa orang sudah ampun-ampun, leyeh-leyeh di bawah pohon, minum teh manis sambil klepas-klepus menghisap rokok yang memang disediakan. Ada satu bapak-bapak yang mengguyur badannya dengan air sambil geleng-geleng kecapekan. Belum lagi seorang sesepuh kesandung batu sampe jempolnya berdarah-darah. Seru, walaupun ndak mendebarkan. *opo tho iki??*

Di sela-sela waktu istirahat saya nyeletuk, “Dari pagi sampe sore lho Pak, cuma dapet 50 ribu.”

Gaji standard tukang bangunan di Malang sekitar segitu, antara 45-50 ribu rupiah. Dan mungkin kalo di acara reality show yang di tipi itu saya sudah berurai air mata, “Ternyata berat sekali kerja jadi tukang bangunan, dari pagi berpanas-panas cuma dapet 50 ribu. Berarti butuh waktu 2 minggu puasa baru bisa beli sandal jepit Crocs, hiks…”

Biasanya moral of the story yang saya tangkap di akhir acara Jika Aku Menjadi memang seperti itu, mensyukuri kehidupan si bintang tamu yang ternyata jauh lebih enak dibanding keluarga yang jadi objek penderita. Sah-sah saja kalo memang itu bisa menjadi pelajaran, walaupun saya tetep berpikir bahwa seharusnya bukan itu poin yang dipetik.

Bersyukur seharusnya tanpa pembanding, saya berpikir seperti itu dan sampe sekarang masih berpikir seharusnya begitu.

“Jadi apa hal yang bisa dipelajari dari pengalaman menjadi kuli bangunan sehari?”

Empati. Mungkin saya jadi bisa lebih memahami bagaimana hebatnya seorang kuli bangunan, bagaimana capeknya seorang kuli bangunan, dan mungkin juga bagaimana emosi seorang kuli bangunan. Saya jadi makin salut pada pemimpin-pemimpin yang mau menyamar jadi rakyar kecil macem Khalifah Umar atau Pak Bambang Hariadi, ndak sekedar berteori menginjak sepatu orang lain, tapi benar-benar turun ke lapangan untuk icip-icip rasanya jadi orang kecil.

“Jadi begitu Kang, dengan kerja bakti kemaren saya jadi lebih memahami bagaimana rasanya jadi kuli bangunan.” Ujar saya pada Kang Noyo yang waktu kerja bakti kemaren ndak ikut karena pulang kampung, katanya mau nyuci pusaka warisan Mbahnya.

Kang Noyo cuma mesam-mesem, “Mengharukan tenan kowe Le, buruh pabrik yang berusaha memahami perasaan seorang buruh bangunan.”

Kok saya menangkap nada sinis ya.

“Lha kowe iki yo ndagel, orang macem kita ini kelasnya 10-11 dibanding buruh bangunan, ndak perlu angkut-angkut semen pun rasa kita sama mereka ndak jauh beda. Cocoknya yang ngomong memahami itu ya Pak Camat, Pak Kepala Dinas, Pak Direktur, bukan buruh pabrik macem kamu!”

Dan mendadak rasa haru saya jadi keliatan konyol.

Jiyan!

Iklan

12 comments on “Jika Aku Menjadi

  1. […] This post was mentioned on Twitter by blogroll and Tobagus Manshor, Tobagus Manshor. Tobagus Manshor said: Jika Aku Menjadi: http://wp.me/ppZ5c-yr […]

  2. the ramonez berkata:

    Pertamax

  3. Chic berkata:

    ish Kang Noyo kok menohok sekali toh.. jiyan!
    😆 😆

    #stein:
    mengembalikan saya ke bumi 😆

  4. GusPur berkata:

    Wah kalau digawe sinetron apik kuwi critane!

    #stein:
    halah!

  5. mawi wijna berkata:

    setelah jadi buruh bangunan selama sehari, apa lantas mau beralih profesi Kang? :p

    #stein:
    ampun mas, abot tenan…

  6. bowo berkata:

    ternyata bertukar profesi itu susah, apalagi berikut tukar gaji ya….

    #stein:
    gak perlu sampe tukar profesi boss, yang penting bisa menginjak bumi, jangan cuma melihat dari puncak gedung tinggi 😀

  7. hehe…saya jadi penasaran dengan Kang Noyo. Maap saya gak mengikuti blog ini dari awal jadi mau tanya kang noyo itu siapa, beneran ada atau cuma tokoh fiksi?
    Jika aku Menjadi yang kayak gini lebih keren daripada yang di tipi^^

  8. nDaru berkata:

    jangan2 sampeyan ini pak presiden yang lagi nyaru??

  9. devieriana berkata:

    jadi sekarang milih berkarir jadi apa?

  10. septianwm berkata:

    Mas Stein aka Tubagos Manshor Makmun..

    apik2 critane mas., bagaimanapun slalu membuat terseret mengingat kota kelahiran saya..

    tetaplah berkisah,
    terutama yang terinspirasi Malang Raya..
    biar saya bisa dapet ‘feel’-nya..

    penasaran ki, mas.. Apakah Kang Noyo ini tokoh fiktif apa alter ego njenengan? hyahaha..

    tengkyu..
    #salamburuh!

  11. septianwm berkata:

    *typo*
    maap mas Tobagus.. 🙂
    baguuss…

  12. warm berkata:

    tulisan sampeyan selalu sukses bikin saya geleng2 kagum mas
    rapi tenan dan pesen moralnya keren 🙂

    #stein:
    matur nuwun om momod 😆

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s