Mudik, Saat Pengakuan

Menjelang puasa seperti ini saya jadi inget jaman kecil dulu. Biasanya sekitar pertengahan puasa sampe menjelang lebaran saya dan temen-temen suka nongkrong di prapatan deket kantor pos, kalo ndak di stasiun, menunggu makhluk-makhluk ajaib yang bernama kaum ngapain dateng dari kota.

Saya ndak tau siapa yang memulai penyebutan nama itu, kaum ngapain, maklumlah di kampung saya nan ndeso waktu itu percakapan selalu make bahasa Jawa dengan dialek yang kasar khas daerah gunung kapur. Jadi beberapa orang yang datang dengan baju yang modis, make up tebal, dan bahasa lain cenderung menarik perhatian. Sebenernya mereka sama saja, tetangga-tetangga juga dulunya, tapi karena sudah lama hidup di kota (baca: Jakarta) maka dalam percakapan mereka sudah banyak memakai kata-kata berakhiran –in, salah satunya ya itu, ngapain.

Dalam beberapa kesempatan mereka ini memang kadang keliatan seperti makhluk asing, sesuatu yang tidak ditempatkan sesuai tempatnya. Misalnya suatu saat saya terbengong-bengong melihat mbak-mbak dengan dandanan heboh, dari atas ke bawah pokoknya cling-cling, ndak beda jauh sama artis telenovela. Yang mbikin ndak pas adalah waktu itu saya lagi duduk beralas koran di kereta sapi tanpa tempat duduk yang biasanya dioperasikan menjelang lebaran berjuluk kereta api sapujagat.

pembantu gawul

pokoknya gawul...

Aneh?

Mungkin memang aneh, atau bisa juga ndak aneh, tergantung siapa yang melihat. Setiap orang butuh pengakuan, dan untuk mendapat pengakuan biasanya orang butuh sesuatu yang bisa dibanggakan. Saya pikir mbak-mbak yang baru pulang dari kota ini ingin memperlihatkan sesuatu untuk bisa dapet pengakuan, pamer gaya hidup mulai dari busana sampe bahasa yang lebih gawul mungkin termasuk di antaranya.

Atau bisa jadi memang si pemudik ini sudah berubah. Dulu waktu pertama kali datang dari kampung ke Jakarta dia stress, biasa makan apa adanya, make baju seadanya, hidup dengan fasilitas ala kadarnya, mendadak waktu di kota semua makanan ada, fasilitas kumplit, plus penampilan pun harus dijaga. Setelah beberapa lama di kota akhirnya waktu mudik kebiasaan itu juga dibawa.

Masalah apakah di kota dia beneran sukses, mburuh dengan bayaran selangit, tinggal di apartemen, atau kerja seadanya, tinggal di petakan rama-rame, ndak masalah, yang penting waktu di kampung dapet pengakuan.

“Tapi ndak semua begitu kok Le, si Parmin itu waktu di kampung ya kemana-mana sandalan jepit, baju dekil…” Ujar Kang Noyo.

“Lha iyo Kang, dia sok-sok nggembel, soale pulangnya mbawa Innova. Ndak perlu pamer sandal kulit juga semua orang sudah terkagum-kagum.” Potong saya.

Salah satu tempat yang bisa dipake untuk melihat berubahnya gaya hidup adalah stasiun kereta api. Menjelang keberangkatan kereta ekonomi jurusan Jakarta saya biasa melihat satu keluarga dengan bapak make batik plus kopiah, ibu make jarit, sedangkan si anak gadis yang rambutnya semiran make hotpant sama tanktop.

Orang bijak bilang, it’s not about what you are, but who you are. Ndak perlu mengandalkan segala macam atribut untuk bisa memperoleh kepercayaan diri dan pengakuan, cukup dengan diri pribadi. Tapi mbah-mbah dulu juga bilang, ajining raga dumunung ing busana, seseorang dinilai berdasarkan apa yang dikenakannya. Lha trus kesimpulannya piye?

Lama-lama kok saya jadi lepikiran, mudik nanti mau pamer apa?

Jiyan!

*gambar nyolong dari sini

Iklan

17 comments on “Mudik, Saat Pengakuan

  1. […] This post was mentioned on Twitter by mangkum, mas stein. mas stein said: Mudik, Saat Pengakuan: http://wp.me/ppZ5c-uF […]

  2. christin berkata:

    yang kaya gitu itu biasanya abege2 yang lagi doyan2nya nampang dan berusaha eksis sih kayaknya 😆

    #stein:
    ndak juga kok mbak, lha ibu-ibu yang make emas-emasan ting gerendel itu kan sudah ndak ABG lagi 🙂

  3. mawi wijna berkata:

    saya jadi inget kalau saya cuma punya stel baju koko yg dipake di tiap lebaran dari jaman saya SMA

    #stein:
    baju koko kebanggan saya waktu SMA sudah jadi kain lap waktu saya mudik kemaren

  4. Abi Sabila berkata:

    kasihan! segitu repotnya untuk mendapatkan sebauah pengakuan dari orang-orang kampung, padahal belum tentu itu yang bakal di peroleh. tidak jarang, orang kampung menjadi justru sama sekali tidak tertarik dengan segala gaya dan penampilan yang sama sekali nda nyambung. Mereke memaksakan diri terlihat sukses, tapi sama sekali tidak berniat untuk berbagi, disitulah letak kesalahan terbesar mereka.

    #stein:
    lha kadang memang yang mau dibagi ndak ada je om 😆

  5. chocoVanilla berkata:

    Ya ampyuuuunnn, kuwi gambare sopo to? Kok mesake tenan, opo rak kademen itu ya, Mas? Ck…ck…ck…

    Nek mbak nyang ini sih gak cari pengakuan tapi promosi… 😆

    #stein:
    minimal diakui kalo laku *eh*

  6. nDaru berkata:

    Pamer kang noyo itu aja..kan belon ada yang punya

    #stein:
    ….. :mrgreen:

  7. Mas Adien berkata:

    sinia…………..

    #stein:
    ada apa boss?

  8. norjik berkata:

    kl di desa kelahiran saya salatiga, org2 yg mudik pas lebaran dari jakarta… kbanyakan sok2 ngaku blg agak susah ngomong bahasa jawa. repot jadinya ..^_^

  9. norjik berkata:

    kl di desa kelahiran saya salatiga, org2 yg mudik pas lebaran dari jakarta… kbanyakan sok2 ngaku blg agak susah ngomong bahasa jawa. repot jadinya ..^_^ saya aja yg besar di kalimantan tp bahasa jawa ttp lancar dan oke ..

    #stein:
    memang kadang sesuatu yang baru itu mbikin ketagihan mas, termasuk bahasa 😆

  10. Vicky Laurentina berkata:

    Saya jadi nggak kepingin mudik. Soalnya tahun ini saya nggak punya apa-apa buat dipamerkan.

    Tapi kemudian saya jadi mikir, memangnya mudik itu perlunya buat pamer ya?

    #stein:
    untuk sebagian orang begitu mbak, paling ndak dia merasa orang kampungnya sedang menunggu sebuah pembuktian

  11. Kandang Tips berkata:

    mudik, yang dari kota ke kampung dan yang dari kampung ke kota

  12. Jafar Soddik berkata:

    Mungkin memang awalnya kaget dengan kehidupan di perkotaan tapi lama kelamaan justru lebih merasa kekotaan dibanding orang kota sendiri. Sehingga kita mudik, susah hilanglah ‘kekotaannya’ itu, padahal yang demikian cuma atribut saja.

    Bukan pakaian atau fisik yang membuat kita diakui oleh orang lain.

    #stein:
    tapi untuk orang yang bener-bener haus pengakuan kadang itulah yang dipake untuk mendapatkan 🙂

  13. Asop berkata:

    Walah, harusnya pas bulan puasa itu pengeluaran keluarga menurun/berkurang, tapi di Indonesia kebanyakan keluarga kok malah bertambah ya pengeluarannya? Apalagi menjelang lebaran… 😦

    #stein:
    fenomena apa ini? 😆

  14. Hem…
    Unik.
    Jadi ajang/masa pameran diri ya?
    Kayaknya hanya ada di Indonesiana.

    #stein:
    mungkin perlu dipatenkan mas, sebelum diambil tetangga sebelah 😆

  15. selamat pagi.salam kenal
    bwt yg mudik, slmat jalan.pererat silaturahmi dgn sanak keluarga di kampung, asal ibadahnya jgn tertinggal slm di prejalanan..
    Jgn lupa bawa oleh2 mudik.cari yg murah namun unik,exklusif dan ga banyak dipasaran,mampir saja ke blog saya utk melihat2 koleksi oleh2nya, muda2an bisa membantu anda
    Perhatikan keselamatan ya bwt teman2 yg mudik…syg ga bisa ikut mudik..gini de nasib bukan perantauan..ga punya kampung yg didatangin..:D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s