Perempuan Itu

Kalo mengingat masa lalu kadang saya ndak abis pikir. Saya ini orang kampung, ndeso sendeso-ndesonya. Waktu di Jakarta baju dan celana yang saya pake buat kuliah cuma tiga stel, warna item putih, yang dijahit sendiri sama bapak. Sepatu pun beli bekas. Baju sehari-hari ndak kalah memprihatinkan. Maka agak mengejutkan (bahkan buat saya) ketika di akhir masa kuliah saya berhasil menarik perhatian seorang gadis, yang lahir dan gede di Jakarta pula.

Gadis ini cerdas, mungkin lebih pinter dari saya, sekolahnya dulu di SMA 78 yang konon katanya termasuk salah satu SMA terbaik di Jakarta. Dia mungkin bukan berasal dari keluarga kaya, tapi tetep lebih kaya dari keluarga saya. Awalnya saya ndak punya nyali untuk ndeketi, apalagi dia selalu terlindung dalam kumpulan anak-anak Jakarta yang mbikin saya makin minder. Butuh tekad kuat dan modal nekat untuk sekedar memulai percakapan.

Setelah hubungan terjalin ada satu beban lagi buat saya, untuk membawa sang gadis ke kampung halaman dan mengenalkan pada orang tua. Minder lagi, karena untuk ke rumah saya setelah turun dari angkutan umum masih harus naik ojek sekitar lima kilometer melewati jalan makadam. Saya kuatir gadis itu shock liat kondisi kampung saya yang jauh dari peradaban, yang terlihat cuma sawah dan sawah, di malam hari ndak ada suara apa-apa kecuali kodok dan jangkrik.

Syukurlah selain kendala bahasa yang membuatnya ndak bisa ngobrol dengan budhe-budhe saya (lha yang satu cuma bisa ngomong bahasa Indonesia, yang lain cuma bisa ngomong Jawa) nyaris ndak ada masalah apa-apa. Sang gadis ndak terlihat sok kota.

Sekarang sudah hampir lima tahun perempuan ini (sudah bukan gadis lagi) menemani saya mengarungi hidup. Ndak suka ngiri liat orang lain dapet rejeki lebih, ndak pelit juga saat yang lain rejekinya kurang. Bukan perempuan sempurna tapi sudah sangat banyak membantu saya menyempurnakan diri. Perempuan yang mandiri tapi tetep ingat kodratnya sebagai istri.

Hari ini kembali saya teringat telah berutang ribuan kata maaf dan terima kasih.

Selamat ulang tahun istriku, semoga ridho Allah selalu atasmu.

12 comments on “Perempuan Itu

  1. yim mengatakan:

    pertamax gan..
    sugeng tanggap warsa mbakayune, mugi tambah kesaenane.. (roaming roaming..:D)

  2. yustha tt mengatakan:

    Kedua ajah…
    Selamat ultah utk perempuan itu..
    Skrg dah bs bhs jawa kan? 😉

  3. christin mengatakan:

    sugeng tanggap warsa…

    mugi kalimpahan berkah ugi katentreman kagem nyonyah mastein…

  4. wongiseng mengatakan:

    Selamat ulang tahun Mbak Stein 🙂 Semoga panjang umur, bahagia & rukun selalu 🙂

  5. Mawi Wijna mengatakan:

    sugeng tanggap warsa kangge mboke Bara 🙂

  6. budiono mengatakan:

    hiks… membik-membik terharu

    selamat ulang tahun untuk istrinya mastein semoga bahagia selamanya.. aamiin..

    mana fotonya?

  7. clingakclinguk mengatakan:

    slamat ulang taon buat istrinya mastein, skarang sudah jago bahasa ngalam-an ya, hehehehe…

  8. ulan mengatakan:

    weeeeeeeeeee… selamat ulang tahun untuk istri nya mas Stein, skrinsut nya pas ngucapin met ultah donk mas..

  9. lina mengatakan:

    Selamat Ulang Tahun untuk Ny. Stein. Semoga selalu dilimpahi kesehatan agar bisa terus mendamping Mastein dan memberikan kebahagiaan.

  10. Chic mengatakan:

    waaaah selamat ulang tahun buat istrinya ya Mas 😀

  11. phabi mengatakan:

    Wah,, beruntung banget mas..
    Alhamdulillah ya dapet istri yang baik dan pengertian.
    selamat Ulang tahun ya buat Istrinya, mudah2an keluarganya di berkahin allah. Salam kenal ya mas^^

  12. fla mengatakan:

    selamat ulang tahun buat istrinya mas Stein…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s